Eksotisme Yogyakarta dalam Film Indonesia - Banal, Binal, dan 'Ndeso <3D%22http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_yogya.htm%22> Oleh Grace Samboh
Misrepresentasi kerap terjadi dalam film. Misrepresentasi terjadi bukan sekadar ketika kenyataan tak sama dengan penggambarannya dalam film. Misrepresentasi merupakan wakil dari sebuah jarak antara sudut pandang pembuat film dengan subyek yang sedang dibicarakannya. Grace Samboh bukan Yogya. Namun ia tinggal di Yogyakarta dan merasa risih dengan jarak yang ada antara para pembuat film Indonesia sekarang ini dengan Yogyakarta. Para pembuat film, yang kebanyakan tinggal di Yogyakarta, tampak tak keberatan menggambarkan Yogyakarta dengan segenap eksotismenya. Jarak fisik itu berubah menjadi jarak sosiologis, dalam gambaran Grace. Sebuah visit filmmaking, atau tourism filmmaking. Jarak-jarak sosial semacam ini tak terelakkan, karena film dibuat bukan untuk meniru seratus persen kenyataan. Namun gambaran Grace ini memperlihatkan betapa dalam penggambaran lokasi dan orang-orang Yogya, para pembuat film mengambil begitu saja dari stock knowledge mereka dan dengan demikian menciptakan jarak itu. Hiroshima Mon Amour Pada Mulanya Sebuah Buku <3D%22http://www.rumahfilm.org/esai/esai_hiroshima.htm%22> Oleh Asmayani Kusrini Pusat Kebudayaan Prancis atau CCF Jakarta bekerjasama dengan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta mengadakan pemutaran body of work dari Margeruite Duras (1914 =96 1996). Margeruite Duras punya banyak atribusi. Ia adalah seorang novelis yang karyanya, L'amant atau The Lover memenangi Goncourt Prize di Prancis pada 1984. Sebagai penulis skenario, karya yang ditulisnya, Hiroshima Mon Amour (dan filmnya, disutradarai oleh Alan Resnais) sempat dianggap "mengakhiri perdebatan mengenai elemen naratif dalam film" oleh jurnal film terkemuka Cahiers Du Cinema. Duras sendiri menyutradarai film-filmnya, yang dianggap oleh David Bordwell dan Kristin Thompson dalam Film History, An Introduction, sebagai karya-karya yang mengemansipasi posisi sutradara perempuan dalam sejarah sinema dunia karena ia berani melakukan eksperimentasi dalam elemen naratif film-filmnya. Margeruite Duras dimakamkan di Pemakaman orang-orang terkenal di Pemakaman Montparnasse, Paris. Tapi di Jakarta, 12 tahun sesudah kematiannya, orang masih mendiskusikan karya-karyanya. RumahFilm menurunkan sebuah esei dari redakturnya, Asmayani Kusrini untuk menghormati sosok ini Katalog Keluarga milik Edwin <3D%22http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_edwin.htm%22> Oleh Eric Sasono Empat film pendek Edwin diulas Eric Sasono (redaktur rumahfilm.org), dalam bersiap menyambut film panjang pertama sutradara muda yang berbakat ini. Saat Jiffest 2007 kemarin, diputar trailer Babi Buta Yang Ingin Terbang, karya Edwin. Saat ini, film tersebut sedang diproses pascaproduksi. Tema yang menarik, pendekatan visual yang "lain", terlihat sepintas dari trailer tersebut. Dan jika menyelami empat karya film pendek Edwin sebelumnya, kita pun segera menangkap kepekaan Edwin sang pencipta film. A Very Slow Breakfast (2003), Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing (2004), Kara, Anak Sebatang Pohon (2005) dan A Very Boring Conversation (2006) adalah empat film pendek yang, menurut Eric, memasalahkan pengertian lazim sejak masa Orde Baru tentang "keluarga". Bukan hanya memasalahkan, Edwin juga mensubversi. Sejak dunia lawas/mitologis Dajang Soembi hingga dunia virtual internet, Edwin mengganggu kita dengan pertanyaan: apakah keluarga masih relevan? Selain ulasan ini, rumahfilm.org juga menyiapkan sebuah percakapan antara Edwin dengan sutradara muda berbakat lainnya, Joko Anwar. Selamat membaca. Redaksi RumahFilm.org <3D%22http://www.rumahfilm.org%22>
