======================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER
[ Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia" ]
=======================================
[Ec_Q]
BANK KAUM MISKIN
Oleh : Muhammad Yunus
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
Bersama Alan Jolis
Belajar dari :
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
Memerangi Kemiskinan
38. Kemajuan Berjalan Lamban Saat Itu - Pruralisme
Saya sudah sangat sering mendengar pernyataan mereka dan saya sudah siap
dengan jawabannya, meski tetap sulit membujuk orang-orang yang ketakutan ini.
Mereka tidak pernah bersentuhan dengan satu lembaga pun sepanjang hidupnya.
Semua yang saya tawarkan pada mereka tampak asing dan menakutkan. Kemajuan
berjalan lamban saat itu. Sangat lamban. Kelambanan itu memiliki banyak ikutan.
Saya dan mahasiswa saya berjalan keliling pedesaan sepanjang musim hujan dan
selama bulan Ashar, saat masyarakat memakan sayur-sayuran berdaun lebat seperti
kalmi, puishak, atau kachu shak, semacam asparagus panjang yang memiliki rasa
dan tekstur lembut bila direbus. Aroma favorit saya adalah kachu shak yang
lezat, yang di pedesaan direbus mendidih bersama daun salam, seledri, dan
kunyit.
Saat proses mencoba meyakinkan para perempuan untuk menjadi peminjam Grameen
Bank ini bermula, kami menyadari bahwa memiliki pegawai perempuan akan membuat
pekerjaan jauh lebih mudah. Proses meluluhkan ketakutan selalu menjadi
tantangan terbesar saya dan itu menjadi lebih mudah dengan ketelatenan kerja
dan suara lembut para pegawai perempuan. Tetap saja, hasilnya berjalan lamban.
Setiap senja hari saya akan rapat dengan para mahasiswa saya. Seringkali
pegawai perempuan datang dengan nama-nama calon peminjam yang dicatatnya di
balik bungkus rokok. Akhirnya, saya angkat tiga perempuan muda untuk bekerja di
proyek percontohan kami: Nurjahan Begum dan Jannat Quanine, dua sarjana yang
baru lulus, dan Priti Rani Barua, yang tinggal di lingkungan pemeluk Budha di
Jobra dan hanya berpendidikan SMP. Para pegawai perempuan ini lebih mudah dalam
membangun hubungan dengan para perempuan di pedesaan ketimbang kolega
laki-lakinya, meski mereka juga menghadapi banyak tantangan.
Sesungguhnya, perjuangan kami melawan penindasan dan segregasi perempuan
berlangsung tidak hanya untuk kepentingan nasabah kami, tetapi juga untuk
kepentingan para pegawai perempuan kami.
[ bersambung ]
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
=================================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER
[ Seri : "Membangun Demokrasi dan Kebangsaan Indonesia" ]
=================================================
[Democration and Nationalism Quotient Dem_&_Nat_Q]
DALAM RANGKA :
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
PLURALISME
Pengerasan identitas kelompok akan membunuh diri sendiri
Pruralisme tidak berarti pernyataan bahwa semua agama sama, juga tidak
berkaitan dengan pertanyaan agama mana yang benar dan baik.
Namun, pruralisme adalah kesediaan menerima kenyataan bahwa dalam masyarakat
ada cara hidup, berbudaya, dan berkeyakinan agama yang berbeda.
Dalam penerimaan itu, orang bersedia untuk hidup, bergaul, dan bekerja sama
membangun negara. Demikian gagasan yang diungkapkan filsuf Franz Magnis Suseno
di sela Seminar Nasional Satu Abad Kebangkitan Nasional di Universitas
Parahyangan, Bandung, Sabtu (10/5).
Pruralisme adalah syarat mutlak agar bangsa Indonesia yang begitu prural
dapat bersatu ujarnya.
Bagi dia, pruralisme tak sekedar membiarkan pluralitas, melainkan
memandangnya sebagai suatu yang positif. Orang yang pluralis memandang dan
menghargai sesama dalam identitasnya, termasuk perbedaannya.
Disaat Indonesia merayakan 100 tahun kebangkitannya, Franz menyayangkan
terjadinya intimidasi di Indonesia yang berdasarkan pada perbedaan kepercayaan
dan agama, Selama 80 tahun Ahmadiyah hidup tentram diantara kita, tetapi
sekarang dikejar-kejar, bahkan tempat ibadahnya dibakar? kata Franz.
Membunuh diri sendiri
Menurut Franz, bangsa yang tidak menghargai pluralisme adalah bangsa yang
membunuh diri sendiri.
Guru besar filsafat Universitas Parahyangan Bambang Sugiharto membahasakan
munculnya tendensi pengerasan identitas pada masyarakat Indonesia yang
tercermin dari pemelukan erat-erat identitas, seperti kelompok, agama, politik,
ekonomi, atau budaya yang tertutup dengan menyingkirkan segala yang berbeda.
Menurut dia, bentuk-bentuk eksklusivisme sempit, keserakahan, kebodohan, dan
ketertutupan hanyalah cara-cara terbaik untuk bunuh diri dan membunuh generasi
masa depan.
Wakil Gubernur Jawa Barat terpilih, Dede Yusuf, mengemukakan, pluralisme
dalam bangsa Indonesia seringkali dijadikan sumber konflik. Padahal, pluralisme
yang berakar pada keberagaman etnis, budaya, dan agama ini harusnya dijadikan
modal dasar pembangunan bangsa.
[Kompas, 12/5]
____________
Berita Bahagia dan Selamat :
Kemarin malam, saya mendapat SMS dari salah satu member milis di Surabaya
sebagai berikut :
Allhamdulillah, telah lahir putri kami ANANDA TITANIA DIVA ARDHILLA, normal,
berat 3,510 kg dan tinggi 49 cm. Lahir pada hari Minggu [11/5] sore jam 4.
Salam, Diana & Imam, Surabaya.
Beberapa hari yang lalu juga, salah satu trainer dan motivator Ki Gemblunk
Busyet juga telah tercapai impian dan cita-citanya selama ini untuk menjadi
the Daddy, dengan kelahiran putra sulungnya dengan lancar dan sehat.
Saya mendoakan semoga, kelahiran putra dan putri keluarga yang sedang
bebahagia ini, seiring dengan saat2 kita semua memperingati dan merayakan 100
Tahun Kebangkitan Nasional ini, semoga kelak akan menjadi generasi penerus yang
mumpuni, berguna bagi keluarga, masyarakat dan negara dan membawa kebangkitan
pada generasinya kelak.
Kepada kedua ibundanya kiranya segera diberikan kesehatan dan segera pulih
kembali.
Best regard,
Retno Kintoko
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3