Once Upon a time
in Festival Jambrut, 3 februari 2008, banyak "pedagang" dadakan mencari dana
dgn menjual dagangannya,
sementara pengunjung tumpah ruah ke lapangan tempat diadakannya Parhelatan itu.
Di tengah-tengah sesaknya kerumunan pembeli dan pedagang, pedagang pakaian,
jasa, makanan dan minuman, hanya Jemaat Taman Harapanlah yg berdagang buku.
Buku rohani tentunya. Tak banyak yg belanja buku itu, mungkin minat baca orang
pada saat itu sedang menurun. Justru orang lebih suka mendengar seminar, kotbah
dari pada membaca buku. Itulah barangkali makanya ada orang yg tahu isi sebuah
buku
sementara dia tak pernah membaca buku tersebut.
Kita tahu dari mendengar, bahwa, “Apa arti sebuah nama?” adalah ungkapan
yg berasal dari buku karangan William Shakespeare. Padahal, jelas-jelas kita
tak pernah membaca buku itu, kita tahu dari mendengar orang lain, dan toh kita
percaya-percaya saja.
Dulu, tatkala
masih kecil, masih ingusan dan masih senang berbugil ria di bawah siraman
hujan, sedikit dari kita yg suka baca buku rohani tapi banyak yg senang baca
buku silat, kho ping ho. Maklumlah anak-anak. Sangking enaknya cerita silat
itu, otomatis banyak mengajarkan kita
utk merawat dan mencintai buku silat tsb.
Di dalam cerita
itu, ternyata sering sekali ada kisah-kisah berdarah, bahkan yg menyangkut
jatuh bangunnya sebuah kerajaan, punahnya sebuah dinasti, gara-gara perebutan
sebuah
buku. Siapa yg menguasai buku yg diburu & diperebutkan itu, seakan-akan
memegang kunci kekuasaan dalan dunia persilatan. Barangkali buku sdh menjadi
mitos dalam cerita itu. Dimana ilmu persilatan diwariskan lewat sebuat buku.
Dan buku selalu dianggap sbg barang tunggal yg tak ada tembusannya. Barang
langka yg tak punya duplikat. Kalau toh ada salinannya, mungkin beberapa lembar
yg berisi jurus maut sdh hilang. Lembaran-lembaran kunci yg bisa bikin kacau.
Siapa yg berhasil menguasai buku original, berarti sekaligus menguasai ilmu
persilatan yg akan mengantarkannya ke puncak kekuasaan.
Dalam konteks
sekarang, tentu saja hal ini tdk masuk akal. Karena buku hanyalah bayangan dari
pengetahuan. Pengetahuan disebarkan tdk hanya lewat buku. Dan buku tdk pernah
lebih penting dari pengetahuan itu sendiri.
Satu buku,
(Alkitab, Alquran, Kitab Roh Nubuat dll), sekali naik cetak bisa puluhan ribu
duplikatnya, yg semuanya sama. Demikian halnya dengan Alkitab, dimana karya
sastra yg juga merupakan sumber pernyataan Allah ini, mempunyai duplikat yg
sangat banyak & naik cetak sapanjang
massa. Mitos buku asli sdh runtuh. Yang kemudian bangkit adalah mitos
kepada ilmu pengetahuannya & mitos kepada Informasinya. Siapa yg lebih
menguasai pengetahuan , siapa yg lebih menguasai informasi, mendapat tiket sbg
pemenang, baik dalam diskusi, perdebatan maupun sebagai bahan kotbah.
Adalah keliru
kalau kita memuja buku & melupakan informasi pengetahuan yg merupakan isi
buku tersebut. Bahkan keliru pula apabila kita memuja ilmu pengetahuan dalam
buku sebagai yg segalanya dan tiada duanya. Bahkan lebih keliru lagi apabila
kita menjadikan buku sebagai tuhan kita,padahal, sejatinya, Tuhanlah yg
seharusnya
menjadi buku kita, seperti ditulis dalam buku Pena Inpsirasi bang Ucok.
Buku walaupun bukan lagi merupakan barang langka,
tetapi tetap merupakan jembatan emas. Karena buku tetap seakan-akan alat angkut
resmi ilmu pengetahuan
kemana-mana. Dengan sebuah buku di tangan yg berisi sari-sari filsafat, kita
seakan-akan sudah dijaga oleh tentara yg kuat dalam memberikan argumentasi di
dalam forum diskusi. Sebuah argumentasi nampak kuat kalau sudah didukung oleh
deretan refrensi buku. Dengan menyebutkan nama sebuah buku, tak jarang kita
langsung bisa membuat keder seseorang, manakala sedang berdiskusi di
milis-milis Advent.
Buku menjadi sebuah simbol. Buku menjadi status.
Lewat milis-milis Advent, kita dapat menguasai pengetahuan
yg ada dalam buku, tanpa harus memiliki bukunya. Isi buku itu berpindah lalu
hidup di dalam kepala kita dan terkadang terlepas & berkembang menjadi
sebuah alam pikiran baru. Kalau
terjadi lompatan-lompatan yg sedemikian jauhnya, baru orang teringat kembali
pada sumbernya. Pada waktu itu, apa yg terjadi dalam cerita silat bisa berulang
kembali. Orang mencari buku sumbernya, untuk mencocokkan apakah alam pikiran
itu murni atau sudah melenceng. Dan kalau sudah melenceng sudah berapa jauh?
