Hallo Pak Toto, apa kabar ? Saya ingin dapat informasi lebih banyak lagi dari Pak Hidayat ini. Bisakah Pak Toto beri saya nomor telpon dan addres Pak Hidayat.
Setahu saya di kelurahan Petamburan, Tanah Abang sudah membuat pengolahan sampah dengan lahan seluas 600 m2. Disini juga menghasilkan pupuk kompos dengan bantuan mikrobiologi seperti yang saya miliki.
 
Terima kasih.
 
Michael Budidharta T.
-----Original Message-----
From: Magyartoto Tersiawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: PB List Member <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, July 16, 2002 10:58 AM
Subject: [PB] bisnis sampah {01}

Minggu, 14/7/2002

Bisnis Sampah Sangat Terhormat
Oleh: Rhenald Kasali

Tumpukan sampah yang bau dan menggunung di setiap kota, ternyata mengandung potensi bisnis yang besar, sekaligus menyerap tenaga kerja dan membersihkan lingkungan. Hidayat telah membuktikanya.

Pak Hidayat ini dulu pernah kita turunkan dengan bisnisnya dari Banten yakni tambang kapal, ya?
H: Kita usaha tambang kapal yang tambangnya dari sabut kelapa.

Masih mengambil sabut kelapa dari pasar-pasar?
H: Oh, nggak lagi karena pasar sudah kehabisan, sekarang sudah harus beli jadi dan mahal. Karena itu, kita ngambil dari daerah lain, bahkan dari luar pulau. Kalau dulu nggak ada harganya, sekarang orang sudah mengerti jadi harganya sudah mahal. Apalagi, pasar lokal maupun ekspor sudah mulai terbuka, jadi lumayanlah. Kita mengambil dari Serang, dari Ciamis tapi yang sudah jadi lalu kita tinggal jual saja. Prosesnya, sabut kelapa yang baru kita sabut lagi dengan dimasukkan ke dalam mesin untuk dipisahkan. Itu ada mesinnya, dan kita ajari mereka bagaimana cara memakainya. Dan hasilnya, menjadi barang yang sudah jadi dan siap jual dan tentu saja mutunya kualitas ekspor. Setelah itu kita tinggal mendatangkan kontainernya.

Mesinnya dari daerah lain?
H: Sebagian ya, karena kita sudah monopoli ha..ha..ha..

Perkembangann mesinnya bagaimana?
H: Perkembangannya menaiklah, lumayan permintaan mesin terus ada.

Di tempat pak hidayat ini saya kagum bagaimana cara pembuatan mesin-mesin, mesin apa itu pak namanya?
H: Macam-macam kita bikin. Tapi ada 3 yang kita fokuskan, satu mesin pengolah sabut kelapa dan permintaan ekspornya bagus; kemudian mesin pembuat pakan ternak. Pakan ternak di sini kan mahal, tergantung sama pabrik, nah kita ajarkan bagaimana cara bikin pakan ternaknya, lalu mesinnya mereka cari sendiri.

Bagaimana dengan pengetahuan mesinnya?
H: pengetahun mesin itu juga kita ajarkan. Jadi kembali lagi kan untuk membeli mesin-mesinnya he..he..he. Tapi, kalau orang lain bayar untuk mengajarkannya, nah, kita nggak, gratis saja, sekalian amal kan. Setelah itu, barulah kita kasih tahu tempat mencari mesinnya, tuh tokonya di situ…. Satu lagi mesin yang kita fokuskan adalah mesin pembuat kompos. Mesin ini bagus karena mampu mengolah sampah, jadi sampah itu kita olah dengan mesin ini, hasilnya selain bersih, efisien, dan lagi bisa dijual ke petani. Jadi sampah itu tidak perlu ditumpuk di lokasi sebesar Bantar-Gebang, dan tiap-tiap RT/RW kalau perlu harus punya mesin ini.

Lantas para pemulung bagaimana?
H: Kita kemarin ketemu dengan salah satu pemulung yang tempatnya kumuh, kita tawarkan pekerjaan bagaimana kalau dipindahkan ke RT/RW yang tempatnya lebih bagus. Tugasnya mengolah sampah dan dikasih duit Rp 5 ribu. Eeh,…nggak mau dia. Katanya, wah, saya di tempat sampah bisa dapat Rp 40 ribu. Nah, ini artinya di tempat sampah itu ternyata mahal. Padahal, mereka hanya ngmpulin kardus, botol aqua, dan kantong-kantong kresek. Jadi, kalau dulu saya jadi tukang tahi sapi, sekarang jadi tukang sampah…ha..ha..ha…

Malu nggak?
H: Nggak dong, kenapa mesti malu kalau itu bisa jadi duit.

