Catatan reporter: kalau di indonesia mana ada potong gaji menteri yang ada
gaji mentri naik

BBM Naik,Malaysia Potong Gaji Menteri   Wednesday, 11 June 2008

KUALA LUMPUR (SINDO) – Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi
membuat terobosan kebijakan untuk meredam gejolak pascakenaikan harga bahan
bakar minyak (BBM).

Kemarin Badawi mengumumkan pemotongan gaji seluruh menteri dan pejabat
tinggi negara sebesar 10% sebagai wujud kepedulian negara terhadap
penderitaan rakyat akibat kenaikan harga BBM. "Para pejabat pemerintahan
harus memberikan contoh bagaimana caranya menghadapi tantangan itu," ujar
Badawi. Selain menteri, Badawi juga akan memotong gaji serta tunjangan
PM,deputi PM,dan wakil menteri. Satu paket dengan kebijakan itu, Badawi juga
mengurangi fasilitas liburan ke luar negeri bagi para pejabat tinggi.

Sejumlah mega proyek juga akan ditunda untuk menghemat anggaran. Gerakan
tersebut diperkirakan akan mampu menghemat anggaran negara sebesar USD613
juta (Rp5,71 triliun). Badawi mengaku menaikkan harga BBM merupakan pilihan
sulit yang belum ada alternatif kebijakan lainnya. Pekan lalu, PM Badawi
mengumumkan kenaikan harga BBM untuk jenis bensin mencapai 2,70 ringgit atau
Rp7.720 per liter, atau melonjak 41% dibandingkan harga sebelumnya.

Sementara BBM jenis solar naik 63% menjadi 2,58 ringgit atau Rp7.377. Di
Indonesia,kenaikan harga BBM yang sudah dilakukan lebih dulu,juga mengundang
penolakan di berbagai wilayah. Sebagai kompensasi, pemerintah menerapkan
program bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp100.000 per bulan per rumah
tangga.

Sama dengan Indonesia dan negara-negara lainnya, Malaysia menghadapi
meningkatnya jumlah subsidi karena kenaikan harga minyak mentah dunia.Tahun
ini saja, Malaysia harus mengeluarkan anggaran USD17 miliar (Rp158,32
triliun). Bisa dibilang, putusan tidak populer itu juga menyudutkan posisi
di tengah ancaman turunnya citra PM Badawi karena tidak menguasai mayoritas
kursi parlemen pada pemilu yang lalu.

Kemudian, ditambah desakan mundur dari mantan PM Mahathir Mohamad yang
semakin keras.Lebih parah lagi,kubu partai oposisi bersiapsiap menggaet
partai-partai koalisi Barisan Nasional untuk menggoyang posisi Badawi.
Pemerintah Malaysia menghadapi tekanan kuat untuk memotong gaji para menteri
dan pejabat tinggi dari kubu oposisi, dan partai berkuasa Organisasi
Nasional Melayu Bersatu (UMNO) juga meminta pengetatan pengeluaran belanja
pemerintahan.

Sazmi Miah, pemimpin sayap pemuda UMNO, mengatakan bahwa pemerintah harus
peduli dengan nasib rakyat setelah kebijakan kenaikan harga BBM yang memicu
aksi protes di seluruh penjuru negeri. "Segala terobosan harus dilakukan
pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan diri masyarakat,"ujar Sazmi pada
peluncuran blog kemarin.

"Pada dasarnya, seluruh pegawai negeri pemerintahan (termasuk para menteri)
harus dipotong gajinya sebesar 10% untuk menolong rakyat. Lebih-lebih,
sektor swasta juga harus dipotong penghasilannya untuk dikumpulkan di
keranjang dan diberikan pada rakyat," tambahnya. Sazmi juga mengusulkan
untuk menghapuskan uang tunjangan dan gaji tambahan para pejabat.

Dengan demikian, rakyat mengetahui bahwa pemerintah serius memotong
anggaran-anggaran yang tidak penting. Pemimpin oposisi Lim Kit Siang
mendukung usulan Sazmi.Hanya,Lim mengusulkan bukan pemotongan gaji
10%,melainkan harus sesuai dengan kenaikan harga BBM. "Jika pemerintah
menaikkan harga BBM sampai 41%, kenapa tunjangan para menteri kabinet dan
wakil menteri tidak dipotong sebanyak 50% saja," usulnya.

Dia mengatakan bahwa kemarahan publik dengan kenaikan BBM itu harus
ditanggap solutif, bukannya dibiarkan. Langkah taktis yang dilakukan PM
Badawi dalam pandangan analis politik Yahya Ismail, hanya kosmetik politik.
Dia menilai apa yang ditempuh Badawi tidak akan meredam kemarahan rakyat.
"Masa depan politik Badawi masih penuh risiko,"tuturnya.

Sementara dalam pandangan pakar politik yang lain, Khoo Kay Peng, pemotongan
penghasilan para menteri tidak akan menyelamatkan banyak uang negara.
Menurutnya, PM Badawi seharusnya merampingkan sektor publik dan memotong
anggaran yang tidak penting di pemerintahan, bukan hanya gaji para menteri.
"Pemerintah harus lebih banyak berkaca pada Singapura yang telah melakukan
efisiensi belanja pemerintahan," paparnya.

Bukan hanya pemotongan gaji yang digeber PM Badawi. Dia juga menjanjikan
dana segar bagi negara-negara bagian yang terkena dampak paling parah karena
kenaikan BBM. Pemerintahannya menganggarkan satu miliar ringgit atau
USD306,6 juta (Rp2,85 triliun) khusus untuk Negara Bagian Sarawak.

Menurut Alex Linggi, salah satu anggota parlemen dari Negara Bagian Sarawak,
PM Badawi berjanji akan memberikan bantuan sebesar satu miliar ringgit yang
diperuntukkan pengembangan berbagai proyek. Perhatian khusus Badawi pada
Sarawak merupakan hal wajar.Pasalnya, Sarawak merupakan negara bagian yang
paling banyak memproduksi minyak mentah.

Banyak yang menilai pemberian prioritas bantuan ke Sarawak juga untuk
kepentingan politiknya, sejak koalisi Barisan Nasional kehilangan banyak
dukungan di negara bagian itu. Menteri Besar Sarawak Abdul Taib Mahmud
mengatakan, pihaknya tidak banyak menuntut atas dampak kenaikan harga BBM.
"Kita hanya menginginkan keadilan, karena negara bagian kita yang
menghasilkan paling banyak minyak untuk Malaysia," tuturnya dikutip Bernama,
kantor berita resmi Malaysia. Dia mengatakan, dengan kenaikan BBM, jumlah
rakyat miskin makin meningkat. Untuk itu diperlukan keadilan pembagian
anggaran pemerintah.

Oposisi Tidak Puas

Sementara itu, kubu partai oposisi di Malaysia turun ke jalan menentang
kebijakan pemerintahan PM Badawi yang menaikkan harga BBM sampai 40%.

Kelompok oposisi menggelar protes atas kenaikan harga BBM yang tidak bisa
ditoleransi. "Kenaikan harga BBM akan berdampak serius terhadap ekonomi dan
ketidakpastian sosial," ujar Lim Guan Eng, Sekretaris Jenderal Partai Aksi
Demokratik (DAP),salah satu partai kubu oposisi. "Selama ini,
perusahaanperusahaan besar telah menikmati subsidi BBM,khususnya perusahaan
listrik independen.

Kenaikan BBM itu akan berdampak pada orang kaya dan menekan orangorang
miskin,"kata Lim. Bagi Ketua Partai Keadilan Rakyat (PKR) Wan Azizah Wan
Ismail,pengumuman pemerintah menaikkan harga BBM untuk bensin sebesar 40%
dan diesel mencapai 63% sangat mengecewakan rakyat. Dia mengatakan bahwa
rakyat merasa tertipu dengan kebijakan yang tidak prorakyat itu.

