FYI :-)
>
> Pakai Dinar, Tinggalkan Dolar!
>
> :: saiful_hamiwanto :: Jumat, 11 Oktober 2002
>
> Mata uang emas Dinar dan uang perak Dirham telah mulai
> digunakan kembali oleh sebagian masyarakat Muslim dan non-
> Muslim sejak sepuluh tahun terakhir. Jika telah meluas,
> insya Allah akan menggeser dominasi Dolar.
>
> Kalau Anda seorang pedagang barang atau penjual jasa, jangan
> heran jika suatu saat ada orang yang menawarkan pembayaran
> dengan menggunakan uang emas Dinar dan uang perak Dirham.
> Juga jangan heran jika suatu saat pegawai Anda minta digaji
> dengan kedua mata uang tersebut.
>
> Memang, Dinar dan Dirham merupakan mata uang zaman dulu.
> Keduanya lazim digunakan pada masa Nabi Muhammad saw masih
> hidup empat belas abad silam. Dinar dan Dirham telah lama
> hanya menjadi bahan cerita dan kenangan tentang mata uang di
> masa lampau. Tapi patut diketahui, mata uang tersebut kini
> telah 'hidup kembali', terutama sejak Perdana Menteri
> Malaysia, Mahathir Muhammad, menyatakan hendak menggunakan
> Dinar sebagai alat tukar perdagangan negaranya dengan negara-
> negara Muslim di tahun 2003 mendatang.
>
> Mahathir jelas punya andil besar dalam menghidupkan kembali
> Dinar , tetapi sesungguhnya dia bukanlah orang pertama yang
> melakukannya. Sebelum Mahathir mengungkapkan dukungannya
> terhadap Dinar , bahkan jauh hari sebelum terjadi krisis
> moneter yang melanda negara-negara di Asia, pada 18 Agustus
> 1991 sebuah komunitas Muslim di Eropa yang bernama
> 'Murabitun' telah mengeluarkan fatwa tentang 'Larangan
> Pemakaian Uang Kertas sebagai Alat Tukar'. Mereka kemudian
> mencetak mata uang emas Dinar serta mata uang perak Dirham
> sebagai pengganti uang kertas yang telah mereka haramkan.
>
> Pencetakan Dinar dan Dirham pertama kali dilakukan di
> Granada, Spanyol, tahun 1992. Dari salah satu kota di bekas
> wilayah kekhalifahan Islam di Andalusia tersebut Dinar dan
> Dirham kemudian disebar ke 22 negara oleh para jamaah
> Murabitun. Indonesia tidak ketinggalan, ikut kecipratan dua
> mata uang tersebut. Bahkan menurut Malik Abdulhaqq Dwito
> Hermanadi, liaison officer Murabitun Nusantara, sejak 1999
> Dinar dan Dirham telah dicetak di Indonesia melalui PT Logam
> Mulia, sebuah BUMN anak perusahaan PT Aneka Tambang.
>
> Uang emas dan perak itu kemudian disebarluaskan oleh para
> jamaah Murabitun Nusantara ke berbagai wilayah di Indonesia
> dan ke luar negeri melalui jaringan Murabitun International.
>
> Jumlah yang disebar memang belum begitu banyak. Menurut
> Malik, sejak dicetak pertama kali oleh PT Logam Mulia hingga
> kini baru beredar sekitar 1.000 keping uang Dinar dan 3.000
> keping uang Dirham. Namun menurut Direktur Public Interest
> Research and Advocacy Center (PIRAC), Zaim Saidi, jika Dinar
> dan Dirham sudah dikenal oleh masyarakat luas, kebutuhan
> terhadap mata uang tersebut akan terus besar, mengingat
> konsumsi logam mulia masyarakat Indonesia yang cukup
> lumayan. Berdasar data terakhir, kebutuhan konsumsi
> masyarakat Indonesia terhadap emas setiap tahunnya tidak
> kurang dari 25 ton emas. "Itu artinya setara dengan 5,88
> juta Dinar ," ungkap Zaim.
