Jumat, 15/06/2007
Menjadi pemimpin konsorsium Neptune
CP Prima tak ikut akuisisi saham Dipasena

  - 
Cetak<http://web.bisnis.com/cetak.php?cid=1&id=10205&url=http%3A%2F%2Fweb.bisnis.com%2Fedisi-cetak%2Fedisi-harian%2Fbursa%2F1id10205.html>

JAKARTA: Meskipun menjadi pemimpin konsorsium Neptune,  PT Centra
Proteinaprima Tbk (CP Prima) diketahui tidak ikut mengakuisisi 100% saham PT
Dipasena Citra Darmaja yang nilainya mencapai Rp688,12 miliar.

Sebagai pemimpin konsorsium  CP Prima memberikan deposit Rp25 miliar seperti
ditetapkan Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sebagai syarat pendaftaran calon
pemilik Dipasena.

Dalam laporannya kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
(Bapepam-LK), emiten tambak udang terintegrasi itu mengaku CP Prima hanya
menjadi pengatur dan tidak menyetorkan dana sepersenpun untuk mencaplok
perusahaan udang tersebut.

Dalam penjelasannya kepada Kepala Divisi Pencatatan BEJ Ignatius
Girendroheru pada 23 Mei 2007 dengan surat No: 24/CPP-JKT/CS/07, CP Prima
mengaku sebagai pemimpin konsorsium Neptune dengan anggota PT Pertiwi
Indonesia dan Blue Lion Grup.

Selanjutnya pada 24 Mei 2007 melalui surat No: 25/CPP-JKT/CS/07 CP Prima
memaparkan PPA melalui surat no: S-1370/PPA/D-PAKP/0507 telah menyatakan
Neptune sebagai pemenang.

Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan (PKP) Sektor Riil Bapepam-LK
Nurhaida mengatakan CP Prima membeli sebagian aset Dipasena pasca akuisisi,
bukannya membeli saham perseroan melalui konsorsium Neptune. Terkait working
interest (porsi kepemilikan) CP Prima di konsorsium Neptune, Nurhaida tidak
menjelaskan lebih detil.

"CP Prima tidak ikut membeli. Mereka hanya sebagai arranger karena harus ada
pihak yang punya keahlian di bidang tambak udang, menangani kegiatan
operasional. Ada agreement [kesepakatan] seperti itu, mereka tidak ikut
beli," tuturnya kepada pers, kemarin.

Karenanya, otoritas pasar modal menganggap transaksi tersebut tidak
material, sehingga tidak perlu persetujuan rapat umum pemegang saham luar
biasa (RUPSLB) sebagaimana ditegaskan dalam peraturan No.IX.E.2 tentang
transaksi material.

Nurhaida menambahkan pihaknya telah menerima laporan CP Prima tentang
rencana RUPSLB yang mengagendakan persetujuan publik pemegang saham atas
rencana pembelian aset Dipasena dan beberapa perusahaan afiliasi Sjamsul
Nursalim itu.

"Untuk detil agendanya, mereka harus menyampaikan dalam 28 hari sebelum
RUPLSB. Ini yang mesti dilihat nanti, yakni detil nilai aset yang mereka
beli," ujarnya.

Terhadap transaksi itu, otoritas pasar modal akan melakukan penilaian
pembelian aset, bukan penilaian pembelian saham.

CP Prima telah melibatkan Barclays Capital dan BNP Paribas sebagai penasihat
keuangan untuk mengakuisisi Dipasena.

Dalam perdagangan kemarin, harga saham berkode CPRO ini ditutup pada posisi
Rp610 per saham, tak berubah dibandingkan posisi perdagangan sehari
sebelumnya.

*Komitmen jelas
*
Sekretaris Perusahaan PPA Renny O. Rorong ketika dikonfirmasi mengatakan
konsorsium Neptune telah menunjukkan kemampuan keuangan untuk membeli
Dipasena dan menjalankan oeprasional perusahaan pertambakan tersebut.

"Mereka mempunyai komitmen yang jelas dalam mengembangkan Dipasena," ujarnya
kemarin.

Sekretaris Perusahaan CP Prima Hendrik Silalahi menjelaskan perseroan akan
menjelaskan secara detail transaksi pembelian Dipasena dalam rapat umum
pemegang saham (RUPS) perseroan.

"Kami sampaikan sesuai dengan ketentuan dan UU maupun persyaratan yang
ditetapkan oleh BEJ, Bapepam & LK maupun otoritas terkait lainnya," paparnya
tadi malam.

Neptune membeli 100% saham Dipasena dengan nilai jual Rp688,12 miliar.

Nilai buku perusahaan tambak tersebut ketika diserahkan ke BPPN sebagai
Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) Sjamsul Nursalim yang mencapai
Rp28 triliun ditetapkan Rp19,9 triliun. (arif.gunawan@
bisnis.co.id/[EMAIL PROTECTED])

Oleh *Arif Gunawan S. & M. Munir Haikal*
Bisnis Indonesia


--
===========================
Se queremos progredir, não devemos repetir a história, mas fazer uma
história nova.
If we want to progress, we do not have to repeat history, but to make a new
history.

Kirim email ke