Atheis Vs Agama

Ketika bayi masih kecil, dia tidak bisa lepas dari ibunya; mau 
makan, dia butuh disuapin olehnya, mau mandi, mau berpakaian, 
semuanya ditangani oleh sang ibu. Setelah bayi beranjak lebih besar, 
ibunya juga yang menyekolahkannya, memberikan dongeng-dongeng 
sebelum tidur hinggga anak tersebut menjadi dewasa. Nah, ketika sang 
anak menjadi dewasa dan bisa berpikir sendiri, rasanya dia sudah 
bisa lepas sepenuhnya dengan sang ibu. Dalam kondisi dewasa seperti 
ini, masih adakah, kira-kira, hubungan anak dengan ibu atau dengan 
bapak?

Perjalanan manusia, dari manusia pertama hingga sekarang, masih 
tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia layaknya bayi dengan ortunya, 
tidak bisa lepas dari Tuhannya. Manusia tidak bisa lari dari agama, 
meski berbagai hal yang telah manusia lakukan untuk mencoba 
melepaskan ikatan agama dari kehidupan manusia, namun tetap saja 
tabiat manusia masih bergantung pada agama. Sudah banyak tokoh yang 
berusaha, dengan inovasi-inovasi pikirannya, bahkan telah dengan 
sengaja mencela dan mencemooh agama, bahkan menganggap agama sebagai 
candu dan sebagainya, namun manusia tetap tidak bisa untuk berpaling 
dari agama.

Suatu hari, ada yang bertanya dan mengeluh pada saya: kenapa kok 
harus ada kehidupan setelah dunia ini?. Saya bilang kepada dia, jika 
anda tidak suka dan tidak menginginkan kehidupan itu, anda tidak 
usah bergama atau menjadi Atheis, anda akan aman dari kehidupan 
setelah ini; namun anda akan sangat rugi, karena tidak akan punya 
harapan untuk menikmati kehidupan yang lebih baik dari kehidupan 
sekarang ini; anda akan hidup hanya sekali dan kehidupan anda akan 
sama dengan binatang lainnya yang tidak berpikir, binatang tidak 
dibangkitkan dan memiliki harapan hidup untuk kedua kalinya.

Keinginan manusia untuk menikmati kehidupan yang lebih baik dan 
lebih indah adalah merupakan faktor utama mereka untuk memilih dan 
meyakini sebuah agama. Semua orang tahu bahwa kehidupan di dunia ini 
sangat singkat, tidaklah cukup kehidupan ini untuk mencapai segala 
hal yang kita inginkan. Dengan adanya kehidupan yang kedua kalinya, 
maka manusia, dengan keadaannya yang demikian, memiliki harapan 
untuk menggapai hal-hal yang belum ia gapai selama hidupnya di dunia 
ini pada kehidupan selanjutnya itu, meskipun sampai sekarang belum 
ada bukti tentang kebenaran kehidupan tersebut, namun setidak-
tidaknya orang punya harapan, tidak seperti orang yang tidak 
beragama atau Atheis, yang tidak punya harapan sama sekali, dan 
seandainya hidupnya sengsara pada kehidupan sekarang, dia tidak ada 
harapan lagi untuk menikmati kehidupan yang lebih baik. 

Tidak ada yang lebih indah dari kehidupan ini selain harapan untuk 
memasuki kerajaan Tuhan di surga, yang disana tidak akan ada lagi 
rasa takut dan kekurangan; tidak ada sedih dan kedaliman; tidak ada 
perang dan pertumpahan darah; yang ada disana adalah kedamaian dan 
keindahan; air matapun akan terhapus dari kehidupan sana dan kita 
akan hidup bersama orang-orang yang kita cintai. Tidak hanya itu, 
Tuhanpun akan hidup bersama kita. Kita akan melihat wajah Tuhan. 
Namun perlu diingat, kerajaan Tuhan ini tidak akan diwariskan atau 
diberikan kecuali pada orang-orang yang percaya pada agama dan 
melaksanakan perintah Tuhan.[fosi]


Kirim email ke