>
> Saat ini konsumsi emas tersebut sebagian besar memang masih
> untuk pembuatan perhiasan. Namun jika kesadaran masyarakat
> sudah semakin meningkat serta infrastruktur pelayanannya
> sudah tersedia maka bisa diharapkan permintaan emas untuk
> pembuatan Dinar juga akan semakin meningkat.
>
> Perkiraan tersebut tidak berlebihan mengingat beberapa tahun
> terakhir masyarakat luas sudah dikenalkan dengan koin emas
> ONH (Ongkos Naik Haji) yang dikeluarkan oleh PT Pegadaian.
> Bahkan Pemerintah pernah pula mengeluarkan koin emas
> peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke-50, peringatan 100
> tahun Bung Karno serta peringatan 100 tahun Bung Hatta,
> meski dengan jumlah cetakan yang sangat terbatas. Jadi
> pemanfaatan Dinar dan Dirham oleh masyarakat luas
> sesungguhnya tinggal menunggu waktu saja. Tinggal diberi
> percepatan dengan kampanye yang intensif.
>
> Dinar untuk ONH Setelah Pemerintah RI melalui PT Pegadaian
> mencetak koin emas ONH sepatutnya Pemerintah juga menetapkan
> perhitungan dan pembayaran biaya perjalanan ibadah haji
> (BPIH, nama baru dari ONH) dengan mata uang emas Dinar.
> Seperti diketahui, selama ini biaya perjalanan haji
> menggunakan patokan nilai Dolar, karena untuk bertransaksi
> dengan Arab Saudi, Pemerintah RI menggunakan Dolar. Sehingga
> tentu saja yang diuntungkan Amerika.
>
> Dengan jumlah jamaah haji sekitar 200 ribu orang per tahun,
> sebenarnya Indonesia-negara dengan jamaah haji paling
> banyak-punya posisi tawar (bargaining position) yang kuat
> terhadap pemerintah Arab Saudi. Jika Pemerintah RI
> menawarkan pembayaran dengan Dinar kepada pemerintah Arab
> Saudi, kemungkinan besar disetujui. Sebab nilainya begitu
> besar. Kalau biaya perjalanan haji di tahun ini Rp 25 juta
> per orang, dan jika harga emas per gram Rp 70.000 maka jika
> biaya itu dibayar dengan uang emas maka jumlahnya setara
> dengan 84 Dinar per orang. Untuk seluruh jamaah haji
> Indonesia nilai transaksinya bisa mencapai 16,8 juta Dinar.
>
> Kalau itu disetujui maka Pemerintah RI tidak perlu menukar
> Rupiah dengan Dolar terlebih dulu, baru kemudian menyerahkan
> ke Arab Saudi. Dengan Dinar, Pemerintah Indonesia bisa
> langsung menyerahkan uangnnya kepada Pemerintaha Arab Saudi.
> Praktis dan hemat biaya, karena tidak terpotong margin jual
> beli valuta asing.
>
> Yang menarik, pengguna mata uang Dinar dan Dirham kini tidak
> terbatas di kalangan Muslim saja. Seperti diceritakan Malik,
> di kota Norwich, Inggris, komunitas Murabitun di kota itu
> selama beberapa tahun terakhir kerap mengadakan pasar raya
> Muslimin di akhir pekan dengan menggunakan alat tukar uang
> Dirham.
>
> "Para pembeli ketika memasuki arena pasar menukarkan uang
> kertas mereka ke Dirham lalu menggunakan Dirham itu
> berbelanja. Tidak hanya kaum Muslimin, orang non-Muslim
> mempergunakannya di pasar raya itu," kisah Malik.
>
> Hal serupa terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab. "Bahkan sejak
> tahun 2000 pada acara Dubai Shopping Festival yang
> berlangsung di bandara kota itu para pengunjung Muslimin dan
> non-Muslim bisa berbelanja berbagai benda dengan menggunakan
> Dinar dan Dirham," kata Malik.
>
> Di Indonesia sendiri komunitas Murabitun sudah menerapkan
> pembayaran upah dan gaji dengan Dinar dan Dirham. "Misalnya
> untuk upah pencetakan buku kami menerima dalam Dinar ,"
> tambah penerjemah buku Sistem Dajal karya Ahmad Thomson itu.
> Begitu juga beberapa perjanjian qirad dengan teman-temannya
> di Malaysia sudah dilakukan dalam hitungan Dinar .
>
> Tanpa diketahui banyak orang, ternyata Dompet Dhuafa (DD)
> sudah menerima pembayaran zakat sejak awal berdirinya di
> tahun 1993. Kini tengah mempersiapkan kampanye berzakat
> dengan Dinar dan Dirham yang akan digelar tahun depan.
> Sementara persiapan berlangsung DD juga tengah mencoba untuk
> menggaji karyawannya dengan Dinar .
>
> Zaim Saidi, sebagai salah seorang aktivis LSM yang paling
> lantang mengkampanyekan Dinar dan Dirham juga tak mau kalah
> konsekuen. Dalam berrmuamalah sehari-ia hari kerap mengajak
> orang menerapkan Dinar . Misalnya tatkala ia menerima honor
> seminar, Zaim meminta dibayar dengan Dinar . Begitu juga
> jika PIRAC menyelenggarakan seminar, para pembicaranya
> ditawari apakah hendak dibayar dengan Dinar atau Rupiah.
>
> Melihat berbagai kemajuan itu, Malik mengungkapkan rasa
> optimisnya bahwa masyarakat yang menerapkan Dinar dan Dirham
> akan terus bertambah. "Jadi walaupun masih dalam jumlah
> kecil dan terbatas-bukan saja di komunitas Murabitun-telah
> terbentang arena-arena dimana Dinar dan Dirham berfungsi
> sebagaimana ditegaskan dalam sunnah masyarakat Islam awal
> Madinah," kata Malik kepada Suara Hidayatullah (Sahid).
>
> Wakala
>
> Di samping sosialisasi yang harus digencarkan, menurut Zaim
> Saidi, perlu juga disediakan infrastrukturnya, antara lain
> berupa gerai penukaran uang Dinar (money changer) dan
> wakala, yakni lembaga penitipan uang Dinar dan Dirham serta
> penyedia jasa transfer. Di lembaga itu orang bisa menitipkan
> uang Dinar dan Dirhamnya sekaligus dapat mentransfernya ke
> wakala lain.
>
> "Dengan demikian jika kita mempunyai rekan bisnis di luar
> negeri kita tinggal menyetor dinar ke wakala, lalu wakala
> itu mentransfer uang dinarnya ke rekan bisnis di luar negeri
> melalui wakala setempat. Prakteknya seperti kartu debet,"
> jelas Zaim.
>
> Jasa transfer demikian kerap disebut sebagai digital gold
> currency atau sistem pembayaran berbasis dinar emas secara
> elektronik, via internet (E-Dinar). Menurut Zaim, sistem
> tersebut kini telah berlangsung secara internasional di
> bawah pengelolaan e-Dinar Ltd, sebuah lembaga swasta
> berbadan hukum yang berpusat di Malaysia. Sedangkan secara
> fisik emasnya disimpan di bawah penjagaan Transguard Storage
> Company di Dubai.
>
> Masih menurut Zaim, sejak mulai didirikan dan dioperasikan
> tahun 1997, e-Dinar kini telah mencatat lebih dari 300 ribu
> pemegang rekening Dinar, tersebar di lebih dari 160 negara,
> termasuk Indonesia. Bahkan menurut Malik, jika digabung
> dengan pengguna e-Gold, pemegang rekeningnya telah berjumlah
> 700 ribu orang. Perkembangan ini boleh dibilang di luar
> dugaan, karena target awal pemegang rekening e-Dinar,
> sekitar lima tahun lalu, dipatok hanya 10 ribu orang. Karena
> itu diperkirakan pada tahun mendatang perkembangannya akan
> kian pesat.
>
> Dengan perkembangan teknologi transfer digital tersebut,
> maka kekhawatiran sebagian orang tentang ketidakpraktisan
> membawa serta menyimpan Dinar dan Dirham akan terpatahkan.
