Dear Mom,

 

Just info aja...

Artikel ini kemarin saya baca di kompas.com di rubrik kesehatan dan ada
beberapa komentar mengenai tulisan ini, yaitu mengenai angka derajat
celcius, yg mana sangat mustahil bisa memasak makanan dgn suhu 1000-an
derajat. Ada yg berkomentar aluminium saja melebur pada suhu 660,32 derajat
celcius.

Maaf jika kurang berkenan atas komen nya J 

 

Salam,

Meij Nie

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Eva Julia
Sent: 13 Agustus 2009 13:43
To: [email protected]; Milis Parentsguide; MUMSKIDS
Subject: [parentsguide] Trs: [DOKTER] Akrilamida, Bahaya Kelezatan

 

  




--- Pada Kam, 13/8/09, Tony Gosal <[email protected]> menulis:


Dari: Tony Gosal <[email protected]>
Judul: [DOKTER] Akrilamida, Bahaya Kelezatan
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 13 Agustus, 2009, 12:58 PM

  

Akrilamida, Bahaya Kelezatan

Kamis, 13 Agustus 2009 | 09:06 WIB

Apakah Anda termasuk penggemar berat kentang goreng, keripik kentang, roti
panggang, produk sereal, dan produk-produk tinggi karbohidrat lainnya yang
diolah dengan digoreng, dibakar, atau dipanggang? Atau Anda tidak dapat
melewatkan waktu santai pada sore hari ditemani kopi dan makanan kecil?

Jika jawabannya adalah ya, mulai sekarang Anda sebaiknya mengakrabkan diri
dengan istilah akrilamida. Mengapa? Karena akrilamida (biasa disingkat
akrilamid) adalah senyawa kimia berbahaya yang belakangan ini terbukti
terkandung dalam berbagai makanan tersebut.

Umumnya, akrilamida digunakan di industri untuk membersihkan air minum,
bahan baku perekat, tinta cetak, zat warna sintetik, zat penstabil emulsi,
kertas, dan kosmetik. Selain itu, akrilamida sering digunakan sebagai
kopolimer pada pembuatan lensa kontak. Sebenarnya, akrilamida tidak
berbahaya dalam penggunaannya di industri, tetapi akan berbeda halnya
apabila zat ini terkandung dalam makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari.

Pada tahun 2002 The Swedish National Food Authority mengumumkan hasil
penelitian dari Stockholm University, yaitu ditemukannya peningkatan kadar
akrilamida dalam beberapa jenis pangan, terutama yang mengandung banyak
karbohidrat (zat tepung), seperti kentang dan produk sereal yang diproses
dengan pemanasan tinggi (misalnya, dibakar, dipanggang, atau digoreng) pada
temperatur di atas 1.200° celsius.

Peneliti Swedia menemukan bahwa terdapat konsentrasi akrilamida yang sangat
besar pada makanan yang digoreng (keripik kentang 1.200 mg/kg dan kentang
goreng 450 mg/kg) serta makanan yang dipanggang (sereal dan roti 100-200
mg/kg).

Lantas, apa bahaya dari akrilamid? Pada tahun 2005 Joint FAO/WHO Expert
Committe on Food Additivies (JECFA) mengumumkan bahwa paparan akrilamid
dalam jangka waktu lama pada hewan coba tikus menunjukkan gejala genotoksik
(memengaruhi gen) dan karsinogenik (dapat memicu kanker).

Akrilamida pada dosis tinggi terbukti dapat menyebabkan kerusakan pada
jaringan saraf dan mengganggu reproduksi. Namun, pengaruh karsinogenik pada
manusia belum teruji kebenarannya. Meskipun demikian, penelitian lanjutan
tentang bahaya akrilamida pada manusia masih terus dilakukan.

Lalu, bagaimana bisa sampai terbentuk akrilamida pada makanan? Mekanisme
pembentukan utama akrilamid dalam makanan terjadi pada reaksi Maillard,
yaitu reaksi ketika gula dalam makanan (contohnya glukosa, fruktosa, dan
laktosa) bereaksi dengan asparagin bebas (sejenis asam amino dalam makanan
yang terbentuk karena reaksi pencoklatan) . Gula, asparagin, dan beberapa
asam amino lainnya adalah senyawa yang secara alami terdapat dalam pangan
nabati. Asparagin bereaksi dengan gula pada temperatur tinggi (di atas
1.200° celsius).

