katanya bursa berjangka untuk proteksi para petani. nyatanya malah merepotkan 
saja.
ni dia jadinya kalo belum panen udah dijual.

----- Original Message ----
From: Bernie <[EMAIL PROTECTED]>
To: obrolan-bandar <[email protected]>; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, June 12, 2008 8:56:30
Subject: [obrolan-bandar] Spekulasi Dahsyat Naikkan Tensi


Spekulasi Dahsyat Naikkan Tensi
Kamis, 12 Juni 2008 | 00:17 WIB 

Washington, Selasa - Terdeteksi atau tidak terdeteksi, ada kekuatan besar yang 
berperan menaikkan harga minyak, pangan, dan selanjutnya mengacaukan ekonomi 
global. Spekulan yang melakukan spekulasi dahsyat adalah salah satu tudingan. 
Spekulasi menaikkan harga menyengsarakan rakyat dan menaikkan tensi darah 
politisi.

Demikian terungkap dari pertemuan Pengawas Bursa Berjangka AS (Commodities 
Futures Trading Commission/CFTC) di Washington, yang juga dihadiri pengawas 
bursa global dan investor raksasa seperti JP Morgan, Merrill Lynch, dan Goldman 
Sachs.

"Kenaikan harga minyak dan komoditas telah memberi kendala pada keluarga, 
petani, dan pebisnis. Kami menangkap keprihatinan publik tentang pentingnya 
transparansi dan integritas di bursa berjangka. Masalahnya, begitu harga minyak 
naik, tekanan darah politisi juga naik. Agen pemerintah harus berbuat sesuatu," 
kata penjabat Ketua CFTC Walter Lukken.

Terjadi saling tuding di antara hadirin soal penyebab kenaikan harga minyak. 
John Heimlich, ekonom senior dari Asosiasi Transportasi Udara, mewakili 
industri penerbangan AS, mengarahkan tudingan kepada Goldman Sachs. "Apakah 
divisi perdagangan Goldman Sachs diuntungkan dari ramalan yang dibuat salah 
satu divisi Goldman Sachs? Ramalan Goldman menyerukan aksi beli atas minyak, 
yang ternyata diikuti dengan melesatnya investasi pada komoditas minyak. Apakah 
tidak ada konflik kepentingan yang melekat dalam ramalan itu," demikian 
Heimlich.

Direktur Pelaksana Goldman Sachs, Donald Casturo, membantah melakukan hal 
seperti itu.

Sean Cota, salah satu anggota komite pengendalian bursa, mengatakan khawatir 
dana-dana investasi negara-negara kaya, dana-dana pensiunan, juga mengalir ke 
komoditas minyak, untuk mengamankan nilai aset dari kemerosotan dollar AS. 
"Kini ada tiga mata uang dunia, dollar AS, euro, dan komoditas, khususnya 
minyak," kata Cota.

Secara implisit, CFTC menyimpulkan ada spekulasi dahsyat, karena itu dibentuk 
satuan tugas yang akan meneliti lebih dalam lagi soal aksi spekulan. Satgas itu 
melibatkan personel dari CFTC, Badan Pengawas Bursa Saham AS (SEC), Bank 
Sentral AS, Departemen Pertanian dan Departemen Keuangan AS.

Satgas tidak lagi bertanya apakah ada peran spekulan, tetapi seberapa besar 
peran spekulasi terhadap meroketnya harga-harga. "Garis dasarnya adalah kita 
harus menggali lebih dalam lagi untuk mengetahui apa yang terjadi di bursa. 
Kita perlu mencari penyebab gerakan tak lazim di bursa," kata salah seorang 
komisaris CFTC, Bart Chilton.

Chilton mengkritik langsung pernyataan Menkeu AS Henry Paulson, yang mengatakan 
tidak ada unsur spekulasi. "Ini adalah pernyataan yang melemahkan tugas kami 
sebagai pemantau bursa. Dari yang saya dengar dari pelaku bursa, pernyataan itu 
prematur. Itu yang pasti," kata Chilton.

CFTC menyatakan, London sudah jadi sasaran baru para spekulan. Karena itu, CFTC 
meminta Financial Services Authority Inggris untuk membatasi transaksi yang 
dilakukan spekulan, yang kini mencari celah di bursa komoditas London.

Dalam harian Financial Times edisi 11 Juni, Walter Huybregts dari Tradax 
Energy, Houston, Texas, menuliskan, kini ada banyak investor raksasa di bursa 
minyak. Mereka sama sekali tak bertujuan menggunakan minyak, tetapi sekadar 
mengembangbiakkan nilai investasi. (REUTERS/AP/ MON)

 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke