*Kisah Lelaki yang Paling Kubenci di Seantero Bumi*
* *
Jakarta siang hari. Hangat kerontang sesak oleh wajah-wajah diburu waktu,
sibuk berlalu lalang tak tentu arah. Perutku sudah berbunyi minta diisi. Ya,
semalam si kecil sakit, badannya panas sekali, membikin aku dan istriku
wajib mengalah, menganti jatah makan malam dan sarapan pagi kami dengan
sebotol kecil sirup penurun panas dan seplastik bubur balita.
Kucomot sebuah pisang goreng, dan sebuah lagi, lalu menenggak sisa kopi di
gelas hingga tinggal ampasnya, lumayan untuk sekedar menganjal perut yang
lapar. Kuambil sebatang rokok, menghisapnya dengan perasaan
dinikmat-nikmatkan, wajib nikmat karena khusus hari ini apa yang kuperoleh
sejatinya adalah kemewahan. Pendapatan kernet metromini sungguh pas-pasan,
ditambah seorang buah hati yang sakit, wah-aku memang mesti pandai-pandai
berhemat.
Dan lelaki itu datang. Lelaki yang paling kubenci di seantero bumi hingga
aku sempat bertanya : kenapa Tuhan mesti menciptakan manusia buruk rupa
seperti dirinya. Ya, rambutnya gondrong lusuh meriap-riap ditiup angin
kerontang. Senyum menyelingai diapit dua bilah pipi yang berliang-liang
karena bekas jerawat di masa muda. Mata mendelik merah, entah karena muak
menahan kantuk atau lepas menenggak minuman keras. Dengan tubuhnya yang
tinggi tegap itu dan beraroma bacin keringat, adalah modal utamanya untuk
jadi preman terminal, tukang jambret pasar, jadi bromocorah tengik, jadi
lintah penghisap darah orang-orang miskin sepertiku.
Kendati begitu, aku tidak takut kepadanya, aku bahkan pernah nyaris
menghabisi nyawanya. Ya, siang itu tanganku sudah bersiap dengan sebilah
kunci Inggris. Aku tegak di samping pintu bis dengan nafas memburu dan
berharap ia langsung memaki-maki saat kukatakan tidak ada setoran ini hari.
Tapi lacur, Bang Ucok, sopir bisku kesusu melarang, bisik gemetarnya
menjilat telingaku.
"Jangan konyol. Dia itu preman dan seberani apapun preman, ia tak pernah
sendirian."
Ia sudah berdiri di hadapanku. Menyodorkan tangan hitamnya, dengan kuku-kuku
panjang yang kotor. Mulutnya menebar aroma minuman keras. Aku menutup
hidung, benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa muakku, kendati begitu
tanganku, sesuai dengan wasiat Bang Ucok tetap saja merogoh saku dan
meletakkan dua lembar ribuan di genggamannya.
Ia menatapku dengan mata merahnya, seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi
urung karena aku keburu mengibas-ngibaskan tanganku akibat aroma tengik
minuman keras yang menyebar dari mulutnya. Ia garuk-garuk kepala lantas
berbalik masuk ke rumah makan Padang. Di sana kulihat ia melempaskan
sebungkus rokoknya, menenggak segelas kopi dan memesan sepiring nasi.
Aku kesusu mengucap asma Tuhan, takut-takut kegeraman itu menyeruak tak
terkendali dan mengantarku untuk memukul kepalanya dengan botol minuman
bersoda.
Kernet bayangan terminal memberi isyarat. Bis sudah penuh. Aku berbisik malu
di telinga penjual gorengan itu, " Ngutang dulu, Mbok."
Mbok Sumi menganguk, paham akan kondisiku. Ya, aneh memang tetapi terakadang
para orang miskin itu seakan direkatkan oleh hubungan batin.
Bang Ucok sudah duduk di belakang kemudi, aku meloncat naik ke bis dan mulai
meminta ongkos kepada para penumpang.
Bang Ucok lalu memencet klakson, isyarat kalau bis mau bergerak. Aku kesusu
turun dan mulai mengatur arus lalu lintas keluar terminal. Tak ada masalah,
sebentar saja, wajar aku sudah ratusan kali melakukan hal ini.
Bis berhasil keluar terminal dan Bang Ucok mulai tancap gas, aku
berlari-lari kecil dan dengan cekatan meloncat ke pintu bis. Tapi entah
mengapa ketangkasanku mendadak lenyap, handel pintu bis terasa licin dan
basah. Sial. Cengkramanku terlepas dan aku pun sontak jatuh ke aspal.
Sebuah avanza merah marun melesat cepat tepat dihadapanku. Aku menutup mata,
detik itu aku siuman kalau riwayatku tamat di sini.
Namun sebelum itu terjadi, kurasakan ada seseorang yang menerjangku,
mendorongku ke tepi jalan. Lalu ada suara jeritan panjang.
Takut-takut aku membuka mata, dan bersyukur kalau aku masih ada di dunia,
masih bernafas dan tidak kurang satu apapun. Tetapi disampingku ada sesosok
tubuh. Ya, Tuhan penyelamatku ternyata premen terminal itu, lelaki yang
paling kubenci di seantero bumi. Kaki kirinya remuk redam, mungkin terlindas
mobil ketika meloncat menyelamatkanku.
"Kakimu ?" Tanyaku cemas, tak bisa berucap apa-apa lagi.
Lelaki itu mengerling kakinya sekilas lalu tersenyum
"Selama ini kau sudah begitu baik padaku, " katanya " Lalu apakah aku perlu
menyesal karena kehilangan sebilah kaki untuk menyelamatkanmu ? Jangan
bercanda kawan."
Dan aku menangis. Menangis untuk lelaki yang paling kubenci di seantero bumi


-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
えるウィン アリアンと
-------------------------------------

Kirim email ke