*ASI dan Cinta*

http://parentingislami.wordpress.com/2009/02/09/asi-dan-cinta/
dr. Ariani

Pemberian ASI juga dapat mempererat jalinan kasih sayang antara ibu dan
anak, serta menimbulkan rasa aman dan kedekatan emosional yang kuat. Dalam
dekapan ibu, bayi akan merasakan kehangatan dan perlindungan. Begitu pula
sebaliknya, ibu menyusui akan merasakan puas dan bahagia, karena dapat
memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Sesungguhnya apabila dalam
menyusui dihayati, akan menumbuhkan kebahagiaan yang terwujud dalam bentuk
kasih sayang murni. Sentuhan kulit, detak jantung ibu yang telah lama
dikenal bayi, akan meningkatkan kemesraan. Berpadunya unsur fisik dan psikis
antara ibu dan anak tersebut, semakin memperkuat ikatan cinta dan kasih
sayang di antara mereka.

Dampak psikologisnya, menimbulkan rasa sayang, nyaman, percaya dan berani
menjangkau orang lain. Efeknya adalah menumbuhkan kemampuan membangun dan
memelihara hubungan yang akrab. Semua itu berdayaguna sebagai dasar
perkembangan emosi anak di kemudian hari.

Sebaliknya, kerakusan dan keserakahan bisa berkembang sebagai akibat kurang
memperoleh makanan dan cinta pada tahun-tahun awal kehidupan. Ini karena
tugas perkembangan pertama fase oral adalah memperoleh rasa percaya, percaya
kepada orang lain, dunia, dan kepada diri sendiri. Dan cinta adalah
perlindungan terbaik dari ketakutan, dan ketidakamanan.

Itu mengandung makna, betapa ASI turut serta berpengaruh terhadap
kepribadian anak-anak. Bahkan RA Kartini, seorang tokoh wanita Indonesia pun
menyebutkan, bahwa kejahatan dan kebaikan manusia terberikan melalui air
susu ibu (Nota Kartini untuk Rooseboom dalam Sulastin, 1977:388). Syarat
utama anak berbahagia sebenarnya bermula dari orangtua yang berbahagia. Anak
belajar dari hal yang diucapkan secara verbal dan dirasakanoleh orangtuanya.
Pola orangtua mengatasi stress menjadi suatu pembelajaran pula bagi anak.

Proses memberikan ASI memiliki aspek psikologis dan rohaniah antara ibu,
bayi dan ayah, bukan sekedar tempel dan membiarkan bayi menyusu. Gelombang
otak anak usia 0-7 tahun cenderung lambat di sekitar frekuensi delta/theta
atau sekitar 0,5-7 hertz. Gelombang otak lambat berhubungan dengan fungsi
intuisi dan telepati. Sehingga anak 0-7 tahun memiliki kemampuan yang hebat
dalam mendeteksi, merasakan dan mengekspresikan emosi.

Menyusui yang dilakukan dengan penuh cinta dan keikhlasan, maka data
tersebut akan terekam dalam saraf bayi, yang akan menyirami benih cinta
dalam diri mereka sendiri. Selain itu sesuai dengan kajian tentang genetika
dan pola asuh, proses menyusui yang didasari kesadaran jiwa, keselarasan
hati, dan cinta kasih akan mempengaruhi ekspresi genetik yang ideal dan
menghasilkan kesehatan fisik yang optimal.
Sehingga ASI merupakan kondisi dasar untuk membentuk anak yang peuh cinta
dan sukacita.

Kirim email ke