CD Anak Cerdas di gramedia ada nggak ya mbak?
   
  Cheers
  Shinta

Putu Prapti Utami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      Mbak, aku jadi teringat dengan ulah kedua anakku Goku dan Sukma pada saat 
Sukma Play Group dan Goku TK B, mereka sangat gembira di depan komputer, 
awalnya ketika aku dan suami kerja di rumah mereka ikutan nyoba2 dan tanya2, 
daripada ganggu akhirnya aku beliin deh  CD Anak Cerdas, AKAL dsb sehingga mrk 
bisa main sendiri, kami juga beliin komputer jangkrik 3 juta-an supaya kalo 
rusak nggak nyesek, daripada mereka main Play Station menurutku lebih baik 
mereka main game komputer yang sekaligus belajar vocabulary...mereka tidak 
nampak tanda2 stress tertekan, bahkan semua itu atas keinginan mereka, kami 
orangtuanya sama sekali tidak memaksanya. 
   
  Nggak heran Sukma kemudian dapat Juara I lomba bermain komputer di TKnya 
(waktu TK A), karena memang ternyata teman-teman sebayanya belum banyak 
mengenal komputer, sedangkan Sukma sudah lihai memainkan mouse, klik kiri dan 
kanan, memainkan puzzle, merangkai kata (benda, hewan, tumbuhan, buah)...terus 
terang aku agak nggak enak krn diduga memaksakan anak belajar komputer, pdhal 
sama sekali tidak dipaksa lho...mereka benar2 antusias atas kehendaknya 
sendiri. Dari sana akhirnya mereka juga bisa lancar membaca tanpa harus kami 
ngajarin susah2 lho...Sukma sejak Play Group sudah bisa baca kata-kata dan 
ngetik Mama, Papa....sampai gurunya heran mengira aku ambisius ngajarin anak, 
aku sampaikan bhw aku sama sekali nggak ngajarin , mrk anak2 belajar sendiri di 
rumah...ibu2 lain jg ngira aku ambisius, pdhal nggak deh..sama sekali nggak ada 
pemaksaan...
   
  Gitu deh sharingku...
   
  Rgds'
  PPU
   
   
    ----- Original Message ----- 
  From: Lala (gmail) 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, February 08, 2007 3:38 PM
  Subject: [parentsguide] Anak dan Komputer (sharing -- sambungan buat mbak 
Yulia)
  

        Mbak Yulia, ini aku kirim artikelnya ke milis. Sekalian buat 
temen-temen yang mungkin kebijakan di kantornya nggak ngebolehin browsing.
  Salam,
Lala
http://www.sumardiono.com
  Diambil dari kisah Bapak Aar -- Jurnal Homeschooling Yudhis & Tata:
  Bagaimana anak-anak belajar komputer? Berikut ini sharing pengalaman dari 
proses interaksi Yudhis -anakku- dengan komputer di rumah.
  Pada suatu hari aku mengajak anakku Yudhistira ke toko buku. Di sana kami 
menemui sebuah stan yang menjual perangkat lunak komputer (software) permainan 
anak-anak. Ketika Yudhis –nama panggilan Yudhistira– melihat layar monitor yang 
gambarnya sama dengan yang biasa dilihatnya di rumah, dengan segera dia naik 
kursi dan mulai ikut-ikutan memainkan keyboard komputer. Dan melihat semangat 
anak kecil (umur 2 tahun) memencet-mencet keyboard, dengan senang hati penjaga 
stan itu membantunya sementara aku hanya melihat dari jauh dan membiarkannya 
saja.
  Mungkin karena senang mendapati permainan seperti yang biasa dilihatnya di 
rumah, Yudhis berteriak-teriak dengan riangnya sembari memencet tuts keyboard 
dan mengeja huruf yang muncul di layar. Dan karena mendapat dukungan dari 
penjaga stan yang membantunya, Yudhis makin kegirangan dan teriakan-teriakannya 
segera mengundang anak-anak lain untuk melihat. 
  Beberapa orang anak dan orang tua terlihat antusias menyimak Yudhis yang pada 
waktu itu baru berumur dua tahun memainkan tuts keyboard dan mengeja 
huruf-huruf yang muncul di layar komputer. Tetapi, diantara komentar-komentar 
yang muncul itu ada komentar seorang ibu tampak tidak suka dengan apa yang 
dilakukan Yudhis.
  Setelah tahu bahwa aku adalah bapaknya dan membiarkannya bermain-main 
komputer, dengan semangat ibu-ibu yang sudah cukup berumur itu menasihatiku:
  “Mendidik anak yang biasa-biasa saja, lah,” katanya. “Nggak perlu 
macam-macam. Nanti anaknya jadi stress.”
 
