Minggu,
14/7/2002
Bisnis Sampah
Sangat Terhormat
Oleh: Rhenald Kasali
Tumpukan sampah
yang bau dan menggunung di setiap kota, ternyata mengandung potensi bisnis
yang besar, sekaligus menyerap tenaga kerja dan membersihkan lingkungan.
Hidayat telah membuktikanya.
Pak Hidayat ini dulu pernah kita turunkan dengan bisnisnya dari Banten
yakni tambang kapal, ya?
H: Kita usaha tambang kapal yang tambangnya
dari sabut kelapa.
Masih mengambil sabut kelapa dari pasar-pasar?
H: Oh, nggak
lagi karena pasar sudah kehabisan, sekarang sudah harus beli jadi dan mahal.
Karena itu, kita ngambil dari daerah lain, bahkan dari luar pulau. Kalau
dulu nggak ada harganya, sekarang orang sudah mengerti jadi harganya sudah
mahal. Apalagi, pasar lokal maupun ekspor sudah mulai terbuka, jadi
lumayanlah. Kita mengambil dari Serang, dari Ciamis tapi yang sudah jadi
lalu kita tinggal jual saja. Prosesnya, sabut kelapa yang baru kita sabut
lagi dengan dimasukkan ke dalam mesin untuk dipisahkan. Itu ada mesinnya,
dan kita ajari mereka bagaimana cara memakainya. Dan hasilnya, menjadi
barang yang sudah jadi dan siap jual dan tentu saja mutunya kualitas ekspor.
Setelah itu kita tinggal mendatangkan kontainernya.
Mesinnya dari daerah lain?
H: Sebagian ya, karena kita sudah
monopoli ha..ha..ha..
Perkembangann mesinnya bagaimana?
H: Perkembangannya menaiklah,
lumayan permintaan mesin terus ada.
Di tempat pak hidayat ini saya kagum bagaimana cara pembuatan
mesin-mesin, mesin apa itu pak namanya?
H: Macam-macam kita bikin.
Tapi ada 3 yang kita fokuskan, satu mesin pengolah sabut kelapa dan
permintaan ekspornya bagus; kemudian mesin pembuat pakan ternak. Pakan
ternak di sini kan mahal, tergantung sama pabrik, nah kita ajarkan bagaimana
cara bikin pakan ternaknya, lalu mesinnya mereka cari sendiri.
Bagaimana dengan pengetahuan mesinnya?
H: pengetahun mesin itu
juga kita ajarkan. Jadi kembali lagi kan untuk membeli mesin-mesinnya
he..he..he. Tapi, kalau orang lain bayar untuk mengajarkannya, nah, kita
nggak, gratis saja, sekalian amal kan. Setelah itu, barulah kita kasih tahu
tempat mencari mesinnya, tuh tokonya di situ…. Satu lagi mesin yang
kita fokuskan adalah mesin pembuat kompos. Mesin ini bagus karena mampu
mengolah sampah, jadi sampah itu kita olah dengan mesin ini, hasilnya selain
bersih, efisien, dan lagi bisa dijual ke petani. Jadi sampah itu tidak perlu
ditumpuk di lokasi sebesar Bantar-Gebang, dan tiap-tiap RT/RW kalau perlu
harus punya mesin ini.
Lantas para pemulung bagaimana?
H: Kita kemarin ketemu dengan
salah satu pemulung yang tempatnya kumuh, kita tawarkan pekerjaan bagaimana
kalau dipindahkan ke RT/RW yang tempatnya lebih bagus. Tugasnya mengolah
sampah dan dikasih duit Rp 5 ribu. Eeh,…nggak mau dia. Katanya, wah,
saya di tempat sampah bisa dapat Rp 40 ribu. Nah, ini artinya di tempat
sampah itu ternyata mahal. Padahal, mereka hanya ngmpulin kardus, botol
aqua, dan kantong-kantong kresek. Jadi, kalau dulu saya jadi tukang tahi
sapi, sekarang jadi tukang sampah…ha..ha..ha…
Malu nggak?
H: Nggak dong, kenapa mesti malu kalau itu bisa
jadi duit.
Jadi itu ada teknologinya, ya?
H: Ya, sampah itu kita atur..
Sampah itu nggak bau?
