----- Forwarded Message ----
From: Suwito <[email protected]>
To: Alumnus St Louis <[email protected]>; alumni s2 Psikologi 
<[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; Angkatan1 <[email protected]>; 
psikologiklinis <[email protected]>; 
[email protected]; trainersclub <[email protected]>
Sent: Fri, February 12, 2010 7:06:13 AM
Subject: [mapsiubaya] Seri Psychology&People: Cinta

  
Seri Psychology&People: Cinta
 
Rintangan pasti datang menghadang,
Cobaan pasti datang menghujam,
Namun, yakinlah bahwa Cinta itu khan membuatmu,
Mengerti akan……Arti Kehidupan
(Dikutip dari: Arti
Kehidupan, oleh Doel Sumbang)
 
 
Alkisah, ada seorang kaya raya
yang memiliki sebuah koleksi karya seni yang tak ternilai harganya, termasuk di
dalamnya beberapa koleksi mahakarya yang membuat iri banyak kolektor seni
lainnya. Pria tersebut memiliki seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya,
yang dimana mereka sering menikmati kebersamaan mereka di dalam seni.
 
Kemudian, pecah perang dan si
anak dipanggil untuk wajib militer, maka pergilah dia untuk memenuhi
kewajibannya. Suatu hari sebuah telegram datang memberitahu bahwa anak
kesayangannya meninggal di medan 
perang. Pria tua itu hancur hatinya. Ia berkabung sendiri, kesepian, dan terus
menerus.
 
Beberapa bulan berlalu sampai
suatu hari pintunya diketuk. Seorang pria muda berdiri di depan pintu dengan
sebuah paket kecil di tangannya. “Anda tidak kenal saya,” katanya sambil
memperkenalkan dirinya, “tetapi saya kenal baik dengan anakmu. Kami dulu satu
unit dan saya berada di sampingnya saat dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Saya adalah seorang tentara yang diselamatkan nyawanya oleh nyawa anakmu. Dia
menyelamatkan banyak nyawa hari itu dan ketika itu dia sedang membawa saya ke
tempat aman ketika peluru menembus dirinya. Kami menjadi teman yang sangat
akrab di saat-saat terakhirnya. Saya menggambar gambar kecil ini, gambar
dirinya. Saya bukan pelukis yang hebat tetapi saya ingin anda memiliki gambar
sketsa ini.”
 
Sang ayah terdiam untuk waktu
yang lama, menatap mata anaknya, mata yang digambar oleh prajurit itu. Matanya
dipenuhi air mata ketika ia menatap si prajurit, kemudian ia berterima kasih
kepada prajurit itu dan menawarkan untuk membayar gambar itu.
 
“Tidak Tuan, ini sebuah
pemberian. Saya tidak akan pernah membayar apa yang anak anda pernah lakukan
buat saya, tetapi saya ingin anda memiliki sketsa ini. Hanya ini yang dapat
saya berikan.”
 
Sang ayah menggantung gambar
tersebut di atas perapian sehingga semua orang dapat melihatnya. Ia menghargai
gambar itu lebih dari seluruh koleksi lukisannya dan dia akan menunjukkan
gambar anaknya lebih dulu kepada para pengunjung sebelum ia mengajak untuk
melihat lukisan lainnya. Tak lama setelah kejadian ini, pria tua itu meninggal
dunia dan seluruh koleksinya dilelang. Kolektor seni dari seluruh dunia datang
untuk mencoba keberuntungan mereka memenangkan lelang salah satu dari koleksi
seni yang luar biasa itu. Juru lelang memulai lelangnya. Gambar pertama yang
ditawarkan adalah sketsa oleh seorang tentara tak dikenal, gambar anak dari
sang bapak. Juru lelang mencoba untuk memulai.
 
“Berapa saya harus mulai untuk
gambar pertama dari koleksi ini?” tanya juru lelang. Ada 
keheningan sesaat di sana ,
kemudian suasana menjadi riuh rendah. “Ayo!” kata para kolektor seni, “langsung
saja ke barang yang sebenarnya. Tak ada seorangpun yang tertarik dengan sketsa
tua itu. Kami datang ke sini untuk barang-barang berharga. Kenapa kamu tidak
langsung saja ke bagian itu?”
 
Juru lelang tidak mendapatkan
jawaban apapun atas pertanyaannya. “Maafkan saya,” katanya “tetapi instruksinya
jelas bahwa di dalam wasiatnya, pria itu memaksa bahwa barang pertama yang
dijual adalah gambar anaknya ini. Sekarang siapa yang akan memulai dengan
sepuluh poundsterling untuk anaknya?” 
 