Barangkali soal kecil ini pantas mendapat
perhatian. Oleh karena itu, di sinilah kita harus memilih satu atau bahkan
sekelompok buku yg dapat berperan sebagai panutan yg paripurna, sehingga tidak
terjadi lagi polemik terhadap pembahasan-pembahasan yg ada di milis padki,
konferens-dki dan pemuda-advent. Buku menjadi pahlawan. Buku menjadi
standarisasi.
Buku adalah
sesuatu hal yg menarik untuk diperbincangkan, ditelaah tapi tidak untuk dibeli.
Mahal, katanya. Kita, SDA, tidak
pernah lepas dari buku. Setiap pagi kita mengawali aktifitas kita dengan
membaca buku. Buku Penunggu (Renungan) pagi, salah satunya.
Namun, seiring berkembangnya zaman, barangkali
kita harus berhati-hati dengan buku atau justru kita berterima kasih atas
kehadirannya. Dia mampu menjungkir-balikkan fakta (sejarah), mengaburkan batas
imajinasi & pengalaman konkrit, membaurkan antara emosi & pikiran, menyalakan
kembali kepekaan naluri, ketajaman insting & kepiawaian otak.
Dengan membaca buku, berati kita sudah membuat, melakukan, mencari &
mendapatkan suatu
peradaban. Apakah peradaban itu baik atau buruk pengaruhnya, itu tergantung
bagaiman cara kita melahapnya.
Buku yg baik adalah buku yg memberikan pencerahan
terhadap pengalaman hidup agar lebih menghayati diri sendiri, orang lain,
kehidupan, alam semesta & juga masalah-masalah yg pelik. Buku mengantar
pembaca kepada dirinya & orang lain.
Membaca buku layaknya orang yg bertapa. Untuk
mendapatkan pemahaman lebih jauh pada makna-makna. Untuk dapat menangkap segala
sudut, untuk dapat berpikir dengan lebih bulat, lengkap & tuntas.
Buku yg baik bukan hanya cerita yg menarik. Bukan
hanya hiburan yg membuat senang sesaat. Bukan hanya tumpukan kata-kata mutiara
yg setiap kali bisa gugur. Bahkan bukan juga jurus-jurus & kata-kata besar
yg sarat oleh ide-ide & filsafat namun gagap dalam kehidupan nyata.
Buku itu ibarat sebuah mesin yg senantiasa
bekerja, sebuah bom yg hidup. Ia hidup kembali setiap kali dibaca lagi. Ia
hidup, tumbuh, berkembang bersama zaman, manusia & tuntutan kehidupan.
Buku harus bisa sebagai instrumen yg sempurna, ia
harus memenuhi persyaratan yg bisa menembus ruang & waktu sehingga dapat
dipakai oleh manusia segala zaman, manusia segala tingkatan, manusia dari
segala paham, dari segala jenis manusia, yg luhur maupun yg bejat sekalipun.
Sebagai buku, sosok/performance seperti itu hanya dapat ditemui pada Buku Roh
Nubuat.
Buku Roh Nubuat, menulis kembali dirinya setiap
saat. Lahir kembali setiap
dibaca. Ia lentur. Ia ditulis menjadi buku sbg investasi yg tak habis-habisnya
untuk digerogoti dimasa depan.
Buku Roh Nubuat melangkah jauh mendahului
kesadaran kita. Ia adalah sebuah karya yg jenius. Dan karena kejeniusannya, ia
pun dengan sendirinya
terpahami oleh manusia masa kini. Buku Roh Nubuat adalah buku yg baik. Buku Roh
Nubuat adalah sebuah karya spritual.
Buku lain (katakanlah begitu) merupakan irisan
bahkan himpunan bagian dari buku Roh Nubuat. Maka tak jarang di milis ini kita
jumpai buku lain tersingkir, mundur dibikin Buku Roh Nubuat saat bertempur di
dalam perdebatan-perdebatan.
Sebuah buku, bukan lagi sebuah buku, atau tidak
akan menjadi sebuah buku kalau tidak dibaca. Ia akan sama dengan meja, kursi
dan hiasan keramik
kalau hanya dibeli dan dipajang.
Seorang anggota
milis Advent yg marahnya lebih jelas dari isi tulisannya berkata bahwa buku itu
seperti wanita. Pria akan tertarik mendekati wanita oleh karena
kecantikan parasnya dan kemolekkan tubuhnya.
Wujud fisik buku
itu juga memiliki kekuatan yg merangsang yg memotivasi orang utk menyelam ke
dalam pengetahuan yg ada di perut buku itu. Karena secara manusiawi, acapkali
ditemukan bahwa bukan bukulah yg merupakan pintu pertama memasuki alam pikiran
di dalam buku itu. Perwajahan atau Cover yg seronok (sedap dilihat,menyenangkan
hati), dapat memberi sugesti agar orang menjamahnya. Tidak jarang orang mulai
mengarungi ilmu
pengetahuan dgn awal iseng-iseng karena tertarik pada keindahan kemasan buku.
Karenanya para penerbit buku berlomba-lomba menempatkan soal wujud fisik, soal
perwajahan, bukan sebagai barang main-main. Dana-dana besar dengan tidak
ragu-ragu
dialokasikan dipenampilan buku. Bukan maksud ingin mengalahkan isi, tetapi
barangkali perlulah produsen buku Roh Nubuat memperhatikan, memperbaiki
keindahan dari pada kemasan bukunya. Tidak untuk mengalihkan perhatian orang
dari buku hanya semata-mata pada isinya tok, tetapi kedua-duanya mesti berada
dalam perimbangan.
-Kocu Ratuhapis-
(Diadopsi dari :
Tulisan Pena Inspirasi bang Ucok : "Jangan sampai buku menjadi Tuhanmu,
melainkan Tuhanlah yg menjadi bukumu".)