iya kak betul sekali itu.. tapi kalau harga bbm yang naik, itu sebenarnya wajar2 saja. cuma memang bangsa kita aja yang tidak terbiasa melihat. kalo di banding di sini yah kak,, bensin di jakarta itu termasuk murah. tapi yah klo bisa pajak2 di turunin lah kak.. biar itu kendaraan2 hybrid bisa masuk ke negara.. gmana mau ngurangin konsumsi bbm, wong pajaknya aja udh bisa beli mobil. trus kak.. public transportation nya di kembangin lagi.. itu betul sekali.. kita harus mulai dari diri sendri.. kadang merasa juga klo kita terlalu center view point. kita ngeliat di kalangan sendri.. kita selalu ngeliatnya ke atas.. ngga pernah ngeliat ke bawah.. klo kita liat di bawah, banyak sekali yang kekurangan,. tapi kita selalu melihat ke atas, ngeliat yang tidak pernah berkekurangan.. untuk ngebangun bangsa besar seperti indonesia itu tidak gampang.. perlu kerja besar yang seluruh warga negaranya ikut terlibat..
--- In [email protected], pisctwentyfour <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > yup..betul sekali... > selama masyarakat kita tidak ada disiplin... > contohnya saja.. dalam hal membuang sampah, merokok di t4 ada larangan... udah tau tau dilarang merokok, eh merokok juga... > dan hal-hal kecil lain yang selalu diabaikan... > jadi intinya adalah kesadaran disiplin dari diri sendiri baru bisa maju indonesia ini... > > > Light Bringer <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kenapa ya, banyak dari kita sebagai orang Indonesia, selalu melihat Negara kita sendiri dengan pandangan NEGATIF.kita terlalu sering complain tentang keadaan negara kita TANPA BERUSAHA MEMPERBAIKINYA. Kita komplain tentang harga BBM yang hampir 6000 rupiah, tapi coba anda datang ke philippine dan lihat berapa harga BBM disini. Kita komplain tentang kota Jakarta yang kotor, tetapi kita sendiri tidak pernah berhenti membuang sampah sembarangan. Kita selalu komplain tentang tingkat kemiskinan yang tinggi di Indonesia, tetapi kita tidak pernah berusaha menolong orang miskin di sekeliling kita. > > Kita selalu mengkritik pemerintah dan SYSTEM pemerintahan Indonesia. Sebenarnya terdiri dari apakah sebuah system pemerintahan? Apakah hanya Presiden saja? Apakah hanya MPR/DPR saja?. Tidak. Karena System pemerintahan terdiri dari rakyat biasa seperti kita. kalau kita ingin memperbaiki system pemerintahan Indonesia, kalau kita ingin memperbaiki Negeri ini, kita harus mulai dari diri kita sendiri. Setelah kita berhasil memperbaiki diri kita, barulah kita bisa mengubah Indonesia. > > > ASK NOT WHAT YOUR COUNTRY CAN DO FOR YOU, BUT ASK WHAT YOU CAN DO FOR YOUR COUNTRY. ( John. F Kennedy) > > > > Darmawan Triosa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Tanggal 20 Mei 2008 ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, tetapi > rasanya lebih cocok kalau disebut sebagai "Hari Keterpurukan > Nasional" (HARKITNAS = Hari Sakit Nasional), masalahnya prestasi apa > yang bisa kita banggakan sebagai kebangkitan nasional, terkecuali > harga BBM maupun harga bahan pangan yang benar-benar bangkit; > melejit bangkit terus menerus tiada hentinya. > > Prestasi yang kita miliki di hari Kebangkitan Nasional ini adalah: > 60% pengangguran dan menurut Education Watch Indonesia (EWI) 36,73 % > anak putus sekolah dan puluhan juta anak tak tertampung entah di > bangku SD maupun perguruan tinggi. Lebih dari 5,1 juta balita > bergizi buruk, bahkan 50% atau 2,6 juta terancam mati kelaparan. > > Dalam bidang olahragapun tidak beda jauh, ternyata impian yang sudah > lebih dari 12 tahun lamanya untuk dapat merebut kembali Piala Uber > telah pupus, karena keok sama China. Tapi beruntung bangsa kita ini > termasuk manusia sabaran, sehingga masih bisa menunggu untuk 12 > tahun mendatang. > > Bahkan tanpa perlu diragukan lagi, kita sekarang sudah bisa > menyanyikan lagu; "Dari Sabang sampai Merauke; Indonesia Mati > Kelaparan", karena mahalnya harga bahan pangan. Lihat di Aceh saja > sudah 23 anak mati, karena busung lapar dan ini terjadi bukan > sekedar di Aceh saja melainkan hampir di seluruh tanah air hingga > Papua. > > Apa salahnya apabila kita memberikan laporan kepada yang berkuasa di > negeri ini: "Lapor Pak, kami Lapar !" Hanya