H: sama sekali tidak.
Bagaimana tuh caranya?
H: Namanya dienzim dan disemprot saja
tuh sampah, nggak sampai semenit baunya hilang. Hanya semenit bau itu akan
hilang dengan motivator atau akselerator untuk mempercepat pembusukan
sampah. Nah, teknologi kita yang buat, jadi kita nggak hanya jual mesin, dan
membantu solusi persampahan ha..ha..ha…
Mesinnya kayak apa?
H: Bisa saya ceritakan begini.
Sampah-sampah yang datang dari rumah-rumah menurut data yang ada 70% adalah
sampah organik, sampah yang asalnya dari benda-benda hiduplah; lalu 20% itu
sampah-sampah yang bernilai ekonomis kayak kardus, plastik, nah ini biasanya
jatah pemulung; dan 10% sisanya adalah sampah yang memang harus dibuang
kayak pampers dan lain-lain itu kita buang dan kita bakar sedikit. Nah, yang
70% ini biasanya dikumpulin diangkut, kalau di Jakarta dibawa ke Bantar
Gebang kan, dan itu tidak diolah. Padahal, secara alami, di sana itu oleh
makhluk hidup diurai. Pertama, itu dilakukan oleh serangga, unggas, cacing
belakangan karena bentuknya masih besar-besar. Nah, berapa waktu yang
dibutuhkan itu baru dilakukan oleh mikroba. Lalu, fungsi kita itu
menggantikan unggas, ayam, serangga, orong-orong dengan mesin ini. Sampah
dicacah habis dan volumenya turun seperlimanya, 10 kubik tinggal 2 kubik,
jadi lebih padat. Kalau diangkut saja itu sampahnya, tentu ongkosnya lebih
murah. Nah, mesin ini saya rancang hampir satu tahun, karena bentuknya untuk
mencacah dan tidak terlalu mudah, dan membuatnya dibongkar-pasang
Kalau beling, kayu itu keluar?
H: Iya, barang-barang itu keluar
sendiri kalau kemasukan beling atau kayu. Tapi, jangan disengaja dimasukkan,
dan biasanya itu sudah diambilin oleh pemulung kan.
Berarti harus ada pemulung dong?
H: Ya, pasti ada. Kalau ada
duitnya mereka pasti ada, bahkan pemulung sekarang itu tidak mau lagi
menunggu di tempat sampah, mereka datangi rumah-rumah. Jadi, pertama itu
mesin ini hanya membantu menghancurkan dan ini 1.000 kali lebih cepat dari
proses alam, input dan output sudah berkurang sekian cepatnya, dan kalaupun
dibuang, ongkosnya akan jauh lebih murah. Kalau dilihat dari kacamata itu,
ongkos transportasi dari tempat pembuangan sampah sementara ke tempat
pengolahan akhir, sudah jauh berkurang.
Plastik-plastiknya dipungut?
H: Iya dipungut, kalau ada yang
punya tinggal telpon saya akan saya kontak para pemulung dan akan diambil,
ha..ha..ha.. lumayan lo harganya.
Setelah dicacah diapakan?
H: Dengan dicacah bentuk aslinya
sudah tidak kelihatan. Batang pisang kalau sudah masuk mesin ini jadi kayak
bawang yang kecil-kecil, jadi nggak kelihatan lagi yang jorok-jorok, baru
dikasih mikroba untuk mempercepat proses pembusukan, itu bahan baku kompos.
Proses itu berapa lama?
H: Itu ada mikroba dari Itali, dari
Kanada, saya pakai mikroba Brebes saja, lebih murah. Dan dalam 7-14 hari
sudah jadi dan nggak bau. Lalu, hasil ini belum bisa dipakai untuk tanaman
mesti ditambahin ini itu, tapi hasil inilah yang dijual ke petani.
Petani mau?
H: Mereka mau sebagai bahan untuk diolah lagi.
Apalagi tahun 2002 ini, Departemen Pertanian sudah mencanangkan ‘go
organic’ dan program back to natur. Program ini sedang
digalakkan sampai 2007, sehingga bahan baku termurah adalah sampah. Ini
sebenarnya bagus kalau sampah diusahakan menjadi bahan baku, maka akan
didapat untung dan untung.
