Hai semua,...
   
  Membaca informasi dibawah ini yang dikirimkan oleh saudari kita mbak Eva 
Kania, aku jadi tertarik untuk sedikit CURHAT kepada para teman-teman semua.
   
  Sebelum aku mulai, terlebih dahulu aku meminta maaf pada teman2 bila ada yang 
tidak suka terhadap ceritaku.
   
  Baiklah akan kumulai:
   
  Aku telah menikah dari tahun 1996 tetapi sampai sekarang masih belum 
dikaruniai anak.
  Di tahun pertama pernikahanku, awalnya aku biasa saja,... meskipun banyak 
teman, saudara bahkan ortu & mertua ku yang menanyakan hal ini,... tapi setelah 
menginjak tahun ke dua barulah aku mulai berobat ke dokter,... setelah 
menjalani pemeriksaan luar-dalam baik itu yang melalui medis - alternatif, 
sudah ku jalani,... bahkan dokter pun sudah 3x gonta ganti tetapi tetap saja 
Nihil,.. 
   
  Mulai memasuki pernikahan yang 3 th, hatiku mulai putus asa,... dan merasa 
bertanya-tanya pada diri sendiri, Kenapa Tuhan memperlakukan ku seperti ini, 
padahal kami sangat menginginkan sekali punya keturunan?? Apalagi kalo saat itu 
aku sering melihat dijalan dimana banyak anak2 pengemis yang gak terurus, dan 
juga di tv & koran banyak anak yang dibuang oleh orang tua nya,... sementara 
aku yang sangat sangat menginginkan justru malah sulit sekali 
mendapatkannya,... saat itu aku tidak mencoba untuk berpikir jernih dan ber 
interospeksi dengan diri sendiri,... yang ada aku merasa sedih dengan kenyataan 
dan seolah Tuhan membedakan aku dengan yang lain,...
   
  Padahal menurut hasil para dokter, kami dinyatakan sehat,...
  Semakin hari semakin terasa bosen dan pada akhirnya aku memutuskan untuk 
berhenti berusaha dan sebodo' amat,... apalagi kalo ada yang tanya " udah hamil 
belon?" kok gak hamil2,...? Rasanya pengen berantem deh sama yg nanya,...saking 
keselnya dengar pertanyaan itu sering kali ku jawab dgn judes seperti ini "wah, 
jangan tanya sama gw dong kenapa gak hamil,..tanya situ sama Tuhan kenapa gw 
belon hamil!!!!"
   
  Singkatnya,... rupanya Tuhan punya rencana lain, dan yang baru sekarang aku 
menyadarinya dan menyukurinya. Memasuki usia pernikahan ku yang ke 4, aku 
mendapat cobaan suami ku berselingkuh,... dan yang paling parahnya lagi, tau 
gak teman, dengan siapa dia berselingkuh,.... ternyata dia berselingkuh dengan 
pembantu rt rumah ibu ku,... ah, gila sekali,...dosa apa yang ku perbuat 
sehingga mendadak mendapat cobaan seperti itu,...sakit sekali .. apalagi aku 
tahu kejadian itu dari keluarga ku sendiri,....
   
  Awalnya aku mencoba untuk memaafkannya meski aku harus dihadapkan dengan satu 
pilihan dari Ibuku,...pilih ibu atau suami,... karena saat itu aku merasa, 
mungkin kesalahan dia juga merupakan kesalahanku,..maka aku memilih dia,... dan 
temans, tau apa yang terjadi setelah aku memilihnya,...langsung ibu ku 
memutuskan hub keluarga dengan ku, krn dianggapnya aku masih membela orang yang 
telah membuat aib / melemparkan tai ke muka orang tua,... yaaa, aku mencoba 
hidup berumah tangga dari awal lagi, ku tutup kisah duka ku dan mencoba bangkit 
lagi,... tapi ternyata temans,... kemampuan ku untuk berkorban kesekian x nya 
ternyata tidak membuat dia menyadari,.... hingga akhirnya aku memutuskan untuk 
berpisah dengannya,....
   
  Saat itu, aku baru menyadari dan mendapatkan jawaban, mengapa saat itu aku 
belum dikaruniai anak,... rupanya Tuhan sangat mencintaiku,... Dia biarkan 
hamba Nya yang naif ini terus menyalahkan Nya hingga akhirnya aku menyadari 
sendiri bahwa ternyata kalo saja saat itu aku sudah dikaruniai anak tentunya 
sangat lah berat jika musibah yang menimpa ku itu aku harus memisahkan anak ku 
dengan ayahnya sendiri,.... sekali lagi justru aku bersyukur belum memiliki 
anak, mungkin ini ada hikmahnya,.... Ya Allah, ampuni dosa hamba Mu ini,...
   
  Setelah 4 tahun aku berpisah, aku kembali menemukan tambatan hati yang selama 
ini aku belum pernah dapatkan,... ya, terus terang proses pacaran kami 
berlangsung sangat singkat mengingat usia kami yang sama2 telah berumur,...saat 
itu aku sudah 33 th & suami ku yang kedua 34 th,... aku bersyukur suamiku 
sekarang bisa menerima ku dengan masa lalu yg pahit,..dan dia juga belum pernah 
menikah. Memang saat masih pacaran, suami ku sempat bercerita kalo saat itu dia 
masih mempunyai tanggungan kartu kredit nya, tetapi dia tidak menyebutkan 
nominalnya,...
   
  Ya aku dan dia memulai hidup baru dari 0, tanpa modal & tanpa tabungan.
  Tau gak temans, ternyata setelah aku menikah dengannya, baru kutahu kalo 
ternyata tanggungan tsb sangatlah besar,...sehingga aku sempat terhenyak,...oh 
Tuhan kenapa aku mendapatkan cobaan spt itu,.. tapi aku buru2 menghibur diri, 
biar bagaimanapun sekarang dia sdh menjadi suami ku dan aku berprinsip kita 
semua punya masa lalu yang harus kita terima dari pasangan masing2 meskipun 
pahit. Dgn ikhlas, aku pun membantunya membayar tanggungannya tsb bulan per 
bulan,..dan syukurlah dalam waktu 1,5 th kami bisa hidup tenang,.... tapi untuk 
tanggungan aku sekarang merasa lega, kembali lagi aku mulai khawatir kenapa 
sampai saat ini aku belum hamil juga,....
   
  Ya, sekarang ini setelah 2 th aku menjalani pernikahanku ini, aku masih blm 
dikaruniai lagi..tapi kali ini aku gak berani menyalahi Tuhan, malah aku 
mencoba menebak-nebak apa yang akan terjadi,...Mungkin Tuhan tahu, saat ini 
kami diberikannya waktu untuk menabung dulu setelah kami menyelesaikan tagihan 
tsb,... Dan sekarang dengan bijaksana juga bila ada orang yang menanyakan lagi 
mengenai kehamilan ku, pasti kujawab dengan tenang     " Ya Allah belum percaya 
sama gw untuk diberikan keturunan, krn kita msh susah" ... Dia gak mau nanti 
anak gw jadi kurus gara2 gak punya uang untuk beli susu,... jawab gw begitu 
sama mereka sambil mesem2,.... 
   
  Sebenernya dihati kecilku sekarang merasa khawatir,... karena usiaku yg 
semakin bertambah 35 th yang tentunya sangat rawan untuk melahirkan,...untung 
nya aku mempunyai suami yang sangat baik dan penuh pengertian sekali,.. dia 
tidak menuntut ataupun mencari2 kesalahanku kenapa blm juga aku memberikan 
keturunan,... dengan kesabaran dan cinta kasihnya justru suamiku yang selalu 
membesarkan hatiku,...
   
  Ya, temans,... inti dari cerita ku ini hanya ingin sedikit mengingatkan 
kepada teman2 semua yang sudah dikaruniai anak, hendaklah teman2 yang sudah 
diberikan kepercayaan oleh Tuhan Yang Maha Esa agar dapat merawat & menjaga 
anak-anaknya lebih baik lagi,... benar sekali anak itu titipan Allah,...mereka 
juga amanah Allah,... ingat, meski kita sebagai orang tua tapi kita pernah 
menjadi anak seperti mereka yang pny kenakalan & cara sendiri untuk mencari 
perhatian dari orang tua kita,... jangan salah kan mereka atas kenakalan & 
kebohongan mereka, krn kita pun pernah melakukannya terhadap orang tua 
kita,.... saat kita marah & sedih terhadap kenakalan & kebohongan mereka, saat 
itulah hendaknya kita meminta maaf kepada orang tua kita atas perbuatan kita 
dimasa kecil dan memohon ampunanNya,... 
   
  Dan bagi temans yang senasib dengan ku, marilah kita mencoba mencari hikmah 
atas kejadian yang menimpa kita,... memang sedih belum pny anak, tapi lebih 
sedih lagi kalo kita diberikan kesempatan untuk memiliki anak tetapi Allah 
mengambil lagi disaat kita tidak siap menerima kepergiannya,....
   
  Ok deh temans,... maaf kan bila email ku ini terasa sangat membosankan & 
terlalu menggurui,... mungkin aku hanya manusia biasa yang mencoba untuk 
membagikan cerita dari pengalaman ku,... siapa tau dengan aku berbagi isi hati, 
ada teman yang terhibur hatinya, tetapi bila emailku ini sangat 
mengganggu,...maafkan seribu kali maaf,...
   
  Terima kasih atas kesediaanya untuk memaklumi.
  Dan bagi temans yang ingin berkomentar untuk ketidakpuasannya terhadap email 
ini silahkan japri aku aja,....
   
  Ok deh,...GBU
   
  Lia
   
   
  

Eva Kania <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            dari milis tetangga 
  semoga bermanfaat...

    
  Anak dan Tanggung Jawab Kita
Oleh BAMBANG QOMARUZZAMAN 
  SEORANG teman pernah bercerita soal anak dan tanggung jawab. Suatu hari dia 
menyeberang jalan, di sebuah jalanan di Spanyol. Seperti biasa, sebagai orang 
Indonesia, ia menyeberang tanpa melalui zebra-cross. Saat itu memang tak ada 
mobil, sepi, juga tak ada polisi; kecuali seorang ibu dengan anaknya yang masih 
balita. Begitu ia sampai ke seberang jalan, terdengar teriakan si ibu dari 
seberang jalan yang baru saja ia tinggalkan. "Hei..hei... ke Sini!!". Kira-kira 
begitu teriakan ibu itu. 
  Mendengar seorang ibu yang berteriak sambil melambaikan tangan, lagi sebagai 
orang Indonesia, teman ini langsung kembali menyeberang. Pasti ada apa-apa 
dengan ibu ini, ia butuh pertolongan. Sesampainya di dekat ibu itu, ia 
dibentak, "Hai, kenapa kamu menyeberang bukan dari zebra-cross? Tahukah kamu, 
kelakuanmu itu sudah mengajari anak saya melanggar peraturan, kamu sudah 
menanamkan dalam memorinya bahwa melanggar peraturan itu sesuatu yang 
biasa-biasa saja!"
  Cerita ini mengagetkan teman saya, juga saya. Soal orang Indonesia melanggar 
peraturan bukanlah hal yang mengejutkan. Namun argumen ibu itu yang mengaitkan 
pelanggaran dengan masa depan anaknya itulah yang lebih mengejutkan. Begitu 
pentingnya masa depan anak-anak bagi ibu itu, begitu pentingnya ibu itu menjaga 
memori dan kesadaran anaknya agar tetap terjaga dalam perbuatan baik. Bagaimana 
dengan kita?
  Pertengahan bulan Juli ini, saya memiliki cerita yang lain tentang orang tua 
dan anaknya. Kali ini dari tetangga-tetangga saya yang mau menyekolahkan 
anaknya di SMP. Konon, sang anak adalah juara umum di sekolahnya dan dapat 
mengikuti test masuk SMP dengan mudah. "Mudah-mudahan anak saya bisa masuk 
pilihan pertamanya!" harap sang bapak. 
  Tanggal 11 malam, sang bapak bertemu lagi dengan wajah yang muram, lebih 
tepatnya penuh kekecewaan, "Anak saya gagal, semula nilainya 80, saya sudah 
mengeceknya lewat SMS. Eh...kemarin nilainya jadi 67. Saya protes, dan 
guru-guru di SMP itu minta maaf atas kekhilafannya. Lalu, mereka menawarkan 
jalan belakang, biasa dengan bayar sekian rupiah!" Tetangga saya menolak untuk 
membayar, ia biarkan anaknya ke sekolah swasta saja. "Saya tak mau anak saya 
belajar di sekolah pembohong!"
  Menurut sahibul gosip, melorotnya nilai anak tetangga saya itu karena ada 
beberapa anak lain yang nilainya rendah dikatrol dengan cara membayar sekian 
rupiah. Tentu saja yang membayarnya adalah orang tua, dan yang menerimanya 
adalah guru yang terhormat. Marilah kita bandingkan sikap dan tanggung jawab 
kita pada anak-anak. Keputusan untuk membayar sejumlah rupiah demi sang anak 
tentu didasari pilihan untuk memberikan kasih sayang yang terbaik buat sang 
anak, namun pada saat yang bersamaan kita telah menanamkan racun pada kesadaran 
anak-anak itu. Racun itu adalah, 1) uang bisa menyelesaikan segalanya; 2) tak 
usah berprestasi, biasa-biasa saja, nanti juga uang bisa menambalnya. 
  Barangkali dari peristiwa kecil inilah korupsi membudaya. Tanpa sadar kita 
melakukannya setiap hari, dan repotnya lagi kita melakukan itu di depan 
anak-anak kita. Anak-anak yang masih polos itu pastilah telah mencatat di 
relung kesadarannya dan menjadikannya falsafah hidup sepanjang hayat. Terlebih 
lagi, peristiwa ini dialami sang anak di lembaga pendidikan yang semua aspeknya 
merupakan nilai mulia yang harus ditiru dan diteladani. 
  Marilah kita bercermin lagi pada cerita yang lain. Cerita kali ini datang 
dari salah seorang cucu Mahatma Ghandi. Ia dan anaknya pergi ke suatu tempat. 
Karena acara sang ayah agak lama, sang anak diizinkan untuk membawa mobil itu 
bagi keperluannya sendiri. "Syaratnya, jam sekian kamu harus berada di sini, 
menjemput bapak!" ujar sang ayah. Pada jam yang ditentukan sang anak belum 
kembali, menit demi menit sang anak belum juga kembali. Sang ayah menunggu 
sampai beberapa jam. Lalu, sang anak datang dan mengajukan permohonan maafnya. 
  "Baiklah kalau begitu," ujar sang ayah, "naikilah mobil itu, bawalah pulang. 
Saya akan jalan kaki ke rumah!" Sang anak protes dan merasa bersalah. Namun 
sang Ayah tetap saja jalan kaki sambil berpesan, "Mengingkari janji adalah 
kesalahan terbesar dalam hidup ini, kamu sudah melakukannya padaku. Semua itu 
pastilah bukan kesalahanmu, itu semua karena saya salah mengajarimu, nak. 
Karena itu biarlah ayah menghukum diri, menghukum kesalahan pendidikanku 
padamu!" Sejak saat itu, sang anak tak pernah lagi mengingkari janji.
  Seluruh kisah-kisah ini adalah bahan refleksi kita pada Hari Anak. Benarkah 
kita serius merawat anak kita yang sering kita sebut sebagai amanah (titipan) 
dari Allah? Betapa mulia kata-kata "amanah (titipan) Allah". Pada istilah ini 
terlihat relasi antara Allah dan kita yang sedemikian akrab, Allah percaya pada 
kita karena itu Dia menitipkan sesuatu yang berharga. Lazimnya titipan, ia 
harus tetap seperti nilai awalnya. Nilai awal sang anak adalah fitrah, dan 
harus tetap fitrah. 
  Fitrahnya adonan untuk dicetak, fitrahnya perhiasan untuk membuat bangga 
pemakainya, fitrahnya sang anak tentu bukan untuk "dicetak" agar "membuat 
bangga" orang tuanya. Sang anak adalah sebutir benih yang begitu rapuh, butuh 
tanah yang baik dan pemeliharaan yang sesuai takaran. Kecenderungan benih 
adalah terus mencari cahaya, tetapi putik kecil bisa saja ditipu --diberi 
cahaya palsu-- dan memercayainya seumur hidup. 
  Bisakah kita menjadi tanah, yang menerima amanat secara jujur? Tanah tak 
pernah menumbuhkan semangka bila ia mendapatkan titipan benih padi. Benih padi 
yang ditanam, tumbuhan padi pula yang tumbuh. Bisakah kita menerima benih 
fithrah "anak kita" dan mengembangkannya menjadi fithrah yang lebih baik? 
Sebuah hadis menyatakan bahwa setelah kematian menerpa kita, tak ada yang bisa 
menolong dari siksa kubur kecuali doa dari kesalehan sang anak. Tentu saja, 
maksud hadis ini bila sang anak, "titipan Allah" itu, telah kita jaga dan 
tumbuh tetap berada dalam fitrahnya, maka kita akan mendapatkan hadiah dari 
Tuhan karena telah menjaga amanahnya dengan baik.
  Pada hari ini, ada baiknya kita menyempatkan diri untuk mengelus dan mengecup 
lembut kening mereka. Kita layak meminta maaf karena selama ini telah 
memberikan ruang hidup yang sumpek, penuh keluhan dan pertengkaran, serta tidak 
memberikan jaminan-moral. Kita pun layak memohon ampunan pada Allah karena 
titipan-Nya belum dirawat secara baik.
  Tersenyumlah, anak-anak menunggu ketulusan kita!*** 
  Penulis, dosen pada Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.
  
  

         

Kirim email ke