Jadi itu ada teknologinya, ya?
H: Ya, sampah itu kita atur..

Sampah itu nggak bau?
H: sama sekali tidak.

Bagaimana tuh caranya?
H: Namanya dienzim dan disemprot saja tuh sampah, nggak sampai semenit baunya hilang. Hanya semenit bau itu akan hilang dengan motivator atau akselerator untuk mempercepat pembusukan sampah. Nah, teknologi kita yang buat, jadi kita nggak hanya jual mesin, dan membantu solusi persampahan ha..ha..ha…

Mesinnya kayak apa?
H: Bisa saya ceritakan begini. Sampah-sampah yang datang dari rumah-rumah menurut data yang ada 70% adalah sampah organik, sampah yang asalnya dari benda-benda hiduplah; lalu 20% itu sampah-sampah yang bernilai ekonomis kayak kardus, plastik, nah ini biasanya jatah pemulung; dan 10% sisanya adalah sampah yang memang harus dibuang kayak pampers dan lain-lain itu kita buang dan kita bakar sedikit. Nah, yang 70% ini biasanya dikumpulin diangkut, kalau di Jakarta dibawa ke Bantar Gebang kan, dan itu tidak diolah. Padahal, secara alami, di sana itu oleh makhluk hidup diurai. Pertama, itu dilakukan oleh serangga, unggas, cacing belakangan karena bentuknya masih besar-besar. Nah, berapa waktu yang dibutuhkan itu baru dilakukan oleh mikroba. Lalu, fungsi kita itu menggantikan unggas, ayam, serangga, orong-orong dengan mesin ini. Sampah dicacah habis dan volumenya turun seperlimanya, 10 kubik tinggal 2 kubik, jadi lebih padat. Kalau diangkut saja itu sampahnya, tentu ongkosnya lebih murah. Nah, mesin ini saya rancang hampir satu tahun, karena bentuknya untuk mencacah dan tidak terlalu mudah, dan membuatnya dibongkar-pasang

Kalau beling, kayu itu keluar?
H: Iya, barang-barang itu keluar sendiri kalau kemasukan beling atau kayu. Tapi, jangan disengaja dimasukkan, dan biasanya itu sudah diambilin oleh pemulung kan.

Berarti harus ada pemulung dong?
H: Ya, pasti ada. Kalau ada duitnya mereka pasti ada, bahkan pemulung sekarang itu tidak mau lagi menunggu di tempat sampah, mereka datangi rumah-rumah. Jadi, pertama itu mesin ini hanya membantu menghancurkan dan ini 1.000 kali lebih cepat dari proses alam, input dan output sudah berkurang sekian cepatnya, dan kalaupun dibuang, ongkosnya akan jauh lebih murah. Kalau dilihat dari kacamata itu, ongkos transportasi dari tempat pembuangan sampah sementara ke tempat pengolahan akhir, sudah jauh berkurang.

Plastik-plastiknya dipungut?
H: Iya dipungut, kalau ada yang punya tinggal telpon saya akan saya kontak para pemulung dan akan diambil, ha..ha..ha.. lumayan lo harganya.

Setelah dicacah diapakan?
H: Dengan dicacah bentuk aslinya sudah tidak kelihatan. Batang pisang kalau sudah masuk mesin ini jadi kayak bawang yang kecil-kecil, jadi nggak kelihatan lagi yang jorok-jorok, baru dikasih mikroba untuk mempercepat proses pembusukan, itu bahan baku kompos.

Proses itu berapa lama?
H: Itu ada mikroba dari Itali, dari Kanada, saya pakai mikroba Brebes saja, lebih murah. Dan dalam 7-14 hari sudah jadi dan nggak bau. Lalu, hasil ini belum bisa dipakai untuk tanaman mesti ditambahin ini itu, tapi hasil inilah yang dijual ke petani.

Petani mau?
H: Mereka mau sebagai bahan untuk diolah lagi. Apalagi tahun 2002 ini, Departemen Pertanian sudah mencanangkan ‘go organic’ dan program back to natur. Program ini sedang digalakkan sampai 2007, sehingga bahan baku termurah adalah sampah. Ini sebenarnya bagus kalau sampah diusahakan menjadi bahan baku, maka akan didapat untung dan untung.

