AssWrWb,
Terima kasih banyak dan mohon dikonfirmasi terus info2 yang berguna ini.
Buat Pak Tokol dan H. Sutopo bahan ini cocok untuk training.
WassWrWb,
Im@msjah.
> ----------
> From: Magyartoto Tersiawan[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, October 05, 2001 9:26 AM
> To: PB List Member
> Subject: [PB] BAHAN KIMIA BERACUN {01}
>
> <<File: 230.gif>>
> BAHAN KIMIA BERACUN
> Topik:Tips & Kiat:: Rabu 01 Nopember 2000 16:29:12
>
> _____
>
> infokes.com
>
>
>
> PENDAHULUAN
> Pengertian bahan kimia beracun didefinisikan sebagai bahan kimia yang
> dalam jumlah kecil menimbulkan keracunan pada manusia atau mahluk hidup
> lainnya. Umumnya zat-zat toksik masuk lewat pernapasan atau kulit,
> kemudian beredar ke seluruh tubuh atau ke organ-organ tertentu. Bahan
> kimia tersebut dapat langsung mengganggu organ-organ tubuh tertentu,
> seperti paru-paru, hati, dan lain-lain. Tetapi dapat pula zat-zat tersebut
> berakumulasi, tergantung pada sifatnya, ke dalam tulang, hati, darah atau
> cairan limpa dan organ lain sehingga akan menghasilkan efek dalam jangka
> panjang.
>
> Di dalam industri perlu dipelajari suatu cabang ilmu khusus tentang efek
> bahan kimia beracun, yaitu toksikologi industri mempelajari racun-racun
> yang dipergunakan, diolah maupun dihasilkan oleh pabrik atau perusahaan.
> Dengan mempelajari toksikologi industri dapat dilakukan usaha-usaha
> pencegahan bagi tenaga kerja yang dalam kerjanya sehari-sehari menderita
> pemaparan bahan beracun. Usaha-usaha ini dapat dilakukan dengan cara
> mendesain proses kerja yang aman atau memakai alat pelindung diri.
>
>
> BAHAN-BAHAN YANG DAPAT BERUPA RACUN
> Bahan-bahan yang dapat menimbulkan racun dapat dibedakan:
>
>
>
> * Chemical toxicants == bahan-bahan kimia umum
> * Biological toxicants == racun yang dihasilkan oleh mahluk hidup (
> misal serangga, ular, anjing, dan sebagainya )
> * Bacterial toxicants == racun yang dihasilkan oleh jenis bakteri
> * Botanical toxicants == racun yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan.
>
>
> Dalam tulisan ini bahan racun yang dibahas adalah bahan yang termasuk
> dalam chemical toxicants, atau bahan kimia umum yang bersifat racun.
> Bahan kimia umum yang sering menimbulkan keracunan adalah yang berikut.
> (1,2)
>
> * Golongan pestida, yaitu organo klorin, organo fosfat, karbamat,
> arsenik.
> * Golongan gas, yaitu Nitrogen (N2), Metana (CH4), Karbon Monoksida
> (CO), Hidrogen Sianida (HCN), Hidrogen Sulfida (H2S), Nikel Karbonil
> (Ni(CO)4), Sulfur Dioksida (SO2), Klor (Cl2), Nitrogen Oksida (N2O; NO;
> NO2), Fosgen (COCl2), Arsin (AsH3), Stibin (SbH3).
> * Golongan metalloid/logam, yaitu timbal (Pb), Posfor (P), air raksa
> (Hg), Arsen (As), Krom (Cr), Kadmium (Cd), nikel (Ni), Platina (Pt), Seng
> (Zn).
> * Golongan bahan organic, yaitu Akrilamida, Anilin, Benzena, Toluene,
> Xilena, Vinil Klorida, Karbon Disulfida, Metil Alkohol, Fenol, Stirena.
>
> Dan masih banyak bahan kimia beracun lain yang dapat meracuni setiap saat,
> khususnya masyarakat pekerja industri.
>
> TINGKAT EFEK RACUN TERHADAP BADANPengaruh efek racun terhadap badan
> dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat menentukan daya racun suatu
> bahan.
