Respek kepada pihak manapun juga, termasuk terhadap
burung-burung di langit dan yang bertengger di
pohon-pohon perlu ditanamkan sejak dini. Saya tidak
tahu eee tiba-tiba saya dikirimi email
[EMAIL PROTECTED]

Saya percaya bahwa pengelola milis ini orang baik,
tetapi atas dasar kebaikan hatimu, engkau menaruh roti
di pintu rumahku, apakah aku selalu happy?
Belum tentu bo!.




--- Ayu Puspa Malani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas erwin....ck...ck...ngga dii milis mana pun
> selalu bertemu dan selalu posting cerpen or
> puisi.... n_n
> 
> 
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Erwin Arianto <[EMAIL PROTECTED]>
> Kepada: rahma yanti <[EMAIL PROTECTED]>; Jeanie
> Wiyono <[EMAIL PROTECTED]>; Ririn Setyorini
> <[EMAIL PROTECTED]>; Hapsari Wirastuti
> Susetianingtyas <[EMAIL PROTECTED]>; Tita
> Handayati <[EMAIL PROTECTED]>;
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Terkirim: Jumat, 16 Mei, 2008 15:13:31
> Topik: +Nongkrong Bareng Comunity+ (cerpen) Keysia
> Dan Mantan Preman Tua
> 
> 
> Keysia dan Preman Tua
> By; Erwin Arianto
>  
> Siang itu saat putri kecil ku pulang dari sekeloh..
> "Assalamualaikum. .." teriaknya dengan muka lugu
> penuh dosa memberi salam kepada ku "Walaikum
> salam... Kamu dah pulang Keysia" jawabku kepada
> keysia. "sudah bunda...bunda masak apa?" tanya
> Keysia kepada ku sambil membuka sepatu dan mengganti
> seragamnya. "bunda masak sayur sop dan goreng empal
> deging.." seru ku kepada Keysia.
>  
> "bunda... kakek mana..?" Keysia menanyakan
> keberadaan kakeknya, bapakku, memang Keysia begitu
> dekat dengan bapak, entah karena cucu pertama entah
> karena adanya persamaan sikap yang sama-sama keras
> kepala. "kakek di belakang sedang berbaring di
> balai-balai. ." jawabku. memang rumah kami tidak
> terlalu besar, tetapi di halaman belakang ada balai
> bambu tempat beristirahat disamping sisi dari pohon
> durian yang rimbun.
>  
> Kulihat keysia dan bapak sudah bercanda bersama
> lagi, dan tampaknya keysia sedang menceritakan
> tentang pengalaman sekolah yang dialami nya hari
> itu. setelah puas bermain berdua Kulihat bapak
> terbaring di atas balai bambu sambil bersenandung
> bersama keysia Cucu perempuannya tampak membaringkan
> kepalanya di sisi bapak ikut menikmati nyanyiannya
> walaupun keysia itu jelas tidakmengenal lagunya.dan
> kulihat keysia  menyodorkan sebuah Buku tata cara
> sholat untuk kakeknya/bapakku. bapak hanya
> tersenyum, tahu akan apa yang bakal dikatakan
> cucunya.
>  
> "Ayo kek, Keysia ajarin caranya sholat seperti
> diajarin ibu guru disekolah ya" pintanya polos
> dengan mata berharap.
>  
> "lagi? Kemarin kan sudah…" elak bapak dengan nada
> bercanda, walau suaranya terdengar parau, akibat
> tubuhnya yang kian melemah.
>  
> "kemarin kan kakek belum aku kasih tau ya" protes
> Keysia sebal.
>  
> "kakek ngantuk Keysia, kakek kan sakit" elak bapak
> lagi kemudian langsung membalikkan tubuhnya
> pura-pura mendengkur.Keysia tidak melanjutkan
> protesnya, dia percaya kakeknya benar-benar tidur.
> Gadis kecil itu berjinjit untuk mencium kening
> kakeknya dengan sayang.
>  
> "maafin Keysia ya udah ganggu kakek, met bobo kakek
> sayang" bapak taampak tetap pura-pura tidur.
>  
> Sebenarnya bapak sudah sejak lama Dulu selalu
> menjalankan sholat, bahkan hampir semua sholat
> sunnah dikerjakanya. Bukankah dulunya Bapak Anak
> seorang guru ngaji sebelum terjerembab dalam
> kehidupan sebagai pereman. bapak sering bercerita 
> tentang peristiwa lalu, kejadian pahit yang telah
> merubah hidupnya.
>  
> ************ ********* *
>  
> PAda awal pernikahanya dengan ibu, bapak bekerja
> sebagai buruh pabrik dan mereka bahagia dengan
> kehidupannya walau dijalani dengan indah. dan aku
> pun mendapat kasih sayang yang penuh dari bapak dan
> ibu. walau kami dulu tinggal di rumah kontrakan yang
> terbilang sangat sempit tami kami bahagia, samapi
> suatu saat pabrik garment tempat bapak dan ibu
> bekerja gulung tikar dikarenakan 
> Krisis ekonomi dan kenaikan harga BBm yang
> mempengaruhi kenaikan harga bahan baku, dan
> penurunan penjualan."Bu... Pabrik tempat kita
> bekerja tutup, kita harus bagaimana ya bu" aku ingat
> ucapan bapak waktu itu, aku waktu itu msih duduk di
> bangku kelas 5 SD, "Sabar pak, kita coba usaha saja"
> jawab ibu dengan penuh kesabaran, ibu adalah seorang
> yang sabar dan penyayang terhadap aku dan adikku.
>  