Biasanya peristiwa ini terjadi pada saat penggorengan, pemanggangan atau
pembakaran. Ketiga proses inilah yang bertanggung jawab terhadap
tinggi-rendahnya akrilamid dalam pangan. Semakin gelap warna produk akibat
pemasakan, makin banyak kandungan akrilamida di dalamnya.

Jadi, apa yang harus dilakukan agar dapat terhindar dari bahaya akrilamid?
Tentu saja, yang paling utama adalah mengurangi paparan akrilamid dalam
makanan sehari-hari. Mulailah dengan mengurangi konsumsi makanan yang
digoreng, dibakar, dan dipanggang (akrilamid tidak ditemukan pada makanan
yang dikukus atau direbus karena suhu pengolahannya berkisar 1.000° celsius
dan tidak menyebabkan pencoklatan) serta pangan yang kaya lemak trans dan
lemak jenuh karena lebih berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Selain itu, tingkatkan konsumsi makanan yang kaya serat, seperti buah-buahan
dan sayur-sayuran, sehingga racun dalam tubuh dapat dikurangi.

Selain dengan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung akrilamida, bahaya
senyawa beracun ini juga dapat dihindari dengan mengurangi akrilamida dalam
bahan pangan lewat cara memasak yang tepat.

Dengan memerhatikan beberapa teknik memasak di rumah, kandungan akrilamida
yang terbentuk dari pemasakan dapat diminimalkan. Umumnya, lebih banyak
akrilamida terakumulasi pada proses memasak yang lebih lama dan pada
temperatur yang lebih tinggi.

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah mencegah pemasakan yang berlebih
saat memanggang, menggoreng, atau membakar pangan kaya karbohidrat,
misalnya, memasak kentang goreng dan kentang bakar hingga berwarna kuning
keemasan saja (bukan kuning kecoklatan) serta memanggang roti hingga
berwarna coklat muda.

Selain itu, pada saat akan memasak kentang, kentang dapat direndam dahulu
selama 15-30 menit sebelum pengolahan lanjutan agar dapat mengurangi
akrilamid yang terbentuk selama pemasakan. Hal ini dapat terjadi karena
jumlah gula yang terkandung dalam kentang telah berkurang dengan adanya
perendaman. Penambahan antioksidan berupa daun bambu atau ekstrak teh hijau
juga telah terbukti mengurangi level akrilamid pada pangan. Sebenarnya,
akrilamid ditemukan paling banyak pada pangan yang digoreng (karena suhu
yang digunakan paling tinggi).

Jadi, usahakan untuk menggoreng pada temperatur yang lebih rendah (jangan
melebihi 1.750° celsius) dan hindari produk yang terlalu garing atau gosong.

Setelah mengenal akrilamida lebih jauh, apakah kita perlu menghindari
sepenuhnya makanan-makanan favorit kita? Tentu tidak. Karena belum ada bukti
dari penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa akrilamida positif sebagai
pemicu kanker pada manusia, belum perlu benar-benar menghindari produk
pangan tertentu.

Sebenarnya, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan keberadaan akrilamid
dalam makanan karena kandungan akrilamid dalam makanan bukanlah suatu hal
yang baru. Akrilamid telah ada dalam pangan manusia sejak beribu-ribu tahun
lalu sejak pertama kali manusia memasak makanan mereka.

Hanya saja, keberadaannya dalam makanan baru diketahui akhir-akhir ini
setelah dilakukan penelitian di Swedia pada tahun 2002. Jadi, tidak perlu
panik saat menikmati makanan favorit Anda, yang terpenting adalah senantiasa
memerhatikan pola makan sehari-hari dan menjaga pola hidup sehat.

FELICIA THALIP, Mahasiswi Institut Pertanian Bogor

 

  _____  

Lebih aman saat online. 
Upgrade
<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV
9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A/downloads.yah
oo.com/id/internetexplorer/>  ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat
yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan
<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV
9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A/downloads.yah
oo.com/id/internetexplorer/>  IE8 di sini!




Kirim email ke