-----Original Message-----
 From: Kholid Yahya [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
 Sent: Tuesday, September 03, 2002 9:39 AM
 To: [EMAIL PROTECTED]
 Subject: RE: [toyota-corolla] Re: Budaya Masyarakat kita (???)


 Tiada hari terlewatkan tanpa membaca surat kabar Indonesia melalui
Internet. Di sana-sini bermunculan berita mengenai rusaknya moral dan carut
marutnya kepribadian masyarakat Indonesia, layaknya sebuah bangsa yang tidak
terdidik. Kerusakan ini secara signifikan dan menyeluruh melanda berbagai
golongan masyarakat Indonesia, dari pejabat atas, menengah sampai rendah,
dari anggota DPR sampai menular ke masyarakat umum.

 Di sisi lain, kalau kita menyimak berita-berita Internasional, sudah
menjadi hal yang lazim bahwa Indonesia selalu menang dalam kontes-kontes
internasional yang berhubungan dengan sifat buruk. Dari masalah besarnya
jumlah korupsi, pelanggaran HAM, pembajakan software, sampai rendahnya
masalah sumber daya manusia (SDM). Pada tulisan ini, penulis mencoba
menguraikan tentang bagaimana sebuah komunitas terdidik (knowledged
community) dan beradab itu sebenarnya bisa terbentuk dari sesuatu hal yang
sangat sederhana.

 Dari mengamati perilaku kehidupan masyarakat Jepang, sebenarnya tergambar
bagaimana sebuah komunitas terdidik terlahir dari suatu sifat dan sikap yang
sederhana. Yang pertama mari kita lihat bagaimana orang Jepang mengedepankan
rasa ''malu''. Fenomena ''malu'' yang telah mendarah daging dalam sikap dan
budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi yang sangat luas dalam
berbagai bidang kehidupan. Di Jepang sebenarnya banyak hal baik lain
terbentuk dari sikap malu ini, termasuk di dalamnya masalah penghormatan
terhadap HAM, masalah law enforcement, masalah kebersihan moral aparat, dsb.

 Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah
suatu contoh nyata. Orang Jepang lebih senang memilih memakai jalan memutar
daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah
jalan raya. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrean
dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke
stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet
umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Bagaimana
dengan cepatnya seorang pejabat tinggi atau pemimpin perusahaan Jepang
memutuskan untuk mundur bila telah berbuat salah juga merupakan teladan yang
luar biasa. Mereka malu terhadap lingkungannya bila mereka melanggar suatu
peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

 Hal menarik berikutnya adalah bagaimana orang Jepang berprinsip sangat
''ekonomis'' dalam masalah perbelanjaan rumah tangga. Sikap
antikonsumtivisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan.
Sekitar 8 tahun lalu, masa awal-awal mulai kehidupan di Jepang, penulis
sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di
supermarket pada sekitar pukul 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah
menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga
sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup.

 Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul
20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju
toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 10 atau 20 yen.
Juga bagaimana orang Jepang lebih memilih naik densha (kereta listrik)
swasta daripada densha milik negeri karena untuk daerah Tokyo dan sekitarnya
ternyata densha swasta lebih murah daripada milik negeri. Masih banyak lagi
contoh yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa orang Jepang itu sangat
ekonomis.

 Secara perekonomian mereka bukan bangsa yang miskin karena boleh dikata
sekarang memiliki peringkat GDP yang sangat tinggi di dunia. Mereka juga
bukan bangsa yang tidak sibuk atau lebih punya waktu berhidup ekonomis
karena mereka bekerja dengan sangat giat bahkan terkenal dengan bangsa yang
gila kerja (workaholic). Tetapi hebatnya mereka tetap memegang prinsip hidup
ekonomis. Ini sangat bertolak belakang dengan masyarakat negara-negara
berkembang (baca: Indonesia) yang bersifat sangat konsumtif. Terus terang
kita memang sangat malas untuk bersifat ekonomis. Baru dapat uang sedikit
saja sudah siap-siap pergi ke Singapura untuk shopping atau beli telepon
genggam baru.

 Sifat berikutnya adalah masalah sopan santun dan menghormati orang lain.
Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai
(maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakkan orang lain. Kalau kita
berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang, sebelum kita sempat
mengatakan maaf, orang Jepang dengan cepat akan mengatakan maaf kepada kita.
Demikian juga bila kita bertabrakan sepeda dengan mereka. Tidak peduli siapa
yang sebenarnya pada pihak yang salah, mereka akan secara refleks
mengucapkan gomennasai (maaf).

 Kalau moral dan sifat-sifat sederhana dari orang Jepang, seperti malu,
hidup ekonomis, menghormati orang lain sudah sangat jauh melebihi kita,
ditambah dengan majunya perekonomian dan sistem kehidupan. Sekarang marilah
kita bertanya kepada diri kita, hal baik apa yang kira-kira bisa kita
banggakan sebagai bangsa Indonesia kepada mereka?

 Bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh dan tidak mengerti moral. Kita
bisa menyaksikan bahwa mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di
Jepang, Jerman, Amerika dan di negara -negara lain, banyak sekali yang
berprestasi dan tidak kalah secara ilmu dan kepintaran. Demikian juga kalau
kita bandingkan bagaimana para pengamat dan komentator Indonesia menguraikan
analisanya di televisi Indonesia. Selama hidup 8 tahun di Jepang penulis
belum pernah menemukan analisa pengamat dan komentator di televisi Jepang
yang lebih hebat analisanya daripada pengamat dan komentator Indonesia. Dan
ini menyeluruh, dari masalah ekonomi, politik, sistem pemerintahan bahkan
sampai masalah sepak bola.

 Akan tetapi sangat disayangkan bahwa fakta menunjukkan, secara politik dan
sistem pemerintahan kita tidak lebih stabil daripada Jepang, secara ekonomi
kita jauh di bawah Jepang. Dalam masalah sepakbola juga dalam waktu singkat
Jepang sudah berprestasi menembus 16 besar pada piala dunia tahun 2002 ini,
sementara kita sendiri masih berputar-putar dengan permasalahan yang tidak
mutu, dari masalah wasit, pemain sampai kisruhnya suporter. Perlu diketahui
bahwa Liga sepakbola profesional Jepang baru dimulai tahun 1993.

 Mengambil pelajaran dari beberapa kasus yang telah diuraikan penulis di
atas, kita bisa mengambil banyak pelajaran bahwa ternyata kepintaran dan
kepandaian otak kita adalah tidak cukup untuk membawa kita menuju suatu
komunitas yang terdidik. Justru sikap dan prinsip hidup yang sebenarnya
terlihat sederhana itulah akan secara silmultan membentuk suatu bangsa
menjadi bangsa besar dan berperadaban.

 Penulis, Kandidat Doktor pada jurusan Computer Science,
 Saitama University, Jepang


--  
~~~~~~ PRODUKSI BERSIH (PB) MAILING LIST ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Posting  =  [EMAIL PROTECTED]
Berhenti  =  Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Berlangganan  =  Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Administrator  =  mailto:[EMAIL PROTECTED]
Arsip  =  http://www.mail-archive.com/[email protected]/

FORLINK @ http://www.forlink.dml.or.id
Environmental News @ http://forlink.dml.or.id/e-news/
Forum KMB Indonesia @ http://www.forumkmb.dml.or.id
Bursa Limbah Indonesia @ http://www.w2p.dml.or.id

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Kirim email ke