dear mods, minta izin direlease ya thanks.

http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=221
 
Titik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga
Dipublikasi pada Jum'at, 02 Januari 2004 oleh abufaiz97

  
 SESAAT menjelang bunuh diri,
aktris kenamaan Hollywood, Marilyn Monroe, menulis sepucuk surat untuk
kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling
populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya 


----------
www.mqmedia.com - "Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros 
utama,
dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu
rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna." (Ayatullah
Uzma Sayid Ali Khamenei)

SESAAT menjelang bunuh diri, aktris kenamaan Hollywood, Marilyn Monroe,
menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan
yang juga supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah
penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu kutipan
dalam suratnya tersebut sebagai berikut:

".Waspadailah popularitas wahai wanita.Waspadailah setiap kegemerlapan
yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab
saya tidak bisa menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya
menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga
secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang
hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan suci, bahkan
kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita dan
manusiawi."

Marilyn Monroe tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat
mengikuti penyesalan Marilyn Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak
hal yang telah mereka lakukan di luar fitrah mereka. Mereka menyesal
atas kesibukannya di luar rumah. Karena kesibukan mereka di luar rumah,
keluarga mereka menjadi rentan dihinggapi berbagai masalah.

Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang
kerap mengunjungi mereka. Karenanya, kegoncangan kehidupan rumah
tangga, penyelewengan pendidikan anak yang menyebabkan mereka terlantar
dan sengsara menjadi pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah,
tak ada seorang wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat
anak-anaknya memiliki moral yang rusak, bebas berzina, hamil di luar
nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi, inilah yang terjadi di barat sana.

Kaum wanita yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa
persamaan, kesetaraan, dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya
di negeri mereka, sebetulnya telah merampas kebahagiaan dan fitrah
mereka sendiri. Mahmud Mahdi Al Istambuli menyampaikan kabar kesadaran
mereka itu sebagai berikut: "Mereka baru-baru ini mulai mengajukan
persamaan dengan wanita Muslimah, sesudah mereka tahu apa tujuan di
balik semboyan-semboyan dan slogan-slogan bohong itu. Wanita-wanita
barat rindu mendapatkan kehidupan sebagaimana dialami wanita di negeri
Islam. Mereka menuntut persamaan dengan kehidupan para Muslimah itu."

MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia menyatakan
sendiri bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia mampu
menjadi ibu, yang berkiprah total dalam kehidupan rumah tangga dan
keluarganya. Berkhidmat dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan
anak, mendidiknya, membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat
kepada orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu
mewujudkan peradaban mulia.

Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari
kekeliruannya selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu.
Dan, secara tidak langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki
seorang wanita ada dalam gemerlapnya harta, tingginya kedudukan,
pesatnya karier, dan lain-lain.

Sesungguhnya, yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang
selama ini diajarkan Islam. Ajaran yang menempatkan wanita, terutama
ibu, dalam posisi yang sangat mulia.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei
mengatakan, "Anda yang beraktivitas di luar rumah, baik Anda sebagai
dokter, dosen di perguruan tinggi, atau profesi-profesi akademis
lainnya yang pada tempatnya tentu relevan, tetap harus memberikan
kiprahnya di dalam rumah. Masalah keibuan, status sebagai istri, rumah
dan rumah tangga, semuanya merupakan hal amat fundamental dan vital.
Anda bukanlah wanita yang sempurna jika Anda tidak menangani urusan di
dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros
utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa
kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna."

Dr. Mien Uno, salah seorang tokoh perempuan negeri ini mengungkapkan
hal senada. "Saya menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah karir yang
sangat terhormat. Akan tetapi, banyak masyarakat kita yang berpendapat
bahwa status ibu rumah tangga bukanlah karir karena tidak bergerak
dalam lingkup publik. Saya tidak mengerti yang dimaksudkan dengan
lingkup publik. Bagaimanapun, menurut pendapat saya, justru ibu rumah
tangga adalah posisi yang sangat terhormat karena dia melingkupi
faktor-faktor sosial dengan keluarga, dengan masyarakat. Dia peletak
dasar agama, kemudian sebagai seorang pendidik yang baik. Karenanya,
dia berkarir sebagai ibu rumah tangga."

Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent
in Papua New Guinea, mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi
ibu rumah tangga mendapat tempat terhormat dan mulia. Berikut bait-bait
puisi yang dimaksud:

Istriku Yang Tidak Bekerja
Suatu ketika
Siapa yang mengerik sagu?
Siapa merawat ternak itu?
Menjadi tumbuh dan menjual makanannya
Hingga keluarga bertahan
Siapa menimba air di sumur?
Merawat dan menyayang anak-anak itu?
Merawat yang sakit?
Yang pekerjaannya menghabiskan waktu
Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik dengan temannya?
Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak?
Yang perjuangannya
Tak terlihat
Tak terdengar
Tak dihargai
Tak terbantu
Membantu pembangunan?
Siapa peduli untuk bilang
Benarkah Istriku tidak bekerja?

Keterhormatan profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik
itu. Keterhormatan itu akan semakin lengkap manakala seorang ibu rumah
tangga mampu mewujudkan tiga struktur rumah tangga, seperti yang
diungkapkan Syeikh Muhammad Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan
rahmah.

Menurut Al Ghazali, yang dimaksud sakinah adalah hendaknya seorang ibu
rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga
sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya.
Seorang ibu rumah tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan
segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta
sesuatu darinya. Sementara mawaddah, berarti seorang ibu rumah tangga
harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan
rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan
setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang
mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan 
memerlukan kelayakan yang cukup.

Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut
hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggungjawab,
tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak
mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung
kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan
catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut
bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina? Wallahua'lam.
(Syam/MQ)***




menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang mudah,
namun juga bukan sesuatu hal yang sulit.
menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja merupakan sebuah pilihan,
banggalah menjadi ibu apapun jalan yang ditempuh
hanya ibu yang tau apa yang terbaik untuk keluarganya.

-mom nadhil-
 Desi Puspa Rini, S.Si
statistic consultant

butik online
http://glorious62.multiply.com/


      

Kirim email ke