> Setelah tidak bekerja pada pabrik garment tersebut,
> kehidupan kami mengalami penurunan yang drastis, ibu
> mencoba berjualan lauk matang di rumah, dan bapak
> Mencoba menjadi pedagang kaki lima dan berjualan di
> depan perkantoran elite.
>  
> Musibah yang datang tetap kami jalani sekeluarga
> dengan sabar, orang tuaku begitu ihlas menjalani
> semuanya. dan bapak pernah berkata kepada kami
> sekeluarga ""Hidup itu berat, tetapi tetap harus di
> jalanin, seberat dan sesusah apapun. Jangan mengeluh
> dan merepotkan orang lain." itulah prinsip bapak,
> aku salut kepada bapak, walau dalam keadaan susah
> beliau tetap tegar sebagai tulang punggung keluarga.
>  
> Tetapi awan hitam masih menyelimuti keluarga kami,
> ketika aku pulang sekolah dulu aku melihat banyak
> orang berlari-lari di dekat rumah kontrakan kami
> sambil berteriak-teriak dan membawa ember untuk
> memadamkan api, "kebakaran-kebarakar an..."
> begitulah orang-orang berteriak. Dan begitu pilu
> melihat rumah kontrak kami habis di lalap si jago
> merah. Lalu aku pun panik,mencari Ibu dan Bapak
> "bang roni..ibu mana.. bapak..., kemana" tanyaku dan
> aku pun menangis sekencang-kencangny a melihat
> kejadian itu. dan seorang yang kusapa bang roni,
> adalah seorang tetangga kami dalam rumah petak
> kontrakan kami mengantarkan aku ke ibu.
>  
> Kulihat ibu sedang menangis sesedukan di pojok
> mushola, dan bapak masih berusaha menyelamat kan
> barang berharga yang tertinggal dirumah kami, walau
> memang kami sebenernya tidak memiliki apapun
> dirumah. "Gusti Allah... Mengapa kau tidak berhenti
> memberi kami cobaan" begitulah ratap ibu kala itu.
> sambil menggendong Adiku Budi, dan dalam kondisi
> hamil 6 bulan. Begitu kulihat guratan kepedihan yang
> dialami ibu.
>  
> Setelah kebakaran padam, kami sekeluarga sekarang
> tidak mempunya tempat tinggal lagi, "ibu lalu kita
> tinggal dimana...?" tanya budi dengan polos
> menanyakan kemana kami akan tinggal. Ibu hanya diam
> tak bisa menjawab pertanyaan budi ketika budi baru
> pulang sekolah kala itu dan diam melihatrumah
> kontrakan kami habis di lalap api.
>  
> Kulihat bapak membawa beberapa benda berharga yang
> kami miliki, berupa radio butut, dan beberapa
> pakaian kami sekeluarga, keringat dan air mata
> tampak jelas di muka bapak kala itu. sungguh
> duniaseakan runtuh, dan bapak ku seorang yang tegar
> pun seakan tidak kuat menanggung beban yang
> dihadapinya. 
>  
> Dalam hati tangan mungil ku waktu itu hanya bisa
> mengadah menghadap langit dan berdoa. "Tuhan kenapa
> rumah Ika dibakar.. sekarang ika,budi, bapak, dan
> ibu harus tinggal dimana...?" aku pun menangis
> sekencang-kencangny a. Dan bapak dengan tangan yang
> kasar memeluk aku dan budi seakan ingin begkata
> "sabar nak.. bapak akan mencari jalan keluar terbaik
> untuk kalian".
>  
> ************ ********* ********* **
>  
> karena tidak memiliki uang dan apapun, akhirnya
> dengan suatu pilihan berat, diajak oleh pak
> nainggolan teman bapak sewaktu berjualan di emperan,
> kami tinggal di bawah kolong jembatan, 
> "inilah rumah baru kita ka, bud" terlihat bapak
> dengan muka yang dibuat seolah bapak bahagia dengan 
> sesuatu yang dibilangnya rumah, walau hanya terdiri
> dari tumpukan-tumpukan kardus bekas dibawah kolong
> jembatan.
>  
> Walau terbuat dari kardus, rumah kami begitu nyaman,
> aku nyamana dengan bekap kedua orang tua, bapak dan
> ibu begitu memberi rasa cinta meraka kepada aku dan
> budi. bapak kini berusaha mencari nafkah dengan
> menarik becak. aku dan budi karena tetap ingin
> sekolah kami berdua memutuskan untuk mengamen di
> jalan, dan uang nya aku kasih ke ibu.
>  
> "bu ini hasil ngamen aku dan budi, bu.. ika mau
> sekolah lagi..." ucapku sambil memberi uang receh
> sebesar Rp.10.000 "iya bu.. budi kangen sama
> temen-temen budi, budi mau sekolah lagi..." ibu
> hanya diam dan menangis.
>  
> "bapak pulang..." teriak budi. "eh bapak.." ucapku
> menyambut kedatangan bapak waktu itu. "bapak membawa
> Nasi bungkus nak, buat kalian makan" bapak membawa
> nasi bungkus, plus tempe, tahu, dan krupuk. itulah
> yang biasa kami makan. Nasi tersebut oleh ibu dibagi
> 4 untuk aku, bapak dan ibu. 
> Walau hanya makan seadanya, Alhamdulillah kami masih
> bisa makan 3 kali sehari, dengan porsi seadanya.Dan
> kuliahat bapak tetap tegar menjalani harinya, aku
> lihat bapak tetap menjalankan sholat lima waktu,
> bapak 
=== message truncated ===



      

Kirim email ke