oleh2 saat ikutan seminar TH 3 th lalu di Jkt. Jwban akan di post nanti siang ===
Torey Hayden Workshop - Exercise Bacalah kasus 10 anak berikut ini. Dengan menggunakan intuisi profesional Anda, perkirakanlah bagaimana perkembangan mereka selanjutnya. Menurut anda, ketika mereka dewasa kelak, akan menjadi orang yang: A. Rata-rata/normal B. Terganggu secara emosional/psikotis C. Kriminal/antisosial D. Terbelakang secara mental Kasus 1 Anak lelaki, 13th, sangat lambat belajar. Baru hafal abjad saat usia 10th. Baru bisa membaca dengan baik tahun ini. Membaca huruf masih terbalik-balik, mengalami kesulitan menulis. Orangtuanya sabar padanya, tetapi mencemaskan kemajuannya yang lambat. Anak ini tampaknya tertarik pada hal-hal di sekitarnya, tetapi sulit mengintegrasikannya. Ia manis dan menyenangkan, serta kelihatan bahagia meskipun mengalami kesulitan akademis. Kasus 2 Anak lelaki, 11th, disebut "idiot" oleh ayahnya. Dia belum bisa membaca atau menulis. Gurunya menyebutnya "terburuk di sekolah" dan ia akhirnya dibolehkan tidak bersekolah sampai memperoleh bantuan-khusus. Ia kadang-kadang tampak disorientasi dan melamun. Orangtuannya putus asa menolong anaknya dan ayahnya terutama sangat autoritatif dan menghukum secara fisik agar anak ini belajar. Kasus 3 Anak perempuan, 8th, mengalami cacat berat akibat meningitis sewaktu bayi. Akibatnya, dia buta dan tuli: dicurigai retardasi tingkat parah meskipun hal ini belum dikonfirmasi. Dia sangat sulit ditangani, tubuhnya sangat kotor, dan dia tidak menguasai keterampilan merawat diri sama sekali. Orangtuanya mencemaskan kesejahteraan putrinya, tetapi takut akan perilakunya yang aneh dan bingung bagaimana cara membantunya. Kasus 4 Anak lelaki, 12th, dianggap bermasalah karena tak pernah menunjukan perhatian di sekolah. Anaknya tampan dan sangat mempesona, atletis , dan menurut tes, kecerdasannya di atas rata-rata. Namun, pekerjaan sekolahnya sangat buruk, dia jarang mengerjakan PR, biasa berbohong tentang banyak hal, dan sering berjalan-jalan di kelas, sehingga gurunya sering hilang kesabaran. Orangtuanya sama-sama menyayangi putranya, tetapi tak peduli soal pekerjaan sekolah. Mereka lebih suka kalau dia populer, pandai berolahraga, dan kelak punya banyak uang. Ayahnya sangat autoritatif dan menggunakan hukuman fisik padanya dan ke-empat saudaranya. Ibunya menyenangkan tetapi pasif. Kasus 5 Anak peremupan, 16th, yatim piatu sejak kecil dan sekarang tinggal bersama nenek dari pihak ibu, yang berpisah dengan suaminya yang pemabuk. Sebelum meninggal, ibunya menolak anak ini secara terbuka, yang secara fisik tidak menarik dan diketahui sering berbohong dan mencuri. Anak ini sering mencari-cari perhatian sewaktu masih kecil, seperti menelan uang logam saat usia lima tahun, hanya agar diperhatikan. Namun ayahnya sangat menyayanginya dan selama bertahun-tahnu anak ini berkhayal menjadi nyonya rumah di rumah ayahnya. Keadaan rumahnya yang sekarang sangat tidak teratur, karena neneknya tidak bisa mengendalikan keempat anaknya sendiri yang masih tinggal di rumah. Seorang putranya sering minum dan meninggalkan rumah tanpa penjelasan. Seorang putrinya bergonta-ganti pacar, disertai perilaku dramatis dan emosional berlebihan. Si nenek bertekad untuk bersikap lebih tegas pada cucunya agar cucunya terkendali. Akibatnya, ia melarang anak ini bermain dengan teman-temannya, memberinya pakaian yang aneh, dan terkadang melarangnya bersekolah jika ia tidak menyetujui kurikulumnya. Kasus 6 Anak