Hai, Mbak... Wah seneng bgt d dpt input dr insider Cikal..
Memang betul, sy jg lihat Cikal perpustakaannya bagus..Koleksi bukunya pun ok bgt. Dan mrk giat bgt menghimbau anak untuk suka membaca. Anak kedua sy yg di kls bayi2 pun sdh dpt reading log.. Banyak visi dan misi Cikal yg sejalan dengan saya. Dan itu gak saya dapatkan di sekolah lain. Tp memang betul, soal biaya jd banyak sekali yg mempertanyakan krn uang pangkal utk TK dan SD naiknya cukup signifikan. Persoalannya, apakah sebanding dgn yg anak kita dapatkan disana. Salah satunya ya itu, kemampuan guru2 mengajar dalam bahasa Inggris. Apakah sudah cukup memadai? Dan yg jd pertanyaan para ortu murid2 pre-kindie adalah, apa yg menyebabkan kenaikan yg begitu besar? Pdhal utk SD nya, Cikal termasuk pemain baru. Tp harga yg dipatok hampir menyamai pemain2 lama. Masalah pergaulan anak2 disana memang sudah sy pikirkan jg. Tapi ya spt yg mbak bilang, di Al Azhar jg begitu jd apalagi di Cikal. Begitu jg di sekolah2 lain. Sy pribadi tdk terlalu concern mengenai hal ini krn di sekolah manapun pasti terjadi hal2 yg mbak sebutkan sebelumnya, anak2 kecil pake hp, saling membandingkan barang atw mainan dsb. Hal2 kyk gitu gak bs dihindari. Ya kt sbg ortunya musti pinter2 ngarahin anak n ksh pengertian secara terus menerus. Yg sy blm dapet, info ttg keseharian kegiatan murid TK disana. Apakah sistem yg diterapkan benar2 efektif. Apakah ortu bs memantau betul pelajaraan yg mrk terima dr sekolah? (Mengingat mrk tdk selalu mengikuti buku panduan dr awal smp habis, mrk hanya mengambil hal2 yg diperlukan saja dr msg2 buku.) Juga, bagaimana dgn PR? Terlalu membebani anak gak? Anyway, mbak. Makasih banget ya masukannnya. Bener2 membantu. I'll check out the blog..Thank's ya :) --- In [email protected], "wietski" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hai, > > mau ikutan kasih masukan juga. Saya pernah kerja di Cikal tahun 2004 > selama 10 bulan sebagai pustakawan dan berhenti kerja karena > melahirkan. > > Karena saya pustakawan, jadi saya nilai dari mata pustakawan ya... > terutama saat saya masih kerja disitu. > > Menurut saya, Cikal termasuk sekolah yang peduli banget dengan > perpustakaan. Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini sedikit > sekali sekolah-sekolah yang mempunyai perpustakaan yang cukup layak, > dan cikal adalah salah satunya. > > Untuk membangun perpustakaan, biasanya sekolah jadi harus > mengeluarkan biaya tidak sedikit, apalagi sekolah anak2, dimana buku > anak2 itu cukup mahal dan biaya untuk maintenance cukup besar juga > (karena untuk anak2 TK dan SD, jadi buku lebih mudah hilang atau > rusak ketimbang perpustakaan biasa, jadi pengelolaannya butuh biaya > lebih). Nah, ga banyak sekolah yang "rela" untuk membangun > perpustakaan karena profitnya tidak keliatan langsung. Biasanya > untuk sekolah yang cukup bagus, mereka lebih memilih membangun "buku > kelas" karena memang biayanya bisa lebih ditekan, karena koleksinya > bisa langsung disesuaikan dengan kurikulum, beda dengan perpustakaan > yang koleksinya ada yang tujuannya untuk "rekreasi" alias mendorong > anak2 ke perpustakaan dan terbiasa membaca, sehingga tentu saja > perlu disediakan buku-buku yang isinya sekedar untuk "iseng" saja. > > Untuk di Cikal, mereka membangun perpustakaan sekaligus buku kelas > juga, jadi ada biaya yang mereka sisihkan untuk itu. Setiap harinya > ada "library visit day" dimana setiap kelas punya jadwal masing2 > untuk ke perpustakaan, dilatih untuk meminjam buku dan manner di > perpustakaan. Idealnya, diharapkan anak2 membaca di perpustakaan dan > dirumah (yang belum bisa membaca, dibacakan oleh pustakawannya atau > kalau dirumah oleh pengasuh atau orangtuanya) dan bisa menceritakan > kembali ke gurunya. > > Kalau untuk segi pengajaran, dulu cikal dapat kritik dari pemerhati > pendidikan, blognya bisa dilihat disini: genenetto.blogspot.com , > kalo ga salah yang dikritik adalah kurikulum yang masih bongkar > pasang, dan sistem bilingualnya yang tidak jelas. tapi dulu bapak > gene netto ini bekerja disana saat saya masih jadi karyawan (tahun > 2004) jadi saya tidak tahu bagaimana cikal sekarang. Seingat saya > sih dulu dengan kurikulum yang bongkar pasang ini, banyak guru2 yang > jadinya bingung juga ya. > > Sebelum saya keluar, saya dengar rencananya cikal memang ingin > membuat sistem "SKS" dan berpindah2 kelas seperti anak kuliahan, > waktu itu tujuannya agar anak2 bisa belajar sesuai kemampuannya > sendiri, misalnya saja bagi anak A yang matematikanya lebih advance, > bisa mengambil kelas yang lebih tinggi, dan bisa tetap berada di > kelasnya untuk pelajaran yang lain. Tapi saya tidak tahu bagaimana > prosesnya sekarang. > > Untuk saya pribadi, Cikal memang sekolah yang cukup bagus, tapi > mengingat harganya, saya pikir kurang reasonable banget, dan saya > setuju dengan kritik pak Gene yang mengatakan biaya itu lebih banyak > buat owner (artinya tujuannya bisnis untuk mendapatkan profit > sebanyak2nya), karena waktu saya bekerja disana, gaji karyawan dan > guru minim sekali (dulu gaji saya sama dengan bayaran sekolah 1 anak > per bulan). Tapi saya tidak tahu kalau sekarang ada perubahan > manajemen, dimana kesejahteraaan karyawan dan guru lebih > diperhatikan, karena terakhir saya dengar biaya sekolahnya meningkat > berkali2 lipat. Mudah2an sih memang ada perubahan. > > Saran saya, kalau anak "dibela2in" sekolah di Cikal, artinya tidak > ada biaya tapi dipaksa, rasanya tidak perlu sampai "sebegitunya", > karena yang kita pikirkan bukan hanya akademik saja, tapi juga > sosial. nanti disana anak2 akan berteman dengan teman2 "high class", > yang artinya akan berpengaruh pada seleranya berpakaian, makan, > minum, dll. yang kedepannya takut akan lebih "dipaksa lagi". Belum > lagi kalau ternyata anak merasa "minder" karena beda "kelas" dengan > teman-temannya (mudah2an sih tidak). > > Saat ini saya bekerja di Universitas Al-Azhar, dan satu komplek > dengan sekolah TK dan SD Al-Azhar. Sekolah itu sendiri bukan sekolah > murah, walaupun masih lebih murah dari Cikal, tapi saya lihat gaya > anak2nya memang beda, seperti misalnya model handphone atau mobil > yang mereka gunakan. > > Saya tidak mengatakan anak2 orang kaya adalah anak2 yang buruk atau > gimana, tapi hanya berkata berbeda selera saja. Apalagi anak2 > biasanya adalah orang2 polos yang take it for granted. Misalnya, > kalau mereka pakai baju bermerk, yang berkomentar "heboh" adalah > orang2 disekitarnya, mereka hanya menganggap biasa2 saja, tapi > tentunya mungkin mereka akan kesulitan jika memakai baju biasa, > misalnya kulitnya lebih sensitif, atau saat mereka bercerita > berlibur ke amerika, tentunya bagi mereka itu biasa2 saja, tanpa > bermaksud membuat teman yang lain merasa minder, itu saja maksud > saya. >

