demokrasinya mulai tampak, nihhh...
kalo dipikir2...ada yang panas melihat karya orang lain...ada yang panas untuk dikritik.... bahkan ada pula yang panas melihat isi kritikan...
kalo menurutku, semuanya baik... disisi lain, selain akan membentuk pendewasaan, juga endingnya akan menghasilkan sebuah karya yang "ajigile"....
jadi intinya teruslah berkarya.... jangan takut untuk mengkritik dan dikritik...
hidup ini memang untuk berperang....seperti kata Sioux: "dari seluruh arah mata angin engkau akan bertemu musuh, namun janganlah engkau lebih dulu membuat bara dan melempar tombak, karena itu akan merugikanmu"
selamat berperang untuk sebuah proses pendewasaan....
didie sw
Toni Rinaldy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
mungkin bung dodo bisa buat media sendiri. bahkan mulai dari pemimpin umum sampai redaktur rubrik kartunnya pun bahkan sampai penyeleksinya, bung dodo bisa handle smuanya. sehingga segala apa yang dikehendaki bung dodo bisa terlaksana.
mungkin nanti hanya kartun-kartunnya dodo sendiri yang di pasang gara-gara tak ada kartun yang masuk tak sesuai selera dodo. dan pada akhirnya dinikmati sendiri. mirip onani ya.mr. dodo sudah tahu lah tiap media punya aturan kartun macam apa yang akan dimuat dan ini kebijakan mereka kan.
terus yang gaul itu seperti apa sihya makanya dodo buat saja media kartun sendiri . . .
dodo karundeng <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Nur, kurang gaul itu, masak kartun pengemis ngancam sama sarung tinju aja
dilolosin di "koran tempo". Lo masak ada pengemis ngancam, memang bisa
lucu sih, tapi yang nggak kena-lah. Emangnya pengemis itu pakde probosutejo
atau Tomy Winata. Lah terus kayak gitu mau dibilang kreatif, Nur!
walah-walah...
piye sih, sampe-sampe box e-mailku aja nggak bisa menerima milismu. aku kena
embargo segala, walau maksudku baik, tentang contoh koranmu itu cuma
ilustrasi kecil aja dari suratku, kayak ilustrasinya si thomdean gitu.
hahaha... Untung aku punya jalur khusus, dan dengan cara yang kreatif.
dk
Re: [pakarti] LOMBA KARTUN INTERNASIONAL
hidayat
Wed, 07 Dec 2005 21:55:30 -0800
Dodo, aku tersinggung tuh. Apa maksudmu:
..... koran tempo sudah memulai, meski pilihan kartunnya agak memperlihatkan
kualitas editornya yang kurang gaul.
Kurang gaul tuh apaan? Jangan-jangan lo yang kurang gaul? He he he.
Saya dan beberapa teman kartunis beberapa kali ketemu dan sudah
memperbincangkan beberapa hal untuk mendongkrak perkembangan kartun. Dari
sekian banyak upaya, barangkali "mengindustrikan" kartun adalah langkah yang
layak untuk dipertimbangkan. TV dan film butuh begitu banyak film kartun
yang kompetitif harganya. Tapi, SDM-nya nggak ada, dan jangan-jangan
kebanyakan kartunis hanya "mengutuk" redaktur kartun di media cetak seperti
yang dilakukan Dodo Karundeng. Sehingga, peluang yang begitu besar lewat
begitu aja karena tidak ada karya kartun yang aplikatif. He he he.
Secara pribadi saya lagi menjalin hubungan dengan beberapa orang yang
mudah-mudahan bisa mewujudkan impian saya sejak masih kanak-kanak, membuat
semacam walt disney di Indonesia. Film kartun --untuk media film televisi,
iklan, atau film layar lebar --- adalah bentuk yang paling ideal. Nah,
belakangan ini aku lagi menulis skenario sinetron Doyok --- ini diangkat
dari kartun Doyok milik mas Kelik di Pos Kota. Barangkali, kalau ada
kesempatan baik lagi, nanti Lotif-nya Beng di Koran Tempo yang bakal saya
usulkan untuk disinetronkan. Ini merupakan langkah paling logis, melihat
peta kekuatan investor di dunia sinetron yang dikuasai oleh orang-orang film
yang memang sejak awal tidak punya darah kartun seperti saya. He he he.
Tapi percayalah, suatu ketika ide Ifoed (Kokkang) untuk menawarkan kartun
animasi (yang benar-benar handmade) ke televisi bisa terwujud. Jadi, kartun
tidak melulu dipaksakan tampil sebagai karya kartun murni satu frame di
koran dan majalah. Dan jika redaktur kartunnnya mengurangi jumlah kartun
yang dikirim dari luar, lantas sang redaktur akan "dikutuk" oleh Dodo
Karundeng.Ha ha ha. Emang enak?
Maksud saya, industri media cetak itu nilai ekonomisnya sangat kecil.
Perhatikan belanja iklan tahun 2004-2005 ini, hampir 70 persen lari ke
televisi. Itu artinya, pengelola media cetak akan lebih berusaha keras agar
apa yang ditampilkan di medianya merupakan sesuatu yang benar-benar memiliki
pangsa pasar cukup luas. Jika begitu, kenapa para kartunis harus mengikuti
mahzab Dodo Karundeng yang hanya bolak-balik "mengutuk" redaktur kartun
media cetak yang kian hari kian terbatas halamannya? Kenapa tidak menjadi
kreatif dengan menawarkan gagasannya untuk berbagai media yang baru: iklan
( baik iklan televisi, cetak, pamflet, brosur,dll), atau film kartun
(dokumenter, anak-anak, dewasa)?
Sekian dulu, Dodo Karundeng yang hebat.
Selamat mengutuk apa dan siapa saja, tetapi biarkan saya untuk tetap
kreatif.
* Nur Hidayat
----- Original Message -----
From: "dodo karundeng" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, December 06, 2005 7:18 PM
Subject: [pakarti] LOMBA KARTUN INTERNASIONAL
> kapan sih ada lomba kartun secara internasional yang diadakan oleh
>suratkabar kita? memang koran itu kita harus mulai membuat rubrik kartun
>lebih besar, dan menerima kiriman kartun dari luar. "koran tempo" sudah
>memulai, meski pilihan kartunnya agak memperlihatkan kualitas editornya
yang
>kurang gaul. Suara Pembaruan juga boleh, tapi suka anget-anget tai ayam,
eh
>malah jumlah kartunnya jadi tinggal satu setiap minggunya. Apa nggak bikin
>gemes tuh. Atau Kompas, tapi mereka nggak mau ambil resiko sampai
sekarang
>untuk memuat kartun kiriman, beda sama rubrik cerpen dan ilustrasi
>cerpennya. Kalau musim Piala Dunia -- kartunisnya sudah dipilih yang bakal
>muncul kayaknya. mudah-mudahan tebakanku salah.
>kalau lomba kartun itu ada, harus juga juri-juri dari luar macam Plantu
dari
>Perancis, atau kartunis kawakan dari Iran atau Turki, yang dunia kartun
di
>negara yang kecil betul-betul bertumbuh dengan baik. biar kita bisa
belajar
>dari mereka.
>saya lagi bermimpi....kartun bertumbuh seperti pohon-pohon besar di
negara
>kita, bukan cuma jadi rumput dan semak.
>
>dk
_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE!
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/
Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping
Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping
SPONSORED LINKS
Comic strip art Cartoonist
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "pakarti" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
- [pakarti] kartunis dan penyair Rini Nurul Badariah
- Balasan: [pakarti] kartunis dan penyair Marwan One
- [pakarti] kartunis dan penyair, stripgenerato... hasan aspahani
- [pakarti] Buat Nur Hidayat yg baik. dodo karundeng
- Re: [pakarti] Buat Nur Hidayat yg bai... Toni Rinaldy
- [pakarti] WAaaAaAAAaAHhHhhHhhHh!... thedoors thedoors
- Re: [pakarti] WAaaAaAAAaAHhH... ilham moehammad
- Re: [pakarti] WAaaAaAAAa... Toni Rinaldy
- [pakarti] Tau aja ente T... ilham moehammad
- Re: [pakarti] Buat Nur Hidayat y... oet toyo
- Re: [pakarti] Buat Nur Hiday... Toni Rinaldy
- Re: [pakarti] Buat Nur Hiday... hidayat
- [pakarti] " Rampoka... chothecha
- Re: [pakarti] " Ram... doni prasetyo
- Re: [pakarti] " Ram... ryu hikari
- Re: [pakarti] Buat Nur Hidayat y... yol yulianto
Kirim email ke

