diambil dari milis sebelah...menjelang hari ibu walaupun masih 2 minggu lebih, 
tapi ga ada salahnya kita merenung yaa...

Madrasah Cinta



Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti

jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh,

seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang kan

dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang

bidan : "positif".



Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih

dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda

baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya.

Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah

ia di dalam sana?
Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi

cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya

asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna

sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan

keringat yang terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja

berputar.



Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak

satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja,

teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru

saja berucap "Ma…" segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke
semua

yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak

histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.

Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah

awal kesuksesannya. Meskipun di saat yang sama, pikirannya terus menerawang

dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya.

Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.



"Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia
berada di pasar

berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau

keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu

mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap

kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju

untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore

ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi

atas satu alasan, demi anak.



Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah

catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu

anak, nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ,

kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di

rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan

si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya

tetap terdengar.



Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah

dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi *babby

sitter* yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang

bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela

menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak

mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang

melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari.

Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak

pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau

harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura

si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang

sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan

dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun mendongeng.



Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan

anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu

kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat,

"Sudah makan belum?" tak lupa terlontar saat baru saja memasuki
rumah. Tak

peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah

menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.



Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan

terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya,

siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata?

Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap.

Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. ia

menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat

itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan

cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada
satu hati lagi yang tertambat,

yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"



Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang

usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu

pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu ingin

anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku
kalian".

Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya.

"Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak
kecil,"

ujarnya.



Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya

tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti

cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu

mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah

yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang dicinta.**



Ibu adalah seyogianya adalah "madrasah" bagi anak-anaknya.



Mila Angrainy
0816-639564
ym : [EMAIL PROTECTED]
www.rumahkuistanaku.multiply.com
www.duniamila.blogspot.com
my online biz :
http://www.dbc-network.com/index.php?id=milaangrainy







      

Kirim email ke