Kenapa pemerintah menggalakkan go organic ini, kira-kira
kenapa?
H: Pertama, struktur tanah. Kalau petani itu bukan masalah
butuh tapi masalah kebiasaan. Meski di situ kandungan pupuk sudah banyak,
karena kebiasaan itu tetap dipakai. Padahal, kandungan urea di tanah itu
sudah melebihi batas, sehingga tanah bukan tambah subur tapi jadi tambah
jelek. Nah, itu mesti dikembalikan lagi ke organik. Organik yang ada itu
mahal. Bikin sampah menjadi organik tapi mahal. Kalau mahal kan nggak
untung. Nah, kita menawarkan solusi yang murah. Solusi lagi kan akhirnya
ha..ha..ha..
Dari proses pertama sampai kita bisa jual sekibik itu berapa
hitungannya?
H: Idealnya mesin itu mencacah 10 kibik sampah setiap
harinya, satu truk itu. Jadi kurang lebih 1.000 KK atau perumahan-perumahan
perlu mesin ini.
Sudah dijual?
H: Kita sudah jual kemana-mana. Di Jakarta sudah
banyak. Di Gandaria sudah ada. Nah, selama 14 hari diolah jadi bahan baku
kompos, hasilnya dijual atau bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan
pembuat kompos. Kenapa saya katakan untung, karena mimpi kita nantinya
sampah ini kayak Secure Parking, yang buang sampah harus bayar ke tempat
pengolahannya.
Bukankah selama ini rumah-rumah tangga itu membayar sampah?
H:
Memang, mereka sudah bayar dan nanti kita bisa negosiasilah.
Mesinnya berapa sih harganya?
H: Satu unit itu Rp 10 juta-an,
dan kita sudah bikin pabrik pengolahan sampah ini di Brebes, di sana kan
banyak petani-petani bawang.
Di sana kompos dijual berapa?
H: Antara Rp 200-300. Bahkan,
saya dengar di DKI sudah ada kerjasama dengan para penambang di Bangka,
karena di sana mereka membutuhkan sampah organik, dan MOU sudah diteken.
Nantinya sampah organik akan ditukar dengan pasir Bangka, untungkan jadinya.
Sampah organik ini higienis?
H: Karena sudah diolah,
patogen-patogen di dalamnya pada mati, jadi amanlah. Buktinya di Brebes
kebutuhan saya 100 ton per hari.
Standart usia mesin berapa lama?
H: Ya, umur mesin itu dua
tahun mesti direparasilah, karena pisau-pisau pencacahnya kan mesti diganti.
Ada suku cadangnya?
H: Ya, kita punya spare-part.
Komunitas-komunitas itu siapa yang mengelola?
H: Macam-macam,
ada orang-orang yang di RT atau RW yang nggak ada kerjaan.
Bukankah harus ada pengusahanya?
H: Artinya di kelurahan itu
memang networknya kita jalankan, pemasarannya kita hubungkan dengan
pabrik-pabrik pupuk dan nantinya kita libatkan para pemulung untuk mengolah
sampah-sampah itu.
Berarti sudah nggak perlu TPA?
H: Kalau semua sudah mengolahnya
harusnya TPA nggak perlu lagi, yang ada adalah tempat pengolahan sementara.
Dan itu adanya di komunitas-komunitas itu?
H: Betul. Di Permata
Kapuk mereka sudah menggunakannya.
Berapa mesin?
H: Satu saja sudah cukup kok
Untuk 10 ton sehari? Apa memang ada sampahnya sebanyak itu?
H:
Kurang lebih sih segitu, dan komposnya dipakai untuk mereka sendiri, sisanya
yang dijual melalui jaringan kita. Nah, dengan begini, saya rasa akan
mengurangi beban Pemda DKI.
Memang berapa besar anggaran dari Pemda DKI untuk mengurusi
sampah?
H: Saya pernah bicara-bicara dengan mereka dan angkanya
mencapai miliaranlah.
Kenapa Anda tidak datang ke Sutiyoso saja dan bilang, Bantar Gebang
saya ambil alih saja?
H: Nggak, kita kan bicara ke depan, yang sudah
biarlah. Cuma, kalau ke depan tidak diatasi, masalah akan timbul. Kalau kita
ini mau kerja dululah, kita buktikan ini lho karya kita, kalau sudah begitu
otomastis kan mereka yang akan cari kita, ha..ha..ha..
Berapa permintaan mesin sebulan?
H: Satu bulan kita bisa jual
10-20 unit, dan permintaan terus bertambah. Tapi kita nggak hanya jual
mesin, tapi juga soal sistimnya. Mereka kita ajarkan sampai bisa. Karena
kalau nggak begitu hasilnya nggak bagus, sampah tidak teratasi dan mereka
akan bilang wah mesin ini nggak bagus.
Berapa hari mereka diajari?
H: Ya, lumayan. Tapi kita sering
datangi, kita lihat dan kita kasih masukan-masukan tapi untuk kursusnya
satu-dua harilah.
Berapa luas lahan yang diperlukan untuk satu komunitas itu?
H:
Dari bangunan yang dibutuhkan nggak lebih dari 50 m persegi, dan untuk
pengemasan dan lain-lain pakai bangunan yang sederhanalah.
Nah, yang bisa dijual itu bentuknya kayak apa?
H: Pemerintah
kan menggalakkan penggunaan pupuk organik, ekspor kita seperti kelapa sawit
nantinya harus dipupuk dengan pupuk organik, begitu. Kita juga mengikuti
program dunia kok untuk menggunakan pupuk organik. Pupuk yang ada sekarang
ini, mahal. Ada juga yang harganya seribu, itu kan mahal. Dan mahal itu
karena prosesnya nggak efisien. Padahal, idealnya harga pupuk organik itu Rp
300 karena bahan bakunya murah dan efisien. Hasilnya lebih bagus. Jadi pupuk
organik ini tidak ngasih makanan kepada tanaman lo, tapi memperbaiki
struktur tanah, tanahnya bereaksi dan menghasilkan unsur dan unsur itu yang
dimakanan oleh tanaman. Jadi memperbaiki tempat tinggalnya biar nyaman dulu.
Soal marketnya, pasti naik terus. Di di Brebes, Sulawesi Selatan dan bahkan
saya juga diundang di Surabaya.
Sudah terbukti hasilnya?
H: Oh, sudah. Kalau lewat Brebes, di
pinggir jalan ada plang Mitran, mampir lihat di sana, ada pabriknya. Di sana
bawang itu satu hektar bisa 20 ton. Jadi, marketnya sangat terbuka dan
memang mesti diolah benar-benar, jangan hanya digiling terus sudah, ya harus
ditambah ini itulah.
Selain bawang apa lagi?
H: di Sulawesi dipakai untuk padi
Nggak terbawa air?
H: Nggak dong, kan bentuknya tidak cair tapi
padat. Dan menurut laporan, hasil panen mereka meningkat 20-30%. Sudah 2
tahun mereka pakai pupuk organik ini dengan berbagai merk, kita sih jualnya
karungan saja. Kalau di daerah mereka kasih nama masing-masing.
Selain sawah buat apa saja?
H: Bisa juga untuk teh, jeruk. Dan
kalau jualnya pakai label-label itu mahal. Jadinya, sayur organik, padi
organik, mahal itu.
Di Amerika (AS) itu ada pasarnya. Di sana ada organik food, dan itu
memang mahal karena doping mereka selama ini kan unorganik. Dan di sana ada
gaya hidup sendiri untuk mengkonsumsi makanan yang organik.
H:
Memang, petani kita itu pakai pupuk urea, pestisida bukan karena kebutuhan,
tapi karena kebiasaan, kebiasaan yang
salah.
Senin, 15/7/2002
Kreatif dengan sampah
Oleh:
Rhenald Kasali
Acara radio talk
di M97FM bertajuk Bedah Bisnis Rhenald Kasali ini telah berlangung hampir
empat tahun. Setiap Senin kami tampilkan seorang pengusaha atau
professional, yang menurut kami layak untuk diikuti perjalanan bisnisnya.
Hanya beberapa kali Senin saja acara ini absent apabila pada Senin itu
bertepatan dengan Lebaran atau hari libur. Artinya, sudah lebih 150
pengusaha dan professional yang kami undang ke studio.
