FYI :-)

>
> Pakai Dinar, Tinggalkan Dolar!
>
> :: saiful_hamiwanto :: Jumat, 11 Oktober 2002
>
> Mata  uang  emas  Dinar dan uang perak  Dirham  telah  mulai
> digunakan kembali oleh sebagian masyarakat Muslim  dan  non-
> Muslim  sejak  sepuluh tahun terakhir.  Jika  telah  meluas,
> insya Allah akan menggeser dominasi Dolar.
>
> Kalau Anda seorang pedagang barang atau penjual jasa, jangan
> heran  jika  suatu saat ada orang yang menawarkan pembayaran
> dengan  menggunakan uang emas Dinar dan uang  perak  Dirham.
> Juga  jangan heran jika suatu saat pegawai Anda minta digaji
> dengan kedua mata uang tersebut.
>
> Memang,  Dinar  dan Dirham merupakan mata uang  zaman  dulu.
> Keduanya  lazim digunakan pada masa Nabi Muhammad saw  masih
> hidup  empat belas abad silam. Dinar dan Dirham  telah  lama
> hanya menjadi bahan cerita dan kenangan tentang mata uang di
> masa  lampau. Tapi patut diketahui, mata uang tersebut  kini
> telah   'hidup  kembali',  terutama  sejak  Perdana  Menteri
> Malaysia,  Mahathir Muhammad, menyatakan hendak  menggunakan
> Dinar sebagai alat tukar perdagangan negaranya dengan negara-
> negara Muslim di tahun 2003 mendatang.
>
> Mahathir jelas punya andil besar dalam menghidupkan  kembali
> Dinar , tetapi sesungguhnya dia bukanlah orang pertama  yang
> melakukannya.  Sebelum  Mahathir  mengungkapkan  dukungannya
> terhadap  Dinar  , bahkan jauh hari sebelum  terjadi  krisis
> moneter yang  melanda negara-negara di Asia, pada 18 Agustus
> 1991   sebuah   komunitas  Muslim  di  Eropa  yang   bernama
> 'Murabitun'  telah  mengeluarkan  fatwa  tentang   'Larangan
> Pemakaian  Uang Kertas sebagai Alat Tukar'. Mereka  kemudian
> mencetak  mata uang emas Dinar serta mata uang perak  Dirham
> sebagai pengganti uang kertas yang telah mereka haramkan.
>
> Pencetakan  Dinar  dan  Dirham  pertama  kali  dilakukan  di
> Granada, Spanyol, tahun 1992. Dari salah satu kota di  bekas
> wilayah  kekhalifahan Islam di Andalusia tersebut Dinar  dan
> Dirham  kemudian  disebar  ke 22  negara  oleh  para  jamaah
> Murabitun. Indonesia tidak ketinggalan, ikut kecipratan  dua
> mata  uang  tersebut. Bahkan menurut Malik  Abdulhaqq  Dwito
> Hermanadi,  liaison officer Murabitun Nusantara, sejak  1999
> Dinar dan Dirham telah dicetak di Indonesia melalui PT Logam
> Mulia, sebuah BUMN anak perusahaan PT Aneka Tambang.
>
> Uang  emas  dan perak itu kemudian disebarluaskan oleh  para
> jamaah  Murabitun Nusantara ke berbagai wilayah di Indonesia
> dan ke luar negeri melalui jaringan Murabitun International.
>
> Jumlah  yang  disebar  memang belum begitu  banyak.  Menurut
> Malik, sejak dicetak pertama kali oleh PT Logam Mulia hingga
> kini  baru beredar sekitar 1.000 keping uang Dinar dan 3.000
> keping  uang Dirham. Namun menurut Direktur Public  Interest
> Research and Advocacy Center (PIRAC), Zaim Saidi, jika Dinar
> dan  Dirham  sudah dikenal oleh masyarakat  luas,  kebutuhan
> terhadap  mata  uang  tersebut akan terus  besar,  mengingat
> konsumsi   logam  mulia  masyarakat  Indonesia  yang   cukup
> lumayan.   Berdasar   data  terakhir,   kebutuhan   konsumsi
> masyarakat  Indonesia  terhadap emas setiap  tahunnya  tidak
> kurang  dari  25 ton emas. "Itu artinya setara  dengan  5,88
> juta Dinar ," ungkap Zaim.
