lebih asik baca di www.thaniago.blogspot.com
Musik Rasa Prancis
Oleh: Roy Thaniago
Kalau
bukan karena CCF (Centre Culturel Francais), mungkin publik musik klasik
Indonesia
sulit menemukan sajian musik Prancis dengan cita rasa yang khas orang Prancis.
AINSI la
Nuit artinya Seperti Malam Ini. Begitu kira-kira terjemahannya. Judul
inilah yang membuat penonton yang menghadiri konser kuartet gesek Quatuor
Diotima, terpukau. Bertempat di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta, pada tanggal
10 Mei 2008, kuartet yang terdiri dari Naaman Sluchin (biola), Zhao Yunpeng
(biola), Franck Chevalier (biola alto), dan Pierre Morlet (cello) ini sebagian
besar menyuguhkan musik-musik kontemporer Prancis dengan interpretasi mereka
sebagai orang Prancis – kecuali Yunpeng yang orang Asia .
Karya pertama – setelah sebelumnya
dibuka dengan penampilan yang gemilang dari pianis cilik Randy Ryan, yang
membawakan karya Chopin dan Debussy – yang dimainkan sebagai pembuka, Ainsi la
Nuit, adalah karya yang ditulis
komposer Prancis Henri Dutilleux (1916) pada tahun 1976. Dengan memainkan
ketujuh
bagiannya, lagu ini memakan waktu kurang lebih 16 menit. Namun bukan jenuh yang
tercipta dari pendengar, melainkan keterpesonaan yang begitu mendalam. Penonton
mesti bersabar untuk siap-siap mendengar tingkah musikal yang baru dari para
empat interpreter di atas panggung. Musik karya Dutilleux ini seperti seorang
kembara yang berpetualang mencari kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperbuat.
Maka penonton kala itu dikejutkan
oleh warna musik yang lain dari kebanyakan musik klasik konvensional. Efek-efek
musik ditimbulkan dengan menjarah habis-habisan kemungkinan yang bisa
didengungkan keempat instrumen gesek tersebut. Segala teknik seperti pizzicato,
harmonic, dan glissando dieksplorasi sedemikian luas demi melayani kebutuhan
ide musikal sang komposer.
Tak percuma empat pemuda lulusan
konservatori Paris dan Lyon ini datang dari jauh
ke Indonesia ,
sebuah negara yang masih sulit menerima musik ‘sastra’ macam ini. Karena apa
yang diinginkan sang komposer, berhasil dituangkan dengan amat baik oleh Quatour
Diotima. Tiap bagian diolah menjadi sajian bunyi yang amat teliti. Mereka juga
berhasil mengolah register nada yang jumpalitan (jarak nada amat ekstrim)
menjadi satu kemasan yang punya keindahan tersendiri.
Perubahan dinamika suara yang amat kontras memperpanjang daftar keterpukauan
penonton ketika karya ini rampung digarap.
Musik Duttilleux ini memang masih
hijau di telinga publik musik Indonesia .
Lewat Ainsi la Nuit, kita bisa
mendengar nuansa milik Claude Debussy atau Maurice Ravel tapi ditampilkan dengan
wajah yang sama sekali baru. Kejeniusan dan sikap perfeksionis Duttilleux
inilah yang membawanya menjadi seorang komponis yang disegani bukan saja di
Prancis, tapi di seluruh dunia.
Belum usai merekam dalam memori
musikal dengan baik karya Duttileux tadi, penonton langsung diserang dengan
musik Debussy (1862 – 1918) yang tak kalah magisnya. Setelah sebelumnya,
selesai memainkan karya pertama, Franck Chevalier, pemain biola alto, ‘rela’
turun ‘takhta’ (baca: panggung) untuk menegur penonton yang duduk di bangku
terdepan yang sedari tadi sibuk bermain musik juga: mengeluarkan minuman dari
plastik kresek berulang kali sepanjang karya pertama digelar.
Pada karya kedua ini, nuansa agak
lain dari sebelumnya. Karakter Prancis yang impresif amat menonjol lewat
permainan liris pada kalimat-kalimat musik. Dengan amat rinci tiap frase yang
ada dibahasakan dengan amat cermat dan fasih. Intensitas suara biola 1 dari
Zhao Yunpeng amat mengagumkan. Begitu pula ketiga rekannya yang secara teknik
tidak perlu diragukan lagi.
Formasi mereka berubah ketika
menyuguhkan karya ketiga milik Ludwig van Beethoven (1775 – 1882) berjudul
Quartet in A minor No. 15 Opus 132.
Posisi biola satu digawangi oleh Naaman Sluchin yang sebelumnya diisi Yunpeng.
Karya yang ditulis pada tahun 1825 ini berisi lima bagian. Karya Beethoven ini
amat
fluktuatif, dan karenanya mengejutkan. Justru itulah yang menjadi kekuatan
musik Beethoven. Dia mendobrak kebakuan bermusik pada zamannya. Pada saat
penonton dibuai dengan alunan yang espresif, tiba-tiba saja perubahan tonalitas
terjadi tanpa persiapan.
Kuartet yang memilih nama Diotima
sebagai penghormatan terhadap komponis Luigi Nono atas karyanya berjudul
Fragmente Stille, an Diotima ini memang
lebih cocok membawakan lagu-lagu modern kontemporer. Hal ini terlihat dari
pembawaan musik Beethoven yang kurang mendekati semangat pada zaman itu. Gaya
rubato yang harusnya kental malah tidak terlihat begitu alami.
Tidak semanis pembawaan mereka pada dua karya sebelumnya. Suara biola satu pun
nadanya sering goyang ketika bermain dalam pianissimo.
Sebagai encore, sajian musik milik Antonin Dvorak (1841 – 1904) memang
pantas menjadi pelengkap dan menjadi klimaks konser malam itu. Dvorak yang
dikenal dengan simfoninya The New World,
memberikan sentuhan lewat karyanya yang lain, Quartet in F Major atau yang
lebih dikenal dengan nama American Quartet. Dengan hanya memainkan
bagian terakhir, lagu ini dibawakan dengan amat virtuoso. Musik milik komposer
Cekoslovakia inilah yang rupanya
mengembangkan senyum penonton semakin lebar malam itu.
Roy
Thaniago
Penggiat Agenda 18,
Mahasiswa Jurusan Musik Universitas Pelita
Harapan
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang
juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/