*Bila Lelaki Mengandung*
Sudah hampir empat bulan ini sang istri mengandung.
Seperti biasa, saya harus berperan menjadi lelaki penghibur agar duka
berat mengandungnya sirna. Seperti kebanyakan, bila istri mengandung
pastilah ada
kerewelan-kerewelan yang sebenarnya itu-itu saja. Tetapi dasar lelaki
ya tetep aja maunya menang sendiri. Mungkin begitu gumam sang istri.
Saya pun tak ketinggalan bertingkah seperti itu.
" Yah...anakmu yang di kandungan ini pengen kue terang bulan..."
Saya jawab, "Sabar ya belum dapat order, ini biaya masih buat
kebutuhan pokok...besoklah mungkin ada rejeki datang".
" Nggak kuat nih...pengen. ..nanti anaknya ngileran lho..."
Saya jawab aja, "Kalau bayi nggak ngiler ya nggak lucu rek ! "...
" Masak anaknya sendiri minta nggak dituruti sih... Ayolah yah, mbok
beli yang bikin perut nggak neg ".
" Bunda, makan seadanya dulu. Kalau anak sedari kandungan dikit-dikit
sudah dituruti, nanti kalau udah besar kita yang repot. Tentunya yang
paling kemakan
hati ya ibunya. Sebab dia mulai kecil setiap minta apapun selalu
dituruti. Jadi kebiasaan buruk.Manja. Nggak biasa tirakat dan sabar
dalam mengejar cita-cita. Egois .Sedikit-sedikit dituruti
sedikit-sedikit dituruti, nanti nurutnya dikit loh ".
" Sebenarnya yang kepingin kue itu kan nafsunya bunda. Jabang bayi
masih bersih ndhak tahu selera makan. Tuh lihat, kalau bunda marah
atau rewel, anaknya langsung protes nendang-nendang. Kan akhirnya
ibunya sendiri
yang kesakitan. Dia nggak mau kecampuran hal-hal kotor. Apapun alasannya.
Syukuri saja yang ada. Itulah enaknya wanita mengandung.. . salah
dikit langsung ada yang ngingetin.
Apalagi yang ngingetin super bersih nggak punya kepentingan. Meninggal
pun di anggap syahid. Karena memang di situ ada penyaksian sejati...."
Wow...saya yang ganti rewel....
" Wah...wah seandainya lelaki merasakan bagaimana beratnya mengandung,
baru tahu rasa... ", begitu kata sang istri.
He...he saya cuman melirik sang istri yang agak kecut nggak keturutan.
Begitulah kurang lebih sepenggalan kehidupan akhir-akhir ini. Memang
enak jadi
komentator. Tak pernah turun lapangan tetapi sudah bisa komentar
layaknya superhero.
Sebenarnya sih itu semua mungkin alasan akal-akalan saya karena lagi
tongpes. Tapi sesungguhnya tidak sesederhana itu. Kata-kata seandainya
laki-laki mengandung itulah yang membuat saya menghibur istri
sekaligus menulis hal ini. Bahwa bila seorang lelaki mengetahui apa
makna kejadian mengandung, tentulah ia akan rela senang hati mengganti
posisi kodrat melahirkan seorang wanita. Bahkan mungkin lelaki siap
mengandung berkali-kali demi pengulangan pelajaran kesaksian yang
sangat berharga itu.
Namun hanya wanita lah yang bisa mengetahui proses kejadian manusia
mulai dari nol sampai procot lahir. Lelaki hanya tahu dari katanya
kata. Paling banter
sekedar mengamati. Lelaki tak pernah merasakan sesungguhnya bagaimana
sebuah proses pengadaan manusia dari tiada menuju ada. Lelaki tak
pernah ikut
mengalami sebuah kesaksian tertiupnya ruh ke dalam daging. Pengalaman
yang tak bisa diganti dengan keterangan apapun. Tak heran kaum lelaki
lah yang
paling cerewet berdebat soal Tuhan. Sebab para lelaki tak begitu paham
dan sudah terlalu lupa akan kejadian di masa oroknya.
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya
ruh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya... (
Shaad :72 ).
Grenjel... " Pak anaknya gerak !... ", begitu kata ibu-ibu ketika
pertama kali kandungannya bergerak. Saat itu masuklah Ruh ke seonggok
daging. Sang ibu menjadi saksi nyata proses itu. Sebuah kebahagiaan
dan kerinduan begitu menggelayut dalam sanubari ibu.
Dari perjalanan kerinduan ini, pemahaman ibu secara tak disadari akan
terbelah dan terbingungkan sampai akhir hayat. Manakah yang harus ia
cintai ? Kemana ia harus merawat, menyanjung puja, menimang-nimang dan
mensujudi sebuah kejadian ? Kepada sang Ruh yang menggerakkan daging
ataukah ke sebatas jumleger wujud daging yang tak punya kuasa gerak
yang kita sebut anak ?