Tak lama kemudian, sebuah tangan
diangkat, berasal dari bagian belakang dari ruang lelang. Itu adalah tangan
seorang tukang kebun. Ia telah bekerja selama sepuluh tahun untuk pria tua itu
dan ia mencintai anak laki-lakinya. “Saya beri kamu sepuluh poundsterling buat
sang anak dan hanya sebanyak itu yang saya mampu,” katanya.
 
Palu diketuk sekali, dua kali,
tiga kali, tak ada penawaran yang lain, karena tidak ada yang berminat. 
“Terjual!!”
seru juru lelang, “kepada pria di belakang sebesar sepuluh poundsterling.”
 
Pengunjung merasa lega, karena
kemudian mereka dapat mulai ke bagian yang ditunggu-tunggu. Anehnya kemudian
juru lelang menutup lelang itu. “Pelelangan sudah selesai,” katanya. “Menurut
wasiat dari pria itu adalah siapapun membeli gambar anak itu berhak menerima
rumah dan seluruh koleksi seni yang berada didalamnya.”
 
Pria yang berada di belakang
ruangan yang menerima sang anak, menerima semuanya.
 
(dikutip dari: “One hundred Wisdom
Stories from Around the World”, oleh Margaret Silf)
 
Sharing Renungan
 
Ada sesuatu yang hilang di dalam hati saya, ketika
kemarin untuk pertama kalinya sejak 4 tahun lalu, saya pergi ke Butik Mirota di
daerah Gubeng. Di sanalah terakhir kalinya, saya bersama alm. Ibu saya
menghabiskan siang bersama sambil tertawa-tawa dan makan rujak cingur ala
Mirota. Meskipun sudah ada renovasi yang berkembang dari sejak terakhir kali
saya ke sana 4 tahun lalu, namun, ternyata café dan penataan kursinya tidak
berubah, dan saya masih ingat dengan jelas kursi yang kami tempati waktu itu.
 
Sebenarnya saya heran juga karena
beberapa kali alm. Ibu saya mengajak saya datang ke sana ,
sekedar makan dan hanya melihat-lihat saja kerajinan yang dijual di sana . Pada 
waktu itu, saya
tidak pernah menyangka bahwa itu adalah hari terakhir saya bisa pergi bersama
ibu sambil bersenda gurau, karena besok malamnya, hasil CT Scan ibu telah
keluar dan ibu resmi didiagnosis kanker otak.
 
Siapa pernah menyangka bahwa “waktu”
ternyata memang betul-betul berlalu dengan sangat cepatnya? Tak terasa,
sekarang sudah genap 4 tahun, sejak saya terakhir kali berkesempatan mengelus
pipi ibu sampai menghantarkannya ke tempat perabuan, di mana hanya ada keabadian
yang menemani.
 
Keabadian? Sampai sekarang saya masih
berproses untuk memahami, apa yang dimaksud keabadian sebenarnya.
 
Selama 4 tahun ini, ada begitu
banyak peristiwa yang saya lalui dan membuat saya belajar menjadi pria yang 
tetap
mampu berdiri tegak, dengan tanpa penyesalan setiap kali memilih jalan hidup,
meskipun ada saat-saat ketika saya berada dalam persimpangan jalan, yang sulit
dipilih.
 
Beberapa bulan lalu, saya benar-benar
merasa kehilangan arah, kehilangan “Impian” yang menjadi sumber motivasi saya.
Selama 15 tahun, “Impian” itu telah menemani perjalanan saya mencari jati diri
dan senantiasa mendorong tekad saya untuk dapat bertumbuh dari sekedar anak
laki-laki cacat yang seringkali dipandang sebelah mata, menjadi pria dewasa 
cacat
yang penuh keyakinan dan harga diri dan layak untuk meraih “Impian” itu, tidak
peduli betapapun terjalnya jalan yang harus saya tempuh.
 
Namun, ketika pada akhirnya, saya
harus bangun dari mimpi dan menerima kenyataan bahwa “Impian” itu tidak pernah
ditakdirkan untuk saya, belum pernah dalam hidup saya, saya merasa begitu
kesepian, begitu sendirian di dunia saya yang begitu ceria.
 
Selama beberapa waktu, saya
benar-benar berusaha memahami, apa gunanya semua yang saya perjuangkan ini, apa
gunanya semua keyakinan dan prinsip yang saya pegang teguh. Tapi, ternyata,
pada akhirnya ada satu pertanyaan utama yang harus saya temukan jawabannya
yaitu, “Apa gunanya saya tetap hidup dan bertahan hidup hingga hari ini?”
 