>
> Saat  ini konsumsi emas tersebut sebagian besar memang masih
> untuk  pembuatan perhiasan. Namun jika kesadaran  masyarakat
> sudah  semakin  meningkat  serta infrastruktur  pelayanannya
> sudah  tersedia maka bisa diharapkan permintaan  emas  untuk
> pembuatan Dinar juga akan semakin meningkat.
>
> Perkiraan tersebut tidak berlebihan mengingat beberapa tahun
> terakhir  masyarakat luas sudah dikenalkan dengan koin  emas
> ONH  (Ongkos Naik Haji) yang dikeluarkan oleh PT  Pegadaian.
> Bahkan   Pemerintah  pernah  pula  mengeluarkan  koin   emas
> peringatan  Hari Kemerdekaan RI yang ke-50,  peringatan  100
> tahun  Bung  Karno  serta peringatan 100 tahun  Bung  Hatta,
> meski  dengan  jumlah  cetakan yang  sangat  terbatas.  Jadi
> pemanfaatan   Dinar   dan  Dirham   oleh   masyarakat   luas
> sesungguhnya  tinggal  menunggu waktu saja.  Tinggal  diberi
> percepatan dengan kampanye yang intensif.
>
> Dinar  untuk ONH Setelah Pemerintah RI melalui PT  Pegadaian
> mencetak koin emas ONH sepatutnya Pemerintah juga menetapkan
> perhitungan  dan  pembayaran biaya  perjalanan  ibadah  haji
> (BPIH,  nama  baru  dari ONH) dengan mata uang  emas  Dinar.
> Seperti   diketahui,  selama  ini  biaya   perjalanan   haji
> menggunakan  patokan nilai Dolar, karena untuk  bertransaksi
> dengan Arab Saudi, Pemerintah RI menggunakan Dolar. Sehingga
> tentu saja yang diuntungkan Amerika.
>
> Dengan  jumlah jamaah haji sekitar 200 ribu orang per tahun,
> sebenarnya   Indonesia-negara  dengan  jamaah  haji   paling
> banyak-punya  posisi tawar (bargaining position)  yang  kuat
> terhadap   pemerintah  Arab  Saudi.   Jika   Pemerintah   RI
> menawarkan  pembayaran dengan Dinar kepada  pemerintah  Arab
> Saudi,  kemungkinan besar disetujui. Sebab  nilainya  begitu
> besar.  Kalau biaya perjalanan haji di tahun ini Rp 25  juta
> per  orang, dan jika harga emas per gram Rp 70.000 maka jika
> biaya  itu  dibayar dengan uang emas maka  jumlahnya  setara
> dengan  84  Dinar  per  orang.  Untuk  seluruh  jamaah  haji
> Indonesia nilai transaksinya bisa mencapai 16,8 juta Dinar.
>
> Kalau  itu disetujui maka Pemerintah RI tidak perlu  menukar
> Rupiah dengan Dolar terlebih dulu, baru kemudian menyerahkan
> ke  Arab  Saudi.  Dengan  Dinar, Pemerintah  Indonesia  bisa
> langsung menyerahkan uangnnya kepada Pemerintaha Arab Saudi.
> Praktis dan hemat biaya, karena tidak terpotong margin  jual
> beli valuta asing.
>
> Yang menarik, pengguna mata uang Dinar dan Dirham kini tidak
> terbatas di kalangan Muslim saja. Seperti diceritakan Malik,
> di  kota  Norwich, Inggris, komunitas Murabitun di kota  itu
> selama  beberapa tahun terakhir kerap mengadakan pasar  raya
> Muslimin  di akhir pekan dengan menggunakan alat tukar  uang
> Dirham.
>
> "Para  pembeli  ketika memasuki arena pasar menukarkan  uang
> kertas   mereka  ke  Dirham  lalu  menggunakan  Dirham   itu
> berbelanja.  Tidak  hanya  kaum Muslimin,  orang  non-Muslim
> mempergunakannya di pasar raya itu," kisah Malik.
>
> Hal  serupa terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab. "Bahkan sejak
> tahun   2000   pada  acara  Dubai  Shopping  Festival   yang
> berlangsung di bandara kota itu para pengunjung Muslimin dan
> non-Muslim bisa berbelanja berbagai benda dengan menggunakan
> Dinar dan Dirham," kata Malik.
>
> Di  Indonesia  sendiri komunitas Murabitun sudah  menerapkan
> pembayaran upah dan gaji dengan Dinar dan Dirham.  "Misalnya
> untuk  upah  pencetakan buku kami menerima  dalam  Dinar  ,"
> tambah penerjemah buku Sistem Dajal karya Ahmad Thomson itu.
> Begitu  juga beberapa perjanjian qirad dengan teman-temannya
> di Malaysia sudah dilakukan dalam hitungan Dinar .
>
> Tanpa  diketahui banyak orang, ternyata Dompet  Dhuafa  (DD)
> sudah  menerima  pembayaran zakat sejak awal  berdirinya  di
> tahun  1993.  Kini  tengah mempersiapkan  kampanye  berzakat
> dengan  Dinar  dan  Dirham yang akan  digelar  tahun  depan.
> Sementara persiapan berlangsung DD juga tengah mencoba untuk
> menggaji karyawannya dengan Dinar .
>
> Zaim  Saidi,  sebagai salah seorang aktivis LSM yang  paling
> lantang mengkampanyekan Dinar dan Dirham juga tak mau  kalah
> konsekuen. Dalam berrmuamalah sehari-ia hari kerap  mengajak
> orang  menerapkan Dinar . Misalnya tatkala ia menerima honor
> seminar,  Zaim  meminta dibayar dengan Dinar .  Begitu  juga
> jika   PIRAC  menyelenggarakan  seminar,  para  pembicaranya
> ditawari apakah hendak dibayar dengan Dinar atau Rupiah.
>
> Melihat  berbagai  kemajuan itu,  Malik  mengungkapkan  rasa
> optimisnya bahwa masyarakat yang menerapkan Dinar dan Dirham
> akan  terus  bertambah. "Jadi walaupun  masih  dalam  jumlah
> kecil  dan  terbatas-bukan saja di komunitas Murabitun-telah
> terbentang  arena-arena dimana Dinar  dan  Dirham  berfungsi
> sebagaimana  ditegaskan dalam sunnah masyarakat  Islam  awal
> Madinah," kata Malik kepada Suara Hidayatullah (Sahid).
>
> Wakala
>
> Di  samping sosialisasi yang harus digencarkan, menurut Zaim
> Saidi,  perlu juga disediakan infrastrukturnya, antara  lain
> berupa  gerai  penukaran  uang  Dinar  (money  changer)  dan
> wakala, yakni lembaga penitipan uang Dinar dan Dirham  serta
> penyedia jasa transfer. Di lembaga itu orang bisa menitipkan
> uang  Dinar dan Dirhamnya sekaligus dapat mentransfernya  ke
> wakala lain.
>
> "Dengan  demikian jika kita mempunyai rekan bisnis  di  luar
> negeri  kita  tinggal menyetor dinar ke wakala, lalu  wakala
> itu mentransfer uang dinarnya ke rekan bisnis di luar negeri
> melalui  wakala setempat. Prakteknya seperti  kartu  debet,"
> jelas Zaim.
>
> Jasa  transfer demikian kerap disebut sebagai  digital  gold
> currency  atau sistem pembayaran berbasis dinar emas  secara
> elektronik,  via  internet (E-Dinar). Menurut  Zaim,  sistem
> tersebut  kini  telah  berlangsung secara  internasional  di
> bawah   pengelolaan  e-Dinar  Ltd,  sebuah  lembaga   swasta
> berbadan  hukum yang berpusat di Malaysia. Sedangkan  secara
> fisik emasnya disimpan di bawah penjagaan Transguard Storage
> Company di Dubai.
>
> Masih  menurut Zaim, sejak mulai didirikan dan  dioperasikan
> tahun 1997, e-Dinar kini telah mencatat lebih dari 300  ribu
> pemegang rekening Dinar, tersebar di lebih dari 160  negara,
> termasuk  Indonesia.  Bahkan menurut  Malik,  jika  digabung
> dengan pengguna e-Gold, pemegang rekeningnya telah berjumlah
> 700  ribu  orang.  Perkembangan ini boleh dibilang  di  luar
> dugaan,   karena  target  awal  pemegang  rekening  e-Dinar,
> sekitar lima tahun lalu, dipatok hanya 10 ribu orang. Karena
> itu  diperkirakan pada tahun mendatang perkembangannya  akan
> kian pesat.
>
> Dengan  perkembangan  teknologi transfer  digital  tersebut,
> maka  kekhawatiran  sebagian orang tentang  ketidakpraktisan
> membawa  serta menyimpan Dinar dan Dirham akan  terpatahkan.
