yahhh.. namanya jg orang mau komentar, masa mau dilarang seh??? ya ndak apa2 
lahhh... bebas kok.. tapi sopan! jangan maki2 yoooo??? ntar niatnya komentar, 
malah jadi gulat... hehehehehhehe...

Wi..Loe_sableng
*) Pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan
  ----- Original Message ----- 
  From: Imam Suyudi 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, June 07, 2008 3:12 PM
  Subject: :: Milist NB :: "Islam Menjawab Ahmadiyah"


        Bung Moderator, 

        saya kira perdebatan seputar keimanan ini jangan lagi dilakukan di 
milist ini seperti yang disepakati yang lainnya kemarin; kok masih muncul lagi 
seh? Gimana neh Bung Wie_Loe Sableng?

        --- On Sat, 6/7/08, Virgo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


          From: Virgo <[EMAIL PROTECTED]>
          Subject: Re: :: Milist NB :: "Islam Menjawab Ahmadiyah"
          To: [email protected]
          Date: Saturday, June 7, 2008, 11:12 AM



          Asssalamualaikum,
          Maaf, "catatan moderator"? sepertinya kok bertentangan dengan isi 
dari wacana bahasannya.
          Catatan moderator inilah yang dalam bahasan dibawah disebut sebagai 
apalagi yang
          mengatasnamakan Islam dan menggunakan dalil-dalil Al-Quran -- lebih 
merusak Islam ketimbang Ahmadiyah itu sendiri

          Umat Islam sangat cinta damai. Tetapi, umat Islam tentunya lebih 
cinta kepada kebenaran. Demi cintanya kepada kebenaran dan juga pada ayahnya, 
maka Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada ayahnya, "Aku melihatmu dan kaummu dalam 
kesesatan yang nyata!"

          Para pendukung Ahmadiyah - dari kalangan non-Ahmadiyah - baiknya 
membaca buku ini, sebelum bicara kepada masyarakat tentang Ahmadiyah. 
Ditegaskan di sini: "Kami dengan bersungguh-sungguh mengatakan bahwa orang 
tidak dapat menjumpai Allah Ta'ala di luar Ahmadiyah." (hal. 377).

          Catatan Moderator : Islam Adalah Rahmat Bagi Sekalian Alam... Islam 
mencintai Perdamaian. Organisasi yang mengatasnamakan Islam harusnya 
mengutamakan kelembutan dan Kedamaian
          >>> ini llllawakkk.. .

          TQ

            ----- Original Message ----- 
            From: Reporter Milist 
            Sent: Wednesday, June 04, 2008 10:44 AM
            Subject: :: Milist NB :: "Islam Menjawab Ahmadiyah"


            Catatan Moderator : Islam Adalah Rahmat Bagi Sekalian Alam... Islam 
mencintai Perdamaian. Organisasi yang mengatasnamakan Islam harusnya 
mengutamakan kelembutan dan Kedamaian

            ---- Original Message -----
            From: [EMAIL PROTECTED] com.au
            To: nongkrong_bareng@ yahoogroups. com
            Sent: Wednesday, June 04, 2008 10:18 AM

            "Islam Menjawab Ahmadiyah"



            Senin, 02 Juni 2008

            Di zaman yang penuh dengan fitnah saat ini, permainan media sangat 
canggihbisa menjadi fitnah bagi umat Islam. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] 
Adianke-236

            Oleh: Adian Husaini

            Harian Republika (23 Mei 2008) menurunkan artikel berjudul 
"Ahmadiyah Menjawab", karya MB Shamsir Ali SH SHD, Plt. Sekretaris Media dan 
Informasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Isinya berupa penegasan bahwa Ahmadiyah 
adalah satu Jamaah Islam. Sejak keluarnya artikel tersebut, saya menerima 
sejumlah SMS yang meminta agar artikel tersebut dijawab.

            Syukurlah, pada 26 Mei 2008, Republika menurunkan artikel Dr. 
Syamsuddin Arif yang berjudul "Solusi Masalah Ahmadiyah". Artikel ini dengan 
sangat gamblang menjelaskan apa dan bagaimana Ahmadiyah dan mengapa para 
cendekiawan dan ulama besar di dunia Islam sudah menegaskan bahwa 
Ahmadiyahadalah aliran di luar Islam. Catatan berikut ini akan lebih 
memperjelas bagaimana sebenarnya posisi Ahmadiyah dan Islam, khsusunya dari 
sisi pandang Ahmadiyah sendiri.

            Dalam berbagai artikel dan dialog di media massa Indonesia, para 
tokoh Ahmadiyah dan pendukungnya - yang biasanya mengaku bukan pengikut 
Ahmadiyah - sering mengangkat "logika persamaan". Bahwa, Ahmadiyah adalah 
bagian dari Islam, karena banyak persamaannya. Al-Quran-nya sama, syahadatnya 
sama, shalatnya sama, dan hal-hal yang sama lainnya. Maka, kata mereka, demi 
keharmonisan hidup dan kerukunan masyarakat, mengapa Ahmadiyah tidak diakui 
saja sebagai bagian dari Islam.

            Benarkah logika semacam ini?

            Penyair dan cendekiawan Muslim terkenal asal Pakistan, Dr. Muhammad 
Iqbal (1873-1938), pernah menulis sebuah buku berjudul "Islam and Ahmadism" 
(Tahun 1991 di-Indonesiakan oleh Makhnun Husein dengan judul "Islam dan 
Ahmadiyah". Terhadap klaim Mirza Ghulam Ahmad bahwa dia adalah nabi dan 
penerima wahyu, Iqbal mencatat: "Orang yang mengakui mendapatkan wahyu seperti 
itu adalahorang yang tidak patuh kepada Islam. Karena kelompok Qadiani 
mempercayaipendiri gerakan Ahmadiyah sebagai penerima wahyu semacam itu, 
berarti mereka menyatakan bahwa seluruh dunia Islam adalah kafir."

            Lebih jauh Iqbal menyatakan: "Setiap kelompok masyarakat keagamaan 
yang secara historik timbul dari Islam, yang mengakui kenabian baru 
sebagailandasannya dan menyatakan semua ummat Muslim yang tidak mengakui 
kebenaran wahyunya itu sebagai orang-orang kafir, sudah semestinya dianggap oleh
            setiap Muslim sebagai bahaya besar terhadap solidaritas Islam. Hal 
itu memang sudah semestinya, karena integritas ummat Islam dijamin oleh Gagasan 
Kenabian Terakhir (Khatamun Nabiyyin) itu sendiri."

            Dalam menilai Ahmadiyah, Iqbal tidak terjebak kepada retorika 
logika persamaan. Iqbal mengacu pada inti persoalan, bahwa Ahmadiyah berbeda 
dengan Islam, sehingga dengan tegas ia menulis judul bukunya, Islam and 
Ahmadism. Titik pokok perbedaan utama antara Islam dan Ahmadiyah adalah pada 
status kenabian Mirza Ghulam Ahmad; apakah dia nabi atau bukan? Itulah pokok 
persoalannya.

            Umat Islam yakin, setelah nabi Muhammad saw, tidak ada lagi manusia 
yang diangkat oleh Allah sebagai nabi dan mendapatkan wahyu. Tidak ada! Secara 
tegas, utusan Allah itu sendiri (Muhamamd saw) yang menegaskan:" Sesungguhnya 
akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta. Masing-masing
            mengaku sebagai nabi. Padahal, akulah penutup para nabi, tidak ada 
lagi nabi sesudahku." (HR Abu Dawud).

            Jadi, umat Islam yakin, siapa pun yang mengaku sebagai nabi dan 
mendapat wahyu setelah nabi Muhammad saw - apakah Musailamah al-Kazzab, Lia 
Eden, atau Mirza Ghulam Ahmad - pasti bohong. Itu pasti! Inilah keyakinan 
Islam. Karena itu, pada 7 September 1974, Majelis Nasional Pakistan menetapkan 
dalam Konstitusi Pakistan, bahwa semua orang yang tidak percaya kepada Nabi 
Terakhir Muhammad secara mutlak dan tanpa syarat telah keluar dari kelompok 
umat Islam.

            Sikap umat Islam terhadap Ahmadiyah sebenarnya juga dilakukan 
berbagai agama lain. Protestan harus menjadi agama baru karena menolak otoritas 
Gereja Katolik dalam penafsiran Bibel, meskipun antara kedua agama ini banyak 
sekali persamaannya. Tahun 2007, sebagian umat Hindu di Bali membentuk agama 
baru bernama agama Hindu Bali, yang berbeda dengan Hindu lainnya. Agama Kristen 
dan Yahudi mempunyai banyak persamaan. Bibel Yahudi juga dipakai oleh kaum 
Kristen sebagai kitab suci mereka (Perjanjian Lama). Tapi, karena Yahudi 
menolak posisi Yesus sebagai juru selamat, maka keduanya menjadi agama yang 
berbeda.

            Logika persamaan harus diikuti dengan logika perbedaan, sebab 
"sesuatu" menjadi "dirinya" justru karena adanya perbedaan dengan yang lain. 
Meskipun banyak persamaannya, manusia dan monyet tetap dua spesies yang 
berbeda. Akal-lah yang menjadi pembeda utama antara manusia dengan monyet. 
Setampan apa pun seekor monyet, dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang 
manusia.

            Jika umat Islam bersikap tegas dalam soal kenabian Mirza Ghulam 
Ahmad, pihakAhmadiyah juga bersikap senada. Siapa pun yang tidak beriman kepada 
kenabian Ghulam Ahmad, dicap sebagai sesat, kafir, atau belum beriman. Itu bisa 
dilihat dalam berbagai literatur yang diterbitkan Ahmadiyah.

            Pada tahun 1989, Yayasan Wisma Damai - sebuah penerbit buku 
Ahmadiyah - menerjemahkan buku berjudul Da'watul Amir: Surat Kepada Kebenaran, 
karya Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. Oleh pengikut Ahmadiyah, 
penulis buku ini diimani sebagai Khalifah Masih II/Imam Jemaat Ahmadiyah
            (1914-1965). Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Urdu, dan pada 
tahun 1961, terbit edisi Inggrisnya dengan judul "Invitation to Ahmadiyyat".

            Para pendukung Ahmadiyah - dari kalangan non-Ahmadiyah - baiknya 
membaca buku ini, sebelum bicara kepada masyarakat tentang Ahmadiyah. 
Ditegaskan di sini: "Kami dengan bersungguh-sungguh mengatakan bahwa orang 
tidak dapat menjumpai Allah Ta'ala di luar Ahmadiyah." (hal. 377).

            Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Masih al-Mau'ud mewajibkan 
umat Islam untuk mengimaninya. Kata Bashiruddin Mahmud Ahmad: "Kami sungguh 
mengharapkan kepada Anda agar tidak menangguh-nangguh waktu lagi untuk 
menyongsong dengan baik utusan Allah Ta'ala yang datang guna menzahirkan 
kebenaran Rasulullah saw. Sebab, menyambut baik kehendak Allah Taala dan 
beramal sesuai dengan rencana-Nya merupakan wahana untuk memperoleh banyak 
keberkatan. Kebalikannya, menentang kehendak-Nya sekali-kali tidak akan 
mendatangkan keberkatan." (hal. 372).

            Menurut Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad - yang oleh kaum Ahmadiyah 
juga diberi gelar r.a. (radhiyallahu 'anhu), setingkat para nabi -- bukti-bukti 
kenabian Mirza Ghulam Ahmad lebih kuat daripada dalil-dalil kenabian semua nabi 
selain Nabi Muhammad saw. Sehingga, kata dia: "Apabila iman bukan semata-mata 
karena mengikuti dengaran dari tuturan ibu-bapak, melainkan hasil penyelidikan 
dan pengamatan, niscaya kita mengambil salah satu dari kedua hal yaitu 
mengingkari semua nabi atau menerima pengakuan Hadhrat Masih Mau'ud a.s." (hal. 
372).