> "Misalnya Pak Ali pergi ke London dari Jakarta. Di London ia
> ingin mengambil Dinar-nya, maka dengan mudah ia cukup
> berkunjung ke salah satu wakala di Mesjid London, lalu
> memanfaatkan internet di situ (atau pun lewat telpon
> gengamnya) memindahkan e-Dinar nya ke rekening wakala itu
> dan mengambil Dinar fisikal sebagai tukarannya. Mudah,
> murah, aman, dan cepat. Biaya transfer antar rekening e-
> Dinar untuk nilai transfer berapapun maksimal adalah 50 sen
> dolar AS. Waktu transfer maksimal sekitar 10 detik," jelas
> Malik. Kemudahannya tidak berbeda jauh dari penggunaan mesin
> ATM di berbagai lembaga perbankan.
>
> Tapi agak berbeda dengan bisnis perbankan, uang yang
> disimpan di wakala tidak berstatus sebagai hutang dari
> penitip kepada wakala, tetapi sekedar harta titipan yang
> dapat diambil kapan saja dalam bentuk uang emas. Karena
> statusnya itu uang titipan itu tidak boleh dipinjamkan
> kepada pihak ketiga. Wakala mendapatkan keuntungan semata
> dari uang jasa penitipan dan jasa transfer. "Begitu ada
> orang yang mau membuka usaha demikian maka kemudian program
> ini bisa jalan," tegas Zaim.
>
> Menurut Malik, Murabitun saat ini baru memilik satu wakala
> di Bandung yang sudah beroperasi sejak tahun 2000. Empat
> lainnya akan menyusul di Jakarta, sebuah di Medan, serta
> sebuah lagi di Yogyakarta. Zaim Saidi bersama PIRAC-nya juga
> berencana untuk mendirikan sejumlah wakala di Jakarta.
>
> Ada kabar Pesantren Daarut Tauhiid telah membuka gerai
> penukaran uang Dinar dan wakala. Tapi setelah Sahid mengecek
> langsung ke pesantren asuhan Abdullah Gymnastiar itu di
> Bandung ternyata belum ada. Salah seorang pengurus pesantren
> yang ditemui di tempat itu malah mengaku baru mendengar
> berita tersebut. Mungkin baru dalam rencana.
>
> Jadi, cepat atau lambat berbagai lembaga Islam insya Allah
> akan ikut serta dalam arus besar menghidupkan kembali
> kejayaan Dinar dan Dirham. Ketua Ketua Badan Kerja Sama
> Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) KH Kholil Ridwan
> misalnya, menurut Zaim telah menunjukkan minatnya terhadap
> usaha ini. "Beliau sudah mengundang kami ke Bogor untuk
> membicarakan usaha ini," katanya.
>
> Tantangan
>
> Sesuai hukum aksi-reaksi, seiring dengan usaha menghidupkan
> kembali Dinar dan Dirham, tentu akan ada usaha untuk
> merintanginya, yakni mereka yang kepentingannya akan
> terganggu oleh kehadiran uang emas dan perak. Mereka adalah
> sebuah kekuatan yang tersistem dan mapan, yang terutama
> terdiri dari orang-orang yang selama ini menikmati
> keuntungan besar dari sistem riba. Lebih khusus lagi mereka
> adalah para spekulan yang menumpuk kekayaan dari perdagangan
> maya di pasar uang.
>
> Seorang bernama Jay Taylon, ungkap Zaim Saidi, pernah
> menulis artikel yang disebarluaskan lewat internet yang
> mengingatkan pada masyarakat bahwa Dinar adalah Islamic Bomb
> yang sesungguhnya-dan bukan bom nuklir yang dibuat oleh
> Pakistan. Kemudian Necmettin Erbakan segera dijungkalkan
> dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Turki oleh militer
> negara sekuler itu setelah ia mulai mengkampanyekan dinar
> sebagai alternatif pembayaran internasional.