Kenapa pemerintah menggalakkan go organic ini, kira-kira kenapa?
H: Pertama, struktur tanah. Kalau petani itu bukan masalah butuh tapi masalah kebiasaan. Meski di situ kandungan pupuk sudah banyak, karena kebiasaan itu tetap dipakai. Padahal, kandungan urea di tanah itu sudah melebihi batas, sehingga tanah bukan tambah subur tapi jadi tambah jelek. Nah, itu mesti dikembalikan lagi ke organik. Organik yang ada itu mahal. Bikin sampah menjadi organik tapi mahal. Kalau mahal kan nggak untung. Nah, kita menawarkan solusi yang murah. Solusi lagi kan akhirnya ha..ha..ha..

Dari proses pertama sampai kita bisa jual sekibik itu berapa hitungannya?
H: Idealnya mesin itu mencacah 10 kibik sampah setiap harinya, satu truk itu. Jadi kurang lebih 1.000 KK atau perumahan-perumahan perlu mesin ini.

Sudah dijual?
H: Kita sudah jual kemana-mana. Di Jakarta sudah banyak. Di Gandaria sudah ada. Nah, selama 14 hari diolah jadi bahan baku kompos, hasilnya dijual atau bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan pembuat kompos. Kenapa saya katakan untung, karena mimpi kita nantinya sampah ini kayak Secure Parking, yang buang sampah harus bayar ke tempat pengolahannya.

Bukankah selama ini rumah-rumah tangga itu membayar sampah?
H: Memang, mereka sudah bayar dan nanti kita bisa negosiasilah.

Mesinnya berapa sih harganya?
H: Satu unit itu Rp 10 juta-an, dan kita sudah bikin pabrik pengolahan sampah ini di Brebes, di sana kan banyak petani-petani bawang.

Di sana kompos dijual berapa?
H: Antara Rp 200-300. Bahkan, saya dengar di DKI sudah ada kerjasama dengan para penambang di Bangka, karena di sana mereka membutuhkan sampah organik, dan MOU sudah diteken. Nantinya sampah organik akan ditukar dengan pasir Bangka, untungkan jadinya.

Sampah organik ini higienis?
H: Karena sudah diolah, patogen-patogen di dalamnya pada mati, jadi amanlah. Buktinya di Brebes kebutuhan saya 100 ton per hari.

Standart usia mesin berapa lama?
H: Ya, umur mesin itu dua tahun mesti direparasilah, karena pisau-pisau pencacahnya kan mesti diganti.

Ada suku cadangnya?
H: Ya, kita punya spare-part.

Komunitas-komunitas itu siapa yang mengelola?
H: Macam-macam, ada orang-orang yang di RT atau RW yang nggak ada kerjaan.

Bukankah harus ada pengusahanya?
H: Artinya di kelurahan itu memang networknya kita jalankan, pemasarannya kita hubungkan dengan pabrik-pabrik pupuk dan nantinya kita libatkan para pemulung untuk mengolah sampah-sampah itu.

Berarti sudah nggak perlu TPA?
H: Kalau semua sudah mengolahnya harusnya TPA nggak perlu lagi, yang ada adalah tempat pengolahan sementara.

Dan itu adanya di komunitas-komunitas itu?
H: Betul. Di Permata Kapuk mereka sudah menggunakannya.

Berapa mesin?
H: Satu saja sudah cukup kok

Untuk 10 ton sehari? Apa memang ada sampahnya sebanyak itu?
H: Kurang lebih sih segitu, dan komposnya dipakai untuk mereka sendiri, sisanya yang dijual melalui jaringan kita. Nah, dengan begini, saya rasa akan mengurangi beban Pemda DKI.

Memang berapa besar anggaran dari Pemda DKI untuk mengurusi sampah?
H: Saya pernah bicara-bicara dengan mereka dan angkanya mencapai miliaranlah.

Kenapa Anda tidak datang ke Sutiyoso saja dan bilang, Bantar Gebang saya ambil alih saja?
H: Nggak, kita kan bicara ke depan, yang sudah biarlah. Cuma, kalau ke depan tidak diatasi, masalah akan timbul. Kalau kita ini mau kerja dululah, kita buktikan ini lho karya kita, kalau sudah begitu otomastis kan mereka yang akan cari kita, ha..ha..ha..

