======================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER
[ Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia" ]
=======================================
[Ec_Q]
BANK KAUM MISKIN
Oleh : Muhammad Yunus
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
Bersama Alan Jolis
Belajar dari :
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
Memerangi Kemiskinan
39. Ia tidak dipandang lagi sebagai beban.
Jenis pekerjaan di bank kami menuntut para pegawai laki-laki atau perempuan
berjalan kaki sendirian di kawasan pedesaan, kadang sampai sejauh 8 km untuk
setiap tujuan. Orang tua para calon pegawai perempuan merasa hal itu memalukan,
bahkan aib. Meski mereka mungkin telah mengizinkan anak gadisnya duduk di
belakang meja kantor, mereka tidak bisa menerima anaknya bekerja sepanjang hari
untuk Grameen di pedesaan. Lalu bagaimana caranya agar pegawai perempuan bisa
mudah berpergian dari satu tempat ke tempat lain? Pegawai laki-laki bisa
bersepeda di Bangladesh, tetapi itu sering dianggap tidak patut untuk
perempuan. Kami membeli sepeda olahraga dan menyelenggarakan pelatihan agar
para pegawai perempuan bisa bersepeda dengan percaya diri. Namun di beberapa
wilayah, penduduk lokal akan menyerang mereka karena bersepeda. Meski
membolehkan perempuan naik gerobak sapi, bajaj, becak, bahkan sepeda motor,
orang-orang yang konservatif dalam beragama tidak bisa menerima perempuan
bersepeda. Bahkan hingga kini, 25 tahun kemudian, ketika nasabah perempuan
kami mencapai 94 persen, para pegawai perempuan kami masih secara reguler
menghadapi rasa permusuhan dan diskriminasi di pedesaan tempat mereka bekerja.
Ketika seorang pegawai perempuan mengunjungi sebuah desa untuk pertama kali,
bukanlah hal luar biasa bila penduduk desa berkerumun dan mengamatinya. Mereka
sering menerima kritikan dari penduduk desa yang tidak terbiasa melihat
perempuan di mana pun kecuali di rumahnya.
Kami biasanya mencoba merekrut pegawai perempuan ketika mereka baru lulus
sarjana dan sedang menunggu untuk dinikahkan atau telah menikah dengan seorang
suami yang sedang menganggur. Umumnya, bagi perempuan yang belum menikah,
mendapatkan pekerjaan bisa langsung mengurangi tekanan keluarga untuk menikah.
Selain itu, memiliki pekerjaan juga meningkatkan prospek pernikahannya secara
dramatis. Ia tidak dipandang lagi sebagai beban.
Mempertahankan pegawai perempuan terbukti sangat sulit. Biasanya, jika
seorang pegawai perempuan Grameen menikah, kerabat suami menekannya untuk
berhenti bekerja. Mereka tidak ingin seorang perempuan muda bermartabat
berjalan kaki sendirian keliling desa. Mereka juga kuatir bila ia tidak bisa
membela diri kalau-kalau ada masalah. Sesudah kelahiran anak pertama, tekanan
untuk berhenti bekerja meningkat. Dan sesudah kelahiran anak kedua atau ketiga,
pegawai perempuan sering berkeinginan menggunakan lebih banyak waktunya bersama
anak-anaknya. Dan jalan kaki berkilo-kilo meter yang dilakukannya saat masih
gadis tidak lagi mudah buatnya. Ketika kami mengumumkan program pensiun tahun
1994, yang meliputi pilihan pensiun dini, kami sedih meski tidak terlalu
kagetkarena banyak pegawai perempuan memilih meninggalkan Grameen. Di
konferensi-konferensi internasional kami sering dikritik karena tidak cukup
memiliki pegawai perempuan. Saya yakin kebanyakan mereka yang mengkritik
kami tidak memahami realitas sosial di Bangladesh, tetapi saya akui kritik
mereka telah mendorong kami melipatgandakan upaya-upaya dan memikirkan cara
baru dalam mempertahankan pegawai perempuan. Nyatanya, di tahun 1997 kami
merayakan promosi seorang perempuan ke posisi manajer wilayah, posisi paling
senior di Grameen untuk tingkat lapangan. Tetapi kehilangan banyak pegawai
perempuan di semua lapisan akibat program pensiun dini sejak 1994 cukup
mematahkan semangat.
[ bersambung ]
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3