--- In [email protected], Kim Liong Oei <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak TBUMI, dari info yang saya dapat CPIN masih memiliki prospek yang cukup baik. Dilihat dari bisnis planning ke depan. Saat ini memang ada sedikit kendala di investasi mereka, tapi ini menyangkut pasokan listrik yang tidak kunjung datang, capeeek deh. Ini terjadi di Medan saja. Sedang ekspansi di tempat yang lain ok. > Boleh tahu kenapa disarankan untuk menghindari CPIN??? > Kalau BISI, saya memang melihat dari biz life cycle dan kompetisi memang harus turun mesin dulu. > Mereka sudah invest, proyek sudah selesai, tapi belum mendapat pasokan listrik. Ironis sekali emang iklim investasi di negara kita. Mudah2an di tahun 2009 - 2010 sudah PLN sudah "joss" lagi. > Go go go PLN, ayo bangkit membangun negeri. > > > SIP : TBUMI
CPIN memang perusahaan besar tapi bisnis CPIN sangat tergantung dari peternak ayam. Flue Burung dan daya beli konsumen lokal yg lemah sangat memukul bisnis para peternak ayam lokal. Sedang CPRO memang ada juga resiko penyakit di udang, tapi market CPRO banyak dari LN. Biasanya jagung bisa panen sekitar 100 hari, tapi belum ada juga laporan BISI ttg hasil panen jagung BISI yg di Papua. Apa hutan Papua yg akan dijadikan lahan jagung ? Tapi menurut kami, hutan yg dipakai adalah tak efisien karena biaya pembukaan lahan hutan sangat mahal sehingga tak sesuai nanti dgn harga jagung yg dipanen nanti. Biasanya lahan jagung hanya bagus dipakai utk dua kali tanam saja setahun di lahan yang sama. Apa nanti jagung tsb akan diolah jadi produk lain yg nilainya lebih besar ? Tentu kami tak percaya bahwa BISI ada kemampuan tsb. Lihat saja emiten SUBA yang memakai jagung sangat banyak saat dulu, juga sdh bangkrut saat ini.