lelaki, 16th, harus meninggalkan sekolah selama enam bulan atas perintah dokter karena ia mengalami nervous breakdown. Ia memang bukan murid yang baik di segala bidang, meskipun ia sangat berbakat dalam beberapa mata pelajaran. Ia sangat tidak disukai murid maupun guru, terutama karena perilakunya yang aneh. Perkembangannya lambat sejak dulu, dan ia terlambat bisa berbicara dan berjalan. Orangtuanya cemas tetapi tak yakin ia harus diapakan. Mereka menganggapnya "berbeda". Ayahnya mengakui ia merasa malu karena anaknya tidak atletis dan tidak pandai menyesuaikan diri dengan sekolah, karena ia sendiri menjunjung tinggi pendidikan. Anak ini penyendiri yang biasa menarik diri. Ia menciptakan agama sendiri, menyanyikan lagu himne sendiri, dan jarang mengobrol dengan orang lain. Kasus 7 Anak perempuan, 11th, putri di luar nikah dari seorang putri di luar nikah. Anak ini, ibunya, neneknya, serta saudara di luar nikah oleh ayah yang lain, semua tinggal serumah. Neneknya memeluk pandangan agama fundamentalis dan meyakini bahwa perilaku buruk anak ini adalah akibat dosa sang nenek. Akibatnya, dia sangat tegas pada anak ini. Sementara itu, ibu sang anak tidak konsisten. Kadang menghukumnya, kadang melindunginya dari neneknya. Anak ini, yang berprestasi buruk di sekolah, menunjukan indikasi memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Namun ia selalu datang ke sekolah dengan tubuh kotor dan ia sering bertindak provokatif secara seksual dan sulit di kendalikan. Kasus 8 Anak lelaki, 12th, berprestasi sangat buruk. Sekolah menyebutnya disleksia; ia sangat kesulitan mengeja. Kedua telinganya memakai alat-bantu-dengar. Dia sering berkelahi dan pada umumnya tidak disukai teman-temannya. Orangtuanya mengkhawatirkannya, tetapi mengakui bahwa mereka merasa anak ini hampir tak mungkin membaik karena cacat pendengarannya. Akibatnya, mereka memfokuskan perhatian pada saudara-saudaranya yang lebih berprestasi. Kasus 9 Anak lelaki, 16th, sangat pendiam dan menarik diri. Menurut guru-guru dia rajin tetapi tetap prestasinya hanya rata-rata rendah. Ia tampaknya menyenangkan, tetapi tak punya teman dekat. Malah, ketika ditanya, kebanyakan murid lain di SMA-nya tak mengenalnya. Dia lebih menyukai kegiatan yang dikerjakan sendirian, dan terutama suka benda-benda mekanis. Orangtuanya juga pendiam, tetapi mereka sangat menekankan prestasi akademis. Anak ini terkena campak yang parah di usia lima yahun, disusul meningitis. Ini menyebabkan ia sedikit tuli, dan orangtuanya mempersalahkan kekurangan ini umtuk prestasi akademisnya yang buruk. Kasus 10 Anak lelaki, 6th, kelahirannya sulit dan kepalanya sangat besar. Sewaktu kecil ia pernah sakit parah, yang disebut orangtuanya "demam-otak", mungkin meningitis, meskipun ini tak pernah diverifikasi secara resmi. Di sekolah anak ini mengisolasi diri, sering tampak disorientasi, sering tantrum hebat, dan tidak rukun dengan anak-anak lain, lebih suka menyendiri. Orangtuanya kehilangan 3 anak lain sebelum anak ini lahir dan sekarang ibunya marah karena personel sekolah mengatakan bahwa anak ini terganggu secara emosional. Sang ibu tidak sepakat. Ia merasa anaknya normal, tak mau anaknya di tes, dan kemudian menariknya dari sekolah dan memutuskan untuk mengajarinya sendiri di rumah. Menurutnya, tantrum anak itu "normal untuk anak lelaki". ...(to be continued) MAYA http://aryakinan.blogspot.com --------------------------------- Got a little couch potato? Check out fun summer activities for kids.

