Forwarded conversation
Subject: [jurnalisme] Barcelona yang Keren, dan PKS yang Oportunistik
------------------------

From: *Farid Gaban* <[email protected]>
Date: 2009/5/28
To: [email protected]


Meski menyukai dan menjagokan "sepakbola indah" Barcelona sejak awal, saya
tak menyangka mereka bisa bermain sebagus tadi malam, sekaligus membabat
Manchester United dengan angka telak, 2-0.

Saya bahkan semula tidak yakin benar Barcelona bisa mengalahkan United, yang
punya pemain mumpuni dari depan hingga belakang. Saya sudah siap Barcelona
kalah dan jikapun kalah saya akan tetap memujinya untuk permainan indah
mereka sepanjang musim ini. Kalah yang bermartabat.

Ternyata Barcelona menang. Tapi, itu sebenarnya hanya bonus. Proses lebih
penting dari hasilnya.

Beberapa tahun lalu saya salut kepada supporter Blackburn, salah satu klub
Liga Inggris, yang meski tim mereka kalah, mereka berdiri tepuk tangan
menggemuruh untuk menyemangati timnya yang keluar lapangan dengan lunglai.
Itu pertandingan yang menentukan. Blackburn terdegradasi, turun dari Liga
Utama ke Divisi I.

Proses lebih penting dari hasilnya. Tidak hanya dalam kompetisi sepakbola,
tapi juga dalam politik.

Dalam kancah politik Indonesia sekarang, banyak jajak-pendapat mengunggulkan
pasangan Yudhoyono-Boediono dalam pemilihan presiden nanti. Meski tak suka
pada platform ekonomi pasangan ini, harus saya akui merekalah yang potensial
akan memenangkan pertandingan.

Sepakbola tidak sama dengan politik. Tapi, memilih presiden pada dasarnya
adalah memilih platform kebijakan publik, atau ideologi, sama seperti kita
memilih Barcelona karena suka bagaimana Messi dan Xavi bermain di lapangan.

Kita bukan memilih mereka yang potensial menang, tapi yang memang kita sukai
ideologi atau platform-nya.

Dalam konteks ini, sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belakangan ini
hanya menambah kekecewaan bagi saya. Jika berita Kompas.com pada 25 Mei 2009
bisa dipercaya, Wakil Sekjen PKS Zulkieflimansyah mengucapkan kalimat yang
melukiskan sikap oportunistik partai yang mengusung bendera Islam ini.

Zulkieflimansyah mengatakan alasan utama mendukung koalisi Yudhoyono adalah
dari "elektabilitas dan besarnya peluang SBY untuk menang" dilihat dari
berbagai jajak-pendapat.

Bagi saya, tidak penting benar PKS mau mendukung siapa (saya tak memilih
mereka dalam pemilu lalu). Tapi, argumen Zulkieflimansyah melukiskan sikap
lazim yang merusak dalam politik kita. Partai mendukung koalisi bukan
berdasar ideologi atau platform kebijakan publik, tapi berdasar peluang.

Tidak ada prinsip. Tidak ada sikap. Oportunistik.

Sikap politisi seperti itu juga sebenarnya menjangkiti banyak pemilih. Di
Indonesia masa kini, martabat orang cenderung ditakar dari kemenangan.
Kekalahan dan kegagalan adalah nista. Tak heran jika banyak pemilih
cenderung memilih kandidat yang potensial menang dilihat dari hasil
jajak-pendapat, tanpa peduli kebijakan publik yang kelak akan diambil.
Inilah yang disebut "bandwagon-effect".

Jajak-pendapat tidak perlu dilarang. Tapi, mengingat efek seperti ini, jajak
pendapat harus benar-benar bisa diuji metodenya. Para penyelenggaranya harus
benar-benar transparan membuka metodologi mereka.

Kembali ke sepakbola, saya mendukung Barcelona bukan karena peluangnya untuk
menang, melainkan karena suka akan gaya permainannya. Dan dalam pilihan
presiden, saya mendukung Mega-Prabowo karena platform kebijakan publik yang
mungkin akan diambil, meski peluang mereka untuk menang lebih kecil
ketimbang Yudhoyono-Boediono. Saya akan tetap menghargai platform itu meski
mereka kalah.

Proses dan detil platform yang ditawarkan lebih penting dari hasilnya. Kalah
dengan menjaga martabat serta prinsip bukanlah suatu yang hina.

fgaban



------------------------------------

Yahoo! Groups Links




----------
From: *ging ginanjar* <[email protected]>
Date: 2009/5/28
To: [email protected]


Soal Barcelona, ay sepakat seratus persen.
Juga, sebetulnya, Arsenal.
Ay dukung Barcelona dan Arsenal bukan karena mereka selalu menang dan selalu
juara dan akan juara dsb. Melainkan karena paham dan filosofi sepakbola
mereka. Luar dalam.
Namun, bagaimana bisa dukungan terhadap Barcelona dianalogikan dengan
dukungan terhadap Mega-Prabowo?
Pensejajaran ini merupakan suatu penistaan terhadap Barcelona.

Dan saya kaget Anda mendukung Mega-Prabowo, "karena platform kebijakan
publik yang mungkin akan diambil".

Kata kunci dalam pilihan ANda itu adalah  "yang mungkin diambil".
Padahal mereka punya catatan, jejak rekam mengenai kebijakan publik yang
sudah diambil.

Saya tak akan bicara soal paham ekonomi mereka, yang mengaku kerakyatan,
yang jelas sekadar ngaku-ngaku dan palsu.
Namun, catatan Prabowo saja lah yang gampang dilihat. Soal penculikan --dan
sebagian di antara yang diculik sampai sekarang masih hilang dan pasrti
sudah terbunuh. Itu adalah "kebijakan publik" yang suidah diambil. dan
Bayangkan bagaimana "kebijakan publik yang mungkin akan diambil" menyangkut
"ancaman keamanan" atau apapun nanti. Apakah penculikan dan pembunuhan "yang
kemungkinan akan dilakukan" itu (karena pernah dilakukan dan ia tak
menyesalinya --dalam pertemuan denganJFCC ia mengatakan kira-kira,
peruistiwa itu disecbut penculikan karena terjadinya pergantian rezim--)
bisa dan absah sepanjang platform kebijakan publiknya --setidaknya dari
retorikanya-- anti asing, anti neoliberalisme, "pro ekonomi rakyat".

Anda cermat dalam menelisik catatan mengenai bagaimana neolibbnya
Boediono-SBY. Terima kasih. sangat berguna untuk para calon pemilih.
Bagaimana dengan catatan Prabowo (di luar jejak rekam kemiliterannya)
mengenai kekayaannya yang raksasa, yang bahkan berlipat luar biasa ketimbang
lima tahun lalu? Bagaimana dia jadi Ketia Himpunan Tani dan Nelayan tanpa
pernah jadi petani ataupun nelayan. Bagaimana dia jadi Ketua Himpunan
Pengusaha Pasar tanpa pernah jualan gado-gado atau bakwan atau kain, atau
perabot dapur di pasar Babatan atau Beringharjo? Tentun jawabannya tak bisa
"kan diminta, masa menolak".  Dan perbaikan nasib apa yang dinikmati petani
dan nelayan dan pedagang pasar sesudah Prabowo jadi bos organisasi mereka?

Itu mengenai kubu Mega-Pro.
Adapun di kubu Barcelona, wahai Farid Gaban, Pep Guardiola tidak menculik
dan menganiaya pemain Real Madrid agar tak bisa tampil dalam pertandingan
yang dimenangkan Barcelona 6-2.  Bahkan ketika 2 tahun Barcelona terpuruk,
dan di musim kompetisi 2007-2008 seharusnya masih bisa juara La Liga karena
nilai mereka sama dengan Madrid, namun kalah head-to head, mereka tak
menjahati Madrid. Bahkan tahun lalu, ketika mereka main jauh lebih bagus
metimbang Manchester di semifinal, namun gagal mencetak gol, tetap tak
menurunkan Tim Mawar untuk "mengamankan" para pemain belakang MU, atau
mengancam wasit atau apapun.

Silakan Anda mendukung Mega-Pro. Namun jangan menghubungkannya dengan
Barcelona. Itu merupakan semacam perbuatan syirik. Menyekutukan Barcelona.
Silakan Anda mendukung Mega-Pro. Namun jangan dengan memanipulasi,
atau menafikan, atau mengingkari catatan hitam mereka. baik dio segi HAM,
kejahatan politik, perilaku ekonomi,  dll.





________________________________
Von: Farid Gaban <[email protected]>
An: [email protected]
Gesendet: Donnerstag, den 28. Mai 2009, 10:24:52 Uhr
Betreff: [jurnalisme] Barcelona yang Keren, dan PKS yang Oportunistik
.






[Non-text portions of this message have been removed]




-- 
things left unsaid, http://ryosaeba.wordpress.com
maxgain scams, http://maxgain.wordpress.com

Reply via email to