Terus terang aku agak surprise mendengar komentar itu. Aku tidak tahu alasan 
pasti dari komentar yang disampaikan oleh beliau. Mungkin karena anaknya 
kelihatan tidak tertarik dengan komputer, beliau menganggap bahwa belajar 
komputer adalah sebuah hal yang berat sehingga tidak perlu diberikan pada 
anak-anak. 
  Walaupun surprise dengan komentar yang bernada negatif tersebut, tak urung 
aku berterima kasih karena komentar itu mengingatkan tentang kecenderungan kita 
sebagai orang tua untuk berharap banyak dan mempunyai ekspektasi-ekspektasi 
yang tinggi terhadap anak kita. Sebenarnya tak ada yang salah dengan 
harapan-harapan itu. Tetapi ketika harapan-harapan itu membebani anak kita, di 
sanalah masalahnya.
  Aku sendiri percaya dengan teori yang menyatakan bahwa anak-anak belajar dari 
lingkungannya. Dalam hal ini, anak akan belajar pertama kali melalui apa-apa 
yang dilakukan orang tua dan lingkungan sekitarnya. Jika lingkungannya biasa 
memainkan komputer, anak pasti terbiasa dan rasa ingin tahunya pasti 
menggerakkannya untuk berjalan ke sana dan ikut serta “membantu” orang tuanya 
bermain komputer.
  Dan sesungguhnya itulah yang terjadi dengan Yudhis, anakku. 
  Karena aku dan Lala –istriku– sering bekerja dengan komputer di rumah, mau 
tak mau Yudhis pasti melihatnya. Seiring dengan seringnya dia melihat aktivitas 
kami di depan komputer, dari waktu ke waktu dia pun semakin tertarik pada 
komputer. Dan sebagaimana anak-anak kecil pada umumnya, dia tertarik dengan 
gambar yang bergerak, bunyi, dan tentu saja tombol-tombol keyboard.
  Karena Yudhis sering mendatangiku ketika aku sedang bekerja di depan komputer 
dan menunjukkan keingintahuannya terhadap apa-apa yang kukerjakan, akhirnya 
sesekali aku memangkunya. Pada waktu itu dia berumur sekitar satu tahun. Dan di 
depan komputer, aku kemudian menunjukkan gambar screen saver ikan-ikan yang 
berenang. Wah, ternyata dia senang sekali melihat gambar ikan-ikan yang 
bergerak di layar monitor. 
  Sejak itu, mulailah dia semakin sering “mengganggu”. Setiap kali melihat aku 
sedang di depan komputer, dengan segera dia mendekatiku sembari minta 
ditunjukkan gambar-gambar ikan di layar monitor. Kalau sudah begitu, Lala-lah 
yang kemudian berusaha mengalihkan perhatian Yudhis agar aku dapat 
menyelesaikan pekerjaanku.
  Pada interaksi pertamanya dengan komputer, aku memanfaatkan momen itu untuk 
menambah vocabulary-nya. Aku bercerita kepadanya tentang gambar yang dilihatnya 
di layar monitor, tentang warna, dan apa saja yang bisa diceritakan. Buatku, 
yang penting dia senang dan menikmati kegiatan itu. Minat dan kesenangan adalah 
pintu masuk yang baik untuk belajar.
 
Seiring dengan semakin meningkatnya kecerdasan dan ketrampilan tangan Yudhis, 
aku dan Lala kemudian mulai berfikir untuk “memanfaatkan” kesenangan Yudhis di 
depan komputer itu. Selama ini kami selalu berfikir bahwa segala sesuatu harus 
dikerjakan dengan senang (fun) dan kami berusaha meningkatkan kemampuan Yudhis 
melalui hal-hal yang disukainya.
  Ketika proses pasif melihat layar komputer sudah berjalan beberapa waktu, 
kami kemudian berjalan-jalan mencari software untuk anak-anak karena menurutku 
ada baiknya dia mulai mengenal proses yang interaktif-dua arah antara dia dan 
komputer. Pada waktu itu aku membayangkan sebuah software yang sederhana; asal 
keyboard-nya ditekan sembarang akan muncul gambar ci-lu-ba atau bunyi-bunyi 
tertentu. Ternyata mencari software itu tak semudah yang kubayangkan. Rata-rata 
software yang ada terlalu rumit bagi anak seusia Yudhis yang hanya membutuhkan 
fungsi-fungsi yang sederhana, tetapi membutuhkan daya tarik berupa gambar dan 
bunyi-bunyian. 
  Melalui seorang teman, aku mendapatkan sebuah software yang betul-betul 
sederhana dan sangat basic seperti yang kami inginkan. Dengan memencet 
sembarang tombol di keyboard, aneka gambar peek-a-boo (ci-lu-ba) dimunculkan. 
Melalui software itu pula Yudhis belajar bermacam-macam lagu-lagu yang 
dimainkan dengan cara menekan tombol keyboard sesukanya. Sedikit demi sedikit 
dia kemudian tahu bahwa ada kaitan antara tombol-tombol yang ada di hadapannya 
dengan apa yang muncul di layar dan suara yang didengarnya.
 
Suatu hari Lala membelikan Yudhis sebuah software produksi dalam negeri. Secara 
visual dan fungsional menurutku software itu tidak terlalu bagus dibandingkan 
produksi-produksi luar negeri. Tetapi, ternyata apa yang kuanggap tidak bagus 
itu berbeda dengan respon Yudhis. Ternyata Yudhis jauh lebih antusias 
dibandingkan software pertama yang buatan luar negeri itu. 
  Dan sejak mendapatkan software itu, hampir setiap waktu Yudhis minta 
diputarkan di komputer. Bahkan sejak itu dia ikut-ikutan menirukan 
kalimat-kalimat yang diucapkan dalam software itu yang merupakan ekspresi 
kesukaannya. Mungkin, kalimat-kalimat yang diucapkan dalam bahasa Indonesia itu 
cukup familiar dengan pendengarannya sehingga membuatnya nyaman dan antusias 
memainkannya.
  Satu pelajaran yang kuambil dari proses Yudhis belajar komputer adalah: 
jangan merendahkan (under-estimate) kemampuan belajar anak-anak. Aku mengalami 
keterkejutan itu ketika Lala (sekali lagi) membelikan Yudhis sebuah software 
produksi dalam negeri. Setelah aku instal, aku mendapati bahwa software itu 
jauh lebih bagus secara visual maupun fungsional dibandingkan dengan software 
sebelumnya. Aku ikut bangga juga dengan produksi anak negeri ini. Walaupun 
begitu, tak urung aku kecewa setelah mencoba software itu karena untuk 
menjalankan menu-menunya harus menggunakan mouse. Beberapa hari aku agak kecewa 
dan berniat menulis saran kepada pembuat software tersebut agar membuat 
alternatif menu menggunakan keyboard disamping mouse. 
  Di dalam bayanganku, mouse adalah alat yang sulit dimainkan oleh seorang anak 
kecil, apalagi usia satu setengah tahun seperti Yudhis. Sulit bagiku untuk 
membayangkan bahwa anak kecil itu dapat menangkap hubungan antara benda yang 
dipegang dan digerak-gerakkannya (mouse) dengan panah yang ada di layar 
monitor. Apalagi kalau kemudian anak itu harus menekan tombol pada mouse untuk 
memilih menu atau melakukan sesuatu di layar monitor. Rasanya sulit 
membayangkan kemampuan sensorik dan motorik anak-anak seusia itu dapat 
melakukannya.
  Tetapi semua yang ada di dalam pikiranku itu ternyata adalah sebuah 
kesalahan. Setelah mencoba beberapa kali, sedikit demi sedikit Yudhis mulai 
dapat memainkan mouse dan melihat keterkaitan antara gerakan mouse itu dengan 
apa yang nampak di layar. Surprisingly, dalam waktu sekitar satu bulan dia 
telah lancar menggunakan mouse. 
  Kemampuan anak-anak itu ternyata mengejutkan, pikirku. Aku sama sekali tak 
menduga bahwa secepat itu Yudhis mampu berdaptasi dan belajar. Dan pengalaman 
ini bukan yang pertama kali. Aku sering menemui kemampuan-kemampuan yang luar 
biasa pada anak-anak yang tak pernah terpikirkan olehku sebagai seorang dewasa. 
Selama ini kita –para orang tua– cenderung meremehkan kemampuan mereka sehingga 
membatasi mereka dalam batas-batas yang menurut kita dapat mereka lakukan. 
  Dari pengalaman-pengalaman keterkejutan itu, aku dan Lala berusaha untuk 
selalu membangun suasana yang positif untuk perkembangan Yudhis. Kami berusaha 
membuat sesedikit mungkin larangan dan sejarang mungkin menggunakan kata “tak 
boleh”. Alih-alih melarang, kami mencoba untuk menggunakan kata positif semisal 
kata “hati-hati” atau memberikan contoh langsung tentang sesuatu yang kami 
khawatiri. Daripada melarang Yudhis memainkan remote TV atau memasukkan disket 
ke komputer, kami mengajarinya fungsi dan cara yang benar untuk melakukannya. 
Ketika melakukannya, kami berusaha membebaskan diri kami dari membuat 
target-target “prestasi” tertentu untuknya. Kami hanya berusaha membangun sikap 
positif dan keberanian mencoba-coba serta mendorongnya melakukan hal-hal yang 
disukainya.
  Sampai sekarang Yudhis masih suka nimbrung ikut bermain di depan komputer. 
Ketika Lala menjelaskan bahwa bapak sedang bekerja, dia pun menjawab,”Udis juga 
mau kerja.”
  Lalu, dia meneruskan ucapannya itu mengeja huruf-huruf Y, U, D, H, I, S dan 
menyebutkan “Yudhis…” sambil tertawa lebar. 
  Jika sudah begitu, bagaimana mungkin aku menolak Yudhis yang ingin ikut 
“bekerja” di depan komputer?

  

 

 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke