"Public education" tidak cukup hanya memberikan pengetahuan bagaimana
menghindari bencana tapi juga memelihara alat pantau bencana.rdp

Pencuri Gasak Pendeteksi Gempa dan Tsunami di Gunung
Srawet<http://www.republika.co.id/breaking-news/nusantara/10/07/28/127272-pencuri-gasak-pendeteksi-gempa-dan-tsunami-di-gunung-srawet>
Rabu,
28 Juli 2010, 21:52 WIB
  [image: 
Smaller]<http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/07/28/127272-pencuri-gasak-pendeteksi-gempa-dan-tsunami-di-gunung-srawet#>
[image: 
Reset]<http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/07/28/127272-pencuri-gasak-pendeteksi-gempa-dan-tsunami-di-gunung-srawet#>
[image: 
Larger]<http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/07/28/127272-pencuri-gasak-pendeteksi-gempa-dan-tsunami-di-gunung-srawet#>

REPUBLIKA.CO.ID,BANYUWANGI--Alat pendeteksi gempa dan tsunami milik Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas III Banyuwangi, Jawa
Timur, yang dipasang di Puncak Gunung Srawet Desa Kebondalem Kecamatan
Bangorejo, diduga dirusak dan dicuri orang.

Kepastian hilangnya peralatan penting untuk memantau terjadinya gempa dan
tsunami secara nasional itu setelah petugas BMKG Kelas III Banyuwangi
melakukan pengecekan di lapangan, Rabu. Petugas BMKG hanya menemukan
beberapa sisa peralatan yang ditinggal pelaku di sekitar lokasi kejadian.

Akibat kejadian ini, BMKG tidak saja menderita kerugian materi Rp500 juta
lebih, tetapi saat ini BMKG juga tidak bisa melakukan pendeteksian terhadap
segala kemungkinan terjadinya gempa dan tsunami di beberapa wilayah
Indonesia.

Menurut Gusmin, petugas penjaga sensor gempa Kantor BMKG Kelas III
Banyuwangi hanya mendapati sisa-sisa perusakan alat yang telah hilang dari
tempatnya. Bahkan, pelaku yang diduga lebih dari dua orang itu tidak puas
merusak serta mencuri peralatan penting tersebut, tetapi juga merobohkan
tower milik BMKG yang berfungsi sebagai tiang pemancar laporan hasil
pendeteksi gempa dan tsunami. Sehingga praktis peralatan milik negara
tersebut tidak dapat berfungsi karena hanya tersisa satu lembar solarsel dan
itupun juga sudah rusak.

Kepala BMKG Kelas III Banyuwangi, Arif Triyono, mengaku tidak habis pikir
atas hilangnya peralatan pendeteksi gempa dan tsunami tersebut. Sebab
kerugian atas hilangnya peralatan itu tidak hanya dari sisi kerugian
materinya, tetapi bagaimana dengan ancaman bahaya tsunami bisa dideteksi
sejak dini ketika peralatan sudah tidak ada.

Padahal, peralatan tersebut diperuntukkan bagi pemantauan terhadap bencana
alam gempa dan tsunami di kawasan timur Pulau Jawa dan sebagian kawasan
Indonesia Timur. Berdasarkan hasil laporan petugasnya, kata Arif Triyono,
pelaku yang lebih dari dua orang itu diduga masuk dengan cara menjebol pagar
kawat berduri, dan kemudian membongkar paksa banker yang berisi panel sensor
dan perangkat solarsel.

Harganya memang mahal, tetapi yang lebih berharga lagi adalah informasi yang
bisa dikirimkan lewat alat ini juga tidak kalah berharganya. Apalagi,
potensi gempa dan tsunami di kawasan Samudera Hindia sangat tinggi yang
diakibatkan karena terjadinya pergerseran lempeng bumi di kawasan tersebut.

Karena itu, pihaknya hanya berharap pelaku bisa segera mengembalikan
peralatan pendeteksi gempa dan tsunami tersebut karena betapa pentingnya
keberadaan alat ini bagi pemantauan dini terjadinya gempa dibawah Samudera
Hindia serta dampak yang ditimbulkan, seperti tsunami.

Kirim email ke