Persiapkan anak anda untuk "menjadi" karena dunia akan menyiapkannya untuk 
"mempunyai"
 
Ada sebuah formula sukses sederhana yang menyatakan bahwa ‘be x do
= have’. Artinya saat kita menjadi seseorang yang mampu mengenali diri
sendiri dengan baik maka apapun yang kita lakukan akan menghasilkan
sesuatu yang akan membuat hidup kita makmur dan bahagia.

Namun
banyak orang hanya berfokus pada apa yang mereka lakukan saja. Apa
akibatnya? Mereka merasakan bahwa sukses itu harus ditempuh dengan
usaha yang sangat keras.

Ya dari rumus di atas bisa dilihat jika
kita misalkan “have=10” dimana bisa diartikan kita ingin memiliki
kekayaan senilai 10 maka orang-orang yang bekerja keras bisa jadi
memaknainya dengan “1 x 10”. Artinya adalah “be = 1” dan “do = 10”. Jadi mereka 
sedikit mengenal dan memahami diri mereka sendiri namun bekerja sangat keras 
dan sukses.

Namun
ada juga yang mendapatkan 10 itu dengan cara “2 x 5”. Artinya mereka
lebih mengenal dirinya sehingga hanya perlu melakukan usaha sebesar 5
(separo dari yang pertama bukan?) untuk mendapatkan apa yang mereka
inginkan dalam hidup.

Fenomena seperti di atas sering kita
jumpai di masyarakat. Kita tentu pernah berpikir mengapa si A yang
kelihatannya santai namun hidupnya penuh kelimpahan dan bahagia lahir
batin sedangkan si B yang bekerja membanting tulang siang dan malam
menjadi kaya namun tetap saja kekurangan dan dihinggapi banyak
kecemasan. Apakah yang membedakan?

Menyiapkan seorang anak untuk
bisa memahami siapa dirinya yang sesunguhnya akan sangat membantu
hidupnya kelak. Emosi negatif adalah sinyal bahwa kita harus melakukan
sesuatu. Emosi negatif ada untuk dikelola sehingga menguntungkan kita
bukan untuk dihindari. Kita tak mungkin menghindari munculnya emosi
negatif karena mekanisme itu adalah hasil ciptaan Yang Maha Kuasa.

Selain
itu kita perlu memberikan kesempatan pada anak kita mengambil keputusan
dan menjalankannya. Dengan begitu mereka merasa memiliki kendali atas
hidup mereka. Seorang anak yang merasa memiliki kendali atas hidupnya
akan tumbuh jauh lebih percaya diri dari pada seorang anak yang terus 
dilindungi dan diatur oleh orangtuanya.


>From : Sekolahorangtua.com



      

Kirim email ke