            Jadi, oleh kaum Ahmadiyah, umat Islam diultimatum: iman kepada 
Ghulam Ahmad atau ingkar kepada semua nabi? Bandingkan logika kaum Ahmadiyah 
ini dengan ultimatum Presiden George W. Bush: "You are with us or with the 
terrorists". Oleh Ahmadiyah, umat Islam dipojokkan pada posisi yang tidak ada 
pilihan lain kecuali memilih beriman kepada para nabi dan menolak klaim kenabian
            Mirza Ghulam Ahmad.

            Masih belum puas! Umat Islam diultimatum lagi oleh pemimpin 
Ahmadiyah ini: "Jadi, sesudah Masih Mau'ud turun, orang yang tidak beriman 
kepada beliau akan berada di luar pengayoman Allah Taala. Barangsiapa yang 
menjadi penghalang di jalan Masih Mau'ud a.s, ia sebenarnya musuh Islam dan ia 
tidak menginginkan adanya Islam." (hal. 374).

            Jadi, begitulah pandangan dan sikap resmi Ahmadiyah terhadap Islam 
dan umat Islam. Dan itu tidak aneh, sebab Mirza Ghulam Ahmad sendiri mengaku 
pernah mendapat wahyu seperti ini: Anta imaamun mubaarakun, la'natullahi 
'alalladzii kafara (Kamu - Mirza Ghulam Ahmad - adalah imam yang diberkahi dan 
laknat Allah atas orang yang ingkar/Tadzkirah hal. 749). Ada lagi wahyu versi 
dia: "Anta minniy bimanzilati waladiy, anta minniy bimanzilatin laa ya'lamuha 
al-khalqu. (Kamu bagiku berkedudukan seperti anak-Ku, dan kamu bagiku berada 
dalam kedudukan yang tidak diketahui semua makhluk/Tadzkirah, hal. 236).

            Itulah Ahmadiyah, yang katanya bersemboyan: "Love for all. Hatred 
for None". Namanya juga slogan! Zionis Israel pun juga mengusung slogan 
"menebar perdamaian, memerangi terorisme". Kaum Ahmadiyah pun terus-menerus 
menteror kaum Muslim dengan penyebaran pahamnya. Dalam Surat Edaran Jemaat 
Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni 1983 M, No. 583/DP83, perihal 
Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan Tarbiyah Jama'ah, dinyatakan:
            "Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya 
diberitahukan dengan tegas dan jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat selamat 
tanpa menerima Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa menerima Pimpinan Ahmadiyah. 
Tanpa Ahmadiyah dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan dan jika tidak 
mau juga menerima Ahmadiyah, tentu akan mengalami kehancuran."

            Umat Islam sangat cinta damai. Tetapi, umat Islam tentunya lebih 
cinta kepada kebenaran. Demi cintanya kepada kebenaran dan juga pada ayahnya, 
maka Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada ayahnya, "Aku melihatmu dan kaummu dalam 
kesesatan yang nyata!"

            Nabi Ibrahim a.s. dan semua Nabi adalah para pecinta perdamaian. 
Rasulullah saw juga pecinta damai. Tetapi, dalam masalah aqidah, kebenaran 
lebih diutamakan. Nabi Ibrahim harus mengorbankan kehidupannya yang harmonis 
dengan keluarga dan kaumnya, karena beliau menegakkan kalimah tauhid. Beliau 
menentang praktik penyembahan berhala oleh kaumnya, meskipun beliau harus 
dihukum dan diusir dari negerinya.