dengan entengnya dijawab > oleh JK: "Itu kan hanya di Koran. Kita memiliki beras cukup, apanya > yang kurang, bahkan pemerintah sudah memberikan Raskin (Beras untuk > orang miskin) !" (Sumber SCTV 6 April 2008). Memang beras di toko > sih banyak, hanya rupanya walaupun ia seorang saudagar, tapi tidak > menyadari bahwa beras itu harus dibeli bukannya pakai batu, tapi > pakai uang yang tidak dimiliki oleh rakyat. > > Pernahkah Anda makan raskin, selainnya tidak sehat juga bikin orang > sakit ditenggorokan. Raskin ini sebenarnya hanya layak untuk > dijadikan umpan ayam. Maka dari itu kita usulkan bagaimana, > apabila pada bulan puasa mendatang ini, para pejabat tinggi mulai > dari President s/d Bupati tidak perlu puasa lagi, melainkan sebagai > gantinya makan raskin sebulan penuh. > > Boro-boro harga beras biasa, harga raskin yang dihargai pemerintah > Rp. 2.000 sudah tidak terjangkau, maka tidaklah heran apabila ada > orang yang mengatakan: "Lebih baik aku makan Racun > yang "Mengenyangkan" daripada aku harus Mati Kelaparan !" Lihat saja > Nyonya Base dan anaknya yang mati kelaparan. > > Berdasarkan berita hari ini di Jerman ada sekitar 13% penduduknya > miskin, hanya bedanya disana orang sudah dinilai miskin apabila > penghasilannya dibawah Rp 11.700.000,-- per bln/per orang. Sedangkan > pemerintah Indonesia orang baru bisa/boleh dinilai miskin, apabila > pendapatan per harinya dibawah Rp. 5.500. > > Dengan dengan uang Rp 5.500 boro-boro bisa makan sehari tiga kali > untuk untuk makan/minum sehari DUA kali (2 x Rp 3.000) saja tidak > cukup. Nasib manusia di sini lebih buruk daripada hewan yang tidak > perlu rumah, pendidikan, maupun sabun. > Harga BBM dari Rp 4.500 akan naik menjadi Rp 6.000 per liter, banyak > pejabat menilai bahwa ini hanya berpengaruh bagi wong gede-an yang > punya mobil saja, tetapi rupanya mereka itu buta, bahwa wong cilik > juga harus naik angkot/bis; begitu juga nelayan yang butuh BBM untuk > melaut. Imbasnya bagi rakyat kecil; ini berlipat kali ganda jauh > lebih buruk, sudah harga sembako naik, otomasis harga pangan pun > akan dinaikan lagi, karena adanya kenaikan harga BBM. > > Harga BBM naik dengan alasan harga minyak di pasaran dunia juga > naik, tapi mereka rupanya lupa, bahwa Indonesia adalah penghasil > export minyak, seharusnya kenaikan harga BBM ini menjadi berkah bagi > rakyat, bukannya kebalikan menjadi kutukan. Sebagai perbandingan > harga BBM di Venezuela hanya Ro 460/liter, Nigeria Rp 920/liter, > Iran Rp. 828/liter, sedangkan di Indonesia akan menjadi enam kali > lipat jauh lebih mahal daripada di negara-negara tsb diatas. > > Cobalah renungkan oleh kita , misalnya Exxon Mobil saja; berdasarkan > laporan resmi di tahun 2007, mereka telah bisa meraup keuntungan > sebesar 40,6 milyar Dollar As = Rp. 3.723.20 Triliun Rupiah atau > hampir Rp 12 juta per detik. Keuntungan dari Exxon Mobil ini, bahkan > melebihi daripada Produk Domestik Bruto (PDB) 120 negara di kolong > langit ini. > > Disinilah letak keanehannya, kok rakyat Indonesia, sebagai pemilik > ladang minyak, bukannya kecepretan keuntungan, bahkan dibebankan > dengan lebih banyak lagi hutang maupun kenaikan harga BBM yang sudah > tinggi menjadi lebih tinggi lagi. Maka benarlah ucapan dari Kwik > Kian Gie, dimana ia mengucapkan dengan adanya kenaikan harga BBM di > pasaran dunia, seharusnya penduduk Indonesia, bukan saja harga BBM > harus bisa diturunkan, tetapi juga memiliki dana lebih yang bisa > disalurkan untuk kesejahteraan rakyatnya. > > Tetapi "Don't wori en bi hepi-lah", sebab dimata dunia Indonesia itu > hebat, wong bisa nyumbang satu juta AS$ untuk para korban topan di > Birma, bukankah ini sama seperti juga "Monyet di hutan disusui; > sedangkan anak dirumah mampus kelaparan" > > Maka dari itu sudah tiba saatnya dimana kita harus merubah > perkataan "Who Care" EGP (Emangnya Gw Pikirin), menjadi "I Care" > atau "YA, Saya Pikirkan dan Saya Perduli!" > > Kita usul ; apabila Anda merasa tidak puas dengan keadaan di > negeri ini, ungkapkanlah ketidak puasan Anda ini dengan "Daftar Jadi > Penulis" di www.kabarindonesia.com, koran tempat berdemo-ria secara > intelektual; jadi bukannya melalui demo dijalanan. >

