"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku ia tidak dapat menjadi muridKu" (Rm 13:8-10; Luk 14:25-33)
"Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap- tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk 14:25-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan- catatan sederhana sebagai berikut: Setiap orang sesuai dengan usia, jabatan atau tugas memiliki kewajiban yang harus dikerjakan atau dihayati dengan baik. Pelajar atau mahasiswa memiliki tugas kewajiban untuk belajar, pekerja atau pegawai memiliki tugas kewajiban untuk bekerja, pejabat memiliki tugas kewajiban untuk melayani rakyat dst..; suami-isteri memiliki tugas panggilan untuk saling mengasihi baik dalam untung dan malang sampai mati, dan kita semua yang beriman pada Yesus memiliki tugas panggilan untuk saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga/kekuatan. Para imam memiliki tugas panggilan untuk menjadi penyalur berkat Tuhan kepada sesama dan doa/keluh kesah sesama kepada Tuhan, sedangkan para anggota Lembaga Hidup Bakti memiliki tugas panggilan untuk berbakti sepenuhnya kepada Tuhan dan sesamanya. Melakanakan atau menghayati tugas kewajiban atau panggilan tersebut memang bagaikan `memikul salib' alias harus siap sedia untuk berjuang dan berkorban serta menderita. Namun jika kita dapat melaksanakan atau menghayati kewajiban dan panggilan tersebut dengan setia, baik, dan sepenuhnya kiranya kita akan selamat dan bahagia salama-lamanya. Maka marilah kita `melepaskan diri dan segala milik' kita untuk melaksanakan atau menghayati kewajiban dan panggilan tersebut artinya dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga/kekuatan melaksanakan atau menghayati kewajiban atau panggilan tersebut, sehingga masing-masing dari kita layak disebut sebagai pelajar/mahasiswa, pekerja/pegawai, suami-isteri, imam, bruder atau suster. Hendaknya dengan rendah hati dan lemah lembut kita saling membantu dan mengingatkan perihal tugas ,panggilan dan kewajiban kita masing-masing. "Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat " (Rm 13:8-10), demikian nasehat atau peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua. Setiap manusia diciptakan, dilahirkan, dibesarkan dalam dan oleh kasih atau `buah kasih' alias kasih. Maka ajakan untuk mengasihi sesama manusia hemat saya merupakan tugas yang mudah: bertemu dengan sesama manusia berarti bertemu kasih, maka terjadilah kasih bertemu dengan kasih sehingga saling mengasihi. Sapa, dekati, sentuh dan perlakukan sesama atau saudara-saudari kita dalam dan oleh kasih, dengan demikian mereka juga akan menanggapi dengan kasih juga. "Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendir, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (1Kor 13:4-7) Kita semua telah menerima kasih itu dengan melimpah ruah dari sesama kita, terutama orangtua kita masing-masing, maka marilah kita teruskan dan sebarluaskan kepada sesama dan saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. "Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya."(Mzm 112:1-2.4-5) Jakarta, 7 November 2007