> "Misalnya Pak Ali pergi ke London dari Jakarta. Di London ia
> ingin  mengambil  Dinar-nya,  maka  dengan  mudah  ia  cukup
> berkunjung  ke  salah  satu wakala di  Mesjid  London,  lalu
> memanfaatkan  internet  di  situ  (atau  pun  lewat   telpon
> gengamnya)  memindahkan e-Dinar nya ke rekening  wakala  itu
> dan  mengambil  Dinar  fisikal  sebagai  tukarannya.  Mudah,
> murah,  aman,  dan cepat. Biaya transfer antar  rekening  e-
> Dinar untuk nilai transfer berapapun maksimal adalah 50  sen
> dolar  AS. Waktu transfer maksimal sekitar 10 detik,"  jelas
> Malik. Kemudahannya tidak berbeda jauh dari penggunaan mesin
> ATM di berbagai lembaga perbankan.
>
> Tapi   agak  berbeda  dengan  bisnis  perbankan,  uang  yang
> disimpan  di  wakala  tidak berstatus  sebagai  hutang  dari
> penitip  kepada  wakala, tetapi sekedar harta  titipan  yang
> dapat  diambil  kapan saja dalam bentuk  uang  emas.  Karena
> statusnya  itu  uang  titipan itu  tidak  boleh  dipinjamkan
> kepada  pihak  ketiga. Wakala mendapatkan keuntungan  semata
> dari  uang  jasa  penitipan dan jasa transfer.  "Begitu  ada
> orang  yang mau membuka usaha demikian maka kemudian program
> ini bisa jalan," tegas Zaim.
>
> Menurut  Malik, Murabitun saat ini baru memilik satu  wakala
> di  Bandung  yang sudah beroperasi sejak tahun  2000.  Empat
> lainnya  akan  menyusul di Jakarta, sebuah di  Medan,  serta
> sebuah lagi di Yogyakarta. Zaim Saidi bersama PIRAC-nya juga
> berencana untuk mendirikan sejumlah wakala di Jakarta.
>
> Ada  kabar  Pesantren  Daarut Tauhiid  telah  membuka  gerai
> penukaran uang Dinar dan wakala. Tapi setelah Sahid mengecek
> langsung  ke  pesantren asuhan Abdullah  Gymnastiar  itu  di
> Bandung ternyata belum ada. Salah seorang pengurus pesantren
> yang  ditemui  di  tempat itu malah mengaku  baru  mendengar
> berita tersebut. Mungkin baru dalam rencana.
>
> Jadi,  cepat atau lambat berbagai lembaga Islam insya  Allah
> akan  ikut  serta  dalam  arus  besar  menghidupkan  kembali
> kejayaan  Dinar  dan Dirham. Ketua Ketua  Badan  Kerja  Sama
> Pondok  Pesantren  se-Indonesia (BKSPPI)  KH  Kholil  Ridwan
> misalnya,  menurut Zaim telah menunjukkan minatnya  terhadap
> usaha  ini.  "Beliau sudah mengundang kami  ke  Bogor  untuk
> membicarakan usaha ini," katanya.
>
> Tantangan
>
> Sesuai  hukum aksi-reaksi, seiring dengan usaha menghidupkan
> kembali  Dinar  dan  Dirham,  tentu  akan  ada  usaha  untuk
> merintanginya,   yakni  mereka  yang   kepentingannya   akan
> terganggu oleh kehadiran uang emas dan perak. Mereka  adalah
> sebuah  kekuatan  yang  tersistem dan mapan,  yang  terutama
> terdiri   dari   orang-orang  yang  selama   ini   menikmati
> keuntungan besar dari sistem riba. Lebih khusus lagi  mereka
> adalah para spekulan yang menumpuk kekayaan dari perdagangan
> maya di pasar uang.
>
> Seorang  bernama  Jay  Taylon,  ungkap  Zaim  Saidi,  pernah
> menulis  artikel  yang disebarluaskan  lewat  internet  yang
> mengingatkan pada masyarakat bahwa Dinar adalah Islamic Bomb
> yang  sesungguhnya-dan  bukan bom nuklir  yang  dibuat  oleh
> Pakistan.  Kemudian  Necmettin Erbakan  segera  dijungkalkan
> dari  jabatannya sebagai Perdana Menteri Turki oleh  militer
> negara  sekuler  itu setelah ia mulai mengkampanyekan  dinar
> sebagai alternatif pembayaran internasional.