Salah satu tamu yang pernah kami undang adalah Hidayat, seorang pengusaha
yang bergerak di bidang agrobisnis. Pekan lalu, Hidayat kembali kami undang,
bukan karena tidak ada tamu yang lain. Tetapi, setelah empat tahun, banyak
perkembangan yang terjadi yang membuat bisnis tambah maju (atau bertambah
mundur pada kasus lain).
Hidayat mengemukakan soal pengelolaan sampah, dalam arti mendaur ulang
sampah sehingga mempunyai nilai ekonomis yang baik, dan menyerap tenaga
kerja, sekaligus mengatasi masalah sampah.
Di bawah ini adalah catatan saya tentang Hidayat.
Kalau Pemda DKI sudah tidak bisa mengatasi masalahsampah di Bantar
Gebang, karena Pemda Bekasi menolak sampah dari DKI, tapi lain halnya dengan
Hidayat ini. Betapa tidak. Kalau sampah menurut sebagian orang adalah
musibah, tapi di tangan Hidayat, sampah menjadi suatu oppurtinity, menjadi
suatu peluang bisnis yang menjanjikan. Namun, tentu saja oppurtinity ini tak
bisa dikerjakan sendirian. Melainkan harus dibangun dulu komunitasnya, harus
dibangun dulu sistemnya. Seperti yang dilakukan Hidayat ini.
Ia tak hanya menjual mesin pengolah sampah, tapi juga menjual sistemnya,
sehingga mereka bisa mengerjakan, memakainya, dsb. Jadi, proses inilah yang
dinamakan memberdayakan. Suatu proses yang jika pasarnya belum ada dan mau
diadakan, maka pasar itu harus diciptakan, ditimbulkan kebiasaan, termasuk
dilatih, diberi alat, sampai mereka mengupayakan entrepreunership. Sehingga,
nantinya, dapat menghasilkan entrepreuner-entrepreuner baru. Tentu saja ini
diharapkan tidak saja di Jakarta, tapi hampir di seluruh daerah yang
mempunyai persoalan sama: sampah.
Namun, sayangnya, kecenderungan di kota yang muncul bukannya pengusaha
tapi para pemimpin-pemimpin komunitas itu, seperti RT-nya, RW-nya, pengelola
lingkungan. Padahal, semestinya, pengusaha-pengusaha gede melihat peluang
ini. Daripada mereka menyewa truk-truk untuk mengangkut sampah, mereka bisa
mengelola saja itu sampah. Toh, mereka punya lahannya.
Bahkan mereka bisa memberikan pekerjaan kepada para pemulung dan
orang-orang lain di sana daripada menciptakan masalah-masalah baru buat
Pemda. Tentu saja semua ini perlu digarap dengan kesungguhan. Kesungguhan
agar kita bisa melihat masyarakat bergerak, dan mudah-mudahan ini juga
ditangkap komunitas-komunitas lain.
Orang seperti Hidayat ini harus menjadi seorang messenger.
Dibangkitkan dan disebarluaskan usahanya, sehingga sampah tidak bertebaran
di mana-mana. Tapi, selain dari itu, yang jelas peluang bisnis ini bagus dan
menguntungkan. Cuma, masalahnya, terkadang orang pemda itu tidak tertarik
dengan masalah-masalah ini karena mereka itu bukan entrepreuner,
mereka itu birokrat.
Inilah yang kita bisa lihat, di pemda itu tidak ada orang-orang yang
intrapreuner, yaitu karyawan yang berjiwa entrepreuner. Dan masalah
yang kedua adalah, mainset mereka itu adalah anggaran. Kalau mesinnya itu
seharga Rp 10 juta, maka di mark-up lah, atau diminta komisinya berapa. Nah,
selama mereka mainsetnya anggaran, mereka akan cuma menghabiskan anggaran,
mereka akan menghabiskan yang besar-besar. Karena itu, sudah seharusnya
masyarakat bergerak, dan masyarakat melakukan kontrol serta mendesak
pemerintah untuk mengatasi masalah sampah dengan lebih efisien. Jadi, jangan
sampai Pemda menghabiskan anggaran seenaknya saja. Tentunya lebih baik
memikirkan dan segera mencari jalan keluar persoalan daripada memikirkan
bagaimana caranya menghabiskan
anggaran.