---------- Pesan terusan ----------
Dari: Harry Hidayatullah <[email protected]>
Tanggal: 26 November 2009 11:31
Subjek: Menumbuhkan Percaya Diri Anak
Ke: [email protected], [email protected]


Anak-anak di Inggris dan Mesir sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar
bahasa Inggris atau Arab. Bagaimana di tempat kita?

Oleh *Mohammad Fauzil Adhim**

Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk
mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak
kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga
kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka
hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin
sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka
belajar merangkak. Lutut… entah berapa kali meng­alami luka. Tetapi
anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat, sampai
orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.

Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa
mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang
sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena
mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan
dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang
membuat mereka malu berangkat ke sekolah ka­rena sepatu yang dipakai tak
sebagus teman-temannya.

Anak-anak di Inggris, sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa
Inggris. Begitu juga balita-balita di Mesir, usia TK bahasa Arabnya sudah
lebih baik daripada anak-anak Madrasah Aliyah kelas dua. Mereka belajar
dengan penuh semangat. Rasa percaya dirinya sangat kuat. Mereka tidak
berpusing-pusing dengan tata bahasa, dan tidak khawa­tir salah
mengucapkannya –karena umumnya orangtua menerima apa adanya kesalahan ucapan
anak-anaknya yang masih bayi. Orangtua bahkan menanggapi dengan penuh
antusias dan penghargaan yang tinggi setiap kali anaknya berani mencoba
bicara. Tetapi ketika mereka mulai beranjak besar, kita mulai cerewet
terhadap mereka. Karena takut anaknya bingung, mereka tak boleh belajar yang
pelik-pelik. Sebaliknya, karena sangat ingin anaknya cerdas, mereka
perintahkan anak-anak itu belajar mati-matian dengan cara yang tidak tepat.
Tidak sebagaimana kodrat perkembangan belajar mereka. Alamiah, ber­sahabat,
dan penuh semangat.

Astaghfirullahal ‘azhim… Alangkah jauh kita dari agama. Lebih-lebih yang
me­nulis risalah ini.

Benarlah kata Buckminster Fuller. Ia pernah mengingatkan, “Setiap anak
terlahir jenius, tetapi kita memupuskan keje­niusan mereka dalam enam bulan
pertama.”

Ya, setiap anak. Siapa pun ia, sejauh lahir dalam keadaan mental yang
normal, mereka adalah jenius-jenius besar yang sudah dibekali Allah dengan
percaya diri tinggi, semangat besar, antusias, dan senantiasa belajar. Di
usia-usia awal kehidupannya hingga menginjak tahun keenam, mereka belajar
–meminjam istilah Glenn Doman— “tanpa usaha”. Saya tidak sepenuhnya sepakat
dengan ungkapan Glenn Doman, tetapi ungkapan ini saya pakai untuk
menunjukkan betapa anak-anak kita dikaruniai daya tangkap yang luar biasa
atas setiap perkara yang kita ajarkan kepada mereka. Sengaja atau tidak.

Rangsangan yang kaya dan tepat di usia ini bukan saja membuat mereka lebih
cerdas. Lebih dari itu potensi mereka sendiri berkembang. Salah satu potensi
itu adalah IQ. Ini berbeda dengan orang dewasa. Usaha yang keras dalam
belajar akan membuat kita lebih cerdas, tetapi IQ kita tidak akan bertambah.
Perkembangan IQ sudah selesai pada usia 12 tahun, dengan rincian 90%
perkembangan IQ tercapai pada usia 6 tahun dan 10% sisanya diselesaikan
antara usia 6-12 tahun. Maka sungguh, rangsangan yang tepat di usia-usia
awal akan sangat besar artinya. Dan itulah yang dilakukan oleh orangtua Imam
Syafi’i rahimahullah sehingga anaknya hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun.
Begitu pula yang dila­kukan oleh para orangtua generasi salafush-shalih.
Tetapi bukan kita.

*Astaghfirullahal-‘azhim*. Orangtua macam apakah kita ini, ya Akhy? Ataukah
kita menjadi orangtua semata-mata karena anak kita sudah lahir?

Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya
mela­hirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah
yang melahir­kan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua.
Bukan karena mereka me­miliki kepatutan sebagai orangtua. Dan saya tidak
tahu, apakah yang menulis ini layak disebut orangtua ataukah hanya orang
yang lebih tua dari anaknya.

*Astaghfirullahal-‘azhim*. Semoga Allah membaguskan amal-amal kita dan
memba­guskan pendidikan anak-anak kita.

Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan
anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal,
kita yang men­jadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka
menjadi orang yang memu­liakan syari’at Allah semenjak usia mereka yang
masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan
keinginan untuk memperoleh tepuk-tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau
mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullah,
melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita
te­riakkan, “Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai
jilbab.”

Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, “Nah…, gitu dong.
Kalau pakai jilbab kan cakep. Cantik, kan?”

Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih
mengingat­kan mereka kepada Tuhannya, insya-Allah akan lain ceritanya
anak-anak kita. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka –meskipun
tampaknya kita lebih sering mencela—dengan alasan-alasan yang tidak
menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah
ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekedar pakai jilbab?

Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula
seringkali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid.
Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Bukan
karena Allah ‘Azza wa Jalla sudah berfirman,* “Hai anak Adam, pakailah
pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan
janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan.” *(QS. Al-A’raaf: 31).

Maka, bukan bunda salah mengandung kalau anak-anak itu akhirnya memiliki
rasa percaya diri yang tanggung. Berbeda sedikit saja dengan temannya, sudah
cukup un­tuk membuat mereka meringkuk di kamar. Tak berani berbaur dengan
hati yang mantap. Apalagi menjadi sumber pengaruh yang baik bagi
teman-temannya. Padahal mereka dila­hirkan untuk zaman yang bukan kita;
zaman yang membutuhkan kekuatan jiwa lebih be­sar. Zaman yang membutuhkan
orang-orang dengan percaya diri tinggi, cerdas akalnya, hidup jiwanya dan
jernih hatinya. Mereka inilah yang siap untuk menyambut perintah, *“Qum fa
andzir. Bangunlah, lalu berilah peringatan.”* Perintah-perintah di masa awal
kena­bian Rasulullah tercinta, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri
mereka? Jika perkataan saat menyuruh mereka mengenakan pakaian yang indah
justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kokoh, maka
seruan Nabi SAW saat haji Wada’ adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari
kita renungkan kembali tatkala Nabi mengingatkan:

* “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya
dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu
bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak
kalian semuanya Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di
sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas
orang asing kecuali karena takwanya.  Apakah aku sudah menyampaikan kepada
kalian?”*

Inilah ajaran yang membuat sahabat-sahabat dengan pakaian kumal tidak malu
mendatangi istana para kaisar. Inilah keyakinan yang membuat para
salafush-shalih tidak kelu lidahnya melihat jubah-jubah kebesaran pada
sultan. Inilah nasehat yang membuat setiap manusia merasa sederajat, tetapi
di saat yang sama membuat mereka senantiasa merendah karena tak ada yang
tahu siapa di antara mereka yang paling bertakwa. Sebab, ukuran takwa bukan
terletak pada panjangnya jenggot, melainkan pada iman dan amal shalih yang
berpijak di atas aqidah yang lurus.

Sungguh, saya bermimpi. Saya betul-betul sangat mengingini agar nasihat Nabi
saw ini diajarkan kepada anak-anak semenjak usia pra-sekolah. Di SD-SD, TK
dan play-group, anak-anak perlu belajar. Bukan untuk menjadi hafalan semata,
tetapi untuk menjadi kekuatan dalam jiwanya. Kita ajarkan kepada mereka,
matannya maupun maknanya.

Demi Allah, mereka inilah yang insya-Allah lebih bagus daripada generasi
orang­tuanya semacam kita. Pada saatnya, biarlah kita menjadi catatan
sejarah saja bahwa kita pernah ada. Tugas kita sekarang adalah menyiapkan
mereka agar menjadi manusia-manu­sia yang menegakkan kalimat Allah di muka
bumi dengan penuh percaya diri. Mereka tidak tunduk hanya karena takjub
melihat Chinook. Mereka tidak lemah hanya karena mendengar nama Amerika.

Anak-anak kitakah yang akan seperti itu?  [*sahid/www.hidayatullah.com*]

Kirim email ke