>
> Namun   sebesar   apapun  usaha  mereka   untuk   merintangi
> penghidupan  kembali Dinar dan Dirham,  kita  sebagai  ummat
> Islam  harus  tetap terus memperjuangkannya. Sebab  fenomena
> ekonomi  dunia yang kita hadapi sekarang justru  kian  jelas
> menunjukkan keunggulan uang emas dan perak serta  sebaliknya
> menunjukkan kian lemahnya kekuatan uang kertas.
>
> Uang  kertas,  terutama Dolar, sekarang ini  nampak  seperti
> sedang jaya-jayanya, terus membesar dan meraksasa. Namun  di
> balik  itu  sebenarnya  uang  kertas  sedang  dalam  keadaan
> menggelembung untuk suatu saat meledak.
>
> Itulah  sebabnya  orang seperti Umar Ibrahim  Vadillo  telah
> mengeluarkan  fatwa untuk segera meninggalkan  uang  kertas,
> terutama  Dolar.  Menurutnya dunia  kini  dibanjiri  terlalu
> banyak Dolar. Di pasar uang dunia kini transaksi Dolar telah
> mencapai  angka  800 trilyun Dolar AS per  tahun.  Sementara
> nilai perdagangan dunia yang merupakan sektor nil 'hanya'  4
> trilyun Dolar AS per tahun. Artinya, transaksi di pasar uang
> itu  besarnya  20  kali  lipat nilai  transaksi  perdagangan
> sektor riil.
>
> Kondisi  demikian  jelas mencemaskan,  karena  transaksi  di
> pasar  uang  sesungguhnya bersifat maya,  karena  tidak  ada
> barang   yang  diperdagangkan,  kecuali  uang  itu  sendiri.
> Fenomena   itu  kerap  disebut  ekonomi  gelembung   (bubble
> economy),  karena  nilainya yang  begitu  besar,  tapi  pada
> hakekatnya tidak ada barang riil yang diperdagangkan. Karena
> itu  kita  tinggal  menantikan saatnya  gelembung  uang  itu
> meledak, lalu meruntuhkan ekonomi global.
>
> Pemerintah Malaysia telah memahami bahaya yanag akan  muncul
> setelah gelembung Dolar itu meledak. Sehingga mereka  sangat
> komit  pada  upaya penerapan Dinar dan Dirham. Namun  sejauh
> ini   Pemerintah  Indonesia  belum  menampakkan   kepedulian
> terhadap mata uang emas dan perak itu. "Jangankan mendukung,
> peduli  saja  belum. Sebab Pemerintah Indonesia tidak  punya
> visi dan misi," kata Zaim Saidi.
>
> Sikap  yang  seperti  itu jelas terasa aneh,  karena  dampak
> akibat  krisis  moneter yang dialami Indonesia  jelas  lebih
> parah  daripada  yang dialami Malaysia. Sehingga  seharusnya
> Indonesia lebih peduli dan antusias menggunakan Dinar  untuk
> mengantisipasi dari krisis yang mungkin akan datang lagi.
>
> Bank   Indonesia   (BI)   sebagai  lembaga   yang   bertugas
> mengendalikan peredaran uang di Indonesia sementara ini baru
> sampai  pada tahap mengkaji Dinar . Seperti dikatakan Kepala
> Biro   Perbankan  Syariah  BI,  Harisman  kepada   Republika
> (22/8/02),  bulan  Agustus silam ia telah  mengirim  seorang
> stafnya  untuk  mengikuti seminar  tentang  Dinar  di  Kuala
> Lumpur, Malaysia.
>
> Namun  kepada Sahid, Zaim Saidi mengaku tidak yakin BI  akan
> mendukung  penerapan Dinar di Indonesia.  "Selama  BI  masih
> mengelola  sistem  riba  maka mereka  tidak  akan  mendukung
> penerapan  Dinar  dan  Dirham,"  kata  Ketua  PIRAC  itu  di
> kantornya.
>
> Tantangan  lainnya  mungkin  berupa  semacam  efek  hambatan
> psikologis bagi kalangan non-Muslim yang menanggap Dinar dan
> Dirham uang khusus ummat Islam. Hambatan psikologis demikian
> bisa  dihilangkan  dengan mengingatkan  sejarah  Dinar  yang
> berasal  dari Kerajaan Bizantium yang raja dan masyarakatnya
> waktu  itu  meyoritas beragama Nasrani serta sejarah  Dirham
> yang berasal dari Persia, yang raja dan rakyatnya waktu  itu
> kebanyakan  beragama Majusi. Jika ada hambatan  seperti  itu
> Adiwarman Karim melalui Gamma mengusulkan penggunaan istilah
> selain  Dinar. "Enggak usah bilang Dinar. Katakan saja  gold
> money," kata Direktur Karim Institute itu.
>
> Pernyataan   Adiwarman  ada  benarnya.  Lepas  dari   apapun
> istilahnya,   yang   penting   dapat   bertransaksi   dengan
> menggunakan uang emas, bukan uang kertas. Sebab jika menilik
> sejarah,  ummat Islam sejak dahulu sudah biasa  bertransaksi
> menggunakan  uang  emas  dengan pihak  non  Muslim.  Seperti
> diungkap  Andhi Raharjo Eko, pengurus Murabitun di  Bandung,
> uang emas dan perak sangat lazim digunakan dalam perdagangan
> antar bangsa yang berbeda bahasa dan agamanya.
>
> VOC  ketika  bertransaksi  dengan  sultan  dan  penguasa  di
> Nusantara menggunakan uang emas dan perak. Bangsa kita  jual
> rempah-rempah,  dibayar VOC dengan emas dan perak.  Sehingga
> ada  keseimbangan, ada kekayaan alam yang  dibawa  tapi  ada
> kekayaan  pula yang masuk. "Maka tidak heran kalau kerajaan-
> kerajaan  di  Nusantara  hari ini walaupun  tidak  mempunyai
> kewenangan hukum, tapi mereka masih punya harta karun berupa
> emas dan perak yang banyak. Bisa dibayangkan, kalau dulu VOC
> menggunakan uang kertas, apa masih bisa berlaku  untuk  saat
> ini?" tanya Andhi.
>
> Tentu  saja  tidak. Karenanya, tidak pernah ada harta  karun
> yang berupa uang kertas. Uang yang dicari oleh pemburu harta
> karun  sampai  ke dasar laut dan ke perut bumi  adalah  uang
> emas dan uang perak. Bukan uang kertas. Sebab uang emas  dan
> perak,  meski telah tenggelam di dalam samudra atau terkubur
> di  perut  bumi  hingga seribu tahun, tetap bernilai  mahal.
> Daya  belinya  tetap utuh. Seribu tahun yang  lalu  sekeping
> uang  emas  dapat  untuk  membeli  seekor  kambing,  setelah
> ditemukan  kembali seribu tahun kemudian sekeping uang  emas
> itu  tetap laku untuk membeli seekor kambing. Tidak demikian
> dengan  uang kertas. Dalam tempo setahun saja sudah  menjadi
> lusuh.  Lalu  menjadi tidak laku sama sekali dalam  beberapa
> tahun kemudian. Berbeda sekali.
>
> Kalau  begitu,  kita perlu ucapkan, "Selamat datang  kembali
> Dinar  dan  Dirham.  Selamat tinggal  uang  kertas.  Selamat
> tinggal Dolar!" ***
>
> ------------------------------------------------------------
> Artikel tersebut bisa dibaca di Majalah Suara Hidayatullah
> edisi Oktober 2002
>

-- 
*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_:-.,_,.-:*

DANA MITRA LINGKUNGAN {Friends of the Environment Fund}
Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati, Blok B1/12
Jl. RS. Fatmawati 39, Jakarta 12150 - INDONESIA
Telp. : (62-21) 724 8884, 724 8885 | Fax. : (62-21) 724 8883
Email : [EMAIL PROTECTED] | URL# http://www.dml.or.id

The 4th APRCP @ http://aprcp.dml.or.id
FORLINK @ http://forlink.dml.or.id 
Bursa Limbah @ http://w2p.dml.or.id
Forum KMB Indonesia @ http://forumkmb.dml.or.id
Join Milis PB, kirim email ke mailto:[EMAIL PROTECTED]

*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_:-.,_,.-:*


--  
~~~~~~ PRODUKSI BERSIH (PB) MAILING LIST ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Posting  =  [EMAIL PROTECTED]
Berhenti  =  Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Berlangganan  =  Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Administrator  =  mailto:[EMAIL PROTECTED]
Arsip  =  http://www.mail-archive.com/[email protected]/

FORLINK @ http://www.forlink.dml.or.id
Environmental News @ http://forlink.dml.or.id/e-news/
Forum KMB Indonesia @ http://www.forumkmb.dml.or.id
Bursa Limbah Indonesia @ http://www.w2p.dml.or.id

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Kirim email ke