Jangan Berbohong pada Anak Kecil Seorang pemuda bule yang sedang mabuk, berjemur di pantai tanpa busana sama sekali. Ketika dia melihat seorang anak gadis kecil seusia 7 tahun berjalan melewatinya, dia menutup bagian tubuh tertentu dengan koran yang sedang dia baca. Karena heran, anak gadis kecil itu berkata, "Apa sih yang Oom tutupi dengan koran itu?" tanya gadis kecil itu polos sambil menunjuk koran. Karena malu, pemuda itu menjawab, "Ah tidak ada apa-apa. Itu hanya seekor burung pipit." "Seekor burung pipit?" tanya gadis itu penasaran. "Betul, hanya seekor burung pipit…" jawab pemuda itu lebih tegas. Setelah gadis kecil itu pergi berlalu, si pemuda kembali membaca koran sambil menenggak minuman kerasnya. Dan tak lama kemudian, si pemuda tertidur. Ketika terbangun, Pemuda tersebut berada di rumah sakit dan merasa nyeri yang amat sangat. Seorang polisi menanyainya, "Apa yang terjadi?" "Saya tidak tahu. Saya sedang berjemur di pantai, lalu ada gadis kecil menanyai saya sebentar dan tidak lama setelah dia pergi, saya tertidur dan kini tiba-tiba berada di sini. Polisi itu pergi ke pantai mencari gadis kecil dan bertanya, "Apa yang kamulakukan terhadap lelaki yang sedang berjemur?" Gadis kecil itu menjawab, "Saya tidak melakukan apa-apa terhadap Oom itu." Cuma waktu dia tidur, saya main dengan burung pipit miliknya. Tapi… tidak lama kemudian, burung itu meludahi muka saya. Karena itu saya patahkan leher dan paruhnya, saya pecahkan telur-telurnya dan saya bakar sarangnya!" Nonton Lumba-lumba (Ikan Cucut) Pada hari libur sekolah, Paijo, seorang anak desa yang belum pernah ke kota Jakarta diajak berlibur oleh sepupunya menginap di rumahnya di Jakarta. Hati Paijo sangat senang bercampur bangga. "Akhirnya ke Jakarta juga nih", dalam hati dia berkata dengan sedikit sombong. Hari Minggu Paijo diajak oleh sepupunya ke Ancol melihat atraksi lumba-lumba. Orang Betawi bilang ikan cucut. Pada saat ikan lumba-lumba melakukan berbagai atraksi, Paijo terkagum-kagum karena belum pernah melihat ikan sepintar itu. Saat atraksi ikan melompat, ada salah seorang penonton berteriak. Pelatih: "Ya, sekarang atraksi melompat… satu dua lompat!" Penonton: "GILE MEK!! CUCUTNYA GEDE BANGET!!" Paijo menoleh tapi tetap mencoba tenang. Saat atraksi itu diulang, seorang penonton itu teriak lagi. Pelatih: "Ulang lagi ya… satu dua lompaat!" Penonton: "GILE MEK!! CUCUTNYA GEDE BANGET!!" Paijo: "Sombong amat sih itu orang, mentang-mentang anak kota, pake teriak-teriak segala." Tidak mau kalah, Paijo mulai terpancing emosinya, ingin teriak juga. Paijo: "Emang situ doang yang bisa, saya juga bisa." Saat atraksi diulang lagi, Paijo mulai bersiap-siap menarik napas, ingin menandingi teriakan seorang penonton tadi, tapi keduluan. Pelatih: "Lagii… lompat lagi.. satu dua loommmpaat!" Paijo: "Ggg…" Penonton: "GILE MEK!! CUCUTNYA GEDE BANGET!!" Paijo: "Sialan!" Paijo semakin panas. Paijo: "Sialan, saya keduluan. Awas kali ini nggak boleh gagal." Kali ini Paijo bener-bener konsentrasi menarik napas panjang, menahan sampai atraksi melompat diulang lagi dan tiba saatnya ulangan terakhir untuk melompat. Paijo yang sejak tadi menahan napas menunggu detik-detik lompatan, mulai keringatan, tiba-tiba pelatih memberi aba-aba. Pelatih: "Ya ini untuk yang terakhir kalinya… siaap… satu dua…" Begitu moncong lumba-lumba menyembul dari air, Paijo langsung berteriak sekaras-kerasnya. Namun karena kecepatan, kata-katanya jadi terbalik. Pelatih: "Loommmpp…" Penonton: "Ggg…" Paijo: "GILE CUT!! MEMEKNYA GEDE BANGET!!" Penonton: "???????" Kontan seluruh penonton menoleh ke Paijo…
