*

*http://www.tabloidnova.com/print_articles.asp?id=12889&no=1


 *Roy Suryo 1
**OGAH TERKURUNG TEMBOK "ISTANA"*

*Setiap kali muncul kasus-kasus besar yang berhubungan dengan dunia
teknologi informasi, nama Roy Suryo sering tampil ke permukaan. Pria dari
keluarga ningrat bernama lengkap Kangjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Roy
Suryo Notodiprojo ini, sering dimintai komentar oleh wartawan dan jadi saksi
ahli. Berikut kisah "pemberontak kecil" ini. *

[image: KLIK - 
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=12889&imageid=28027','detail_images','516','500');>Pekerjaan
utamaku adalah sebagai dosen di Pascasarjana Universitas Gadjah
Mada (UGM) dan Konsultan Teknologi Komunikasi (multimedia) independen di
berbagai perusahaan. Aktivitas lainnya, aku sering diminta menjadi pembicara
dalam seminar-seminar teknologi komunikasi. Akhir-akhir ini, aku juga
memberikan konsultasi untuk teman-teman aparat kepolisian. Yang paling
sering di Mabes Polri.

Kepada mereka, biasanya aku memberikan informasi tentang teknologi yang
selalu berkembang. Bisa positif dan negatif. Yang positif, menyangkut moral
dan agama, sedangkan yang negatif biasanya kasus kejahatan.

Sebenarnya, sih, Indonesia memiliki banyak pakar teknologi telematika
seperti aku. Bahkan, sejujurnya ada yang jauh lebih ahli dari aku. Namun,
kenapa Polri lebih sering memintaku menjadi saksi ahli ketika menghadapi
kasus-kasus besar yang menyangkut teknologi informasi? Bisa jadi karena aku
berani memberi komentar dan mempertanggungjawabkannya.

*JADI SAKSI AHLI*
Yang paling gres alah kasus Maria Eva (ME). Sejak awal, karena merasa sudah
pasti, aku berani mengemukakan informasi awal tentang karakteristik HP yang
digunakan ME untuk mengambil video. Ternyata ya benar-benar terbukti. Sesuai
dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)yang akhirnya dibuat polisi, gambar itu
beredar tanggal 30 November 2006.

Malam sebelumnya, aku sudah mendengar kabar itu, tapi belum mendapat kiriman
gambar videonya. Baru pagi hari aku mendapatkan. Ada berbagai versi file
yang kuterima. Ada yang berupa e-mail dan MMS. Akan tetapi, aku hanya
memastikan format aslinya yang dari hand phone. Itulah yang kuanalisis.

Sorenya sebelum teman-teman wartawan konfirmasi, kulihat tayangan di dua
stasiun teve tentang ME. Ia tidak mengakui bahwa video yang beredar itu
sebagai gambarnya. Malamnya, aku langsung menginformasikan pada teman-teman
wartawan tentang analisisku. Antara lain tentang durasinya 42 detik dan
diambil langsung oleh tangan si wanita.

Keputusan seperti itulah yang kemudian mendorong Polri memintaku menjadi
saksi ahli. Pernyataanku dibuat dalam BAP yang kemudian bermakna hukum dan
bisa dijadikan bukti di pengadilan.

[image: KLIK - 
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=12889&imageid=28028','detail_images','516','500');>Barangkali
keberanian mengemukakan informasi awal seperti itulah yang tidak
dimiliki pakar telematika lain. Mereka tidak berani bila akhirnya harus
mempertanggungjawabkan statemennya. Mereka tidak mau repot berurusan dengan
polisi. Sekarang aku bertanya, kalau kita tidak mau repot, bagaimana
masyarakat bisa terdidik? Bagaimana ilmu itu bisa tersosialisasi pada
masyarakat?
*
TERIMA BANYAK KRITIK *
Nah, karena sering muncul, aku mendengar banyak kritik yang mempertanyakan
kenapa aku terus yang tampil? Yah, bagaimana lagi. Kenyataannya, bila ada
kasus besar yang membutuhkan komentar pakar, pagi-pagi beberapa wartawan
harian datang padaku. Sebenarnya aku sudah menyodori nama-nama pakar
teknologi informasi untuk diwawancarai.

Malam menjelang tenggat waktu, teman-teman wartawan itu menghubungi aku
lagi. Mereka memang sudah mencoba menghubungi pakar yang kusodorkan tadi.
Namun, menurut teman wartawan tadi, jawaban pakar yang diwawancarai
muter-muter dan sulit dipahami. Bahkan, ada yang tidak berani komentarnya
dikutip wartawan. Mereka tetap memintaku untuk wawancara. Mau tak mau, aku
"terpaksa" memberikan komentar.

Selain itu, aku juga sering dikritik orang teknik. Kata mereka, apa yang
kuungkapkan terlalu sederhana. Iya sih. Masalahnya, kan, belum banyak bangsa
Indonesia yang memiliki pengetahuan mendalam tentang teknologi. Namun,
justru dengan bahasa yang sederhana, sekarang masyarakat tahu, bahaya
memakai hand phone. Juga guna kamera CCTV (dalam kasus Alda).

Lucunya ada juga yang mengomentari, aku mau repot jadi saksi ahli karena
numpang nampang di media. He he he. Itu, sih, risiko pekerjaan. Jangan lupa,
aku pun memikul risiko rugi waktu dan tenaga. Bahkan kadang uang. Aku memang
tidak pernah menarik bayaran untuk informasi yang kuberikan kepada wartawan
dan polisi.