>
> Namun sebesar apapun usaha mereka untuk merintangi
> penghidupan kembali Dinar dan Dirham, kita sebagai ummat
> Islam harus tetap terus memperjuangkannya. Sebab fenomena
> ekonomi dunia yang kita hadapi sekarang justru kian jelas
> menunjukkan keunggulan uang emas dan perak serta sebaliknya
> menunjukkan kian lemahnya kekuatan uang kertas.
>
> Uang kertas, terutama Dolar, sekarang ini nampak seperti
> sedang jaya-jayanya, terus membesar dan meraksasa. Namun di
> balik itu sebenarnya uang kertas sedang dalam keadaan
> menggelembung untuk suatu saat meledak.
>
> Itulah sebabnya orang seperti Umar Ibrahim Vadillo telah
> mengeluarkan fatwa untuk segera meninggalkan uang kertas,
> terutama Dolar. Menurutnya dunia kini dibanjiri terlalu
> banyak Dolar. Di pasar uang dunia kini transaksi Dolar telah
> mencapai angka 800 trilyun Dolar AS per tahun. Sementara
> nilai perdagangan dunia yang merupakan sektor nil 'hanya' 4
> trilyun Dolar AS per tahun. Artinya, transaksi di pasar uang
> itu besarnya 20 kali lipat nilai transaksi perdagangan
> sektor riil.
>
> Kondisi demikian jelas mencemaskan, karena transaksi di
> pasar uang sesungguhnya bersifat maya, karena tidak ada
> barang yang diperdagangkan, kecuali uang itu sendiri.
> Fenomena itu kerap disebut ekonomi gelembung (bubble
> economy), karena nilainya yang begitu besar, tapi pada
> hakekatnya tidak ada barang riil yang diperdagangkan. Karena
> itu kita tinggal menantikan saatnya gelembung uang itu
> meledak, lalu meruntuhkan ekonomi global.
>
> Pemerintah Malaysia telah memahami bahaya yanag akan muncul
> setelah gelembung Dolar itu meledak. Sehingga mereka sangat
> komit pada upaya penerapan Dinar dan Dirham. Namun sejauh
> ini Pemerintah Indonesia belum menampakkan kepedulian
> terhadap mata uang emas dan perak itu. "Jangankan mendukung,
> peduli saja belum. Sebab Pemerintah Indonesia tidak punya
> visi dan misi," kata Zaim Saidi.
>
> Sikap yang seperti itu jelas terasa aneh, karena dampak
> akibat krisis moneter yang dialami Indonesia jelas lebih
> parah daripada yang dialami Malaysia. Sehingga seharusnya
> Indonesia lebih peduli dan antusias menggunakan Dinar untuk
> mengantisipasi dari krisis yang mungkin akan datang lagi.
>
> Bank Indonesia (BI) sebagai lembaga yang bertugas
> mengendalikan peredaran uang di Indonesia sementara ini baru
> sampai pada tahap mengkaji Dinar . Seperti dikatakan Kepala
> Biro Perbankan Syariah BI, Harisman kepada Republika
> (22/8/02), bulan Agustus silam ia telah mengirim seorang
> stafnya untuk mengikuti seminar tentang Dinar di Kuala
> Lumpur, Malaysia.
>
> Namun kepada Sahid, Zaim Saidi mengaku tidak yakin BI akan
> mendukung penerapan Dinar di Indonesia. "Selama BI masih
> mengelola sistem riba maka mereka tidak akan mendukung
> penerapan Dinar dan Dirham," kata Ketua PIRAC itu di
> kantornya.
>
> Tantangan lainnya mungkin berupa semacam efek hambatan
> psikologis bagi kalangan non-Muslim yang menanggap Dinar dan
> Dirham uang khusus ummat Islam. Hambatan psikologis demikian
> bisa dihilangkan dengan mengingatkan sejarah Dinar yang
> berasal dari Kerajaan Bizantium yang raja dan masyarakatnya
> waktu itu meyoritas beragama Nasrani serta sejarah Dirham
> yang berasal dari Persia, yang raja dan rakyatnya waktu itu
> kebanyakan beragama Majusi. Jika ada hambatan seperti itu
> Adiwarman Karim melalui Gamma mengusulkan penggunaan istilah
> selain Dinar. "Enggak usah bilang Dinar. Katakan saja gold
> money," kata Direktur Karim Institute itu.