Bila seorang ibu mampu menempuh jalan ruhani, maka ia tidak lagi
terikat dengan konsep materi. Rasa sayangnya meluap-luap memenuhi
jagad. Ia begitu paham bahwa ruh itu satu walau dikapling terpisah
oleh daging yang bernama ibu dan anak. Konsentrasinya hanya pada Sang
Penggerak. Sang ibu akan menjadi komandan utama menggiring anak
kembali kepada Allah.
Bagi sang ibu sejati, anak adalah wasilah terhebat menuju Tuhan. Karir
profesi pribadi pun tak ada apa-apanya bila di banding kemuliaan
berkarir menjadi ibu. Sebab bagaimana mungkin karier pribadi yang
hanya berisi ambisi perolehan dunia dapat disandingkan sejajar dengan
karier bertuhan seorang ibu dalam merawat anaknya ? Sebegitu syirik
kah kita saat ini ?
Tak heran kalau Rasulullah menyuruh kita untuk berbakti kepada ibu
sampai tiga kali lebih besar daripada ke seorang ayah. Surga pun di
bawah tapak kakinya. Tapi bagaimanakah kita memahami dan
merealisasikan hadits surga berada di telapak kaki ibu ? Apakah saking
kepinginnya surga, ketika ibu lagi enak-enak jalan kemudian kakinya
kita tarik-tarik untuk sekedar melihat ada tidaknya surga di tapak
kakinya ?
Telapak adalah alat melangkah dimana ia akan meninggalkan jejak yang
manunggal. Bila sang ibu sukanya sering menjejakkan kaki ke
supermarket, tentu sang anak akan ikut sering ke supermarket. Akhirnya
anak merasa terbiasa dengan tempat itu. Di situlah ia akan menganggap
supermarket sebagai rumah kedua. Ia akan menganggap supermarket
sebagai tempat paling menyenangkan, surga. Rumahku surgaku. Kalau
sudah begini, biasanya bapaknya yang berada di neraka. Stress. Jejak
tapak kaki sang ibu begitu menentukan model surganya anak.
Proses berbakti seorang anak adalah mengamati langkah kaki sang ibu.
Lalu bisakah kita disebut berbakti bila kita melihat sang ibu yang
sedang kelelahan hidupnya dalam mencari kerinduan Ruh kemudian
langkahnya sempoyongan hampir terjebur jurang tapi kita membiarkan ?
Terjeburnya ibu ke tempat yang tak layak akan mempengaruhi seorang
anak untuk mengikutinya.
Sebab anak adalah perpanjangan ruhani ibu.
***
Entah sudah lebih separuh hidup ini, saya hanya bisa mengamati proses
tapak kaki ibu. Hampir tak ada komunikasi. Hanya mengamati dan
mengingatkan. Bahkan diantara tiga bersaudara, saya paling kaku
terhadap beliau. Sangat tidak bisa memahami bila beliau hanya menuruti
isi kepala. Mungkin kekakuan ini hanyalah rasa sayang yang tak
tersampaikan karena suatu yang sangat pribadi.
Semenjak beliau tergusur oleh sebuah kepentingan ketika masih menjadi
pengajar sebuah perguruan tinggi Islam, sisa hidupnya hanya digunakan
untuk membaca. Beliau bekerja di perpustakan kampus. Menyingkap
kebenaran yang tercekal melalui pencarian-pencarian referensial. Entah
ribuan buku yang telah terbaca. Anehnya sebagian ada yang dibeli tapi
kemudian dibuang atau dibakar. sebagian ada yang di simpan rapi
tersembunyi. Terkadang membuat ketikan-ketikan esai tapi dibuang. Tak
pernah lagi dikirimkan ke media sebagaimana ketika beliau menjadi
aktivis dan pengajar.
Beliau bertandang ke berbagai tempat kebenaran seakan-akan hanya untuk
menyampaikan uneg-uneg " Ini kebenaran ataukah kepentingan ? Mana yang
utama ?... " Hidupnya hanya sebuah ketegasan hitam dan putih dengan
pernik kegundahannya yang begitu mengguncangkan jalan takdirnya.
Semenjak itu pula entah bertirakat atau apa, tiap hari beliau berjalan
belasan bahkan puluhan kilometer pulang pergi kerja dan tak lagi
memedulikan isi perutnya. Perhiasan pemberian nenek tak pernah dipakai
lagi bahkan akhirnya dijual. Hidupnya hanya bertarung dengan diri
sendiri demi sebuah kata. Kebenaran ! Dijalaninya kehidupan itu lebih
hampir tigapuluh tahun. Beliau memang orang yang berwatak keras
walaupun sebenarnya nggak tegaan lihat orang yang lebih menderita.
