27 Desember yang lalu, dunia menjadi saksi kebrutalan rakyat Pakistan dengan
terbunuhnya Banazer Bhuto, mantan PM Pakistan, oleh serangan bunuh diri yang
diduga Alqaeda berada di balik serangan tersebut. Namun apakah hal itu terjadi
murni hanya karena isu terorisme, yang menjadi bagian dari kampanye Bhuto saat
masih hidup? Atau ada sisi lain yang ingin dicapai oleh pelaku penyerangan
tersebut?
Ada pernyataan menarik yang keluar dari seorang Pakistan saat berbicara di
BBC world have your say, part of a global conversation, menyatakan bahwa there
is a good news,the younger generation can come forward. Hal ini kedengaran aneh
bagi kita dan dunia yang tidak mengerti Pakistan, di saat dunia sedang berduka
dan condemn that action and menuntut to bring to justice whoever did that
attack, sebagaimana ungkapan Bush, ada golongan penduduk Pakistan sendiri malah
menganggapnya sebagai good news.
Hal ini pasti tidak terjadi tanpa alasan. Benazir Bhuto adalah anak Ali Bhuto
yang juga pernah memimpin Pakistan, dan Benazir Bhuto sendiri pernah memimpin
Pakistan selama 2 term, yang kemudian diusir dari Pakistan gara-gara korupsi,
dan sekarang dia kembali ingin Pakistan untuk yang ketiga kalinya dengan
yel-yel mengembalikan demokrasi untuk mencari dukungan dunia dan US, yang bisa
jadi hanya sebagai kedok untuk mengembalikan dinasti Bhuto yang hilang. Tidak
heran jika ada golongan pemuda yang sadar, seperti dalam BBC tersebut, dan
mengatakan kejadian itu adalah a good news, karena akan memberikan peluang
lebih besar bagi generasi muda untuk maju dan memimpin negara, tidak lagi
dipimpin oleh koruptor seperti Benazir Bhuto.
Tidak jauh berbeda sebenarnya dengan Indonesia, ketika Indonesia lama
dipimpin oleh seorang koruptor Soeharto, terjadi aksi brutal yang dilakukan
generasi baru (mahasiswa), meski tidak sampai melakukan serangan bunuh diri
seperti di Pakistan, hanya melengserkannya dari jabatan presiden; namun, meski
Soeharto turun, cengkeraman ideology generasi lama (orde lama dan orde baru)
masih sangat kuat merekat di dalam otak para generasi tua yang sedang memimpin
Indonesia saat ini, KKN masih menjadi bagian dari kehidupan para politikus dan
birokrat yang sedang berkuasa, dan bahkan masih banyak pemimpin, baik di daerah
maupun di kota, yang mempertahankan kekuasaan dinasti, sedikit sama dengan yang
dilakukan Bhuto, dan seakan-akan tidak memberi kesempatan bagi generasi
selanjutnya untuk maju. Haruskah Indonesia menunggu generasi muda melakukan
anarkisme seperti di Pakistan untuk merubah sistem dinasti dan KKN-isme?
Mustafa Bisri, seorang budayawan nasional, pernah mengatakan Indonesia tidak
akan berubah kecuali kepala generasi lama diganti kepala generasi baru yang
tidak mengenal sama sekali generasi lama, karena saking kuatnya ideology
generasi lama tumbuh di benak para pemimpin negara kita. Hal ini bisa bermakna
ganda: yang pertama, kita menunggu generasi lama habis dan meninggal semua, dan
kita harus menunggu; yang kedua, kita melakukan revolusi total dan menggeser
posisi generasi lama dengan generasi baru; atau jalan anarkisme dan brutal
seperti Pakistan tersebut, yang akan mengakibatkan chaos dan insecurity di
mana-mana, dan tentunya kita tidak menginginkan jalan anarkisme seperti ini.
Pernyataan Bisri (gusmus) ini memang sangat logis, Soeharto memimpin negara
kita, dengan ideology kapitalisme dan KKN-ismenya, selama 32 tahun, dan usia
Indonesia merdeka sendiri baru 62 tahun; lebih dari separuh usia Indonesia
berada di dalam didikan dan perintahnya, dalam artian ajarannya membumi lebih
dari separuh usia Indonesia Merdeka, dan hal itu tidak mudah untuk menarik dan
mencopotnya darg pikiran para generasi tua, yang bisa jadi ajaran tersebut
masih diturunkan pada anak-anaknya, kecuali dengan mencopot kepala generasi tua
dengan generasi muda, atau kita tunggu mereka semua meninggal.
Kejadian di Pakistan bisa menjadi cermin bagi kita Indonesia, yang juga masih
berada di dalam bayang-bayang political dynasty, baik yang dilakukan oleh
dinasti Soekarno maupun Soeharto, yang kedua-duanya tidaklah baik bagi generasi
muda, karena jika kekuasaan masih berada di tangan generasi lama, tidak akan
ada pembaharuan, kemajuan dan seterusnya, yang ada hanya kepentingan pribadi,
keluarga, dan golongan. Demokrasi hanya jadi kedok untuk mencari sokongan dari
US dan masyarakat internasional, dan penduduk pribumi.
Selamat menyongsong Tahun Baru 2008 dan masa depan Indonesia yang lebih cerah.
FosiFrenzy,
http://fosi.bigbig.com
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.