Kepada Yth.Bupati BOJONEGORO yang baru,
 
Semoga tidak mengulang "kekurangan Bupati tetangga" , yang hebat membangun 
ekonomi dan prasarana, tetapi MENELANTARKAN KEBUDAYAAN WARISAN ( bukan 
kebudayaan pop saja yang diurusi ).
 
Akan halnya lempeng prasasti yang dari Bojonegoro, lebih baik Bupati menyewa 
antropolog dan filolog untuk membaca dan mentranskrip ISI PRASASTI itu lalu 
diterbitkan jadi buku, ketimbang hanya ingin mengambil prasasti itu dari Museum 
Empu Tantular lalu disimpan dan dikeramatkan, hanya pindah tempat penyimpanan 
saja.
 
Jangan seperti pemda Sumedang,Jabar, yang banyak menyimpan naskah kuno,tapi gak 
pernah dibaca dan diterjemahkan, sebaliknya hanya DISEMBAH-SEMBAH pada saat 
upacara Seren Tahun. Justru musyrik, tapi tidak bertambah ilmu sejarahnya.
 
Demikian dan saya percaya Bupati Suyoto adalah BEDA!
 
Supaya rakyat yang memilih tidak mengeluh..." Lhaaa kok sami mawon...."
 
Hormat dan salam,
VDAD

--- On Wed, 6/4/08, Reporter Milist <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Reporter Milist <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: :: Milist NB :: Sejumlah Benda Bersejarah di Bojonegoro Raib
To: 
Date: Wednesday, June 4, 2008, 10:04 PM








04/06/08 10:34
Sejumlah Benda Bersejarah di Bojonegoro Raib


Bojonegoro (ANTARA News)- Dalam dua puluh tahun terakhir, sejumlah benda 
bersejarah temuan masyarakat di berbagai situs yang berada di Kabupaten 
Bojonegoro, Jawa Timur, raib.

"Kami seringkali melacak informasi temuan benda bersejarah di situs yang 
tersebar di Bojonegoro, tetapi, setelah ditelusuri benda temuan itu sudah 
dijual, " kata Kepala Seksi (Kasi) Sejarah Nilai Tradisional dan Muskala Dinas 
Pariwisata dan Kebudayaan Bojonegoro, Dari Suprayitno, kepada ANTARA News, Rabu.

Menurut dia, berbagai temuan benda bersejarah tersebut diantaranya ditemukan di 
situs Tegal Gong di Kecamatan Ngasem, situs Krewengan di Desa Ngunut, Kecamatan 
Dander, juga situs Jawik di Tambakrejo dan situs Mlawatan di Kalitidu.

Sejumlah benda bersejarah yang pernah ditemukan masyarakat seperti guci kuno, 
bokor emas, uang logam emas dan uang gobak perak dijual lagi. "Kami kesulitan 
memperkarakan, karena tidak ada bukti, masyarakat yang menjual pernah 
menemukan," katanya dengan nada prihatin. 

Pencarian berbagai benda bersejarah yang ada di Bojonegoro di sejumlah situs, 
hingga sekarang ini masih terus berlangsung terutama di musim kemarau. 
Masyarakat melakukan pencarian benda bersejarah dengan menggali makam kubur 
kalang yang berhasil ditemukan untuk mendapatkan bekal kubur.

Biasanya di dalam kubur kalang, bekal kubur yang berhasil ditemukan selain 
manik-manik, juga giwang atau perhiasan emas."Ini banyak ditemukan di wilayah 
selatan Bojonegoro, " katanya. 

Dia menjelaskan, benda bersejarah yang berhasil ditemukan di sejumlah situs di 
Bojonegoro yang memiliki nilai sejarah tinggi diantaranya yakni prasasti 
Adan-adan pada jaman Majapahit, gading gajah purba, juga satu set peralatan 
gamelan kuno yang sekarang ini disimpan di Museum Tantular, Surabaya.

Disimpannya benda bersejarah tersebut, karena faktor perawatan juga ketika 
ditemukan Museum Rajekwesi yang lokasinya berada di Kantor Pendidikan 
Bojonegoro belum berdiri.

Khusus prasasti Adan-adan yang ditemukan di Desa Mayangrejo Kecamatan Kalitidu, 
pada 2 Maret 1992, pihaknya pernah mengajukan kepada Museum Tantular untuk 
mendapatkan replika terdiri dari 17 lempengan logam tembaga yang berisi tulisan 
dalam bahasa Jawa Kuno.

Permintaan untuk mendapatkan replika bersamaan dengan ditemukannya prasasti 
Adan-adan tersebut hingga sekarang ini belum dipenuhi.

Alasan yang dilontarkan sebelumnya untuk penyimpanan prasasti Adan-adan di 
Museum Tantular adalah faktor perawatan. 

Sekarang dengan telah berdirinya Museum Rajekwesi di Bojonegoro, diharapkan 
agar prasasti Adan-adan aslinya dikembalkan lagi ke Bojonegoro untuk disimpan 
di Museum Rajekwesi.

Dia menjelaskan di dalam sejarah Majapahit, prasasti Adan-adan (1223 Saka/1301 
Masehi) merupakan prasasti keempat yang berhasil ditemukan di Indonesia. 

Tiga prasasti lainnya yakni prasasti Kudadu (1216 Saka/1294 Masehi), prasasti 
Sukamerta (1218 Saka/1296 Masehi) dan prasasti Balawi (1227 saka/1.305 Masehi). 

Di dalam kesimpulan peneliti Drs Mashi Suhadi dan Drs M.M.Sukarto, prasasti 
Adan-adan disebutkan tergolong paling lengkap, dibandingkan ketiga prasasti 
lainnya karena pada tiga prasasti yang mengambarkan kebesaran kerajaan 
Majapahit tersebut ada beberapa lempengan yang hilang,

"Kami akan mempertimbangkan untuk meminta kembali benda bersejarah yang 
disimpan di Museum Tantular itu, " katanya menambahkan. (*)

COPYRIGHT © 2008
Sumber : Antara

-- 
************ ********* ********* ****
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************ ********* ********* ******  














      

Kirim email ke