> Pengaruh terhadap badan dipengaruhi oleh hal-hal berikut. (2)
>
> 1. Sifat fisik bahan kimia, yang dapat berwujud gas, uap (gas dari
> bentuk padat/cair), debu (partikel padat), kabut (cairan halus di udara),
> fume (kondensasi partikel padat), awan (partikel cair kondensasi dari fase
> gas), asap (partikel zat karbon).
> 2. Dosis beracun : jumlah/konsentrasi racun yang masuk dalam badan.
>
> 3. Lamanya pemaparan.
> 4. Sifat kimia zat racun : jenis persenyawaan; kelarutan dalam jaringan
> tubuh; jenis pelarut.
> 5. Rute (jalan masuk ke badan), yang bisa lewat pernapasan (inhalasi),
> lewat pencernaan (ingestion), lewat kulit (skin absorption), lewat selaput
> lendir (membran mucosa absorption).
> 6. Faktor-faktor pekerja, yang berupa umur, jenis kelamin, derajat
> kesehatan tubuh, daya tahan/toleransi, habituasi/kebiasaan, nutrisi,
> tingkat kelemahan tubuh, faktor generik.
>
> KLASIFIKASI RACUNUntuk menentukan klasifikasi racun berdasarkan tingkat
> daya racunnya ditentukan dengan besarnya LD50 (Lethal Dose 50). LD50
> adalah besarnya dosis racun yang diberikan kepada binatang percobaan yang
> mengakibatkan � (50%) dari binatang tersebut mati. (2)
> Berdasarkan LD50 klasifikasi racun dapat dibagi (mg/kg) sebagai berikut.
> (2)
>
>
> * Tingkat I (Supertoxic) > 1
> * Tingkat II (Extremely oxic) 1 - 5
> * Tingkat III (Highly toxic) 5 - 50
> * Tingkat IV (Moderately toxic) 50 - 500
> * Tingkat V (Slighly toxic) 500 - 5000
> * Tingkat VI (Practically non toxic) 5000 - 15000
>
> Dengan pengklasifikasian tersebut di atas dapat ditentukan tingkat
> racun/daya racun suatu bahan kimia.
>
>
> PROSES FISIOLOGI
> Bahan kimia yang masuk ke badan dapat mempengaruhi/mengganggu/merusak
> tubuh dan faal manusia sehingga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan
> kesehatan atau keracunan, bahkan dapat menimbulkan kematian.
>
> 1. Penyebaran racun ke dalam tubuhRacun masuk ke dalam tubuh melalui
> kulit atau selaput lendir/selaput epitel, misal pada jalan pencernaan,
> pernapasan atau mata. Kemudian melalui peredaran darah akhirnya dapat
> masuk ke organ-organ tubuh secara sistematik. Organ-organ tubuh yang
> biasanya terkena racun adalah paru-paru, hati (hepar), susunan saraf pusat
> (otak dan sumsum tulang belakang), sumsum tulang, ginjal, kulit, susunan
> saraf tepi, dan darah.
> Bahan-bahan racun dalam industri biasanya bersifat mudah larut dalam
> lemak. Sehingga organ-organ tubuh yang berkadar lemak tinggi seperti otak,
> sumsum tulang, dan sumsum tulang belakang banyak dimasuki racun dan
> terjadi timbunan racun secara kronis (pelan-pelan).
> Efek racun pada tubuh juga akan memberikan efek local seperti iritasi,
> reaksi alergi, dermatitis, ulcus, acne, dan gejala lain. Gejala-gejala
> keracunan sistematik juga tergantung pada organ tubuh yang terkena.
>
>
> 2. Cara kerja racunRacun yang masuk ke tubuh akan meracuni dengan
> mekanisme kerja sebagai berikut :
>
> * Mempengaruhi kerja enzim/hormon. Enzim dan hormon terdiri
> dari protein komplek yang dalam kerjanya perlu adanya activator atau
> cofactor yang biasanya berupa vitamin. Bahan racun yang masuk ke dalam
> tubuh dapat menonaktifkan activator sehingga enzim atau hormon tidak dapat
> bekerja atau langsung non aktif.
> * Racun masuk dan bereaksi dengan sel sehingga akan menghambat
> atau mempengaruhi kerja sel, contohnya gas CO menghambat haemoglobin dalam
> mengikat atau membawa oksigen.
