----- Forwarded Message ----
From: Surya Nan Sinaro <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>; Siti Maryam <[EMAIL PROTECTED]>;
Ria Juwita <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: Bagus Yudha Prastowo <[EMAIL PROTECTED]>; Heru Singgih <[EMAIL PROTECTED]>;
Arnes Lukman <[EMAIL PROTECTED]>; Untung Wijaksono <[EMAIL PROTECTED]>; Febry
Eddy <[EMAIL PROTECTED]>; Kurniadi Sulistyo <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, November 4, 2008 4:14:26 PM
Subject: FW: MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT ?
Dear Aall,
Sekedar renungan untuk kita bersama,
MAMPUKAH KITA MENCINTAI
ISTRI KITA TANPA SYARAT?
Ini cerita nyata, beliau
adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di
kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan
industri Reksadana di Indonesia. Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar
sekali.
Dilihat dari usianya beliau
sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak
Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit
istrinya juga sudah tua.. mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak
disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2
kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak
tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang
lidahnyapun
sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno
memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas
tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya
istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat
bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak
Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk
menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya,
mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi
sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa
memandang tapi tidak bias menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia
selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak
Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil
membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa
tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak
Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk Ibunya. Karena
setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak
Suyatno memutuskan Ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu ...
semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2
anak yg sulung berkata "Pak kami ingin sekali merawat Ibu semenjak kami
kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir
Bapak. ... bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga Ibu". dengan air mata
berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami
mengijinkan Bapak menikah lagi, kami rasa Ibupun akan mengijinkannya, kapan
Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak
tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara
bergantian ..."
Pak Suyatno menjawab hal yg
sama sekali tidak diduga anak2 mereka."Anak2ku ... Jikalau perkawinan
& hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah ... tapi
ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia
telah melahirkan kalian ... sejenak kerongkongannya tersekat ... kalian yg
selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat
menghargai
dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaannya
seperti ini?
Kalian menginginkan Bapak
bahagia, apakah batin Bapak bias bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya
sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat
oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit."
Sejenak meledaklah tangis
anak2 Pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu
Suyatno
... dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah
akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi
nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu
bertahan selama 25 tahun merawat sendiri Istrinya yg sudah tidak bias apa2..
disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan
kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.
"Jika
manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak
mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.
Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat
diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan
dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2 ...
Sekarang
dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama ... dan itu merupakan ujian
bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya.
Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit..."