Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Berbagai peristiwa akhir-akhir ini memunculkan beberapa komentar yang acap menyinggung tentang toleransi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

"Seutama-utama keimanan adalah sabar dan toleransi (as-samahah)." (Shahih al-Jami' ash-Shaghiir)

Dari 'Aisyah radhiallahu 'anha, dia menceritakan: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam disuruh memilih antara dua urusan melainkan beliau memilih yang paling mudah, selama tidak mengandung dosa. Bila mengandung dosa, beliau adalah orang yang paling jauh darinya,dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah marah sekalipun kecuali bila keharuman Allah dilanggar, beliaupun marah karena Allah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah adalah manusia yang paling suka kemudahan bagi umat ini dan beliau sangat toleran. Dalam hal-hal apa sajakah kita disarankan untuk bertoleran?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

"Mudah-mudahan Allah merahmati lelaki yang toleran bila menjual, membeli dan menagih." (HR. al-Bukhari)

Sebagaimana juga disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya (yang artinya):

"Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. al-Baqarah 2:280)

Itulah salah satu pintu toleransi yang dianjurkan dalam syari'at ini.

Bagaimanakah dengan cara beragama? Apakah Rasulullah juga toleran dalam hal ini dan membiarkan manusia untuk memahami agama sesuai kehendak hatinya masing-masing?

Di palanta ini telah disebutkan hadits tentang Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhu yang membunuh seseorang padahal orang itu telah menyebutkan Laa ilaaha illa Allah karena Usamah mengira orang itu mengucapkannya hanya karena takut dibunuh. Rasulullah pun mengecamnya dengan keras sekali karena Usamah berbuat mengikuti prasangka saja.

Hadits tersebut bukanlah dalil bahwa kita tidak boleh mengingkari keyakinan atau perbuatan seseorang yang menyelisihi syari'at dengan alasan "sudahkah kau belah dadanya". Justru sebaliknya, hadits itu menjadi dalil bahwa diperbolehkan mengecam penyelisihan tersebut. Usamah telah melanggar aturan bahwa darah seseorang diharamkan jika telah menampakkan keimanannya.

Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa manusia hanya dituntut untuk menilai dari zhahirnya karena batin adalah perkara yang tersembunyi. Sebagaimana ucapan Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhu:

"Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, manusia dijatuhi hukuman berdasarkan wahyu dan kini wahyu itu telah terputus. Sekarang, saya menjatuhkan hukuman kepada kalian berdasarkan perbuatan-perbuatan kalian."

Dengan demikian ketika seseorang atau golongan menyatakan suatu keyakinan yang menyimpang, mengingkari suatu kewajiban syari'at yang jelas bagi mereka maka mereka dapat dihukumi dari apa yang mereka tampakkan itu.

Dalam hal penyimpangan pemahaman agama atau 'pemahaman baru', Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam pembukaan khutbah sering menjelaskan (yang artinya):

"Seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim dan lainnya)

Di antara 'pemahaman baru' yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecam adalah kaum Khawarij dalam sabdanya (yang artinya):

"Akan muncul satu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur'an, bacaan Al-Qur'an kalian tidak ada apa-apanya dibanding bacaan mereka , shalat kalian tidak ada apa-apanya dibanding shalat mereka, puasa kalian tidak ada apa-apanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca al-Qur'an dan menyangka al-Qur'an itu menjadi hujjah yang mendukung mereka padahal al-Qur'an menjadi hujjah yang membantah mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah keluar dari busurnya. Sekiranya pasukan yang memerangi kaum ini tahu apa yang telah disediakan buat mereka melalui lisan nabi mereka shallallahu 'alaihi wa sallam niscaya mereka akan meninggalkan amal. Tanda-tandanya adalah di anatara kaum ini terdapat seorang lelaki yang memiliki lengan atas tapi tidak memiliki lengan bawah. Dan di pangkal lengan atasnya terdapat seperti mata payudara dan padanya terdapat rambut yang telah memutih." (HR. Muslim).

Perhatikanlah sifat kaum tersebut. Ibadah mereka bahkan mengalahkan ibadah para shahabat namun mereka dikecam keras oleh lisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan akan diperangi karena pemahaman yang menyimpang.

Contoh lain adalah sikap Abu Bakar radhiallahu 'anhu yang memerangi kaum yang mengingkari kewajiban zakat. Ia berkata:

"Demi Allah andai saja mereka enggan untuk menyerahkan belenggu unta yang sebelumnya mereka serahkan kepada Rasulullah, pastilah akan kuperangi mereka semua karenanya. Sesungguhnya zakat itu adalah hak harta. Dan demi Allah aku pasti akan memerangi orang yang membedakan antara shalat dan zakat!" (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Abu Bakar radhiallahu 'anhu juga telah memerangi Thulaihah al-Asadi dan Musailamah al-Kadzdzab yang keduanya mengaku sebagai nabi.

'Ali radhiallahu 'anhu memerangi kaum Khawarij yang telah dikabarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Beliau juga memerangi golongan Saba'iyah yang mengkultuskan dirinya. 'Ali radhiallahu 'anhu meminta mereka bertaubat dan setelah melihat mereka tidak mau bertaubat beliau memerintahkan hukuman mati.

'Ali radhiallahu 'anhu juga memerangi bid'ah dan benih-benih Syi'ah.

Banyak contoh lain tentang sikap tegas generasi terbaik yakni para shahabat dan juga para ulama ahlus sunnah terhadap ahli bid'ah.

Apakah Rasulullah dan para shahabat beliau ridhwanallahu 'alaihim ajma'in telah bersikap otoriter? Bukankah itu sifat "otoriter" yang dilontarkan oleh orang-orang yang mempromosikan "keberagaman" pemahaman agama? Bandingkanlah. Rasulullah dan para shahabat yang toleran dalam masalah harta 'tertib' dalam masalah pemahaman agama dengan manusia sekarang yang sering tegas dalam masalah harta dan 'toleran' dalam masalah pemahaman agama.

Allahu Ta'ala a'lam. Mohon maaf jika kurang berkenan. Kebenaran hanyalah dari Allah sedangkan kesalahan datang dari diri saya dan dari syaithan.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

--
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980M/1400H)



Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke