Please Unsubscribe
----- Mesej Asal ----
Daripada: Reporter Milist <>
Dihantar: Jumaat, 6 Jun, 2008 12:14:53
Subjek: :: Milist NB :: Anti Kekerasan Hanyalah Slogan
Jum'at, 06 Juni 2008 ]
Anti Kekerasan Hanyalah Slogan
Oleh A.M. Saefuddin
Tragedi Monas (TM) mengundang reaksi keras dari berbagai elemen publik.
Tindakan kekerasan itulah titik persoalan yang disorot tajam. Bukan hanya
karena berdarah-darahnya korban pemukulan, tapi dampak lanjutannya yang jauh
lebih serius: konflik horizontal menjalar luas ke berbagai daerah.
Kita dapat memahami meluasnya konflik horizontal itu. Seperti kita saksikan
bersama, tak lama setelah terjadi TM, masing-masing tokoh menyatakan sikapnya.
Salah satu tokoh Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKBB) seperti Gus Dur bukan hanya mengecam tindakan Front Pembela Islam (FPI)
yang dinilai anarkis, tapi juga mendesak pemerintah untuk menangkap Habib Riziq
dan pengikutnya, sekaligus membubarkan organisasinya.
Riziq -seperti yang kita lihat- pun tidak diam dan malah balik menantang,
sebuah sikap yang mengundang tanya dari sisi kematangan jiwa, ilmu, dan
implementasi sikap keberagamaan (kearifan).
Reaksi Riziq -di mata pengikut Gus Dur- dinilai sebagai pelecehan secara
terbuka. Itu mendegradasikan citra dan wibawa tokoh panutannya.. Pelecehannya
dinilai bukan hanya terhadap diri Gus Dur, tapi juga menegatifkan citra
Nahdliyyin, bahkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Itulah sebabnya, di sejumlah daerah - terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan
Jawa Barat- sebagian masyarakat Nahdliyyin dan PKB merasa terpanggil untuk
bersikap tegas dan keras.
Seperti kita saksikan, tindakan yang diambilnya diwarnai dengan perusakan
sarana dan prasarana milik sejumlah orang yang diketahui sebagai tokoh-tokoh
FPI daerah. Meski tingkat anarkismenya relatif terbatas, tindakan
intimidatifnya terkategori seram.
Pentolan FPI di daerah dibikin sedemikian rupa dan tak punya pilihan lain
kecuali harus memenuhi keinginan para penekan: membuat pernyataan politik
(menyesalkan TM, mengundurkan diri dari FPI, bahkan mendesak agar ormas
keagamaan di bawah Habib Riziq itu dibubarkan).
Kerelaannya memenuhi keinginan pihak penekan membuat posisi sejumlah pentolan
FPI relatif aman, secara fisik atau pun psikologis. Untuk sementara, terjadi
suasana ''persaudaraan baru" -saling merangkul dengan penuh kehangatan.
Tapi, penekanan itu -dari sisi politik dan hukum- dapat dilihat sebagai
berlawanan dengan spirit demokrasi dan konstitusi. Itu bisa kita kategorikan
melanggar Pasal 28 UUD 45 yang jelas-jelas memberikan ruang kebebasan
berpendapat dan bersyarikat kepada seluruh anak bangsa tanpa pembedaan. Dalam
hal ini, penekanan itu malampaui wilayah dan otoritas negara.
Dari panorama itu, secara objektif, kita bisa melihat semua komponen yang pada
dasarnya menolak kekerasan -di tingkat bawah ataupun atas (elite)- akhirnya
terjerumus pada tindakan kekerasan itu sendiri. Proporsinya tidak lagi sebatas
persoalan sosial dan keagamaan, tapi sudah memasuki ranah politik dan hukum
yang semua prinsipnya sudah diabaikan.
Dalam hal ini, sudah terjadi akumulasi antara tindakan anarkis itu sendiri yang
dilakukan massa lapis bawah yang kecewa dengan sikap lantang Habibi Riziq;
keterlibatan elite lapis menengah yang berada di daerah-daerah yang melakukan
intimidasi secara sosial dan politik, dan akhirnya elite papan atas yang
membiarkan perilaku anarki yang beragam itu. Tindakan anarkis, termasuk yang
bersifat intimidatif - menurut catatan encyclopedia- merupakan tindakan
teroristik.
Yang perlu kita catat, sikap elite menjadi faktor determinan yang sangat kuat
untuk membuat api semakin besar atau sebaliknya; segera padam. Gerakan massa
bawah yang beringas itu bisa semakin ganas dan destruktif-masif jika sang elite
membiarkannya. Gerakan itu pun segera terhenti jika sang elite segera
mengeluarkan perintah untuk tidak melakukan aksi anarkis, termasuk intimidasi.
Inilah kekuatan strategis tokoh primordial di tengah Nusantara ini.
Kita saksikan fakta di lapangan, yang dilakukan sang elite justru membiarkan
tindakan para loyalisnya, padahal jelas-jelas anarkis dan melanggar prinsip
serta nilai demokrasi dan konstitusi. Sikap ini mengundang tanya, benarkah dia
committed terhadap sikap anti kekerasan?
Argumentasi apa pun (membeberkan pendirian anti kekerasan) sulit dipertahankan
selama sikapnya masih membiarkan tindakan anarkis anak buahnya. Paradoksalitas
sikapnya itulah yang mengabsahkan dirinya yang -boleh jadi- masih welcome
terhadap perilaku kekerasan.
Tentu, tidak semua sikap elite seperti itu. Fakta mencatat, di antara organ PB
NU dan ormas-ormas lainnya terus mengimbau untuk tidak melakukan tindakan
anarkis lagi (membalas secara membabi buta) dalam bentuk apa pun. Tapi, fakta
di lapangan pun mencatat, imbauan itu -untuk ''komunitas" tertentu- diabaikan.
Setidaknya, ada variabel yang dapat diterjemahkan. Yaitu, pengaruh Gus Dur di
tengah Nahdliyyin dan PKB masih lebih kuat daripada elitis lainnya meski
seormas dan separtai. Atau, kecerdasan emosi massa bawah memang demikian rendah
sehingga tak mampu mengendalikan diri ketika kepentingan- kepentingan
subjektifnya diusik. Atau juga rendahnya kecerdasan emosional para elite
sehingga membiarkan aksi brutal massa bawah.
Dalam kaitan ini, kita harus mencatat, sesungguhnya ketidakcerdasan emosi massa
lapis bawah dan kalangan elite yang mengakibatkan tindakan anarkis itu
merupakan kegagalan fundamental semua pihak -terutama para tokoh agama dan
pendidikan- dalam merembeskan nilai-nilai keagamaan, dalam kaitan makna sabar,
ukhuwah, atau sendi-sendi sosial lainnya.
Dengan pahit, kita harus katakan, pengamalan prinsip dan nilai keagamaan belum
sampai pada tahap refleksi sosial yang membuahkan akhlak dan perilaku yang
terpuji (mahmudah). Hal ini -secara langsung atau tidak- agama masih dilihat
sebagai urusan pribadi dan vertikalistik (ibadah mahdhah). Bidak pendidikan
hanya dilihat sebagai urusan kognitif (sistem yang membangun kecerdasan
aqliyyah).
A.M. Saefuddin, cendekiawan muslim
Sumber : Jawapos
--
************ ********* ********* ****
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************ ********* ********* ******
Know more about Malaysian food </a> - Yahoo! Malaysia Search.
http://malaysia.search.yahoo.com/search?p=malaysian+food&cs=bz&fr=fp-top