Satu-satunya sahabat sejati saya yang
senantiasa setia dalam menampung emosi dan sumber pembelajaran saya, hanyalah
puisi. Melalui puisilah, saya dapat berdialog dengan kemarahan saya, dendam,
kesedihan, kekecewaan, keraguan, ketakutan, dan segala emosi yang selama ini
selalu berusaha saya taklukkan.
 
Manusia yang berharga diri harus
hidup demi sebuah tujuan. Kalau bukan demi sebuah kebahagiaan, setidaknya kita
harus hidup demi sebuah kehormatan. 
 
Harus saya akui, saya sempat
membiarkan kemarahan dan dendam, menguasai saya, hingga saya hampir terpikirkan
melarikan diri ke jalan setapak yang belum pernah satu kalipun menjadi pilihan
saya.
 
Namun, ketika saya melihat senyum
“Impian” saya yang masih begitu mempesona seperti yang senantiasa membuat saya
terpana selama 15 tahun ini dan wajahnya yang begitu bahagia menggendong
anaknya dengan begitu penuh kasih sayang, sebuah kasih sejati seorang ibu dan
kebahagiaan seorang wanita terhormat yang telah memilih jalan kebahagiaannya
sendiri tanpa penyesalan….
 
Saya akhirnya paham apa gunanya
saya tetap hidup dan bertahan hidup hingga hari ini.
 
Cinta…..
 
Cintalah yang membuat ibu tidak
pernah menyesal melahirkan seorang anak cacat seperti saya. Cintalah yang
membuat ibu menangis, ketika saya menangisi diri sendiri, menyemangati ketika
saya putus asa, dan tetap tersenyum dengan sangat cantik dalam kesakitannya
yang luar biasa, ketika saya mengelus pipinya untuk yang terakhir kalinya.
 
Dan Cinta itulah, yang akhirnya
saya pahami, ketika saya melihat kebahagiaan “Impian Masa Kecil” saya, ketika
saya menyimpan setiap kenangan persahabatan kami selama 15 tahun dan menemukan 
betapa
saya bersyukur, kami pernah tumbuh besar bersama sebagai sahabat dan akan
selalu sebagai sahabat, meskipun kami berdua tidak pernah ditakdirkan untuk
satu sama lain.
 
Rekan-rekan sekalian, kisah
lukisan anak sang bapak di atas, memberikan pembelajaran kepada saya akan makna
Cinta dan Keabadian. 
 
Saya tidak pernah tahu apakah
memang ada kehidupan yang abadi setelah kematian? Apakah memang ada surga dan
neraka?
 
Tapi, saya belajar, bahwa
seseorang memang akan selalu hidup abadi, di dalam kenangan yang tersimpan erat
oleh mereka yang men-Cintai-nya.
 
Dan bagi saya, ibu akan selalu
hidup abadi di dalam hati saya. Cinta ibu-lah yang selama ini membuat saya
tetap berjuang dan belajar menemukan jati diri saya sendiri untuk menjadi
manusia berharga diri yang mampu mencapai mimpi-mimpi saya kelak. Sekarang, 
sedikit
demi sedikit, saya mulai menemukan jalan setapak yang selama ini saya cari-cari.
 
Rekan-rekan sekalian, saya
belajar bahwa:
 
“Manusia yang berharga diri harus
hidup demi sebuah tujuan. Kalau bukan demi sebuah kebahagiaan, setidaknya kita
harus hidup demi sebuah kehormatan.”
 
Namun dengan Cinta, kita tidak
perlu memilih, karena kita menerima semuanya.
 
Dengan Cinta-lah, kita akan
memahami…..arti kehidupan.
 
Dan sebentar lagi rekan-rekan
sekalian, kita akan merayakan hari Cinta Kasih dunia….
 
Entah anda seorang ayah, seorang
ibu, seorang anak, seorang suami, seorang istri, seorang kekasih, maupun apapun
itu, tataplah erat-erat wajah orang terkasih di hati anda, dan bila orang
terkasih anda saat ini sudah beristirahat di dalam keabadian yang damai, maka
tataplah erat-erat kenangan indah tentangnya yang tersimpan erat di hati anda,
dan jangan pernah ragu untuk mengatakan kepadanya:
 
“I Love You”
 
 
In memory of:
My dearest Mommy
(2 Desember 1951 – 8 Februari 2006)
 
 
Selamat merayakan hari Valentine
dan Tahun Baru Imlek 2010 ^_^
 
 
Surabaya , 12 Februari 2010
 
 
 
 
Suwito Hendraningrat Pudiono,
M.Psi, Psikolog


________________________________
The Best Art of War is to turn the weaknesses into the strongest weapon
(Suwito HP)
 

 


      

Kirim email ke