======================================  
  THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER
  [ Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia" ]  
  =======================================
  [Ec_Q]
   
  BANK KAUM MISKIN
  Oleh : Muhammad Yunus
  Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
  Bersama Alan Jolis
   
   
  Belajar dari : 
  Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
  Memerangi Kemiskinan
   
   
   
  42. Perluasan dari Jobra ke Tangail
   
  MUSIM gugur 1977, pada ulang tahun pertama eksperimen bank desa kami, saya 
berkumpul dengan keluarga di Chittagong untuk merayakan Idul Fitri. Meski libur 
Idul Fitri itu tiga hari, seperti kebanyakan keluarga Bengali kami berlibur 
selama seminggu untuk merayakannya. Ayah dan ibu saya, keduanya sangat 
religius, menanamkan pada anak-anaknya pemahaman tradisi ini secara mendalam. 
Ayah saya membayar zakat yang diwajibkan dalam Al Quran. Sebagaimana ditetapkan 
syariah, zakat pertama-tama ia bagikan kepada keluarga yang membutuhkan, 
kemudian pada tetangga yang miskin, dan terakhir pada orang miskin umumnya.
   
  Idul Fitri adalah kesempatan kami berkumpul bersama kerabat dan merenungkan 
tahun yang baru berlalu. Tahun 1977 itu, kami berkumpul di Niribili, rumah yang 
dibangun ayah saya tahun 1959 di kawasan pemukiman Pachlais yang waktu itu 
masih baru di Chittagong. Niribili artinya tenteram dan damai. Rumah itu 
menjulang di balik tembok taman pelindung yang dikitari oleh pepohonan hijau 
yang lebat: mangga, pinang, pisang, kayu jati, jambu biji kelapa, dan delima. 
Niribili besar sekali. Dengan beranda luas dan ruang terbuka yang lebar, saya 
selalu merasa Niribili menyerupai kapal uap lintas-atlantik. Meski bentuk 
bangunannya aneh —ruang ruangnya terlampau besar, jalan masuknya kelewat mewah 
dan tidak praktis—saya suka rumah itu. Ada 8 ruang terpisah yang dihuni oleh 
saudara-saudara saya, sehingga ayah saya yang tinggal di. lantai bawah 
dikelilingi oleh setengah keluarga besar yang dicintainya. Memang beginilah 
yang ia mau. Rumah ini adalah sumber kekuatan dan keutuhan keluarga.
   
  Di hari Idul Fitri, acara keluarga kami tetap sesuai kebiasaan. Kami bangun 
pagi-pagi dan mandi. Kemudian kami mengunjungi Batua, desa leluhur ayah saya, 
tempat saya dilahirkan dan tempat keluarga saya tinggal selama Perang Dunia II. 
Pukul 7 pagi, para kepala keluarga pergi ke Eidgah, lapangan terbuka tempat 
pelaksanaan shalat Ied. Kami bertakbir dan imam kemudian memimpin shalat dan 
berkhotbah. Ribuan orang berjajar di belakangnya. Setiap orang berbaju lebaran 
baru dan wangi parfum tradisional mengisi udara terbuka. Sesudah shalat saya 
dan saudara-saudara saya saling berpelukan sambil mengucapkan, “Eid Mubarak” 
(“Selamat Lebaran”) dan berbaris untuk sungkem di kaki ayah sebagai tanda rasa 
hormat dan salam. Sesudah ziarah ke kuburan dan membayar kewajiban zakat fitrah 
(1,25 kg gandum untuk kaum miskin), kami mulai perjalanan mengunjungi 
rumah-rumah kerabat. Setelah berpuasa sebulan lamanya, dendeng daging manis 
dengan ini jadi terasa semakin enak.
   
  Mumtaz, kakak perempuan saya menyiapkan seluruh panganan lezat-lezat. Tahun 
ini dia membuatkan favorit saya: rashomalai krim bertabur wijen ditambah jus 
mangga campur kheer (sejenis susu kental yang diuapkan). Saya lahap yoghurt 
bikinannya bersama chira, bubur nasi yang lezat, ditutup dengan mangga arum 
manis dan pisang.
   
  Mumtaz 12 tahun lebih tua dari saya. Mukanya lonjong dengan sorot mata yang 
hangat. Meski telah menikah dan keluar dari rumah di usia 17 tahun, ia selalu 
sempatkan diri mengurusi adik-diknya, seolah-olah ia ibu pengganti. Idul Fitri 
1977 ini, anak-anak berkerumun di sekitar kami, saling memanggil, tertawa-tawa, 
makan, dan bermain-main. Diam-diam Mumtaz mendekapkan tangan saya ke tangannya. 
Alangkah baiknya dia! Alangkah perhatian dan penyayang dia pada saya, pada kami 
semua! Saat saya tatap dia saya ingat suatu hari pada tahun 1950 ketika saya 
bergegas naik bis dan becak jauh-jauh ke rumahnya untuk mengabarkan kelahiran 
adik saya Ayub. Alangkah terengah-engahnya saya, alangkah gembiranya saya pada 
usia 10 tahun itu. Mumtaz tertawa dan memeluk saya lalu memanggil para tetangga 
mengabarkan berita gembira ini. Kami makan-makan dan merayakannya sampai larut 
malam, dan esok harinya Mumtaz mengemasi barangnya dan pindah ke rumah kami 
untuk membantu ibu merawat si kecil Ayub.
 Memandangi sekeliling ruangan pada saudara perempuan saya Mumtaz dan Tunu, 
serta saudara laki-laki saya lainnya Salam, Ibrahim, Jahangir, Ayub, Azam, dan 
Moinu, saya berterima kasih pada Tuhan atas rahmat sehat dan nikmat ini. 
Alangkah beruntungnya kami.
   
   
  [ bersambung ]
   
  _________
    
  "Jiwa yang besar selalu menghadapi kekerasan 
  lawan dengan pikiran yang tenang" 
  (Albert Einstein -1879-1955)
  _________
   
  "Inovasi membedakan antara 
  pemimpin dan pengekor" 
  (Steve Jobs,  pendiri Apple Computer)
  _________
   
   
  The Flag
  Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
  ERDBEBEN Alarm


    
  SONETA INDONESIA <www.soneta.org>

  Retno Kintoko Hp. 0818-942644
  Aminta Plaza Lt. 10
  Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
  Ph. 62 21-7511402-3 
   


       

Kirim email ke