Berapa permintaan mesin sebulan?
H: Satu bulan kita bisa jual 10-20 unit, dan permintaan terus bertambah. Tapi kita nggak hanya jual mesin, tapi juga soal sistimnya. Mereka kita ajarkan sampai bisa. Karena kalau nggak begitu hasilnya nggak bagus, sampah tidak teratasi dan mereka akan bilang wah mesin ini nggak bagus.

Berapa hari mereka diajari?
H: Ya, lumayan. Tapi kita sering datangi, kita lihat dan kita kasih masukan-masukan tapi untuk kursusnya satu-dua harilah.

Berapa luas lahan yang diperlukan untuk satu komunitas itu?
H: Dari bangunan yang dibutuhkan nggak lebih dari 50 m persegi, dan untuk pengemasan dan lain-lain pakai bangunan yang sederhanalah.

Nah, yang bisa dijual itu bentuknya kayak apa?
H: Pemerintah kan menggalakkan penggunaan pupuk organik, ekspor kita seperti kelapa sawit nantinya harus dipupuk dengan pupuk organik, begitu. Kita juga mengikuti program dunia kok untuk menggunakan pupuk organik. Pupuk yang ada sekarang ini, mahal. Ada juga yang harganya seribu, itu kan mahal. Dan mahal itu karena prosesnya nggak efisien. Padahal, idealnya harga pupuk organik itu Rp 300 karena bahan bakunya murah dan efisien. Hasilnya lebih bagus. Jadi pupuk organik ini tidak ngasih makanan kepada tanaman lo, tapi memperbaiki struktur tanah, tanahnya bereaksi dan menghasilkan unsur dan unsur itu yang dimakanan oleh tanaman. Jadi memperbaiki tempat tinggalnya biar nyaman dulu. Soal marketnya, pasti naik terus. Di di Brebes, Sulawesi Selatan dan bahkan saya juga diundang di Surabaya.

Sudah terbukti hasilnya?
H: Oh, sudah. Kalau lewat Brebes, di pinggir jalan ada plang Mitran, mampir lihat di sana, ada pabriknya. Di sana bawang itu satu hektar bisa 20 ton. Jadi, marketnya sangat terbuka dan memang mesti diolah benar-benar, jangan hanya digiling terus sudah, ya harus ditambah ini itulah.

Selain bawang apa lagi?
H: di Sulawesi dipakai untuk padi

Nggak terbawa air?
H: Nggak dong, kan bentuknya tidak cair tapi padat. Dan menurut laporan, hasil panen mereka meningkat 20-30%. Sudah 2 tahun mereka pakai pupuk organik ini dengan berbagai merk, kita sih jualnya karungan saja. Kalau di daerah mereka kasih nama masing-masing.

Selain sawah buat apa saja?
H: Bisa juga untuk teh, jeruk. Dan kalau jualnya pakai label-label itu mahal. Jadinya, sayur organik, padi organik, mahal itu.

Di Amerika (AS) itu ada pasarnya. Di sana ada organik food, dan itu memang mahal karena doping mereka selama ini kan unorganik. Dan di sana ada gaya hidup sendiri untuk mengkonsumsi makanan yang organik.
H: Memang, petani kita itu pakai pupuk urea, pestisida bukan karena kebutuhan, tapi karena kebiasaan, kebiasaan yang salah.

Senin, 15/7/2002

Kreatif dengan sampah
Oleh: Rhenald Kasali

Acara radio talk di M97FM bertajuk Bedah Bisnis Rhenald Kasali ini telah berlangung hampir empat tahun. Setiap Senin kami tampilkan seorang pengusaha atau professional, yang menurut kami layak untuk diikuti perjalanan bisnisnya. Hanya beberapa kali Senin saja acara ini absent apabila pada Senin itu bertepatan dengan Lebaran atau hari libur. Artinya, sudah lebih 150 pengusaha dan professional yang kami undang ke studio.

Salah satu tamu yang pernah kami undang adalah Hidayat, seorang pengusaha yang bergerak di bidang agrobisnis. Pekan lalu, Hidayat kembali kami undang, bukan karena tidak ada tamu yang lain. Tetapi, setelah empat tahun, banyak perkembangan yang terjadi yang membuat bisnis tambah maju (atau bertambah mundur pada kasus lain).