>
> Pernyataan Adiwarman ada benarnya. Lepas dari apapun
> istilahnya, yang penting dapat bertransaksi dengan
> menggunakan uang emas, bukan uang kertas. Sebab jika menilik
> sejarah, ummat Islam sejak dahulu sudah biasa bertransaksi
> menggunakan uang emas dengan pihak non Muslim. Seperti
> diungkap Andhi Raharjo Eko, pengurus Murabitun di Bandung,
> uang emas dan perak sangat lazim digunakan dalam perdagangan
> antar bangsa yang berbeda bahasa dan agamanya.
>
> VOC ketika bertransaksi dengan sultan dan penguasa di
> Nusantara menggunakan uang emas dan perak. Bangsa kita jual
> rempah-rempah, dibayar VOC dengan emas dan perak. Sehingga
> ada keseimbangan, ada kekayaan alam yang dibawa tapi ada
> kekayaan pula yang masuk. "Maka tidak heran kalau kerajaan-
> kerajaan di Nusantara hari ini walaupun tidak mempunyai
> kewenangan hukum, tapi mereka masih punya harta karun berupa
> emas dan perak yang banyak. Bisa dibayangkan, kalau dulu VOC
> menggunakan uang kertas, apa masih bisa berlaku untuk saat
> ini?" tanya Andhi.
>
> Tentu saja tidak. Karenanya, tidak pernah ada harta karun
> yang berupa uang kertas. Uang yang dicari oleh pemburu harta
> karun sampai ke dasar laut dan ke perut bumi adalah uang
> emas dan uang perak. Bukan uang kertas. Sebab uang emas dan
> perak, meski telah tenggelam di dalam samudra atau terkubur
> di perut bumi hingga seribu tahun, tetap bernilai mahal.
> Daya belinya tetap utuh. Seribu tahun yang lalu sekeping
> uang emas dapat untuk membeli seekor kambing, setelah
> ditemukan kembali seribu tahun kemudian sekeping uang emas
> itu tetap laku untuk membeli seekor kambing. Tidak demikian
> dengan uang kertas. Dalam tempo setahun saja sudah menjadi
> lusuh. Lalu menjadi tidak laku sama sekali dalam beberapa
> tahun kemudian. Berbeda sekali.
>
> Kalau begitu, kita perlu ucapkan, "Selamat datang kembali
> Dinar dan Dirham. Selamat tinggal uang kertas. Selamat
> tinggal Dolar!" ***
>
> ------------------------------------------------------------
> Artikel tersebut bisa dibaca di Majalah Suara Hidayatullah
> edisi Oktober 2002
>
--
*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_:-.,_,.-:*
DANA MITRA LINGKUNGAN {Friends of the Environment Fund}
Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati, Blok B1/12
Jl. RS. Fatmawati 39, Jakarta 12150 - INDONESIA
Telp. : (62-21) 724 8884, 724 8885 | Fax. : (62-21) 724 8883
Email : [EMAIL PROTECTED] | URL# http://www.dml.or.id
The 4th APRCP @ http://aprcp.dml.or.id
FORLINK @ http://forlink.dml.or.id
Bursa Limbah @ http://w2p.dml.or.id
Forum KMB Indonesia @ http://forumkmb.dml.or.id
Join Milis PB, kirim email ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_,.-:*'``'*:-.,_:-.,_,.-:*
--
~~~~~~ PRODUKSI BERSIH (PB) MAILING LIST ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Posting = [EMAIL PROTECTED]
Berhenti = Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Berlangganan = Kirim Email kosong ke mailto:[EMAIL PROTECTED]
Administrator = mailto:[EMAIL PROTECTED]
Arsip = http://www.mail-archive.com/[email protected]/
FORLINK @ http://www.forlink.dml.or.id
Environmental News @ http://forlink.dml.or.id/e-news/
Forum KMB Indonesia @ http://www.forumkmb.dml.or.id
Bursa Limbah Indonesia @ http://www.w2p.dml.or.id
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~