Rp. 84.000 disc menjadi 79.000 
free sampul (diluar ongkir)

hanya tersedia 5pcs




ringkasan singkat:

Prof Dr Hiromi Shinya - The Miracle of Enzyme 

--------------------------------------------------------------------------------

Mengapa kita sebaiknya:

- Tidak minum susu sapi ?

- Membatasi minum teh hijau ?

- Makan buah dan minum jus 30-60 menit sebelum makan utama ?

- Minum 2-3 gelas air sejam sebelum makan ?

- Detoksifikasi menggunakan kopi ?

- Tidur siang 5 menit, setelah makan siang ?

Ternyata, hal-hal tersebut memproduksi enzim pangkal yang bisa menyambuhkan 
kanker, obesitas, fibroid, konstipasi, sulit tidur, penyakit jantung dan 
autoimun.

Dalam buku lengkap, praktis, dan menarik ini, Dr. Shinya menunjukkan pula bahwa 
:

*suplemen kalsium dan produk susu bisa menyebabkan osteoporosis;

*pembedahan dan obat-obatan tidak mengobati kanker;

*obat-obatan sering membuat Anda lebih sakit;

*demam justru menyehatkan; dan

*rasa cinta dan gembira bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

Penemuan Dr. Shinya tentang 'keajaiban' tubuh sudah teruji akan merevolusi cara 
hidup sehat. Terbukti Hiromi Shinya tidak pernah sekali pun jatuh sakit dalam 
50 tahun terakhir dan tak satu pun dari ribuan pasien kankernya kambuh. Buku 
seharga Rp. 84.000





Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu 
kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah 
tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi 
perilaku yang alami seperti itu?



"Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof Dr 
Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban 
Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. 
Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. 
Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga 
hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.



Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab 
osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut 
langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang 
diproduksi mulut kita.



Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat.

Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali 
dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan "enzim 
induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk 
pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk 
terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih 
mudah terkena osteoporosis.



Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di 
dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di 
usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia 
sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa 
keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia 
memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama kariernya sebagai dokter 
terus mondar-mandir di antara dua negara itu.



Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. 
Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan 
minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang 
makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara 
lain susu dan daging.



Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan 
makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, 
bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet 
gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. 
Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, 
bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.



Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan 
kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya 
kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, 
pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel 
radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, 
makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang 
menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan 
menimbulkan penyakit lagi.



Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia 
hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15% dari seluruh makanan yang masuk 
ke perut.



Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, 
keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita 
menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak 
makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti 
bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari 
seluruh makanan yang kita perlukan.



Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang 
kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" oleh 
mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak 
makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.



Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan 
itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali.. Bahkan, untuk makanan yang agak 
keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting 
agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian 
juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, 
tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap 
usus lebih dulu.



Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan?



Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga 
menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima 
jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau 
semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang 
umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.



Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi 
"modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di 
dalam "lumbung enzim-induk". Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari 
"lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari 
itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras 
lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung 
masing-masing.



Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing 
haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara 
selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua 
makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan 
mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara 
terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.



Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah 
persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan 
makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan 
itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, 
sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan 
enzim yang banyak.



Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan 
terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan 
tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun 
memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk 
apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan 
untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.



Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan 
sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. 
Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan 
makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya 
kualitas usus terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara 
terus-menerus atau terlalu sering.



Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu. 
Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan 
"pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti 
cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, 
banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang 
dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter 
jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di 
usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter 
spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.

Kirim email ke