Hidayat mengemukakan soal pengelolaan sampah, dalam arti mendaur ulang sampah sehingga mempunyai nilai ekonomis yang baik, dan menyerap tenaga kerja, sekaligus mengatasi masalah sampah.

Di bawah ini adalah catatan saya tentang Hidayat.

Kalau Pemda DKI sudah tidak bisa mengatasi masalahsampah di Bantar Gebang, karena Pemda Bekasi menolak sampah dari DKI, tapi lain halnya dengan Hidayat ini. Betapa tidak. Kalau sampah menurut sebagian orang adalah musibah, tapi di tangan Hidayat, sampah menjadi suatu oppurtinity, menjadi suatu peluang bisnis yang menjanjikan. Namun, tentu saja oppurtinity ini tak bisa dikerjakan sendirian. Melainkan harus dibangun dulu komunitasnya, harus dibangun dulu sistemnya. Seperti yang dilakukan Hidayat ini.

Ia tak hanya menjual mesin pengolah sampah, tapi juga menjual sistemnya, sehingga mereka bisa mengerjakan, memakainya, dsb. Jadi, proses inilah yang dinamakan memberdayakan. Suatu proses yang jika pasarnya belum ada dan mau diadakan, maka pasar itu harus diciptakan, ditimbulkan kebiasaan, termasuk dilatih, diberi alat, sampai mereka mengupayakan entrepreunership. Sehingga, nantinya, dapat menghasilkan entrepreuner-entrepreuner baru. Tentu saja ini diharapkan tidak saja di Jakarta, tapi hampir di seluruh daerah yang mempunyai persoalan sama: sampah.

Namun, sayangnya, kecenderungan di kota yang muncul bukannya pengusaha tapi para pemimpin-pemimpin komunitas itu, seperti RT-nya, RW-nya, pengelola lingkungan. Padahal, semestinya, pengusaha-pengusaha gede melihat peluang ini. Daripada mereka menyewa truk-truk untuk mengangkut sampah, mereka bisa mengelola saja itu sampah. Toh, mereka punya lahannya.

Bahkan mereka bisa memberikan pekerjaan kepada para pemulung dan orang-orang lain di sana daripada menciptakan masalah-masalah baru buat Pemda. Tentu saja semua ini perlu digarap dengan kesungguhan. Kesungguhan agar kita bisa melihat masyarakat bergerak, dan mudah-mudahan ini juga ditangkap komunitas-komunitas lain.

Orang seperti Hidayat ini harus menjadi seorang messenger. Dibangkitkan dan disebarluaskan usahanya, sehingga sampah tidak bertebaran di mana-mana. Tapi, selain dari itu, yang jelas peluang bisnis ini bagus dan menguntungkan. Cuma, masalahnya, terkadang orang pemda itu tidak tertarik dengan masalah-masalah ini karena mereka itu bukan entrepreuner, mereka itu birokrat.

Inilah yang kita bisa lihat, di pemda itu tidak ada orang-orang yang intrapreuner, yaitu karyawan yang berjiwa entrepreuner. Dan masalah yang kedua adalah, mainset mereka itu adalah anggaran. Kalau mesinnya itu seharga Rp 10 juta, maka di mark-up lah, atau diminta komisinya berapa. Nah, selama mereka mainsetnya anggaran, mereka akan cuma menghabiskan anggaran, mereka akan menghabiskan yang besar-besar. Karena itu, sudah seharusnya masyarakat bergerak, dan masyarakat melakukan kontrol serta mendesak pemerintah untuk mengatasi masalah sampah dengan lebih efisien. Jadi, jangan sampai Pemda menghabiskan anggaran seenaknya saja. Tentunya lebih baik memikirkan dan segera mencari jalan keluar persoalan daripada memikirkan bagaimana caranya menghabiskan anggaran.

 
 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
DANA MITRA LINGKUNGAN {Friends of the Environment Fund}
Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati, Blok B1/12
Jl. RS. Fatmawati 39, Jakarta 12150 - INDONESIA
Telp. : (62-21) 724 8884, 724 8885 | Fax. : (62-21) 724 8883
Email : [EMAIL PROTECTED] | URL# http://www.dml.or.id
 
Konperensi ke 4 APRCP @ http://aprcp.dml.or.id
FORLINK @ http://forlink.dml.or.id
Bursa Limbah @ http://w2p.dml.or.id
Forum KMB Indonesia @ http://forumkmb.dml.or.id
Join Milis PB, kirim email ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke