Selasa, 10 Juni 2008
 Gaya Hidup Rumah Sakit Gudang Penyakit

Infeksi nosokomial bisa menjadi pemicu langsung ataupun tidak langsung
kematian pasien.

Penghuni rumah sakit sejenak ataupun dalam jangka lama umumnya mempunyai
satu harapan sama: sembuh, apa pun derita yang mereka rasakan. Namun, bukan
hal mustahil jika yang terjadi justru sebaliknya. Bukannya si penyakit dapat
diusir, derita infeksi malah bertambah. Selain arena berobat, rumah sakit
merupakan tempat berkumpul beragam jenis penyakit.

Nah, infeksi yang terjadi di rumah sakit (*health-care associated infections
*) ini sering disebut infeksi nosokomial. Direktur Jenderal Bina Pelayanan
Medik Departemen Kesehatan dr Farid W. Husain mengatakan serangan jenis
infeksi ini merupakan persoalan serius yang bisa menjadi penyebab langsung
ataupun tidak langsung kematian pasien. "Walaupun beberapa kejadian infeksi
nosokomial tidak menyebabkan kematian, namun menyebabkan pasien dirawat
lebih lama, dan pasien pun harus membayar lebih mahal," Farid menjelaskan
pada peluncuran kampanye pengendalian infeksi nosokomial di Jakarta pada
Rabu lalu.

Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang terjadi di rumah sakit atau
fasilitas pelayanan kesehatan setelah dirawat 2 x 24 jam. Sebelum dirawat,
pasien tidak memiliki gejala tersebut dan tidak dalam inkubasi. Itu pun
bukan dampak dari infeksi penyakit yang telah dideritanya. Pasien, petugas
kesehatan, pengunjung, dan penunggu pasien merupakan kelompok yang paling
berisiko mendapat infeksi nosokomial karena infeksi ini dapat menular dari
pasien ke petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien ke pengunjung
atau keluarga, ataupun dari petugas ke pasien.

Infeksi ini secara logis memang mudah digambarkan. Pasien yang sedang
dirawat di rumah sakit adalah orang yang mengalami gangguan kesehatan.
Umumnya daya tahan tubuh pasien menurun sehingga sangat rentan terhadap
infeksi. Lazimnya, infeksi nosokomial terjadi karena kebersihan rumah sakit
kurang baik atau tidak higienis serta tenaga kesehatan kurang terampil.
Pengambilan darah atau pemasangan peralatan infus yang tidak dilakukan
dengan cermat dan hati-hati juga dapat menjadi penyebab infeksi nosokomial.
Sebab, luka yang timbul dapat menyebabkan mikroba yang tadinya ada di
permukaan kulit atau di selaput lendir tubuh menerobos ke dalam darah.

Saat ini, kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit bervariasi antara 3 dan
21 persen, dengan rata-rata sekitar 9 persen atau dialami 1,4 juta pasien
rawat inap di rumah sakit di dunia. Di Indonesia, data akurat tentang angka
kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit belum ada. "Infeksi ini sudah
diketahui keberadaannya, tapi belum ada yang memberi datanya," ujar Farid.

Kepala Subdirektorat Bina Pelayanan Medik Spesialistik Rumah Sakit Khusus
Departemen Kesehatan drg Yosephine Lebang, MKes mengatakan mikroba penyebab
infeksi dapat ditransmisikan dari pasien terinfeksi oleh petugas kepada
pasien lain, lingkungan, dan pengunjung. Menurut dia, salah satu upaya untuk
memutus rantai penularan infeksi tak lain adalah menjaga kebersihan tangan.
Pasalnya, tangan merupakan media yang paling sering menyebabkan transmisi
patogen di rumah sakit.

Yosephine menambahkan, menurut penelitian di Swiss, ternyata kampanye
kepatuhan kebersihan tangan selama empat bulan dapat mencegah terjadinya 17
ribu infeksi nosokomial. "Banyak penelitian mengatakan pasien terinfeksi
dari tangan petugas kepada pasien lain karena petugas tidak mencuci tangan,"
ujarnya.

Untuk itu, Yosephine menyarankan dilakukannya teknik cuci tangan yang benar
dan dekontaminasi dengan kuku harus dijaga pendek dan bersih, tidak memakai
kuku palsu, serta tidak mengenakan pewarna kuku karena hiasan itu
memungkinkan pertumbuhan mikroba yang jumlah banyak. "Petugas harus memakai
sarung tangan untuk tugas-tugas tertentu," ia menambahkan.

Farid menyebutkan, untuk menjamin keamanan dan keselamatan pasien di rumah
sakit, Departemen Kesehatan bekerja sama dengan MRK Diagnostics dan The
Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit meluncurkan kampanye
program NICE (*no infection campaign and education*). Kampanye ini
memberikan pendidikan dan pelatihan pengendalian infeksi di rumah sakit bagi
tenaga kesehatan di rumah sakit dan dirancang untuk mengubah perilaku
petugas kesehatan di 100 rumah sakit selama Juni 2008 sampai Oktober 2009.

"Target awalnya 100 rumah sakit, dan selanjutnya ini akan dilakukan
terus-menerus di seluruh rumah sakit," katanya. Melalui program ini,
diharapkan infeksi nosokomial dapat ditekan serendah mungkin dan masyarakat
dapat menerima pelayanan kesehatan secara optimal. *MARLINA SIAHAAN*

Sumber : Koran Tempo


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************

Kirim email ke