Akan tetapi, untuk menjadi saksi ahli, terus terang kadang aku menerima uang
dari pembela sepanjang itu wajar dan setelah kesaksian selesai. Sebelum aku
bersaksi, pasti aku tolak. Terkadang aku juga terima uang dari polisi. Tapi,
uang itu lebih sebagai ganti transportasi pesawat dari Yogyakarta. Ya, aku
memang tinggal di Yogyakarta.




 * DIJULUKI ANAK KAMPUNG
*Omong-omong soal Yogyakarta, aku jadi ingat masa kecilku. Di kota budaya
inilah aku lahir dari rahim mendiang ibundaku, Ray Soeratmiyati Notonegoro.
Beliau adalah cicit dari Sri Paduka Paku Alam III. Ayahku adalah almarhum
Prof Dr dr KPH Soejono Prawirohadikusumo, SpS, SpKJ. Dari buah cinta ayah
dan ibu, lahir empat putra-putri. Aku yang lahir pada 18 Juli 1968 adalah
putra ke-3.

[image: KLIK - 
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=12889&imageid=28029','detail_images','516','500');>Sebagai
anak keluarga ningrat, ada aturan dalam keluarga yang tidak kusukai.
Aku dan saudara-saudaraku tidak boleh bermain dengan anak kampung di luar
tembok halaman rumah kami yang luas. Namun, aku sering melanggar aturan
orang tua. Aku senang bermain bersama anak kampung, misalnya saja main
kelereng. Tentu saja aku dihukum setiap kali melanggar aturan keluarga.

Bahkan, orang tua menjuluki aku sebagai anak kampung. Aku memang bandel dan
berani melawan. Tiap kali dilarang bergaul dengan anak kampung, aku selalu
bilang, "Apa bedanya kita dengan mereka?" Karuan saja orang tua marah. Dalam
adat Jawa ningrat, mana ada anak berani menjawab larangan orang tua?
Maklumlah, saat itu belum mengenal adat demokrasi.

Di luar larangan itu, sebenarnya aturan orang tua ada baiknya. Sebab, mereka
menginginkan setiap hari tiga kali, kami harus bertemu di meja makan untuk
santap bersama. Jadi, aturan itu sebenarnya untuk mengontrol putra-putri.
Bila satu saja putra-putri tidak kumpul di meja makan, pasti pembantu akan
mencari. Biasanya akulah yang dicari untuk makan bersama.

Ada lagi aturan setiap Sabtu dan Minggu, kami harus kumpul semua untuk pergi
bersama. Nah, kali ini bukan aku saja yang melanggar. Kakakku malah membuat
jadwal sendiri untuk bertemu dengan pacarnya. Bagaimana dengan aku? Semasa
SD, tiap Sabtu malam aku malah sering tidak pulang ke rumah. Sepulang
sekolah, aku langsung main bersama teman satu genk yang cerdas. Ada saja
yang kami kerjakan. Misalnya membuat maket sekolah.

[image: KLIK - 
Detail]<javascript:realview('detail_images.asp?act=1&id=12889&imageid=28030','detail_images','516','500');>
*AKTIF KEGIATAN SEKOLAH *
Masih ada larangan orang tua yang kulanggar. Mereka melarangku naik sepeda.
Alasannya, mereka khawatir aku jatuh dan terluka. Kalau tidak memberontak,
bukanlah aku. Menginjak masuk SMPN 5, aku berani pinjam sepeda kotor
temanku. Naik sepeda saja enggak pernah, kok, langsung naik sepeda motor.
Apa yang terjadi? Aku benar-benar jatuh dan gegar otak beneran.

Kelakuanku memberontak aturan, diikuti kakak perempuanku. Ditambah lagi
karena aku sering memberontak, aturan ketat orang tua jadi lebih longgar. Di
balik kebandelanku, aku termasuk anak yang berprestasi. Aku masuk SMPN 5
yang termasuk sekolah favorit. Semasa sekolah inilah aku aktif berbagai
kegiatan. Mulai dari baris-berbaris sampai ikut Karya Ilmiah Remaja.

Titik balik kenapa aku suka teknologi bermula dari kegagalanku masuk tim
basket sekolah. Kekecewaanku berkurang ketika sedang bengong di pinggir
lapangan, kulihat seorang guru elektronika tengah memasang kabel intercom.
Namanya Pak Sukiman. Kudekati guru itu dan menawarkan bantuan.

Awalnya niat baikku ditolak. Maklum aku masih kelas satu. Lama-kelamaan,
guru menerima tawaranku setelah melihat kesungguhanku. Sejak itu, setiap
sore, ada saja kegiatan elektronika yang kukerjakan di sekolah. Bahkan,
karya rakitan bel musik sekolah masih berfungsi sampai sekarang. Kabel-kabel
yang kupasang dulu masih ada.

(*Minggu depan: Menginjak remaja, semakin banyak prestasi yang diukir Roy.
Berbagai kejuaraan ia raih. Namun, keisengannya masih saja ada. Apa itu?
Ikuti kelanjutannya di edisi depan.*)

<http://www.tabloidnova.com/print_articles.asp?id=12889&no=1>

Reply via email to