Thank you Bro Arifin. Bolehkah tulisan ini saya bagikan pada rekan-rekan di
milis lain dan juga rekan sekantor?

Salam,
Philips Marbun

2008/9/26 arifin hasudungan <[EMAIL PROTECTED]>

>   Pelajaran dari Kasus Merrill Lynch dan Lehman Brothers
>
>       Bangkrutnya Lehman Brothers dan akuisisi Merrill Lynch oleh Bank of
> America mengingatkan kita bahwa dengan
>       kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu seperti sekarang ini
> tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa
>       dianggap sebagai "secured jobs"
>
>       Saya masih ingat ketika sekitar awal tahun 2000 membaca sebuah
> artikel di majalah terbitan luar negeri (saya
>       lupa entah itu BusinessWeek, Newsweek, Forbes atau Fortune) yang
> menceritakan betapa kerasnya usaha ribuan orang
>       lulusan program MBA dari berbagai business school ternama di seluruh
> penjuru Amerika Serikat berlomba-lomba
>       mendapatkan pekerjaan di Wall Street, khususnya pekerjaan di
> investment bank terkemuka, seperti Merrill Lynch,
>       Lehman Brothers, Goldman Sachs atau Morgan Stanley.
>
>       Selain soal gengsi (karena sebagian besar investment bank terkemuka
> tersebut hanya mempekerjakan lulusan
>       terbaik), banyak yang mengincar untuk bekerja disana karena tergiur
> dengan tawaran gaji dan berbagai benefits
>       luar biasa yang ditawarkan.
>
>       Banyak yang beranggapan bahwa bekerja di investment bank kelas kakap
> di Wall Street merupakan sebuah pilihan
>       yang aman. Tapi dengan perkembangan yang terjadi beberapa hari
> terakhir ini, siapa yang menyangka bahwa Lehman
>       Brothers bisa bangkrut? Siapa pula yang menyangka bahwa Merrill
> Lynch ternyata bisa diakuisisi oleh Bank of
>       America ?
>
>       Pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini hanya satu, bila anda
> saat ini masih bekerja sebagai employee (di
>       perusahaan mana pun itu - apakah itu perusahaan nasional ataupun
> multinasional) ingatlah bahwa tidak ada satu
>       orang pun yang bisa menjamin 100% bahwa anda akan aman berkarir
> seterusnya di perusahaan tersebut. Karena dengan
>       perubahan yang sedemikian cepat dan kondisi perekonomian dunia yang
> makin sulit diprediksi, perusahaan paling
>       besar sekalipun bisa saja gulung tikar minggu depan.
>
>       Bukannya bermaksud memprovokasi kalau saya katakan, jangan pernah
> sesekali berani memproklamirkan diri sebagai
>       employee yang loyal kepada perusahaan, karena perusahaan tidak bisa
> menjamin apakah mereka juga akan bisa loyal
>       kepada anda.
>
>       Bila performa kerja anda menurun, tidak peduli anda telah bekerja 10
> tahun disitu, anda bisa saja ditendang
>       keluar untuk kemudian digantikan dengan orang lain yang lebih muda
> dan bersedia mener ima gaji yang lebih rendah
>       dari anda.
>
>       Di lain pihak, perusahaan pasti juga tidak akan berani menjamin bahwa
> mereka akan mencetak keuntungan secara
>       terus-menerus dan beroperasi seterusnya sampai dunia kiamat (ingat:
> sebelum akhirnya bangkrut, Lehman Brothers
>       adalah perusahaan yang telah beroperasi sejak tahun 1850).
>
>       Nah, beberapa hal yang ingin saya tekankan sekali lagi adalah:
>
>             Dengan kondisi seperti sekarang ini, jangan pernah bersikap
> loyal kepada perusahaan, tapi bersikaplah
>             loyal kepada profesi anda.
>
>             Cintailah bidang pekerjaan anda, terus asah dan perdalam
> pengetahuan anda mengenai beberapa aspek spesifik
>             di bidang yang betul-betul anda minati, karena saat ini dalam
> pengamatan saya makin banyak perusahaan yang
>             mencari seorang spesialis dibandingkan seorang generalis.
>
>             Jangan lupa untuk selalu membuka mata dan telinga lebar-lebar
> bila memang ada sebuah kesempatan untuk
>             meningkatkan karir diluar sana .
>
>             Dan mungkin ini yang paling penting, kecuali anda adalah
> seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di
>             Indonesia, lupakan yang namanya "comfort zone" dan "job
> security" — those are totally bullshit!
>       Semoga apa yang saya tulis ini bisa membuka wawasan dan menyadarkan
> banyak orang yang mungkin sudah terlena
>       dengan apa yang dinamakan "comfort zone" dalam bekerja.
>
>       Mungkin analogi yang paling pas untuk menggambarkan secara konkrit
> dari apa yang saya tulis ini adalah dengan
>       membayangkan anda naik sebuah mobil. Ketika anda mengendarai sebuah
> mobil mahal dan canggih, anda tetap harus
>       mengendarainya dengan kewaspadaan penuh, siap untuk mengerem atau
> memutar setir untuk menghindari lubang di
>       jalan atau pengendara motor yang memotong jalan anda.
>
>       Anda tentunya tidak bisa berpikiran bahwa dengan mengendarai sebuah
> mobil mahal, maka anda akan selalu selamat
>       karena dilindungi dengan berbagai peralatan pelindung canggih. Ada
> faktor utama yang menjadi faktor penentu
>       keselamatan anda yaitu kewaspadaan.
>
>       Hal yang sama juga berlaku dalam anda bekerja sebagai employee,
> bayangkan saja anda bekerja menekuni karir
>       seperti anda mengendarai mobil: nikmati perjalanan anda, tetap
> waspada dan jangan pernah sampai masuk kedalam
>       "comfort zone" - alias mengantuk, karena ketika anda masuk kedalam
> "comfort zone" dan sesuatu yang tidak
>       diinginkan kemudian terjadi, biasanya anda akan merasa lebih sakit —
> karena memang anda tidak siap dalam
>       menghadapinya.
>
>       Have a nice day at work!
>
>
>       "Action may not always bring happiness, but there is no happiness
> without action."
>      Kind Regard,
>      Arifin H. Manurung
>
>
>  
>



-- 
Salam,
Philips Marbun
Pulomas

Kirim email ke