Bantu, ya.....walau gak bisa secara lengkap. 
Krn yg aku tahu, hy sakamoto, I-maths dan kumon.

Metode sakamoto dan I-Maths hampir sama. Sakamoto dari jepang, sedangkan 
I-Maths dari korea.
Metode sakamoto dan metode I-Maths sama2 mengajarkan dan mengenalkan konsep 
dasar matematika secara permainan.
Sekaligus melatih logika matematika anak.
Klu logika matematika nya sudah terlatih, maka dia akan mampu mengerjakan soal2 
cerita pd khususnya dan akan mengerti  intisari dari bacaan pd umumnya.
Jika logika matematika anak tdk terasah, maka dia tidak akan mengerti apa yg 
dia baca. Jd jgn heran klu mom menemukan satu anak yg lancar membaca tp tidak 
mengerti apa yg sdh dia baca.
Dlm mengikuti les ini, anak2 tidak akan pernah diberi PR.
Dlm belajar matematika dgn ke 2 system ini, anak tidak akan merasa dipaksa 
belajar. Mrk akan mencintai matematika dgn kesadaran penuh dan yg penting, cara 
belajar yg menyenangkan....tidak menimbulkan rasa benci pd angka.  

Sedangkan Kumon, hy melatih cepat berhitung dan melatih konsentrasi. Tp logika 
matematikanya samasekali tidak dilatih.
Anak hy dilatih berhitung cepat dan diberikan PR setiap hari. Dlm sehari, hrs 
mengerjakan 10 lembar PR dan tiap lembarnya hrs mampu dikerjakan kurang dari 1 
menit. Barulah itu dikatakan berhasil.
Jd....wlupun kita mengajak si anak berlibur, PR akan tetap dibawa. Krn klu 
sehari saja tdk dikerjakan, maka beban PR akan menumpuk. Dan anak akan mudah 
bosan dan jenuh.

Anak2 saya (kls 5 SD dan 3 SD) pernah sy les kan di I-Maths dan kumon.
Mulai usia 3 thn sampai 6 thn, anak saya les di I-maths. Sedangkan saat kelas 1 
sampai kls 3 SD, mereka les di kumon.
Dengan system I-maths, saat anak saya TK A, tanpa disadari...tanpa paksaan dan 
tanpa tekanan....ternyata anak saya sdh mampu mengerjakan soal2 matematika 
kelas 1 SD. Saat duduk di kls TK B, mereka mampu mengerjakan soal2 matematika 
dan soal2 cerita kelas 2 SD.

Sedangkan saat masuk kumon, anak2 cepat merasa jenuh. Krn setiap hari hrs 
dikejar2 PR. Sementara tugas2 dari sekolah pun cukup menyita waktu. Belum lagi 
waktu yg hrs mereka sisihkan utk belajar mata pelajaran sekolah.

Selain itu ada masalah lain. Dlm belajar kumon, anak2 sama sekali tidak boleh 
meng kontret. Yaitu menghitung di kertas lain saat mengerjakan tugas. Artinya 
mrk hrs berhitung di luar kepala.
Konsepnya sih bagus. Tp....anak2 itu kan memang usia nya yg masih ceroboh. 
Akhirnya...krn kebiasaan hrs mengitung di luar kepala, alhasil....ulangan2 mrk 
salah. Krn kurang teliti saat menghitung di luar kepala.

Klupun mau ke dua2nya, klu boleh saya sarankan.....saat anak usia TK, lebih 
baik dimasukkan dlm les yg juga menggali logika matematika. Klu logika sdh 
jalan....maka boleh2 saja dimasukkan dlm les kumon....asal si anak memang siap 
dgn PR2 nya yg banyak.

Nah...mom....semua kembali kepada ortu masing2 utk memilih.



Regards,
YUSRI
email: [email protected]

Sent from my BlackBerry® wireless device

-----Original Message-----
From: Ella Zuyuna <[email protected]>

Date: Tue, 31 Mar 2009 16:29:35 
To: Parentsguide<[email protected]>; 
Surabaya<[email protected]>; 
Anakbakat<[email protected]>; Anakku<[email protected]>; Balita 
Anda<[email protected]>; ABM<[email protected]>
Subject: [parentsguide] Perbedaan Kumon,Sakamoto,I Maths,E Nopi











Sore..
 
Maaf ini adalah pertanyaan mengulang lagi yang beberapa waktu kmren sudah 
dibahas...cuman mau nyari filenya sy kehilangan.
Sy disini hanya ingin tahu apa beda kumon,Sakamoto,I Maths,E Nopi dan dilihat 
dari segi positif dan negatifnya.Dan usia berapa mulai boleh ikut kursus ini.
 
 
Terimakasih
Ella Zuyuna


Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. 
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!


___________________________________________________________________________
Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas.
Coba Y! Messenger 9 Indonesia sekarang.
http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke