Nikah belum ribut gono gini sudah




--------------------------------------------------------------------------------







  "Bila cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang.." (Iwan Fals)

  Asep (bukan nama sebenarnya) hanya bisa mewakilkan jeritan hatinya pada syair 
yang dilantunkan oleh Iwan Fals diatas. Pasalnya, kejadian yang menimpa dirinya 
persis seperti yang tertulis dalam lagu tersebut. Cintanya dengan Cucu (juga 
bukan nama sebenarnya) kandas. Buntutnya ia pun harus berurusan dengan polisi.

  Loh, apa pasal? Apakah lelaki yang tinggal di Bandung itu melakukan tindakan 
kekerasan terhadap sang pacar?. Tidak. Asep terlalu kalem untuk dilaporkan 
dalam tindakan kekerasan. Asep terpaksa memenuhi panggilan polisi karena 
dilaporkan oleh Cucu atas tindakan pencurian motor. Duh.

  Anehnya motor yang dilaporkan dicuri itu tercatat atas nama Asep sendiri. 
Bagaimana bisa?

  Cerita bermula ketika Asep dan Cucu masih dalam suasana dimabuk asmara. Asep 
mencintai Cucu, begitu pun Cucu tak bisa dipisahkan hari Asep. Setiap pagi, 
Asep datang ke rumah kost Cucu dan mengantarnya ke tempat kerja. Sorenya, Asep 
datang ke tempat kerja Cucu dan mengantarnya pulang ke rumah kost.

  Asep tak pernah protes, meski uang bensin untuk motor jadi bertambah. Belum 
lagi jarak yang jauh membuat Asep harus berpacu dengan waktu agar tidak 
terlambat masuk kerja. 

  Lalu, entah karena sering dimarahi oleh bos atau karena terlalu capek, Asep 
minta pengertian Cucu agar Cucu berangkat sendiri ke kantor. Cucu bersedia. Ia 
akan ke kantor naik angkot.

  Dasar terlanjur cinta, Asep tak tega melihat Cucu turun naik kendaraan umum. 
Motor kesayangan yang biasa dipakai untuk menjemput antar Cucu "dipinjamkan" 
pada Cucu. Sengaja kata dipinjamkan diberi tanda petik, karena maksud 
sebenarnya lebih dari sekedar dipinjamkan. Itu motor menginap di rumah Cucu.

  Begitulah, Asep kemudian rela mengayuh sepeda ketempat kerja yang tak terlalu 
jauh dari rumahnya. Dan Cucu tak berdesak-desakan diatas angkot.

  Cucu pun ternyata bukan tipe perempuan yang mau enaknya sendiri. Sadar kalau 
ia mendapat keuntungan dengan kehadiran sang motor, Cucu pun membalas kebaikan 
Asep dengan membayarkan cicilan motor. Juga, Cucu merawat sang motor seperti 
miliknya sendiri. Rutin datang ke bengkel servis dan memilihkan oli terbaik. 
Cucu bahkan punya panggilan kesayangan untuk sang motor, si Oncom.

  Klop, satu pria baik hati yang perhatian dengan kekasihnya dan seorang 
perempuan berhati lembut yang juga peduli dengan kondisi pacarnya.

  Kemudian, entah karena frekuensi pertemuan yang berkurang atau sebab lain. 
Asep dan Cucu sering terlibat pertengkaran. Dan puncaknya, mereka sepakat untuk 
"break" atau "colling down", atau apapun lah namanya. Mereka sepakat untuk 
tidak bertemu sementara waktu. Tetapi tidak berpisah. Mungkin bagi mereka yang 
sudah berkeluarga, ini disebut pisah ranjang.

  Asep masih cinta Cucu dan Cucu pun belum bisa sepenuhnya lepas dari Asep. 
Tapi untuk sesaat mereka butuh waktu untuk saling introspeksi diri. Asep tak 
lagi sibuk meng sms Cucu. Sebaliknya Cucu pun tak tagi mendengar ring tone 
khusus yang biasa berbunyi bila Asep memanggil.


  "Tak sengaja, lewat depan rumahmu." (Desy Ratnasari)

  Satu bulan sudah, Asep dan Cucu tak saling berkirim khabar. Asep tak bisa 
menipu diri. Ia merindukan Cucu. Cukup sudah ego ini dipendamnya. Apalagi, 
dalam waktu dekat peringatan hari jadian mereka akan tiba. Asep ingin 
memanfaatkan moment itu untuk kembali bersatu dengan Cucu.

  Sore itu, kantor tempat Asep bekerja pulang lebih awal. Orang tua pimpinan 
meninggal, dan para manager harus pergi melayat. Kesempatan bagus, Asep punya 
waktu ke kantor Cucu. Dengan seikat mawar dan ojek, Asep bergegas ke kantor 
Cucu.