Setelah pensiun pun sisa hidupnya hanya di habiskan untuk bercengkrama
dengan orang-orang di emperan toko. Tiap hari kerjaannya membelikan
koran untuk dibaca pedagang kaki lima. Terkadang kalau pulang, saya
melihat beliau membawa tas plastik yang berisi pakaian baru, tapi
entah untuk diberikan kepada siapa karena besoknya pakaian itu sudah
tak ada di rumah.
Mengamati dan protes adalah laku saya terhadap laku ibu. Mengapa masih
ingin memperjuangkan orang lain padahal ibu sendiri kondisinya tak
memungkinkan ?
Mengapa masih mencari dan menularkan berbagai referensi kebenaran dari
berbagai anggapan orang yang juga belum tentu ? Mengapa tidak langsung
bertanya kepada Yang Maha Benar ? Mengapa ibu begitu bertahan dengan
kondisi yang menyiksa ini ? Begitu gerundelan batin saya tiap hari.
Ibu begitu sayang sampai-sampai saya yang sudah beranak pinak ini
seakan tidak boleh jauh darinya. Otomatis pekerjaan pun bermarkas di
rumah ibu. Naifnya tiap hari hampir tidak ada komunikasi. Karena
sepatah dua patah kata sudah bisa membuncahkan hati dan fikiran.
Rasanya hanya ingin diam, diam dan diam. Dan tak terasa, diam malah
memunculkan jutaan makna yang tak terperi dalam diri saya.
Seakan bertemu tiap hari namun berbuat sekecil apapun terhadap ibu
belum pernah. Membelikan sehelai baju dari jerih payah pun belum
pernah. Kebangetan!
Mungkin itu kata yang pas. Kemampuan saya hanya menemani. Sekedar
menjadi objek ibu dalam mencari buah hati sejati, Ruh. Tak lebih.
Selama hidupnya, beliau hampir tak pernah memberi nasehat. Seakan-akan
memberi
tafsir bebas kepada saya terhadap cerita kehidupan. Enaknya ya nggak
pernah di cereweti, dimarahi dan dilarang-larang. Nggak enaknya diri
ini seakan yatim
piatu terbiarkan sebelum waktunya.
Tapi akhirnya saya paham. Bagaimanapun Alhamdulillah saya punya ibu
seperti ini. Beliau begitu setia pada kondisi itu agar menjadi ibrah
bagi anaknya. Beliau
seakan-akan berkata tanpa suara, " Nak, jangan kau pilih jalan
kebenaran seperti ini. Terlalu melelahkan. Tapi bagaimanapun ibu tak
kuasa menampiknya. Dan cukup ibu saja..."
Fuihh...Pengorbanan yang tiada tanding tiada banding. Ya Allah, semoga
engkau beri khusnul qatimah pada setiap ibu. Tak ada yang bisa saya
berikan selain doa
itu. Sebab dari segi apapun ibu saya jauh lebih hebat.
Ikatan batin ibu dengan anak memang luar biasa. Memunculkan kerinduan
dan kejengkelan yang sangat hebat. Dua sifat yang luar biasa ini
bagaikan mihrab
tersunyi pengantar proses mi'raj. Suasananya begitu sangat surgawi
atau sebaliknya. Ibu dan anak adalah dua sinergi yang bahu membahu
saling melepaskan keterikatan wujud materi demi mencapai makna hidup. Ruh
Mungkinkah setiap istri kita mengalami hal demikian
terhadap anak-anak kita ? Para lelaki harus mencari
tahu terhadap istrinya sendiri - sendiri. Berguru
kepadanya tentang kalang kabutnya mencari si buah hati
sejati. Sang Ruh.
Untuk itu, bersiaplah dicereweti. Anggap saja sang istri sebagai
pelatih profesional dalam menundukkan hawa nafsu demi persaksian
dengan Ruh. Toh setiap petarung sejati butuh pelatih dan sparring
partner yang handal untuk menggapai kemenangan. Daripada berguru ke
orang lain bayar mahal kan lebih baik uangnya dikasihkan istri
sendiri. Enak lho, sudah dicereweti masih mbayar....
Tak heran kenapa setiap proses ijab kabul harus dengan syahadat. Sebab
makna pernikahan adalah menempuh kebaruan hidup menjadi mahluk yang
bersaksi atas proses ketuhanan. Memulai mencari asal manusia dan
merasakan getaran hebat sampai tahap tersungkur di atas perjalanan
Ruh. Sayangnya, dada kita hanya bergetar hebat dag dig dug dan tubuh
kita tersungkur K.O hanya sebatas malam pertama saja. Ehhmm...
Ah...bila saja lelaki mengandung..
Ah...bila saja wanita bersyukur terhadap prioritas pengajaran Allah...
Ah...ternyata ibu saya adalah guru tanpa kata...
Mari berkirim Al Fatihah kepada setiap Ibu agar kita
lebih mudah mengingat asal kejadian. Ruh