"Konon, kerajaan (pemerintah) sangat simpati dengan beban yang ditanggung
rakyat atas kenaikan harga barang. Namun, dengan kenaikan harga BBM itu
justru akan menaikkan harga kebutuhan pokok," ujarnya dikutip dari
Malaysiakini. Wan Azizah mengatakan, alasan pemerintah menaikkan BBM hanya
karena kenaikan harga minyak mentah dunia, dan beratnya beban subsidi
merupakan alasan basi.

Alasan pemerintah membandingkan harga minyak Malaysia dengan negaranegara
pengimpor minyak, seperti Singapura,Thailand, dan Indonesia, juga dinilai
suatu bentuk kebodohan. "Alasan-alasan itu sama sekali tidak bisa diterima
rakyat Malaysia,"tuturnya. Sebelumnya, pemimpin partai oposisi Malaysia
Anwar Ibrahim menuding pemerintahan Badawi akan jatuh karena kebijakan
kenaikan BBM itu.

Anwar menuduh pemerintahan Malaysia sudah tidak mendapatkan kepercayaan
penuh dari rakyat dengan kebijakan yang tidak prorakyat. "Secara politis,
pesan telah jelas pada 8 Maret lalu, di mana kondisi ekonomi Malaysia dalam
keadaan di ujung tanduk.Ini merupakan alasan kenapa kita menyarankan Badawi
untuk mundur," ujarnya.

Indonesia Belum Bisa

Deputi Menpan Bidang Pengawasan Gunawan Hadisusilo mengatakan, pemotongan
gaji bagi menteri dan pejabat eselon seperti dilakukan Malaysia belum bisa
diterapkan di Indonesia. Pemotongan gaji masih terlalu pagi untuk diterapkan
karena pemerintah masih fokus pada renumerasi gaji.

"Masih terlalu pagi itu, nanti dulu. Kita kan masih sibuk dengan evaluasi
kerja pegawai golongan,"tegas Gunawan kepada SINDO semalam. Reformasi
renumerasi gaji, tegas Gunawan, masih dalam taraf evaluasi. Evaluasi ini
termasuk dalam soal kisaran gaji,beban kerja,dan evaluasi jabatan. Patokan
gaji bagi pegawai dalam renumerasi gaji juga belum ditentukan. Karena itu,
pemerintah belum bisa memutuskan untuk memotong gaji pejabat dan menteri.

"Bagaimana bisa tiba-tiba dipotong, sementara patokan gaji saja belum
ditentukan,"ujarnya. Guru Besar Ilmu Pemerintahan, Universitas Gadjah Mada
(UGM) Yogyakarta Miftah Toha mengatakan, pemotongan gaji menteri dan pejabat
eselon di departemen sangat mungkin dilakukan meski langkah tersebut tidak
terlalu signifikan dalam efisiensi anggaran negara.

"Itu bagus.Bisa saja diterapkan di Indonesia,"kata Miftah Toha kepada SINDO
semalam. Namun, sunat-menyunat gaji menteri dan pejabat eselon di tingkat
departemen belum bisa diterapkan jika pola administrasi tidak dibenahi.
Dalam konteks ini, Miftah mencontohkan birokrasi di Indonesia masih "gemuk".


Lembaga-lembaga milik pemerintah menjadikan Indonesia boros anggaran.
Langkah paling tepat untuk melakukan efisiensi adalah dengan memangkas atau
melebur lembaga milik pemerintah. Jika ini diterapkan, niscaya gaji bagi
pegawai dan pejabat di lembaga tersebut bisa terpangkas.

"Reformasi saja itu lembaga pemerintah.Yang tak perlu tak usah
dibentuk.Banyaknya lembaga negara membuat kita boros,"tandasnya. Jika
pemerintah hendak memangkas gaji menteri atau pejabat eselon, langkah
tersebut bisa dilakukan asal ada jaminan pula, gaji pegawai rendah tidak
terpotong. (AP/AFP/Rtr/andika hendra m/sofian dwi)

Sumber : SINDO


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************

Kirim email ke