Hello,

Semoga artikel ini bisa berguna. Di ambil dari milis tetangga.

Salam,
James




*Hari Ini Dia, Esok Siapa?*



Dari kejauhan Jack terus menekan kuat pedal gas kendaraannya. Ia tidak mau
terlambat. Apalagi lampu merah di wilayah yang dilaluinya menyala cukup
lama. Lampu lalu lintas berganti kuning. Sekitar tiga meter menjelang garis
putih horisontal di jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang. Haruskah ia
berhenti atau terus saja. "Ah, aku tidak punya kesempatan untuk menginjak
rem mendadak," pikirnya, sambil terus melaju.



PRIIIT!!! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya
berhenti. Jack menepikan kendaraan sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca
spion ia melihat siapa polisi itu. Hey, itu kan Bob, teman semasa SMA dulu.
Hati Jack agak lega.



Ia melompat keluar dari dalam mobil sambil berkata: "Hai, Bob! Senang sekali
ketemu kamu lagi!". "Hai, Jack," sapa Bob tanpa senyum., , , , ,



"*Duh*, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri
saya sedang menunggu di rumah. Hari ini dia ulang tahun, jadi dia dan
anak-anak sudah menyiapkan pesta di rumah. Tentu aku tidak boleh terlambat
dong," kata Jack.



Bob berkata, "Saya mengerti. Tapi sebenarnya saya sering memperhatikanmu
melintasi lampu merah di persimpangan ini." Jack mulai gelisah. Ia harus
ganti strategi. "Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku
lewat tadi lampu kuning masih menyala kok." *Aha*.. terkadang berdusta
sedikit tentu bisa memperlancar situasi.



"Jack, kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu," ujar Bob
dingin. Dengan wajah ketus, Jack menyerahkan SIM-nya ke Bob lalu masuk ke
dalam mobilnya dan menutup kaca jendela. Sementara Bob menulis sesuatu di
buku tilangnya.



Tak lama berselang, Bob muncul dan mengetuk kaca mobil Jack. Jack yang
kadung kesal dan marah hanya membuka kaca jendela sedikit. Ujarnya mengumpat
di dalam hati, "Ah, masa lima senti sudah cukup untuk memasukkan surat
tilang?"



Sesudah Jack menerima surat tilang itu dia langsung menekan kembali pedal
gas, memacu mobilnya dan cepat berlalu dari tempat tersebut. Tanpa
berkata-kata Bob pun kembali ke posnya.



Setelah agak jauh dari tempat kejadian, Jack hendak memasukkan SIM-nya ke
dompet. Saat itu ia terkaget-kaget setelah melihat selembar surat tapi bukan
surat tilang. "Surat apa ini? Ini bukan surat tilang! Kenapa ia tidak
memberiku surat tilang?" tanya Jack. Seketika itu juga ia langsung
meminggirkan mobilnya dan membaca surat dari Bob tadi.



Begini isi surat tersebut:

* *

*Halo, Jack. Tahukah kamu aku mempunyai seorang anak perempuan. Anakku
satu-satunya. Ia sangat cantik dan lincah. Aku dan istriku sangat
menyayanginya. Sayang, ia sudah meninggal karena tertabrak pengemudi yang
ngebut menerobos lampu merah, saat ia melintas bersama ibunya di zebracross.
*

*Anakku langsung meninggal di tempat. Istriku sampai saat ini mengidap
depresi hebat. Pengemudi yang sembrono tadi hanya dihukum penjara selama
tiga bulan saja. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya
lagi.*

*Sedangkan aku? Aku kehilangan malaikat kecil kesayanganku. Aku dan istriku
masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengaruniai seorang
anak lagi, agar dapat kami peluk. Tapi, kondisi istriku tidak memungkinkan.*

*Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Oh.. betapa sulitnya!
Begitu juga kali ini.*

*Maafkan aku, Jack. Doakan agar permohonan kami mempunyai anak terkabulkan.*

* *

*Berhati-hatilah saat menyetir.*

* *

*Dari temanmu,*

* *

*Bob*



Jack kaget sekali saat ia membaca surat Bob. Ia langsung memutar balik
mobilnya dan pergi ke pos jaga Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos itu,
entah ke mana.



Sepanjang jalan pulang Jack mengemudi dengan hati-hati dan ia berjanji,
dalam dirinya untuk menahan diri agar tidak ngebut dan menyetir ugal-ugalan.
Kali ini Ia teringat akan anak-anaknya.

* *

*Seorang gadis kecil, di tepi jalan..*

*Rambut melambai, berpita merah..*



*Senandung kecil ..la la la.. di bibirnya.. *

*Dalam langkah kecil, seirama kakinya..*



*Satu perempatan jalan, dilewat sudah..*

*Si gadis kecil masih berjalan riang..*



*Di antara roda-roda, yang berputar di jalan..*

*Setengah batu lagi, sampailah di rumah.. *

* *

*Ketika si gadis melintas di jalan.. *

*Matanya yang manis, mendadak menyala..*

*Sebuah kereta mesin yang ganas..*

*Menerjang dan... melindasnya..*

* *

*Gadis kecil terkapar di aspal panas..*

*Tinggal menatap ibu bapa, memungutnya..*

* *

*Sebuah permata keluarga hilang sudah..*

*Hari ini dia, esok lagi siapa.........*

* *

*Hari ini dia, esok lagi siapa.........*

*Hari ini dia, esok lagi siapa.........*



Memang, tak selamanya orang harus mengerti kita. Bisa jadi kesukaan kita
adalah kedukaan orang lain. Hidup ini sangat berharga, karena itu jalanilah
dengan penuh hati-hati dan saling menghargai.



* *Cerita ini dikutip dari milist FSRJ dan mengadopsi lirik "Hari Ini Dia,
Esok Siapa" yang dinyanyikan Tika Bisono dalam album Suara Persaudaraan. *


.


Kirim email ke