Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) 24-25 Mei 2008, Pkl.20.00 WIB s/d selesai
Berkomunikasi dalam keluarga, berprestasi dalam ajang musikalisasi puisi, enam bersaudara kandung, menyusur jalan sunyi dari kampung ke kampung, kota ke kota Indonesia, sampai Pengucapan Puisi Dunia IX, Kuala Lumpur tahun 2002, Pentas buruh dan nelayan, tukang becak, rakyat jelata, akrab dengan pelajar, mahasiswa, dan pemuda, pentas untuk politikus dan pengusaha, aktivis HAM dan demokrasi, Presiden dan Pejabat Negara, alam yang berbisik, sentuhan sosial dan kemanusiaan. HTM : Rp.20.000,- Rp.30.000,- Rp.50.000,- PROFIL SINGKAT Deavles Sanggar Matahari, berdiri tahun 1990. Beranggotakan enam saudara kandung yang dipimpin orang tua mereka, H. Fredie Arsi, dan mengkhususkan kegiatan berkeseniannya di bidang Musikalisasi Puisi. Berawal dari minat berteater, baca puisi, main musik, dan berprestasi tiga tahun berturut-turut (1990-1994) di Pusat Bahasa, Dirjen Kebudayaan dan beberapa Ormas/OKP/PARPOL, Penyelenggara Festival Puisi Kelompok, Puisi Kelompok, Puisi Kreatif dan Musikalisasi Puisi. Deavies Sanggar Matahari telah menyelenggarakan Tour Pentas Keliling 10 Kota dan kabupaten di Sumatera Utara memasyarakatkan musikalisasi puisi di tahun 1992, dan pada bulan Oktober 1994 mendapat penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia Kementrian Pemuda dan Olah Raga sebagai Pemuda Pelopor DKI Jakarta di bidang Pengabdian Seni dan Budaya. SINOPSIS Berkomunikasi dalam keluarga, berprestasi dalam ajang Musikalisasi Puisi, enam bersaudara kandung menyusur jalan sunyi dari kampung ke kampung, kota ke kota di Indonesia sampai Pengucapan Puisi Dunia IX Kuala Lumpur tahun 2002, pentas buruh dan nelayan, tukang becak, rakyat jelata, akrab dengan pelajar, mahasiswa, dan pemuda. Pentas untuk politikus dan pengusaha, aktivis HAM dan demokrasi, presiden dan Pejabat negara. Alam yang berbisik sentuhan sosial dan kemanusiaan. Communicating within the family through art. Honoured at the Ajang Musical Poetry Festival. Six siblings on their silent path . . . from vilage to vilage, city to city in Indonesia, to Kuala Lumpur, Malaysia for the 9th World Poetry Event in 2002. Performing for the workers, fishermen, rickshaw drivers, helping bring common people, students and youth closer together . . . it is for political and business people, human rights activists and believers in democracy. The president and goverment officers . . . And for nature that whispers social justice and humanity.
