--- {sAm} <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>
http://www.korantempo.com/korantempo/2008/05/19/headline/krn,20080519,28.id.html
> 
> Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional
> Jumlah Orang Miskin Tetap Tinggi
> 
> "Indonesia seperti raksasa tidur."
> 
> 
> JAKARTA -- Memperingati 100 tahun Kebangkitan
> Nasional, jumlah orang  
> miskin di Indonesia malah lebih tinggi ketimbang 12
> tahun lalu, sebelum  
> krisis ekonomi terjadi. Pemerintah diminta
> mengoptimalkan program  
> penanggulangan kemiskinan. Demikian rangkuman
> pendapat dari sejumlah  
> ekonom, di antaranya Faisal Basri dan Dradjad H.
> Wibowo, serta pakar  
> kemiskinan Sudarno Sumarto.
> 
> "Kemiskinan menjadi problem terbesar bangsa ini,"
> kata Dradjad. Bayangkan,  
> saat ini jumlah orang miskin masih 37,1 juta jiwa
> atau 16,5 persen dari  
> jumlah total penduduk. Posisi itu tak jauh berbeda
> dibandingkan dengan era  
> Presiden Soeharto. Pada 1996, jumlah orang tak mampu
> sebanyak 34 juta atau  
> 17,5 persen.
> 
> Menurut Sudarno, data itu menunjukkan jumlah orang
> miskin belum banyak  
> berubah. Bahkan, jika memperhatikan indikator lain,
> seperti kesehatan,  
> pendidikan, dan lain-lain, jumlah orang miskin bisa
> melejit menjadi 45  
> persen. Lihat saja data anak di bawah 5 tahun yang
> mengalami kondisi gizi  
> buruk, dua tahun yang lalu angkanya masih 2,3 juta.
> 
> Padahal, pemerintahan Yudhoyono punya target
> ambisius. Mereka berharap  
> memangkas angka kemiskinan hingga tinggal 8,2 persen
> di akhir masa  
> jabatannya pada 2009.
> 
> Setelah dihantam krisis ekonomi pada 1998, jumlah
> orang miskin sempat  
> meningkat hingga 49 juta. Kerja keras empat presiden
> berhasil menurunkan  
> angka itu menjadi 34 juta.
> 
> Sudarno, Direktur Penelitian Smeru, menilai
> kemiskinan di Indonesia lebih  
> banyak berkaitan dengan situasi rawan guncangan. Itu
> terjadi karena harga  
> minyak dan pangan yang melambung, gagal panen,
> krisis moneter, pemutusan  
> hubungan kerja.
> 
> Selain itu, menurut Faisal dan Sudarno, kemiskinan
> tinggi juga karena  
> pembangunan yang salah arah. Pemerintah cenderung
> menggenjot sektor jasa  
> modern perkotaan, seperti telekomunikasi, ketimbang
> sektor yang memenuhi  
> hajat hidup orang banyak.
> 
> Ini berbeda dengan satu dekade lalu, yang
> menitikberatkan industri dan  
> pertanian. Langkah ini pula yang digenjot Vietnam
> dan Cina dengan  
> memprioritaskan pertanian dan manufaktur untuk
> menyedot tenaga kerja.  
> Belum lagi, upaya memperbaiki mutu sumber daya
> manusia.
> 
> Tak mengherankan, Cina sukses memangkas jumlah
> penduduk miskin. Menurut  
> data Program Pembangunan PBB (UNDP), pada 1994 orang
> yang berpenghasilan  
> US$ 1 per hari sebanyak 29 persen, sekarang tinggal
> separuhnya. "Mereka  
> cepat memangkas kemiskinan," kata Faisal.
> 
> Untuk itu, Sudarno menyarankan program mengatasi
> kemiskinan dijalankan  
> maksimal agar orang papa bisa menikmati kue
> pertumbuhan ekonomi. Misalnya,  
> lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat,
> Keluarga Harapan, Bantuan  
> Langsung Tunai, Beras Rakyat Miskin, dan sebagainya.
> "Sayangnya, program  
> ini sering dipolitisasi."
> 
> Indonesia, menurut Dekan Fakultas Ekonomi UI Bambang
> Brodjonegoro,  
> sebenarnya tak hanya berpotensi mengurangi jumlah
> orang miskin. Negeri ini  
> juga berpotensi menjadi negara maju, seperti Cina
> dan India. "Indonesia  
> itu seperti raksasa tidur," kata Bambang. "Itu
> karena kita belum  
> mengoptimalkan yang kita punya."Heri | Fanny
> Febyanti | Arti Ekawati |  
> Dian Yuliastuti | RR Ariyani | Sudrajat
> 
> Saatnya Bangkit
> 
> Indonesia pernah mengalami kemajuan ekonomi yang
> impresif di masa Orde  
> Baru. Tapi, rezim ini menyisakan masalah korupsi
> yang menghalangi  
> kemakmuran negeri ini. Sekarang, satu dekade
> pasca-Soeharto dan satu abad  
> Kebangkitan Indonesia, data statistik menunjukkan
> bahwa Indonesia belum  
> bisa berbicara di tingkat ASEAN, apalagi dunia.
> 
> Negara 1996 2006
> 
> >> Singapura
> 
> Penduduk
> 3,6 juta / 4,5 juta
> 
> Pendapatan per Kapita (US$)
> 26.890 / 33.300
> 
> Investasi Asing Langsung (US$ miliar)
> 9,69 / 24,2
> 
> Inflasi
> 1 persen / 0 persen
> 
> Peringkat Pembangunan Manusia
> 26 / 25
> 
> >> Malaysia
> 
> Penduduk
> 21 juta / 26 juta
> 
> Pendapatan per Kapita (US$)
> 7.910 / 12,160
> 
> Investasi Asing Langsung (US$ miliar)
> 5,07 / 6,06
> 
> Inflasi
> 4% / 4%
> 
> Peringkat Pembangunan Manusia
> 60 / 63
> 
> >> Thailand
> 
> Penduduk
> 58 juta /63 juta
> 
> Pendapatan per Kapita (US$)
> 5.030 / 7.440
> 
> Investasi Asing Langsung (US$ miliar)
> 2,33 / 9,01
> 
> Inflasi
> 4% / 5%
> 
> Peringkat Pembangunan Manusia
> 59 / 78
> 
> >> Filipina
> 
> Penduduk
> 70 juta / 86 juta
> 
> Pendapatan per Kapita (US$)
> 2.170 / 3.430
> 
> Investasi Asing Langsung (US$ miliar)
> 1,5 / 2,3
> 
> Inflasi
> 8% / 5%
> 
> Peringkat Pembangunan Manusia
> 98 / 90
> 
> >> Indonesia
> 
> Penduduk
> 195 juta / 223 juta
> 
> Pendapatan per Kapita (US$)
> 2.420 / 3.310
> 
> Investasi Asing Langsung (US$ miliar)
> 6,2 / 5,6
> 
> Inflasi
> 
=== message truncated ===



      

Kirim email ke