> * Merusak jaringan sehingga timbul histamine dan serotonine.
> Ini akan menimbulkan reaksi alergi; juga kadang-kadang akan terjadi
> senyawa baru yang lebih beracun.
>
> 3. Fungsi detoksikasi hati (hepar)
> Racun yang masuk ke tubuh akan mengalami proses detoksikasi
> (dinetralisasi) di dalam hati oleh fungsi hati (hepar). Senyawa racun ini
> akan diubah menjadi senyawa lain yang sifatnya tidak lagi beracun terhadap
> tubuh.
>
> Jika jumlah racun yang masuk ke tubuh relatif kecil/sedikit dan fungsi
> detoksikasi hati (hepar) baik, dalam tubuh kita tidak akan terjadi gejala
> keracunan. Namun apabila racun yang masuk jumlahnya besar, dan fungsi
> detoksikasi hati (hepar) akan mengalami kerusakan.
>
> Fungsi detoksikasi hati (hepar) dilakukan secara reaksi oksidasi, reaksi
> reduksi, reaksi hidrolisa, dan reaksi sintesis/konyugasi/metalisasi.
>
> SKEMA KERUSAKAN HATI (HEPAR)
>
>
> +-----------+
> | R a c u n |
> +-----+-----+
> |
> |
> |
> +-----+-----+
> | H a t i |
> +-----+-----+
> |
> |
> +-------------+---------------+
> +---+ Keracunan sel - sel hati +---+
> | +-------------+---------------+ |
> +------+----------+ | +---------+---------+
> | Sembuh Kembali | | | Kerusakan sel-sel |
> | secara sempurna | | | yang menetap |
> +-----------------+ | +-------------------+
> +----------+-------------+
> +-------+ Keracunan sel lanjutan +------+
> | +----------+-------------+ |
> +---+------+ | +-----+------+
> | Fibrosis | | | Hepatocyle |
> +----------+ | | Formation |
> +--------+------------+ +------------+
> | Kematian Jaringan |
> +--------+------------+
> |
> +-------+----------+
> | Nodule Formation |
> +-------+----------+
> |
> |
> +---------+------------+
> | Cirrhosis |
> | Pengerasan jaringan |
> | dan fungsi hilang |
> +----------------------+
>
>
> GEJALA-GEJALA KERACUNAN
> Racun yang masuk ke tubuh akan menjalar ke organ-organ tubuh (sistematis),
> tergantung pada sifat dan jenis racunnya yang dapat menimbulkan
> gejala-gejala keracunan. Gejala-gejala keracunan tersebut dapat berupa
> gejala nonspesifik dan gejala spesifik.
>
> Gejala nonspesifik = Pusing, mual, muntah, gemetar lemah badan, pandangan
> berkunang-kunang, sukar tidur, nafsu makan berkurang, sukar konsentrasi,
> dan sebagainya.
>
> Gejala spesifik = Sesak nafas, muntah, sakit perut, diare, kejang-kejang,
> kram perut, gangguan mental, kelumpuhan, gangguan penglihatan, air liur
> berlebihan, nyeri otot, koma, pingsan, dan sebagainya.
>
>
> MONITORING BIOLOGIS
> Seseorang yang menjalani keracunan dapat diketahui dengan adanya
> gejala-gejala keracunan. Gejala-gejala keracunan tersebut secara umum
> dapat berupa gejala nonspesifik dan spesifik, namun kadang-kadang sulit
> ditentukan adanya keracunan dengan melihat gejala-gejala saja.
> Perlu dilakukan tindakan untuk memastikan telah terjadi keracunan dengan
> melakukan pemeriksaan secara laboratoris badan. Pemeriksaan inilah yang
> dinamakan "monitoring biologis".
> Pemeriksaan biologis dapat dilakukan melalui pemeriksaan periodic urine
> (air kencing), faeces (tinja), darah, kuku, rambut, dan lain-lain.
>
> USAHA-USAHA PENCEGAHAN/PREVENTIF
> Usaha-usaha pencegahan secara preventif perlu dilakukan dalam setiap
> industri yang memproduksi maupun menggunakan baik bahan baku maupun bahan
> penolong yang bersifat racun agar tidak kerugian ataupun keracunan yang
> setiap waktu dapat terjadi di lingkungan pekerja yang menangani bahan
> kimia beracun.
>
> Pencegahan secara preventif tersebut adalah yang berikut.
>
> 1. Management program pengendalian sumber bahaya, yang berupa
> perencanaan, organisasi, kontrol, peralatan, dan sebagainya.
> 2. Penggunaan alat pelindung diri (masker, kaca mata, pakaiannya
> khusus, krim kulit, sepatu, dan sebagainya).
> 3. Ventilasi yang baik.
> 4. Maintenance, yaitu pemeliharaan yang baik dalam proses produksi,
> kontrol, dan sebagainya.
> 5. Membuat label dan tanda peringatan terhadap sumber bahaya.
> 6. Penyempurnaan produksi:
> - Mengeliminasi sumber bahaya dalam proses produksi;
> - Mendesain produksi berdasarkan keselamatan dan kesehatan kerja.
> 7. Pengendalian/peniadaan debu, dengan memasang dust collector di
> setiap tahap produksi yang menghasilkan debu.
> 8. Isolasi, yaitu proses kerja yang berbahaya disendirikan.
> 9. Operasional praktis:
> - Inspeksi keselamatan dan kesehatan kerja
> - Analisis keselamatan dan kesehatan kerja.
> 10. Kontrol administrasi, berupa administrasi kerja yang sehat,
> pengurangan jam pemaparan.
> 11. Pendidikan, yaitu pendidikan kesehatan, job training masalah
> penanganan bahan kimia beracun.
>
> 12. Monitoring lingkungan kerja, yaitu melakukan surplus dan analisis.
> 13. Pemeriksaan kesehatan awal, periodic, khusus, dan screening, serta
> monitoring biologis (darah, tinja, urine, dan sebagainya).
> 14. House keeping, yaitu kerumahtanggaan yang baik, kebersihan,
> kerapian, pengontrolan.
> 15. Sanitasi, yakni dalam hal hygiene perorangan, kamar mandi, pakaian,
> fasilitas kesehatan, desinfektan, dan sebagainya.
> 16. Eliminasi, pemindahan sumber bahaya.
> 17. Enclosing, menangani sumber bahaya.
>
> KESIMPULAN
>
> * Cabang ilmu toksikologi industri sangat penting dalam usaha-usaha
> pencegahan dan desain proses kerja yang aman dalam industri bahan kimia.
> * Pekerja yang berhubungan langsung dengan bahan kimia perlu
> menggunakan pakaian dan peralatan pengamanan.
> * Perlu pembekalan pengetahuan dalam pengelolaan bahan kimia beracun
> dari segi pengamanan, pengelolaan, penanggulangan kebakaran dan
> pertolongan pertama dalam kecelakaan.
>
> KEPUSTAKAAN
>
> 1. Proctor H. Nick; Hughes P. James, "Chemical Hazard of the Workplace
> Je. B. Lippicort Company" Philadelphia, Toronto.
> 2. ILO (1991) "Fundamentals of Chemical Safety and Major Hazard
> Control".
>
>
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> DANA MITRA LINGKUNGAN {Friends of the Environment Fund}
> Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati, Blok B1/12
> Jl. RS. Fatmawati 39, Jakarta 12150 - INDONESIA
> Telp. : (62-21) 724 8884, 724 8885 | Fax. : (62-21) 724 8883
> Email : [EMAIL PROTECTED] | URL# http://www.dml.or.id
>
> Konperensi KMB 2001 @ http://kmb2001.dml.or.id
> FORLINK @ http://forlink.dml.or.id
> Bursa Limbah @ http://w2p.dml.or.id
> Forum KMB Indonesia @ http://forumkmb.dml.or.id
> Join Milis PB, kirim email ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
>
>
--
~~~~~~ PRODUKSI BERSIH (PB) MAILING LIST ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Posting = [EMAIL PROTECTED]
Berhenti = Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Berlangganan = Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Administrator = mailto:[EMAIL PROTECTED]
Arsip = http://www.mail-archive.com/[email protected]/
FORLINK @ http://www.forlink.dml.or.id
Environmental News @ http://forlink.dml.or.id/e-news/
Forum KMB Indonesia @ http://www.forumkmb.dml.or.id
Bursa Limbah Indonesia @ http://www.w2p.dml.or.id
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~