  Namun, alangkah kaget Asep ketika sampai di pintu masuk kantor Cucu. Ia 
melihat Cucu bergelayut manja dengan seorang lelaki. Motor berkelebat 
ditingkahi derai tawa disapu angin sore. Dan motor yang di racak itu adalah, si 
Oncom. 

  Asep geram. Darahnya mendidih. Tak berpikir lama, ia menyuruh tukang ojek 
yang belum sempat dibayarnya untuk membuntuti sang kekasih. 

  Tukang ojek memang keren, tak perlu waktu lama, mereka sudah berada 
dibelakang Cucu dan entah siapa lelaki itu. Beberapa lampu merah sudah mereka 
lewati, namun belum ada tanda-tanda cucu dan lelaki itu berhenti. Dan jalan ini 
bukanlah arah menuju rumah kost Cucu. 

  Asep gelisah membuntuti. 

  Entah karena perasaan bersalah atau punya indra ke enam, Cucu merasa ada yang 
mengikutinya. Lalu di depan sebuah warung , Cucu berhenti. Ojek juga. Malang 
bagi Asep, ia terlupa memasang helm dan wajahnya dengan mudah dikenali.

  "Ngapain lu ngikutin gue?", ketus Cucu
  "Loh, napa gak boleh, lu kan masih pacar gue", balas Asep.
  "Pacar apa, kita kan udah bubar"
  "Bubar, kata siapa, kita sepakat untuk break"
  "Ya, break itu artinya bubar, lu bukan lagi pacarku"

  Dum, bagaikan petir disiang hari. Asep merasa kepalanya dihantam dua truk 
tronton. Cucu yang masih dicintainya ternyata sudah berubah. 

  "Ada apa Yang", lelaki yang sedari tadi nungguin si Oncom mendekati Cucu.
  "Ini, mantanku nyari gara-gara, ngikutin kita dari tadi"

  Mantan?. Dengan entengnya kata "mantan" keluar dari mulut Cucu. Asep pun 
menyerah. Pacar baru si Cucu menyalaminya, memperkenalkan diri. Tapi telinga 
Asep terlanjur pekak. Ia tak bisa mendengar apa-apa. 

  Pasrah, Asep melihat Cucu melingkarkan tangannya ke badan pacar barunya, dan 
berlalu. Tentu saja dengan si Oncom. Tinggallah ia dengan mawarnya yang mungkin 
sudah remuk. Dan tukang ojek yang menunggu bayaran.


  "namun tak kan mudah bagiku.." (Samson)

  Tak ingin berlama-lama dengan sedih, Asep bertekad memulai hidup baru. Dan 
itu akan dimulainya dengan kembali menunggang motor ke kantor. Sayangnya, saat 
ini sang motor telah berpindah ke rumah Cucu. Asep menghubungi Cucu dan meminta 
si Oncom dikembalikan. Cucu menolak.

  Asep memutar otak. Sadar cara halus tidak akan berhasil, Asep memilih 
"mengambil" si Oncom dari tempat kerja Cucu. Nah, gara-gara "mengambil" inilah 
Asep berurusan dengan polisi. 

  Kepada polisi, Asep mengaku kalo ia hanya mengambil balik motornya yang 
dikuasai Cucu. Cucu menolak mengakui si Oncom sebagai milik Asep karena ia 
sudah membayari cicilan Oncom selama 5 bulan. Cucu minta uangnya dikembalikan, 
bila Asep bersikeras mengambil Oncom. 

  Asep mengalah, ia bersedia menyerahkan uang sejumlah 2 juta pada Cucu. Cukup, 
tenyata tidak. Cucu masih menginginkan komputernya yang dipakai Asep. Asep 
bersedia mengembalikan komputer dengan syarat TV nya yang berada di kamar kost 
Cucu dikembalikan.

  Giliran Cucu meradang. TV itu adalah hadiah dari Asep ketika Cucu berulang 
tahun. Masa hadiah diminta lagi.

  Entah bagaimana cerita ini akan berakhir. Yang pasti, karena kesal Cucu pun 
bersikeras menolak mencabut pengaduannya di kantor polisi.

  Tinggallah Asep harus mengarang cerita kenapa ia mencuri motornya sendiri.


  Pesan moral: Motor, komputer dan TV tak mampu menyatukan cinta, he he...


  Bandung, 16 Desember 2007
  Arde Wisben, menulis ulang dari cerita adik tentang temannya...



  .
   



-- 
This message has been scanned for viruses and 
dangerous content by MailScanner, and is 
believed to be clean. 

 

Kirim email ke