            Dalam kasus Nabi palsu, misalnya, Nabi Muhammad saw dan juga 
sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq lebih memilih mengambil sikap yang tegas, sebab 
ini sudah menyangkut soal aqidah, soal keimanan. Jangankan dalam soal kenabian. 
Dalam masalah kenegaraan saja, orang yang membuat gerakan separatis atau 
merusak dasar negara juga dikenai tuntutan hukum. Kaum separatis, meskipun 
melakukan aksi damai, berkampanye secara damai untuk mendukung aksi 
separatisme, tetap tidak dapat dibenarkan. Jadi, kalau orang berkampanye 
merusak Islam, seperti yang dilakukan oleh Ahmadiyah dan para pendukungnya, 
tetap tidak dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.

            Masalah aqidah, masalah iman, inilah yang jarang dipahami, atau 
sengaja diketepikan dalam berbagai diskusi tentang Ahmadiyah. Padahal, 
Ahmadiyah eksis adalah karena iman. Berbagai kelompok yang mendukung Ahmadiyah 
di Indonesia sebenarnya sudah sangat keterlaluan, karena mencoba untuk 
menafikan masalah iman ini. Bahkan tindakan-tindakan mereka - apalagi yang
            mengatasnamakan Islam dan menggunakan dalil-dalil Al-Quran -- lebih 
merusak Islam ketimbang Ahmadiyah itu sendiri.

            Umat Islam Indonesia memang sedang menghadapi ujian berat. Hal-hal 
yang jelas-jelas bathil malah dipromosikan. Lihatlah TV-TV kita saat ini, 
begitu gencarnya menyiarkan aksi-aksi kaum homo dan lesbi, seolah-olah mereka 
tidak takut pada azab Allah yang telah ditimpakan kepada kaum Luth. Bahkan, 
para aktivis Liberal seperti Guntur Romli, pada salah satu tulisannya di Jurnal
            Perempuan, dengan sangat beraninya memutarbalikkan penafsiran 
ayat-ayat Al-Quran, sehingga akhirnya menghalalkan perkawinan sesama jenis.

            Aktivis liberal yang satu ini juga sudah sangat keterlaluan dalam 
menghina Al-Quran. Dia menulis dalam salah satu artikelnya (Koran Tempo, 4 Mei 
2007), yang berjudul "Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah" bahwa: 
            "Al-Quran adalah "suntingan" dari "kitab-kitab" sebelumnya, yang 
disesuaikan dengan "kepentingan penyuntingnya" . Al-Quran tidak bisa melintasi 
"konteks" dan "sejarah", karena ia adalah "wahyu" budaya dan sejarah." Kita 
juga tidak mudah memahami pemikiran dan kiprah tokoh liberal lain
            seperti Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, dosen UIN Jakarta, yang begitu 
beraninya membuat-buat hukum baru yang menghalalkan perkawinan muslimah dengan 
laki-laki non-Muslim dan perkawinan manusia sesama jenis. Meskipun sudah 
mendapat kritikan dari berbagai pihak, tetap saja dia tidak peduli.
            Bahkan, di Jurnal Perempuan edisi khusus tentang Seksualitas 
Lesbian, dia memberikan wawancara yang sangat panjang. Judul wawancara itu pun 
sangat provokatif: "Allah Hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia."

            Di zaman yang penuh dengan fitnah saat ini, karena permainan media 
yang yang sangat canggih, berbagai fitnah dapat menimpa umat Islam. Orang-orang 
yang jelas-jelas merusak Islam ditampilkan sebagai pahlawan kemanusiaan. 
Sedangkan yang membela Islam tidak jarang justru dicitrakan sebagai
            "penjahat" kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, disamping 
terus-menerus berusaha menjelaskan, mana yang haq dan mana yang bathil, kita 
juga diwajibkan untuk berserah diri kepada Allah SWT. Kita yakin, dan tidak 
pernah berputus asa, bahwa Allah adalah hakim Yang Maha Adil. [Depok, 25 Mei 
2008/ <http://hidayatullah .com/> www.hidayatullah. com]


            -- 
            ************ ********* ********* ****
            Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
            ************ ********* ********* ****** 
       



   

  __________ NOD32 3028 (20080415) Information __________

  This message was checked by NOD32 antivirus system.
  http://www.eset.com

Kirim email ke